Saat ini. "Siapa kamu?" tanya Asep sambil berjalan mundur-mundur. Wajah Asep sama pucat dan takutnya dengan air muka Nina. Di hadapan mereka berdiri sosok menakutkan yang berdiri melayang dengan rambut menyentuh lantai rumah. "Kamu... kamu... kamu... Malam?" gagap Asep. "Malam siapa Mas?" bisik Nina ketakutan. Suara tangis Anita terdengar keras dari dalam kamar. Jerit tangisnya menambah seram dan muncul kepanikan tiada tara, karena setan yang berdiri di depan pintu itu melayang masuk, hingga saat setan itu melewati ujung daun pintu, pintu tertutup dengan sendirinya. * Sore sebelumnya. Di kamar bernuansa mistik yang menjadi tempat bagi Sabda bersemedi dan jalankan ritualnya, ada Malam duduk santai menatap Sabda yang sedang menutup mata. Sabda sejak pagi tadi sampai sekarang bersemedi. Dia mencari petunjuk agar Malam bisa berubah menjadi setan untuk sementara waktu. Sejak menghuni rumah Sabda dan resmi menjadi anak angkat, Malam tiada henti menuntut diberitahu cara berubah menjadi setan. Dia tidak mau berhenti merengek. Karena itu sampai hari ini, Sabda belum bisa banggakan Malam pada penduduk Ciparuk. Dia belum punya kesempatan untuk berpura-pura jalan memperlihatkan suasana Ciparuk dengan menggandeng Malam. Sabda percaya, jika Malam akan menjadi pusat perhatian penduduk Ciparuk, terutama mereka yang berjenis kelamin laki-laki. Karena itu Malam tidak pernah keluar dari rumah, sama dengan Sabda yang hampir 24 jam bersemedi meminta petunjuk iblis. Sabda telah jauh tersesat, dia lebih memilih iblis menjadi Tuhan baginya. Jika Sabda berterus terang memilih siapa yang diikutinya, maka di luar sana ada banyak manusia yang diam-diam menjadikan polah dirinya menyerupai iblis, secara tidak langsung bersekutu dengan iblis dan kronconya. Malam menatap senang kala Sabda membuka matanya. Walau beberapa kali dia kecele karena Sabda tidak dapat bicara cara mengubah dirinya dari manusia menjadi setan beberapa waktu, tapi api asa itu selalu ada. "Bagiamana Ayah? Apa ada petunjuk itu?" Sabda menatap sedih pada Malam. "Aih, apa gagal lagi? Apa rajaku si iblis itu tidak punya jawabannya?" desis Malam sedih. "Hahaha, ada. Ada petunjuk!" Tawa keras Sabda bak gempa saja, mengguncang hati Malam. Malam sampai melompat berdiri, saking senangnya dia mendapat kabar baik dari Sabda. "Apa petunjuknya Ayah? Apa?" Malam tidak sabar. "Persembahkan tiga tetes darahmu." "Itu saja Ayah?" heran Malam. "Iya." Sabda anggukkan kepala. "Semudah itu, mengapa Ayah butuh waktu lama untuk mendapatkan petunjuk iblis?" Malam hela napas berat. "Betul, caramu untuk merubah diri itu sangat mudah. Tapi kamu tidak tahu, betapa iblis memohon pada Dia untuk diberikan petunjuk. Tidak mudah bagi iblis, tapi hasilnya sangat mudah untuk untukmu. Seharusnya kamu senang, bukan malah menyalahkan aku!" "Hihihi, aku senang Ayah. Sangat senang! Aku bukan menyalahkanmu, aku kasihan padamu karena bersusah payah bersemedi, nyatanya caranya sangat mudah." "Hahaha, kamu benar! Aku bersusah payah lakukan banyak ritual untuk meminta iblis menjadi tuan dan Tuhanku, tapi hasilnya tetap saja seperti ini. Aku tetap akan mati, hartaku tidak akan aku bawa dan kamu akan pergi dariku Tidak bisa aku berumur panjang, tidak bisa aku hidup abadi. Ah, sudahlah. Setiap makhluk akan mati pada akhirnya." "Oh, apa Ayah mau bertobat?" tanya Malam. "Kenapa kamu bicara seperti itu?" Mata Sabda menyipit dan menatap tajam pada Malam. "Perkataan Ayah yang terdengar layaknya orang putus asa. Apa aku salah?" "Tidak, tidak salah. Betul aku putus asa, tapi aku tidak bisa temukan pintu keluar itu. Betul juga katamu tentang tobat, tapi apa aku bisa bertobat? Sementara aku telah mengikat janji hidup dan mati bersama iblis? Aku jahat Malam. Aku manusia jahat!" "Hihihi, apalagi aku! Aku ini terlahir sebagai setan, Ayah. Setan dari golongan rendah yang bertugas hanya untuk menakut-nakuti manusia dengan kehadiranku. Setan yang harus bersusah payah melarikan diri kala bertemu manusia yang memiliki magnet besar dalam diri mereka. Aura api ku akan terserap dan itu menakutkan bagiku." Sabda terdiam. "Aku tidak seperti panglima jin maupun mereka yang memiliki tugas berbeda. Mereka lebih beruntung daripada diriku, tugas mereka untuk meniup ke telinga manusia, berbisik ke hati manusia, membutakan mata dan hati manusia, membangkitkan emosi dan mendidihkan darah manusia. Mereka bisa makan bersama manusia dan tidak perlu takut aura api mereka terserap manusia." Malam buang napas beratnya. "Ya, ya, ya... kamu benar. Aku pun tidak bisa bekerjasama dengan jenis jin yang kamu maksudkan itu. Mereka punya tugasnya sendiri, mereka punya hadiah dan hukuman sendiri. Berhasil mengajak manusia berjalan ke lorong gelap, hadiah akan diberikan iblis. Gagal dalam tugas menghasut manusia, mereka akan terhukum. Berbeda dengan golonganmu, yang sekedar menakuti dan mengajak manusia bersekutu dalam pesugihan dan sihir." "Ya, Ayah. Bayangkan saja, aku dan rekan jin yang lain, harus bertempur dengan manusia secara langsung. Kalau kami beruntung, manusia akan kabur ketakutan maupun tunduk pada janji racun kami. Tapi saat kami bertemu manusia yang kuat, kesialan saja bagi kami, tidak dikurung dalam benjana seperti pendahulu kami di jaman Nabi Sulaiman itu sebuah keberuntungan bagi kami!" Hening. "Lalu kami bertemu dengan manusia sepertimu Ayah. Apa kami senang? Tentu kami senang karena kamu bisa menjadi kunci penghubung bagi kami. Tapi kami pun tidak senang!" "Kenapa Malam?" "Kami tidak senang, jika kamu menyuruh kami berhadapan dengan manusia yang jauh lebih kuat dari kami. Misi gagal dan kami rusak!" "Hahaha, apa itu salahku? Salah kalian yang tidak memberitahu secara jelas, bagaimana kekuatan manusia incaran santetku. Kalau informasi diberikan lengkap, aku bisa menolak pergi pasienku." "Ilmu kami terbatas, bahkan iblis sebagai Tuhan bagi kami pun mempunyai batasan sendiri. Tapi kesombongan kami dan keserakahan manusia itu menjadi rantai yang mengikat. Jadi kami tidak mau rantai itu terputus." "Tobat kan?" tanya Sabda. "Ya, Ayah. Tobat itu jadi penghalang bagi kami. Tapi itu untuk sementara saja. Saat manusia lengah, kami oh bukan... jin yang berbeda akan lebih keras merayu manusia yang mengaku bertobat itu untuk kembali berjalan di kejahatan. Minimal kami akan timbulkan kenangan masa lalu yang indah-indah, lalu kami bisa juga pergunakan corong manusia lain untuk berkata buruk pada dia yang bertobat, meniupkan berita kalau tobat tidak diterima, menakuti dengan cerita azab, karma dan balasan yang diterima di dunia ini. Intinya kami akan berusaha keras manusia tidak boleh bertobat, manusia yang lain pun akan memandang sebelah mata pada dia yang bertobat." "Sudahlah, berhenti bicara tentang tobat, karena aku tidak akan bertobat!" seru Sabda. "Ya, itu bagus Ayah. Nah, katakan padaku lebih lengkap, apa hanya butuh tiga tetes darahku agar aku bisa berubah menjadi setan?" "Ya, cukup tiga tetes darah. Tapi ada batas waktunya, yaitu dari menjelang tengah malam sekitar jam sebelas sampai sebelum subuh, kamu bisa berubah menjadi setan. Itu pun hanya tiga kali dalam sebulan. Yaitu kala bulan purnama saja." "Cukup Ayah! Kebetulan malam ini purnama terakhir." "Ya, benar. Nah, saat jam sebelas nanti kamu bisa mulai, gigit jarimu sendiri dan biarkan tiga tetes darah membasahi bumi!" Malam tertawa cekikikan. * Malam yang telah berubah menjadi setan itu menatap Asep dan Nina. Seram dan menakutkan sorot matanya. Asep dan Nita tidak tahu harus berbuat apa, melarikan diri tidak bisa karena jalan satu-satunya tertutup tubuh Malam, si setan Kuntilanak. Tadi sebelum memasuki rumah Asep, Malam gigit jarinya sendiri dan biarkan tiga tetes darahnya menyentuh badan bumi. Asep yang berjalan di depan tidak melihat betapa perubahan terjadi pada diri Malam. Dari wanita cantik menjadi setan burik.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 26 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (63)
Darl Ki
Ceritanya bagus, penasaran dengan ending nya gimana, masih menunggu sambungan 😌
Ceritanya bagus, penasaran dengan ending nya gimana, masih menunggu sambungan 😌
21/05/2025
1bagus banget
20/02/2025
0sukaaa bgtttt😋🔥
25/11/2024
0Tingnan Lahat