Kamu siapa?" tanya si setan. "Aku Sabda. Ki Sabda. Aku akan Ayahmu." "Ayahku? Artinya, aku akan jadi manusia?" "Ya," jawab Sabda si pria tua singkat. "Hihihi, apa enaknya jadi manusia? Dengan wujud ini, aku jauh lebih senang. Manusia dengan diriku berbeda, aku lebih mulia karena terbuat dari api." "Hahaha, perkataan kosong. Mari sini! Aku akan buktikan kalau diriku lebih unggul darimu." Sabda bergelak tawa. "Hihihi, untuk apa aku mendatangimu. Meski aku juga heran, kamu berbeda. Tida takut padaku. Malah...." "Aura api milikmu terserap olehku. Hahaha!" Sabda terlihat gembira. "Sombong!" "Hei, mau ke mana? Kembali!" Sabda lambaikan tangannya ke depan. Lalu seperti orang menarik tali, dia gerakkan tangannya dan membuat setan kuntilanak yang ditemuinya mau terbang kabur, malah terbang mundur ke arahnya. Brak. Bunyi yang sangat keras. "Aduh!" "Bagaimana, apa kamu masih mau bilang dirimu lebih unggul dariku, wahai setan buruk rupa!" ejek Sabda sambil menatap setan kuntilanak yang terbaring di dekatnya. "Lepaskan aku, manusia jelek!" "Jelek?" Mata Sabda melotot. Tidak lama Sabda berjongkok. Tangan kirinya merogoh masuk ke dalam saku bajunya. "Apa kamu mau memaku kepalaku? Tidak, aku tidak mau jadi manusia!" Sabda tertawa ringan, lalu dia keluarkan tangannya. Sebuah tali panjang berwarna hitam dipegangnya. "Tali?" "Ya, tali. Tali ini akan aku pakai untuk mengikat dirimu. Setelah itu, kamu akan menjadi manusia, menjadi anakku. Aku tahu sesungguhnya dalam hatimu, kamu ingin hidup menjadi manusia kan?" "Sok tahu!" "Hahaha, Malam oh Malam. Bukan hanya kamu yang pernah aku temui. Ada banyak jin yang bekerja untukku. Tapi hanya dirimu yang pantas untuk aku jadikan anak." Sabda tersenyum lebar. "Apa alasanmu?" "Apa alasan itu penting? Aku bukan manusia yang mementingkan alasan. Apa yang aku mau, aku akan lakukan. Apa yang aku ingin, aku harus dapatkan. Kamu hanya perlu menurut. Jadilah anakku dan aku tidak akan melarang perbuatan kotormu! Apa kamu mau Malam?" "Malam? Siapa itu Malam?" "Namamu sebagai manusia. Nama yang sengaja aku pilih untukmu. Nama yang mempunyai makna." "Apa maknanya?" "Karena kamu terlahir di waktu malam. Hahaha!" Sabda terbahak-bahak. Lalu dengan gerakan secepat kilat, tali hitam yang dipegang Sabda telah mengikat leher si kuntilanak yang diberikan hadiah nama, Malam. Malam berteriak kesakitan. Dia merasa di dalam tubuhnya terjadi sebuah perubahan. Sebuah perubahan yang sulit diungkap, yang pasti jantungnya muncul berikut hatinya. Dua organ tubuh itu berdenyut, tanda kehidupan manusia. Tali hitam yang mengikat Malam bukan tali yang pendek. Sisa tali diputus Sabda dan diikatkan ke lehernya sendiri. Ajaib. Tali leher yang seolah-olah menjadi kalung itu menghilang. Meresap masuk ke dalam kulit. Tidak lama setelah kalung tali hitam telah bersatu dengan kulit leher kedua ras berbeda alam dan unsur itu, Sabda menarik bangun Malam. Malam menjerit kaget. Tapi setelah itu dia berdiri dengan kepala tertunduk. Kakinya menyentuh tanah, tidak melayang seperti yang dulu-dulu. "Aku jadi manusia?" "Ya dan namamu sekarang Malam. Anak angkat Ki Sabda. Hahaha. Aku punya anak!" "Tapi." Malam menatap Sabda. "Mari ikut aku!" Sabda tidak peduli Malam mau bicara apa, dia tahu ada hal yang mau disampaikan malam. Tapi itu bisa menunggu waktu. Sabda tarik tangan Malam. Dia terus berjalan maju menuju telaga kecil yang airnya berkilau diterpa sinar bulan. Setibanya di tepi telaga, Sabda berhenti dan tarik Malam agar berdiri di sisi kirinya. "Lihat!" Sabda menunjuk ke arah telaga. Malam melotot kaget. Di cermin telaga, dia melihat penampakan wujud manusianya, dirinya yang baru. Rambut panjang Malam terlihat tebal dan halus, sesuai dengan bentuk wajahnya yang oval. Mata kucingnya bersinar hidup, dengan hidung kecil mancung dan bibir yang terlihat basah. Dagu runcingnya membuat dirinya semakin menarik, tapi ada yang kurang. Kekurangan Malam ialah aura parasnya yang terkesan dingin. "Bagaimana? Suka dengan bentuk barumu? Penampilan manusia yang bagiku tampak sempurna." Sabda tertawa keras. "Suka dan tidak." "Oh, ya?" Sabda berhenti tertawa dan menatap Malam tajam. "Aku suka karena wajahku jauh lebih bagus dan sedap dipandang, daripada wajah setanku. Tapi kenapa parasku masih terlihat dingin?" "Hahaha, tentang itu aku pun tidak tahu apa penyebabnya. Tapi aku percaya, dirimu mampu beradaptasi dengan keadaan di depan matamu!" "Ayah." Malam berlutut. "Hahaha, anak pintar!" Sabda tepuk-tepuk pundak kiri Malam. "Bangunlah!" Malam bangun, lalu dia berputar untuk melihat lagi bayangan dirinya di dalam telaga. Sabda membiarkan Malam yang gembira telah menjadi manusia. "Ayah, apa aku masih bisa berubah menjadi setan lagi?" tanya Malam sambil melihat Sabda melalui cermin air. "Maksudmu?" "Karena aku ingin memakan jantung dan hati manusia. Jika aku dalam wujud manusia, tentu akan menyeret nama baikmu." "Hahaha, nama baik? Apa itu nama baik? Namaku telah terukir sebagai nama yang paling ditakuti di desa Ciparuk. Jika ada yang berani meniupkan namaku, aku akan santet mereka!" "Hihihi, aku percaya Ayah akan habisi lawan-lawan Ayah. Tapi...." Malam berdiri, lalu arahkan dirinya berhadapan dengan Sabda. "Tapi apa?" "Jika aku ketahuan memakan jantung dan hati manusia, lalu rumah Ayah didatangi banyak orang, apa Ayah mampu melawan orang yang banyak? Kalau aku sih tidak masalah harus mati lagi, karena aku akan kembali ke awal mula diriku. Tapi nasib Ayah? Ayah akan menjadi bangkai yang rusak, tercerai berai. Apa itu mimpi Ayah, mati dengan tubuh hancur berantakan dan tidak bisa dikenali maupun potongan tubuh tidak bisa disatukan? Apa itu mau Ayah?" Sabda bengong. Bagaimanapun, kejahatan yang dia miliki tidak sebanding dengan apa yang telah diperbuat Malam sebagai setan. Melihat keraguan Sabda, Malam tersenyum tipis dan licik. Namun sayangnya, Malam tidak bisa melawan Sabda yang kekuatannya jauh lebih besar dari dirinya. Ibaratnya Sabda itu wadah tembikar yang dibakar api panas dengan suhu tinggi, tapi tembikar itu bukannya pecah malah bertambah kuat hingga terbentuk sempurna dan bisa digunakan. Beruntung Malam telah menjadi manusia karena Sabda menggunakan cara yang aneh. Kalau tidak, dirinya akan melemah karena hawa panas tubuhnya diserap Sabda sepenuhnya. Sebagai setan, meski Malam terlihat buruk dan menyeramkan, sejatinya itu karena dia ingin cepat terbebas dari hawa tarik yang dimiliki manusia, dia tidak mau seluruh auranya berpindah ke tubuh manusia yang bertemu dengannya. Karena itu dengan menampilkan wujud yang menakutkan, Malam berhasil jadikan manusia yang ditemuinya kencing di celana, pingsan di tempat, melarikan diri dengan diiringi teriakan 'Setan'. Malam menjadi setan ganas hanya untuk mempertahankan dirinya saja, sebab manusia itu jauh lebih mulia dan sempurna dibandingkan jin yang memilik bentuk tidak seimbang dan buruk. "Ya, kamu ada benarnya Malam. Meski aku bisa saja melawan agar dirimu tidak mendapatkan kesulitan dari kedatangan berbondong-bondong manusia ke rumah kita, tapi kekuatanku terbatas. Baik, kita pulang dulu dan aku akan berikan cara bagimu. Cara agar kamu bisa berubah sesuka hatimu dari manusia menjadi setan dan sebaliknya." Malam setuju. Sejak saat itulah Malam sah menjadi anak angkat Sabda, dukun yang ditakuti warga Ciparuk. Tak hanya itu, dibalik keindahan Malam sebagai manusia, dia memiliki sikap jahat yang tiada duanya, walau dia harus menunggu terlebih dahulu, mencari peluang agar bisa memakan jantung dan hati manusia.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 24 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (63)
Darl Ki
Ceritanya bagus, penasaran dengan ending nya gimana, masih menunggu sambungan 😌
Ceritanya bagus, penasaran dengan ending nya gimana, masih menunggu sambungan 😌
21/05/2025
1bagus banget
20/02/2025
0sukaaa bgtttt😋🔥
25/11/2024
0Tingnan Lahat