"Malam tunggu!" cegah Asep, tak lupa tangannya bergerak menahan tangan Malam. Asep turun dari motornya. "Buat apa? Kamu tidak setuju dengan syaratku kan Mas?" "Setuju, aku setuju!" Asep colek pipi kiri Malam. "Itu baru namanya lelaki jantan!" goda Malam, lalu tertawa. "Kita mau kemana?" Asep belum lepaskan tangannya dari tangan Malam. "Ke tempat yang asyik untuk berdua Mas. Yang memiliki rumput tebal untuk berbaring menatap langit malam. Aku ingin melihat bulan dan bintang sambil tiduran di tangan Mas Asep." Tawaran yang menggoda. "Aku tahu tempatnya." "Ya, kalau begitu kita berangkat sekarang Mas!" Asep cepat naik ke motor dan nyalakan mesinnya. Baru saja dia mau suruh Malam naik di belakangnya, gadis cantik nan seksi menggoda itu sudah memeluk pinggang dan sandarkan diri di punggung Asep. Terasa ada getaran listrik mengalir di tubuhnya akibat merapatnya Malam. Asep tidak sempat berpikir cara Malam naik ke atas motor, karena Malam sudah menyuruh dirinya untuk segera berangkat. * "Malam yang indah ya Mas." Malam dan Asep saat ini berada di dekat pintu irigasi sawah desa Ciparuk. Suara gemericik air menambah suasana mesra yang terjalin antara keduanya. Sesuai permintaan Malam, Asep bawa gadis itu ke hamparan rumput untuk bisa berbaring menatap langit malam yang cerah. Pesona sinar bintang dan bulan menambah indah suasana malam. Sesuai dengan ucapan Malam pula, dia tidur berbaring, tapi tidak di tangan Asep. Kepalanya saat ini menumpang di paha kanan Asep. Malam biarkan Asep sepuasnya menikmati aroma wangi rambutnya. Tempat yang dipilih Asep sepi dan jauh dari lalu lalang orang. Tetapi dia sama sekali tidak manfaatkan situasi ini. Asep ingin Malam menilai baik dirinya dengan tidak membelai bagian sensitif Malam, sekedar belai kening dan rambut Malam. "Apa boleh aku dengar dongengmu?" pinta Malam. "Dongeng apa? Timun Mas?" "Bukan, dongeng tentang diri Mas dan istri, mengapa bisa pisah ranjang? Apa Mas pria jahat?" "Kalau aku jahat, apa aku biarkan dirimu tetap utuh Malam? Area ini sepi, kalau aku tidak bisa menahan diriku, sudah aku makan kamu!" Malam angkat kepalanya dari paha Asep. Mata kucingnya yang indah menyorot mesra. "Ya, kamu benar Mas. Tapi kalau aku yang makan kamu, apa kamu mau?" tanya Malam misterius. "Hahaha, siapa sih pria yang menolak untuk kamu makan?" Asep towel ujung hidung Malam. Malam tangkap tangan kanan Asep yang baru saja mencolek hidungnya. "Mas tidak berkata bohong kan?" tanya Malam serius. "Apa kamu benar-benar mau memakanku?" Asep mendadak timbul rasa takutnya. Malam mengiyakan. "Makan dagingku?" Asep terlihat waspada. "Hihihi, ya tidak atuh Mas. Daging Mas kan pahit. Aku tidak suka." Malam geleng kepala. Asep menarik napas lega. "Mas aku mau tanya boleh?" "Tanya apa?" "Apa aku cantik?" "Tidak hanya cantik. Kamu penuh daya pesona. Auramu menggoda." Malam tertawa cekikikan. Asep meremang bulu kuduknya dan tidak sadar taruh tangan kirinya di leher belakang. Nada tawa Malam yang membuat Asep sedikit merasa takut, karena mirip tawa setan perempuan kuntilanak yang pernah dia dengar di drama radio maupun layar televisi. Tetapi begitu suara tawa hilang, ketakutan Asep terhapus dengan manis madunya senyum Malam. "Mas kita pulang ke rumahmu!" ajak Malam. "Rumahku?" tanya Asep. "Masa iya ke rumahku? Apa Mas berani bertemu Ki Sabda?" "Oh, siapa bilang berani. Tapi apa perlu pulang ke rumahku? Bagaimana Nani?" "Mas!" Malam melotot. Asep sedikit mundurkan tubuhnya, takut melihat sorot mata Malam mengandung api yang membara dan siap membakar. "Kamu sudah berjanji padaku. Aku tidak senang pada orang yang berani melanggar janji. Kalau Mas tidak penuhi janji, maka tidak perlu lagi kita bertemu!" ancam Malam. "Lupakan juga aku jadi istri keduamu!" Asep bingung. Hingga matanya berganti terbelalak lebar karena melihat apa yang dilakukan Malam di depan matanya. "Aku siap jadi istri kedua untukmu Mas. Ini buktiku!" Malam tersenyum genit. Asep pria normal. Gejolaknya naik cepat melihat kepolosan Malam. Tapi tidak, dia masih mampu bertahan meski harus keringat dingin dan menarik napas panjang berulang kali untuk menahan dirinya, agar tidak jatuh pada lubang nafsu. "Pakai bajumu Malam! Aku percaya padamu!" ucap Asep. Tetapi Malam malah menerkam Asep. Asep yang tidak siap pun relakan dirinya tertindih Malam. * Motor itu melaju pelan membelah jalan yang sepi. Malam tanpa risih sedikitpun menempel di punggung Asep yang malam ini telah berikan apa yang dia mau. Wajah Malam terlihat semakin cantik dengan senyum kepuasan. Berbeda dengan Asep yang terlihat letih dan lelah, terkesan ada beban pikiran mengganggunya. Tadi saat Asep dan Malam bersatu tubuh, Asep mencium ada bau busuk dari keringat Malam. Namun bau itu menghilang ditelan nafsunya yang terbakar godaan Malam. Hingga mereka berdua selesai berbuat sesuatu yang hina di bawah sorot mata bulan purnama yang menjadi saksi bisu. "Mas di rumah selain Nina ada siapa lagi?" "Ada si kecil Anita." "Oh, berapa tahun usianya? Apa cantik?" "Baru tiga bulan. Iya, dia tidak seganteng aku," gelak Asep. "Hihihi, betapa beruntungnya aku malam ini!" "Beruntung karena apa?" "Lihat saja nanti Mas!" Perjalanan berlanjut. Tapi saat motor Asep melewati seorang yang sedang naik sepeda, pengendara sepeda yang membawa kentungan itu malah terjatuh melihat ke arah Asep. * Nina berdiri di depan pintu rumah menatap ke arah jam dinding dan daun pintu utama. Asep belum pulang juga, padahal waktu sudah melewati tengah malam, meski baru lima menit. Ini bukan kebiasaan Asep. Selarutnya Asep pulang, jam sebelas malam sudah dirumah. Apalagi sejak adanya Anita sebagai penghuni baru, jam sepuluh Asep sudah ada berdiam diri di rumah membantu dia mengasuh Anita. Terdengar suara tangis Anita. "Tunggu ya sayang. Bapakmu belum pulang, setelah pulang kita segera ke bidan Yeti." Nina. Nina bergegas mendekati Anita. Hati-hati dia angkat tubuh anak pertamanya itu yang suhu tubuhnya sedang naik. Ketika Nina menggendong Anita, dia dengar suara mesin motor mendekati rumah, lalu diam dan mati. Senyum Nina terkembang. Asep sudah pulang. "Ayo, masuk Malam!" Nina kaget, dia yang baru mendekati pintu kamar membawa Anita di gendongan tertegun. Asep membawa seorang tamu dan dari nada suaranya, sepertinya tamu seorang wanita. Pintu rumah terbuka. Anita menangis keras, sementara Nina hampir saja melepaskan Anita dari gendongannya. "Nina, maaf aku bawa tamu malam ini. Dia mau kenal denganmu." Asep tersenyum lebar. "Ta... tamu!" Pucat wajah Nina. Asep heran, lalu menengok ke belakang. * Empat hari yang lalu. Sebuah bayangan tampak mendatangi sebuah pohon beringin besar yang berdiri gagah sendirian di dekat sebuah kolam air kecil. Bayangan itu milik pria tua yang tidak takut sama sekali. Dengan bantuan sinar bulan, pria tua itu terus mendekati pohon beringin. Suara binatang malam. Desir angin yang mendirikan bulu kuduk sama sekali tidak membuat pria tua itu melarikan diri. "Hihihi, manusia pemberani. Apa maumu ke sini?" Pria tua itu mendongak dan dia lihat ada sosok bergaun putih yang duduk santai di dahan pohon beringin. Sosok itu berwajah pucat dengan rambut mengembang kasar, rambut yang panjangnya menyentuh tanah di bawahnya, lebih dari dua meter panjangnya. "Aku mau kamu, hei kuntilanak. Mari turun sini!"
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 25 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (63)
Darl Ki
Ceritanya bagus, penasaran dengan ending nya gimana, masih menunggu sambungan 😌
Ceritanya bagus, penasaran dengan ending nya gimana, masih menunggu sambungan 😌
21/05/2025
1bagus banget
20/02/2025
0sukaaa bgtttt😋🔥
25/11/2024
0Tingnan Lahat