"Malam? Namamu Malam? Serius?" tanya pria berwajah lumayan dengan kumis tipis menghiasi bibirnya. Malam, gadis berwajah ayu dan terkesan dingin itu anggukan kepalanya. Rambutnya yang panjang sepunggung, sebagian ditariknya ke depan dan disisir dengan tangannya. Malam ini bulan purnama tidak sendirian, ada banyak bintang menjadi teman dan ikut memberikan cahaya berkelap-kelip, hingga langit terlihat begitu indah. Malam ini Malam sengaja keluar rumah bukan untuk menikmati keindahan alam, tapi dia ingin menjerat seorang pria dengan kecantikan yang dia miliki. Itu tak perlu waktu lama. Rumah Malam berada tepat di belakang tempatnya berdiri. Rumahnya berada di pinggir jalan raya kampung yang cukup terang benderang dengan lampu jalan berjejer rapi. Tetapi keadaan rumah Malam, jauh dari kata terang. Teras lampu rumahnya yang berjarak sekitar seratus meter dari tempatnya berdiri itu hanya ada satu bohlam lampu bersinar kuning dengan watt kecil. Untuk sampai ke rumah Malam, harus melewati jalan setapak yang masih berupa tanah yang berada di tengah-tengah halaman rumahnya. Rumah Malam kecil, tapi memiliki tanah yang luas dengan beraneka macam pohon, tumbuhan dan rumput. Hingga nyanyian binatang malam bukan hal yang aneh. Rumah Malam bisa dibilang terpencil. Berada di ujung kampung dan berbatasan dengan area pesawahan dengan di seberang jalan ada kebun pohon bambu. Sungguh angker area sekitar rumah Malam. Malam tidak hanya berkulit putih bersih, tapi memilik mata kucing yang bersinar tajam, seakan matanya mengeluarkan cahaya layaknya mata kucing asli di kala malam. Rambut panjang sepunggungnya sangat indah dipandang dan tidak mampu menutupi lekuk tubuhnya yang menggoda, bentuk tubuhnya seperti gitar Spanyol yang sangat sedap jika berada di pelukan. Kaki jenjang Malam juga menawan, hingga saat dia berjalan layaknya model berjalan di atas catwalk. Tidak bisa dipungkiri, akan ada banyak pemuda yang mempunyai hasrat untuk jadikan Malam sebagai pasangan sehidup semati. Jika mereka berkesempatan bertemu dirinya. Tetapi ada yang aneh pada Malam. Ada rahasia yang mengikuti dirinya. Karena rumah yang dia tempati saat ini bukan rumah aslinya, rumah itu milik Sabda seorang pria tua nyentrik dan sedikit dijauhi penduduk kampung Ciparuk. "Iya, namaku Malam? Kenapa, apa ada yang aneh?" tanya Malam dengan senyum lebar. "Tidak aneh, hanya unik. Oya, namaku Asep. Nama kampung, tapi uangku bukan kampungan." Asep menepuk tangki motor besar yang dia naiki. "Iya, kamu pemuda tampan dan gagah, sekaligus kaya. Aku suka," jawab Malam menggoda. "Hahaha, aku pun juga suka denganmu." Asep menatap Malam dengan tatapan seakan ingin menelan Malam rapat-rapat. Malam tertawa dengan tubuh sengaja digoyangkan. "Oya, rumahmu di mana?" tanya Asep. Malam gerakan tubuhnya menyamping dan menunjuk rumah Sabda. "Hah! Itu kan rumah Ki Sabda. Apa kamu anaknya?" tanya Asep heran. Malam geleng kepala. "Terus?" "Aku ini anak angkatnya. Ah, kedua orang tuaku sudah meninggal. Saat aku bersedih di kuburan kedua orang tuaku yang mati mendadak akibat terkena santet, Ki Sabda mengajakku pulang dan angkat aku sebagai anaknya." Malam terlihat bersedih. "Oh, sungguh sedih nasibmu. Tapi apa Ki Sabda berlaku baik padamu? Maksudku Ki Sabda kan aneh, di rumahnya ada banyak barang mistik dan jimat aneh." "Apa karena Ki Sabda itu dukun, maka dia tidak bisa baik padaku?" tanya Malam dingin. "Bukan itu maksudku!" Asep goyangkan tangan kanannya. "Oya, aku masih penasaran dengan pemberian nama Malam, mengapa namamu bukan Ayu, Jelita atau Cantik?" "Hihihi, itu nama apa rayuan Mas Asep yang ingin berkata aku ayu, jelita dan cantik?" Malam tertawa riang. Asep garuk kepalanya, karena tujuannya ketahuan Malam. "Aku diberikan nama Malam, karena kelahiranku di waktu malam," jawab Malam tenang. "Oh, seperti itu." Asep tidak mau bertanya lebih lanjut. Setidaknya, dia sudah berasil bawa kembali keceriaan Malam. "Apa kamu mau ikut denganku Malam?" "Ikut ke mana?" "Ke mana saja, asal kita bisa berdua dan saling bercerita kehidupan pribadi kita. Supaya bisa saling mengenal dan siapa tahu... ada kecocokan dan kita bisa berjodoh!" Mata Asep berkilat. "Kehidupanku tidak terlalu indah, yang ada hanya kepedihan saja Mas." Wajah Malam tunjukkan betapa sedih hatinya saat ini. "Tidak apa-apa. Aku siap pasang telinga untuk dengar ceritamu dan berikan dadaku untuk sandaran kepalamu." "Ya, aku mengerti itu Mas. Tapi apa istrimu bakal mengerti?" tegur Malam. Asep tertegun, darimana Malam bisa tahu kalau dirinya sudah beristri. Tapi tak lama dia sadar, pertanyaan seperti itu kan memang biasa dan dia bisa saja menjawab bohong. Tapi bohong bukan jalan yang dipilih Asep. Karena ada Sabda di belakang Malam. Asep tidak mau ambil resiko berurusan dengan Sabda yang sejak dia masih kecil sudah menjadi orang yang disegani dan ditakuti. Buktinya tidak ada warga yang mau berdekatan menjadi tetangga Sabda. Rumah warga yang terdekat saja berjarak kurang lebih tiga ratus meter. Tetapi Sabda tidak pernah masalahkan itu, dia tetap baik dengan warga, hanya saja dia berikan batasan yang jelas, jangan sampai ada yang mengusik ketenangannya kalau tidak mau celaka. Namun jika ada warga yang mau minta tolong untuk berobat secara tradisional dan berbau sihir, Sabda akan siap. Ki Sabda, dukun Ciparuk. Itu nama dan gelar yang diberikan warga pada Sabda. "Istriku... jujur saja, aku sedang ada perang dingin dengannya. Kami sedang pisah ranjang," jawab Asep setengah jujur. Asep sudah beristri dan punya anak satu masih berusia tiga bulan. Tapi dia bohong mengenai perang dingin. Dia berkata itu karena ada tujuan. "Oh, kasihan dong! Tiap malam berteman guling. Mas Asep kan ganteng, aku aja tertarik dan siap aja jadi istri pengganti atau yang kedua sekalipun!" Malam tebar jeratnya. "Benarkah?" Asep mencari tangan Malam. Malam paham akan gerak tangan Asep, tanpa malu-malu dia sambut tangan Asep agar bisa digenggam pria itu. "Tanganmu halus dan wangi, tapi dingin." Asep belai-belai punggung tangan Malam setelah tadi dia sempat angkat dan cium punggung tangan Malam. "Udara kan dingin Mas. Wajar dong kalau suhu tubuhku juga dingin." Malam tertawa sambil tutup mulutnya. Asep tersenyum. Dia tatap wajah Malam yang terlihat semakin bersinar di bawah sorot bulan purnama. "Kita jalan-jalan yuk, Mas!" ajak Malam sambil tarik tangan lepas dari genggaman Asep. "Mau ke mana?" "Aku kan baru di sini, baru tiga hari dan keluar malam ini. Aku tidak tahu tempat yang menarik di sini. Tapi ada syaratnya!" "Oh, iya. Kamu kan masih baru di sini." Asep anggukan kepala berkali-kali. "Satu lagi, Mas Asep pria pertama kampung ini yang aku lihat, selain Ki Sabda." Malam tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih bak mutiara. "Aku tersanjung." Asep tertawa. "Apa sudah siap dengar syaratku?" Malam menatap serius. Asep menunggu. "Syaratku mudah, aku ingin bertemu istrimu!" Bak petir menyambar di dekat telinganya, "Bertemu Nina?" Asep sebut nama istrinya. "Kenapa? Apa kamu tidak ingin aku kenal dengan istrimu? Aku hanya ingin kenal dan meminta ijinnya untuk bisa mendekatimu secara baik-baik. Jika nanti aku jadi istrimu yang kedua, aku ingin menjadi istri muda yang baik pada yang tua." Asep mengeluh dalam hatinya. Ucapan Malam terdengar manis, tapi dia tidak tahu apa itu tetap menjadi manis saat bertemu Nani nanti. "Kalau tidak mau, batal saja Mas!" Malam putar tubuhnya.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 25 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (63)
Darl Ki
Ceritanya bagus, penasaran dengan ending nya gimana, masih menunggu sambungan 😌
Ceritanya bagus, penasaran dengan ending nya gimana, masih menunggu sambungan 😌
21/05/2025
1bagus banget
20/02/2025
0sukaaa bgtttt😋🔥
25/11/2024
0Tingnan Lahat