logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Suara minta tolong

" Aku tadi liat anak perempuan di luar, kasian takutnya dia nyasar" Timpal Bella khawatir.
" Bel, mana mungkin ada anak perempuan kelayapan di luar jam segini, ini udah hampir jam 11 malem, lagian disini jauh ke pemukiman warga, jadi gak mungkin kalau ada anak perempuan di luar jam segini" jelas Adreas. Ia khawatir karna sejak kesini, Bella adalah orang yg paling banyak mendapat kejadian aneh.
Bella tipe orang yg sangat peduli terhadap sesama. Ia wanita baik. Dia jarang marah, penyabar, dan ramah. Namun, dia memiliki raga yg tak sebugar dan sesehat yg lainnya. Ia memiliki penyakit asma, dia tidak boleh terlau cape, dan semua pergerakannya di batasi.
Bella termenung. Mungkin ada benarnya yg di katakan Adreas. Tapi ia yakin jika tadi ia melihat anak perempuan di luar.
" Tapi dre.."
" Bel udah, sekarang kamu istirahat. Kamu gak boleh tidur larut malem, perhatikan kesehatan kamu bel. Ingat pesan mama kamu"
Bella membuang nafas berat. Lalu berjalan kembali ke kamarnya. Hatinya tidak puas dengan semua rasa penasaran yg menghampirinya. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang bersprei putih.
Kotak musik itu masih terus berbunyi, patung boneka kecil di dalamnya juga masih terus menari. Bella menutup kotak musik itu, lalu menyimpan nya di atas nakas.
" Kak, tolong aku kak.." " Kakk.. tolonggg.!!!"
Bisikan- bisikan itu terus terdengar di telinga Bella. Mata yg tadinya hendak terpejam urung ia lakukan. Fokusnya teralih pada bisikan yg ia duga seorang anak perempuan.
Bella memaksa matanya untuk terpejam. Ia juga sempat berfikir jika itu bisa saja gangguan dari makhluk tak kasat mata. Bella juga memasang earphone di telinganya agar tak mendengar lagi suara- suara aneh itu.
°°°
" Dre, lu ngerasa ada yg aneh gak sih?" tanya Devin tiba- tiba.
" Aneh gimana maksudnya?"
" Ya aneh aja gitu, masa nih ya, tadi, gue liat pak Joko nyimpen semacem sesajen di dekat kamar yg ada di ujung lorong Villa ini"
" Ah masa sih? gue gak tau"
" Iya Dre, gue juga liat" sambung Joe.
" Perasaan kalian aja kali. Gue gak tau menau soal gitua. Villa ini dulunya rumah gue. Dan waktu umur gue 10 tahun, gue sempet jatoh dan koma. Gue dinyatain hilang ingatan waktu itu, dan akhirnya bokap gue bawa kita pindah rumah ke Jakarta. So, gue gak inget apapun soal tempat ini" Jelas Adreas.
" Ohh jadi dulu loe tinggal disini?" sambung Devin. Adreas mengangguk. Ghani menatap Adreas dengan wajah dingin. Tatapan itu bak tatapan Elang.
°°°°
Keesokan harinya para perempuan lebih dulu bangun. Mereka bertiga memutuskan untuk lari pagi.
" Bel, loe yakin mau ikut?" tanya Maya khawatir, ia takut jika penyakit Bella kambuh.
" Emmh.. iya juga sih, tar kalo ada apa- apa takutnya kalian yg kena inbasnya" Timpal Bella ragu.
" Gue takut loe kenapa- napa Bel" Sambung Olive.
" Yaudah kalo gitu gue di rumah aja, lagian ada hal yg perlu gue kerjain" papar Bella akhirnya. Bella pun tak jadi ikut, hanya Maya dan Olive yg pergi.
Kabut tebal menutupi jalan. Maya dan Olive sedikit kesulitan melihat jalan di depan mereka.
" May, kabutnya tebel banget, gimana dong" keluh Olive. Mereka berdiri menatap kabut tebal, di tambah udara pagi yg dingin menusuk kulit.
" Apa kita balik lagi aja ya?"
" Tanggung sih, kita cari jalan lain aja"
" Yaudah ayo!"
°°°
Bella memegang kotak musiknya. Ia masih punya misi untuk menyelidiki apa yg sebenarnya tersembunyi di balik kamar belakang itu.
" Suara orang nangis, anak perempuan, dan suara minta tolong" Bella mengurutkan kejadian yg ia alami. Bella lalu melangkahkan kakinya ke arah kamar belakang tempat kemarin ia mendengar suara tangisan.
Mungpung Adreas masih tidur, jadi ia fikir bisa leluasa menyelidiki hal itu. Namun, baru saja ia sampai di depan pintu itu, ia melihat ada semacam sesajen yg terletak di meja. Bella mengernyitkan dahi.
" Apa ini?" tangan Bella terulur hendak menyentuh benda itu, namun di cekal oleh tangan yg nampak sudah tua.
" Mau apa kamu?" tanya mbok Sumi dengan wajah datar. Bella terperanjat kaget. Dan langsung menarik kasar tangannya.
" M- maaf mbok, saya.."
" Tidak ada yg boleh kesini, lebih baik kamu kembali ke depan" ujar mbok Sumi lagi, dengan wajah tanpa ekspresi. Bella ketakutan, dan memilih untuk manut dan ia pun pergi.
Mbok Sumi menoleh, menatap ke arah pintu kamar. Tatapannya aneh. Lalu melengos pergi.
Bella berlari ke teras. Nafasnya tersenggal akibat panik. Ia duduk di kursi kayu menstabilkan nafasnya yg ngos- ngosan.
" Ada apa sebernya dengan kamar itu? ah aku lupa, kan kalo pagi ada mbok Sumi" Bella menggaruk tengkuknya yg tak gatal, merutuki kebodohannya.
Saat sedang duduk, tatapannya kembali menangkap sosok anak perempuan yg tadi malam ia lihat. Bella bangkit dari duduknya, lalu bergegas mengikuti anak perempuan itu.
Bella berjalan mengendap- ngendap. Anak perempuan itu berjalan ke arah hutan. Bella masih mencoba menghafal jalan agar tidak tersesat saat pulang.
Anak perempuan itu menoleh, dengan gerak cepat Bella bersembunyi. Namun, saat Bella melihat kembali, anak perempuan itu hilang.
" Loh kok.."

Komento sa Aklat (300)

  • avatar
    DITAPUSPAADYTIA

    cerita holor nya aku sih suka kalau yang ini merinding dan bikin lari maraton pas baca ini cerita yang paling menyeramkan dari cerita holor yang lain punya oh yah bikin lgi dong cerita nya yang holor holor kan seru tuh sama cerita yg lain juga yang happy ending.cocok untuk di jadikan film

    11/08/2022

      0
  • avatar
    Muhammad Malin Yusup

    sangat berguna

    19/05/2022

      0
  • avatar
    BellaNabitabo

    I love novelah app this app so nice

    28/04/2022

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata