Sebuah resepsi pernikahan digelar di sebuah gedung mewah, sejauh mataku memandang hanya ada karangan bunga juga keramaian orang yang duduk tenang di meja yang berhias kain. Anehnya, ini adalah tempat asing bagiku dan juga, perutku mendadak lapar padahal tadi aku sudah makan ramen. Nekat, aku masuk ke dalam gedung membuang jauh-jauh rasa malu. Semua mata tamu yang hadir memandangku seakan aku ini benda langka. Dari tempatku, mempelai pria tampak sangat tampan dengan setelan jas warna krem dengan dalaman berwarna putih. Rambut hitam mengkilap disisir ke belakang. Wajah pengantin pria khas hindustan, mirip Hritik Rhosan kalau dilihat dari samping. Di balik pakaian formal itu, terlihat bentuk tubuh yang athletis. Sementara mempelai wanita begitu anggun, terlihat sangat cantik. Tipe wajah diamond, mata dalam yang berbinar penuh kebahagiaan seolah tidak ada satu pun yang bisa merenggut kebahagiaannya hari itu. Lengkung bibir yang tipis dipoles lipstik warna merah ditambah alis dengan lengkungan tinggi tanpa tambahan pensil alis. Bentuk hidung duchess yang semakin membuatnya tampak sempurna dalam balutan gaun. Aku tidak tahu ini acara pernikahan siapa dan kenapa aku di sini. Aku hanya menggunakan seragam sekolah lengkap dengan jas SMA Matahari berwarna biru langit. Perasaan risih menghampiri ketika aku menjadi pusat perhatian beberapa tamu yang ada di ruangan ini namun, aku mencoba berbaur di meja prasmanan, mencoba menghilangkan rasa tak nyaman. Berbagai makanan dan minuman terhidang di meja prasmanan, kue-kue basah dan makanan berat lainnya juga. Perutku pun tergoda dibuatnya. Tanpa malu-malu aku mengambil sebuah piring di tumpukan paling atas yang tertata di meja, kemudian memilih hidangan yang kusuka. Seseorang menepuk pundakku ketika aku hendak mengambil makanan, sontak aku menoleh. Ternyata mempelai wanita berdiri di belakangku dan menyunggingkan senyum di bibirnya yang tipis. "Kamu ingat aku?" tanyanya. Aku menggeleng pelan dengan piring yang masih kosong. Tertegun karena senyuman yang disunggingkan. "Ya udah, nanti juga kamu tahu, kok!" Pengantin wanita melenggang, menghampiri pengantin pria yang sedang mengobrol dengan beberapa tamu undangan. "Ya, hari ini hari bahagia. Kepada Jehan Tam dan Ruth, saya ucapkan selamat kepada kalian. Semoga dikaruniai anak dan cucu yang lucu. Bahagia selamanya sampai maut memisahkan." Suara MC menggema ke seluruh ruangan. Dia tampak begitu antusias. Lalu, saat setelah dia bekrata begitu, riuh tepuk tangan pun memenuhi ruangan. Meski aku tidak mengenal mereka, aku jadi terbawa suasana, tanpa sadar ikut-ikutan bertepuk tangan. "Nah, sebagai hadiah, saya akan membawakan sebuah lagu dari tahun 70 an. Lagu milik Goerge Baker. Selamat menikmati lagu I've been away too long!" Musik terdengar dan MC mulai menyanyi. Semua undangan pun tampak menikmati lagu ini dan aku hanya diam sambil menikmati hidangan di atas piring. "Masta ... Masta, bangun, Nak!" Tubuhku terguncang begitu. Pelan-pelan kubuka mata yang terasa berat dan terdengar lagu dari lantai bawah. Nada dan lirik lagunya sama persis seperti lagu di dalam mimpiku tadi. Aku terperanjat, kulihat mama sudah duduk di bibir tempat tidur. "Ma, itu-." Aku menunjuk ke sumber suara-. "Apaan?" "Itu lagu Goerge Baker, kan?" "Iya, papa yang nyetel lagu itu. Kenapa?" mama menatapku penuh penasaran. "Judulnya apa?" "I've been away too long. Kenapa emangnya?" Mata Mama menyipit. "Penasaran aja, karena Masta gak tahu lagu itu." "Ya udah. Mandi sana. Ini udah malam, loh! Kamu pulang sore, seragam belum dilepas malah langsung tidur. Habis itu makan, ya!" ucap Mama sembari keluar dari kamar. Aku memerhatikan badanku yang masih mengenakan seragam SMA Matahari. Mengingat tadi sore setiba di rumah aku langsung rebahan di kasur. Ternyata, niat rebahanku malah membawaku ke alam mimpi. Malam ini, setelah membersihkan badan, aku tidak bisa tidur sama sekali akibat tidur yang kebablasan hingga jam delapan malam. Karena itulah, aku memanfaatkan waktu melekku untuk belajar sekenanya saja. Akan tetapi, baru saja aku membuka buku catatan, wajah pengantin wanita dalam mimpiku tergambar jelas di atas lembar kosong buku catatan. Senyum simpul, wajah tipe diamond dengan garis dagu tegas. Mata bulat yang menatapku lurus-lurus di dekat meja prasmanan. Pengantin wanita itu rasanya tidak asing.
"Jangan begadang, loh!" Sosok Mama terlihat di pintu kamar dengan segelas susu yang mampu membuatku terbuyar. "Aku belajar sekenanya saja, kok. Lagipula tidak ada hal yang menarik untuk dipelajari," ucapku. "Tugas seorang siswa memang belajar, kan?" Mama meletakan susu di atas meja. "Memangnya kalau aku belajar giat nanti akan berguna?" "Tentu saja berguna!" Bibir Mama mengerucut. Melihat ekspresi Mama, aku tersenyum tipis. "Minum susunya selagi hangat. Itu obat tidur yang bagus, pasti kamu gak bisa tidur gara-gara tadi. Jangan begadang!" Mama sambil melenggang keluar setelah mengelus lembut mamaku. Mataku menyorot ke jarum jam beker yang detiknya terus berjalan maju melewati detik demi detik. Sudah jam dua belas malam. Niatku untuk belajar sekenanya malah menjadi pelajaran hingga larut malam. Tenggorokanku rasanya sangat kering dan ion di tubuhku habis diserap oleh otak untuk berpikir keras demi belajar. Jadi, aku turun ke dapur untuk minum air. Aku turun ke lantai satu, melewati ruang tengah untuk sampai ke dapur. Namun, langkahku terhenti ketika mataku menyorot seorang wanita yang sedang duduk santai di sofa. Wanita itu berambut panjang sepinggang. Mengenakan baju lengan panjang warna biru langit yang ujungnya melewati pinggang dengan bawahan rok menutupi mata kaki berwarna flamingo. Pakaiannya tidak bisa dibilang lusuh, namun sepertinya dia tidak mengerti tentang fesyen. Untuk sesaat, mata kami bertemu lalu, entah kenapa wajah wanita ini tidak asing, tapi aku tidak bisa mengingat dimana aku melihatnya. Saat mataku bergerak turun ke kakinya, aku menyadari sesuatu. Kakinya tidak napak ke lantai yang membuat ku membeliak, membeku untuk sesaat. Setelah menyadari dia bukan manusia, aku mengurungkan niat untuk pergi ke dapur. Rasa hausku pun kutahan sambil berlari dengan napas terengah-engah, menapaki tangga menuju kamar di lantai dua.
Buru-buru aku menutup pintu kamar dan menguncinya. Lantas berbalik berniat naik ke ranjang dan menyembunyikan diri di balik selimut. Akan tetapi, jantungku nyaris saja copot ketika mendapati sosok wanita itu sudah berdiri di hadapanku. Sekali lagi, wajah pucat itu menyunggingkan senyum. Darahku dipompa dengan tempo yang cepat, dadaku berdentum hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. Takut-takut sembari memasang sikap awas, mataku tidak kualikan dari dirinya. Aku tidak pnya pilihan selain berjalan menyamping di dekat tembok. Bahkan, punggungku menempel dengan dinding dan menimbulkan suara gesekan di sana seiring dengan langkah kakiku yang berpindah pelan. Mata wanita itu juga bergerak seiring perpindahanku, mengawasiku. Karena terlalu memasang mata kepada sosoknya, aku tidak sadar badanku sudah membentur lemari. Sial, aku tersudut. Mentok sampai di sini. Wanita itu hanya berjarak beberapa cm di depanku sekarang, aku hanya bisa pasrah dan mendadak jadi gelagapan sambil bertanya, "Ka-Kamu siapa? Ma-mau apa?" Alih-alih menjawab pertanyaanku, wanita itu mendekat dan mendekap tubuhku erat. Sontak meronta dalam dekapannya tapi, dia tidak menjawab sama sekali dan malah mendekapku semakin kuat. Semakin aku meronta, rasanya dadaku semakin sesak. Napasku semakin berat. "Aaaaaaah!"
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat menarik dan seru
27/05
0bagus banget
15/12
0keren
11/09
0Tingnan Lahat