Beberapa saat, otakku kembali memanggil memori jangka panjang. Teringat tentang artikel yang kubaca di internet saat membuat paper tentang indigo dan sains untuk tugas sewaktu aku masih menjadi anggota klub sains di SMA Sakura. Ada empat jenis gelombang otak yang dihasilkan manusia yaitu Gamma, Beta, Alpha, Tetha dan Delta. Akan tetapi, ada satu lagi gelombang otak yang ditemukan oleh seorang ilmuwan. Sang Ilmuwan itu menemukan sebuah gelombang yang merambat dengan kecepatan cahaya 299.792,46 km/detik. Frekuensi gelombang itu dibawah 0,5 Hz, frekuensi yang lebih kecil dari gelombang Delta yang diberi nama gelombang Epsilon. Jika mengaitkan gelombang otak dengan seorang indigo, tentu saja masuk akal. Ketika seorang indigo menangkap gelombang Epsilon, dia akan mengalami fase supranatural. Dengan kata lain, frekuensi gelombang otak mereka sangat dekat dengan frekuensi gelombang alam semesta. Saat aku melamun tentang gelombang otak, saat itu makanan yang kami pesan diantar oleh pelayan. Tangan Sang Pelayan dengan lihai memindahkan pesanan kami satu-persatu dari nampan ke atas meja kemudian berkata, "Selamat menikmati!" sebelum melenggang ke balik konter. "Waktu Estes nanya kamu tentang masa depa, kok kamu kabur gitu aja?" tanyaku sambil mengaduk ramen panas di hadapanku dengan sumpit. Aroma yang menguar dari dalam mangkuk juga asap tipis yang mengebul Aroma ramen membuatku ingin cepat-cepat melahapnya. "Ada hal-hal yang gak perlu dibicarakan walaupun kita tahu apa yang akan terjadi pada kehidupan seseorang," jawab Anin sembari menutup bukunya. "Tapi, bukankah lebih baik bilang. Kalau pun hasilnya buruk kamu bisa kasi solusi, kalau baik yang kasi saran biar lebih baik. Apalagi Estes yang selengekan begitu." "Udah aku bilang, ada hal-hal yang gak perlu dibilang. Dan yang paling penting adalah menjaga perasaan seseorang!" Kornea coklat di balik kacamata itu memandangku dengan dingin. Untuk beberapa menit, suasana di meja kami hening. Hanya ada suara sumpit yang beradu dengan mangkuk ramen. Berbeda denganku yang seperti orang kelaparan, Anin menyantap makanannya sedikit-sedikit. Tangan kirinya menahan buku yang terbuka dengan agar halamannya tidak tertutup, matanya berkelana ke lembar yang terbuka. "Makan dulu, taruh bukunya!" Pipiku kembung karena ramen di dalam mulut yang sudah agak dingin untuk bisa disantap. "Aku lebih menikmati makananku kalau sambil baca buku begini." Cara menyantap makanan dengan tangan kanan yang ogah-ogahan dan kaki kanan disilangkan seperi itu sama sekali tidak bisa kusebut anggun dan berkelas, malah hanya akan memperlambat waktu makan. Menikmati makanan sambil membaca buku, kebiasaan yang sedikit asing dibanding dengan makan sambil main handphone. Aku menyedot milk shake dalam gelas untuk menyegarkan tenggorokan karena rasa asin ramen. "Oh ya, kenapa kamu tertarik dengan reinkarnasi?" "Karena aku pengen tahu aja tentang kehidupan setelah kematian", dengan gaya yang tidak berubah, Anin menjawab enteng. "Kakekku juga pernah cerita tentang reinkarnasi. Salah satu cerita yang menarik adalah tentang gadis bernama Shanti Devi yang mampu mengingat kehidupan di masa lalu sebelum dia lahir menjadi seorang gadis. Konon dia bisa mengingat nama suaminya juga tempat dia menyimpan uang," "Lalu kamu percaya?" "Hmm aku kurang percaya dengan hal yang kayak gitu, meskipun agamaku mengakuinya." "Yah, kepercayaan seseorang terhadap sesuatu gak bisa dipaksain." Anin membuka halaman berikutnya, tangan kanannya menyumpit ramen lalu dia seruput dengan mulut. "Tapi, kamu gak risih dengan kemampuan indera keenam?" "Kadang sih, kadang lebih baik gak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Agak mengerikan juga." Aku kembali menyedot milkshake yang masih setengah. "Oh ya, boleh minta nomor ponsel kamu?" Aku mengeluarkan smartphone dari saku jas sekolah, smartphone dengan softcase bergambar anime di bagian belakang itu kuacungkan di hadapan Anin. Masih dengan cara makan yang ogah-ogahan, Anin langsung menyebutkan dua belas digit nomor dengan pelan. Jariku pun lihai mengetik di papan tombol. Nomor Anin tersimpan di kontak, kuketik dengan huruf Jepang. Angka 16:00 tertera di layar smartphone, menutupi gambar wajah cantik Ita chan yang kugunakan sebagai wallpaper. "Wah, udah sore ternyata. Balik, yuk!"
Tangan kiriku sudah siap mencangklong tali tas yang kuletakkan di sebelah kursiku, saat itulah Anin memanggilku dengan nada rendah. "Masta!" "Hmm?" "Janji sama dengan hutang!" Anin menegakkan kepalanya pelan, memperlihatkan senyum dengan tatapan penuh arti. "Eh?" Bisa kurasakan alisku berkenyit sembari menelengkan kepala sedikit. Anin menyadari ekspresi wajahku yang kebingungan lalu gelagapan. "Ah, Makasudku ... Makasih traktirannya!" Mata bulat dengan kornea coklat di balik kacamata itu menyipit. Masih terasa tatapan Anin di punggungguku ketika aku mulai meninggalkan sendirian di sana. Sambil menunggu ojek online di area pintu masuk kafetaria, aku sesekali mengedarkan pandangan ke arah Anin. Dia masih membaca dengan serius buku sambil sesekali membenarkan kacamata yang melorot di hidung. Sebentar-sebentar dia terlihat menyedot milkshake. "Indigo, ya?" Aku berdecak. Sedikit tidak percaya. Mengingat Daniel yang mengatakan kalau teman sebangkuku itu bisa melihat masa depan, aku mulai tertarik. Jika benar Anin bisa melihat masa depan, mungkinkah alasan mau makan denganku karena tahu sesuatu akan terjadi padaku? Tidak. Anin menerima ajakanku karena dia lapar. Itu sudah jelas. Tidak akan ada yang terjadi padaku hanya karena itu. Sekali lagi, aku menoleh ke arah Anin namun, di balik kaca kafetaria sosok gadis itu sudah tidak ada di tempat makan kami tadi. Pandanganku mengembara ke seluruh kafetaria yang bisa dijangkau mata, mencari sosok Anin. Saat itulah ojek online pesananku datang. Aku langsung naik ke boncengan belakang setelah driver memastikan bahwa aku pelanggannya, driver mengulurkan helm. Bahkan saat motor mulai melaju, aku masih menyapukan pandanganku ke arah kafeteria. Tidak mungkin Anin punya keahlian teleportasi.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat menarik dan seru
27/05
0bagus banget
15/12
0keren
11/09
0Tingnan Lahat