logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Gadis Indigo, Ranindya Netra

Hari berikutnya, aku berjalan di lorong koridor menuju kelas sambil menguap dengan mata yang masih setengah mengantuk karena semalaman bikin tugas makalah Biologi untuk hari ini. Rambutku yang tebal masih acak-acakan sehingga penampilanku kali ini terkesan berantakan.
"Aduh!" Seseorang mengerang dan membuat mataku yang terkantuk-kantuk jadi terbuka lebar. Aku menoleh ke sumber suara. Ranindya sudah terduduk di lantai, buku-buku berserakan di dekatnya dan kacamata minusnya terhempas.
Maaf, Ranindya!" ucapku.
Diantara buku yang tercecer, buku yang menarik perhatianku adalah buku dengan judul Reinkarnasi, entah pengarangnya siapa. Ranindya menyambarnya begitu saja ketika aku masih menjatuhkan pandangan pada buku itu.
"Kamu gak apa-apa, kan? Maaf ya!" ucapku sembari membantunya menjumput satu persatu buku yang berserakan. Ranindya meraih kacamata bergagang merah itu, memeriksa lensanya. Setelah yakin bahwa tidak ada masalah, Ranindya lalu mengusap lensanya dengan tisu yang dia keluarkan dari saku roknya.
Ranindya menatapku lurus-lurus, hampir tanpa berkedip. "Kenapa, Ranindya?", tanyaku.
"Eng..enggak apa-apa, kok. Panggil aku Anin saja!"
Kemudian, gadis itu melenggang begitu saja ke arah perpustakaan.
"Wah, benar-benar aura yang dingin!"
Entah sejak kapan Daniel berada di belakangku. Dia tiba-tiba saja sudah menyedot teh kemasan karaton sambil memandang ke arah berlalunya Anin.
"Tapi kalau dilihat-lihat, Anin itu cantik juga. Cuma introver bukan tipeku. Cewek kayak gitu gak bakal dapat cowok!"
"Ah, kata siapa intorver gak bisa dapat pacar? Ada kok cowok yang seleranya introver," tukasku.
Aku menyanggah penilian Daniel dari sudut pandangnya sendiri. Mendengar aku berkata seperti itu, Daniel terkekeh. "Jangan-jangan kamu ini tipe cowok yang suka dengan cewek introver."
"Jangan sembarangan!"
Aku meninggalkan Daniel di belakang tepat saat bel tanda masuk berbunyi.
Guru belum memasuki kelas, begitu juga dengan Anin. Setelah meletakkan tas, tanpa sengaja mataku melirik meja Ranindya yang penuh coretan abstrak. Apa dia tidak punya kertas untuk dicoret sampai-sampai menggunakan fasilitas sekolah seperti ini?
Aku nengalihkan pandangan dari meja begitu sosok Ranindya datang bersamaan dengan guru. Dia memperbaiki roknya kemudian duduk di sebelahku.

***
Alih-alih pulang setelah jam pelajaran berakhir, aku mampir ke toko buku dekat sekolah. Berbagai macam buku ditata sesuai dengan jenisnya. Buku-buku non fiksi, novel, komik dan bahkan buku keagamaan berjajar cantik sesuai dengan tempatnya. Aku menyapukan pandangan ke seluruh interior buku. Beberapa pelanggan pun tampak melihat-lihat. Mencari buku apapun yang mereka inginkan.
Saat sedang menimbang-nimbang buku apa yang harus aku beli, mataku menyorot punggung seseorang dan potongan rambut bob yang kukenal. Perlahan aku mendekat, bermaksud mengagetkan teman sebangkuku itu. Akan tetapi, sebelum itu terjadi akulah yang dibuat kaget.
"Kalau mau ngagetin, cara itu udah gak mempan," ucapnya.
Salah tingkah, aku menurunkan tangan yang terangkat.
"Kok kamu tahu aku di belakangmu?" tanyaku penasaran.
"Arah angin." Anin menggerakan matanya, memilah buku tanpa melihatku sama sekali. Aura dingin gadis miskin ekspresi ini sangat terasa. Bahkan, AC di dalam toko rasanya kalah dingin.
"Arah angin atau kamu pakai indera keenam?"
Tangan Anin berhenti tepat di depan sebuah buku untuk sesaat dan melanjutkan kembali aktivitasnya itu. Dia berpindah, menelusuri rak.
"Kamu nyari buku tentang apa?" tanyaku sembari mengikuti langkahnya pelan.
"Tentang reinkarnasi." jawabnya. Lagi-lagi, ekspresi yang kuterima hanya ekspresi datar.
"Emangnya kamu percaya hal-hal kayak gitu?"
"Bisa dibilang begitu."
"Habis ini kita makan, yuk!" ajakku.
"Maaf, aku lagi sibuk."
Aku lega karena dia menolak. Namun, sesaat kemudian terdengar suara dari dalam perut teman sebangkuku ini.
Anin menunduk, melihat perutnya yang sekan meronta minta diisi kemudian memeganginya. Sejurus kemudian wajahnya merona, tetapi masih tidak ada ekspresi apapun tergambar di sana.
"Nah kan, biar aku yang teraktir!.Aku menunjukkan senyum tipis.
"Jangan malu-malu, lagian kita kan teman," imbuhku sembari mengulurkan tangan.
Anin memandang tanganku yang terulur, ragu untuk menjabatnya.
"Semua teman di kelas udah ngejabat tanganku kecuali kamu. Padahal kita sebangku loh, sebangku."
Gamang, dia merapikan kacamatanya yang memerosot. Akhirnya, dijabatnya juga tanganku yang kurus. Tangannya yang bertaut pada tanganku terasa begitu lembut.
"Pramasta Dananjaya. Panggil saja Masta!" Sekali lagi, aku memperkenalkan diri meski kami teman
"Ranindya Netra. Panggil saja Anin!"

***
Aku memilih kafetaria berkonsep Jepang yang letaknya tidak jauh di dari toko buku yang kami kunjungi. Kira-kira, hanya ditempuh sepuluh menitdengan berjalan kaki. Menurut penuturan Estes, kafetaria ini adalah tempat makan yang terjangkau untuk ukuran anak SMA juga cocok untuk orang yang ingin menikmati makanan Jepang. Didukung oleh interior kafe berkonsep Jepang dengan beberapa kaligrafi dan tulisan kanji. Tidak hanya itu, begitu memasuki ke dalam seorang pelayan menyambut sambil berkata "Irrashaimase." Sambil membungkukkan badan.
Kami memilih meja untuk berdua di dekat jendela. Dari sini, pemandangan jalanan di luar juga terlihat. Gedung-gedung pencakar langit yang mencerminkan megahnya kota metropolitan. Selang dua meja dari meja kami ,empat pria dengan pakaian formal duduk berkelompok, mengobrol ringan sambil merokok. Selain mereka, hanya ada aku dan Anin.

Sesaat kemudian, seorang pelayan wanita datang lalu mengeluarkan nota berikut pulpen dari dalam saku kemeja kerja warna biru berlogo kafetaria di dada kirinya. Setelah membagikan daftar menu, bersiap mencatat pesanan kami. Aku mengedarkan pandangan ke daftar menu. Rupanya tidak hanya ada menu khas Jepang tapi berbagai macam makanan khas Asia Timur seperti Korea dan China. Mengabaikan menu lainnya, aku langsung memilih Rrmen, karage dan milkshake. Anin tampak ragu-ragu dengan menu makanannya. Bola mata naik turun, terlihat kebingungan.
"Pesan aja yang kamu mau." ucapku.
"Baik. Kalau begitu aku pesan yang sama saja."
Menu ditarik kembali oleh pelayan setelah dia membaca ulang nota pesanan untuk memastikan agar pesanan kami benar.
"Mohon tunggu sebentar, ya." Pelayan lalu pergi ke balik konter.
"Nin, beneran kamu bisa lihat masa depan dan masa lal?" tanyaku pada Anin yang sedang mengelupasi plastik pelindung buku yang baru saja dia beli dari toko tadi. Begitu plastik tipis itu terlepas, aroma buku baru pun menguar. Dengan ekspresi datar, Anin mulai membuka sampul depan, menyelipkan pembatas buku tersebut pada halaman paling belakang.
"Enggak juga, hanya saja sensor otakku sedikit spesial."
"Rata-rata gelombang otak anak indigo bekerja pada frekuensi rendah, kan? Kalau tidak salah, frekuensinya di bawah 0,5 Hz."
Alih-alih menjawab pertanyaanku, Anin membuka buku menutupi wajahnya.

Komento sa Aklat (174)

  • avatar
    Jeremi Antonio

    sangat menarik dan seru

    27/05

      0
  • avatar
    SupendiSurdi

    bagus banget

    15/12

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    keren

    11/09

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata