logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Sisa Pindahan

Hari pertama di sekolah berhasil kulewati dengan baik walaupun pagi datang dengan menyebalkan. Aku pulang dengan perasaan yang biasa saja, tidak ada kesan apa-apa terhadap sekolah. Hanya saja, keramahan Estes dan Daniel membuat hari pertamaku sedikit berkesan. Kami jadi cepat akrab. Setelah mengganti baju dan makan siang, aku langsung melakukan tugasku menata barang-barang. Masih banyak yang harus ditata sampai rumah baru kami rapi.
Semua ruangan di rumah ini sudah bersih pasca direnovasi ulang sebelum kepindahan dan cukup membantu menghemat energi. Kukeluarkan baju-baju dari koper lalu menatanya di lemari. Poster-poster idol grup kutempelkan di dinding dan tentu saja bingkai fotoku dengan Ita chan kutegakkan di meja belajar. Beberapa koleksi miniatur figur anime kutata di rak dinding khusus. Barang-barangku setengah sudah selesai kutata, hanya tinggal merapikan sisanya yang masih berserakan di lantai.
Aku bertelanjang dada membuka, jendela lalu menyalakan kipas angin karena AC belum dipasang. Suhu Jakarta memang berbeda dengan di Bali. Sepanas apa pun di Bali, paling tidak masih terasa sepoi angin. Entah bagaimana metabolismeku ke depannya, yang jelas aku merasa cepat haus. Jadi, aku teguk segelas air hingga tandas.
Aku menyorot sebuah kardus yang sedari tadi kuabaikan, kardus bekas bertuliskan "foto-foto kenangan" itu yang tersisa sekarang. Isinya adalah sisa photopack member idol grup favorit yang tidak dapat ruang lagi di kamarku. Tanganku mulai aktif menurunkan satu-persatu koleksi para gadis yang hanya bisa kumiliki dalam dunia khayal. Ditambah lagi, foto terakhir adalah foto bersama dengan anggota ekskul sains yang diambil saat aku membawa nama sekolahku yang lama bersama anggota lainna dan memenangkan olimpiade tingkat regional Bali-Nusra.
Kusapukan pandanganku ke seluruh kamar, hampir tidak ada ruang lagi untuk menyimpan foto di rak gantung karena sudah penuh dengan koleksi CD idol grup. Jadi, aku memutuskan untuk memakunya di tembok, menuruni tangga mencari Papa.
"Ma, Papa mana?" tanyaku pada Mama yang sedang membereskan barang di ruang tengah.
"Di gudang belakang."
Aku menapaki lantai menuju gdang, di sana terlihat sosok Papa yang sibuk merapikan alat kerja yang biasa digunakan untuk bekerja sebagai seorang arsitek.
"Pa, pinjam palu dan minta paku!" pintaku pada Papa.
"Ada tuh di kotak perkakas, ambil aja!" sahut Papa tanpa menoleh.
Setelah mendapatkan benda yang kuperlukan untuk memasang foto, aku kembali ke kamar dan mulai memaku dinding untuk menempelkan foto. Aku juga memaku di beberapa titik untuk cadangan.
Sisa foto sudah tertempel rapi di dinding kamar denga. Semua sudah beres, perkakas ini harus aku kembalikan ke tempatnya. Kalau tidak, entah omelan macam apa yang kudapat dari Papa kalau tidak mengembalikan barang berharga milik Papa sebagai seorang arsitek. Kuletakkan lagi palu dan sisa paku yang kupakai ke kotak perkakas.
"Aduh!" Aku mengerang refleks saat jempol kakiku terantuk kaki meja yang diletakkan di sebelah pintu masuk gudang. Beberapa barang yang ada diatasnya terjatuh karena getaran yang dihasilkanl. Aku mulai menjumput satu persatu barang-barang itu sambil menahan rasa sakit pada jempol kaki. Berdenyut-denyut.
Di antara barang-barang yang terjatuh, ada salah satu bingkai foto yang menarik perhatianku. Foto hitam putih berbingkai kayu. Bingkainya masih awet namun latar belakang gambar sudah luntur. Gambar sepasang kekasih yang saling merangkul. Mungkin mereka adalah sepasang kekasih atau suami istri, usianya pasti sudah tua sekarang. Atau mungkin sudah meninggal. Sekelebat muncul pertanyaan di kepalaku apakah mereka mantan pemilik rumah? Namun, aku tidak mau ambil pusing tentang foto ini. Setelah mendirikannya kembali di atas meja, aku melanjutkan aktivitasku di kamar.
***
Kalau urusan beres-beres, mama memang cekatan. Semua selesai sebelum masuk jam makan malam. Rumah kami sekarang sudah bisa dihuni dengan nyaman tanpa barang sisa pindahan yang berantakan.Rumah jadi terlihat cukup luas, terlihat mewah dengan gaya arsitektur klasik. Pagar tembok yang dicat putih dan pintu gerbang besi dengan ornamen Bali. Aroma cat masih menusuk di hidung karena Papa memutuskan untuk mengecat ulang supaya terlihat lebih segar.
Alasan Papa membeli rumah ini karena dekat dengan proyek konstruksi. Papa yang seorang arsitek sengaja mengganti pagar dengan ornamen khas Bali. Alih-alih gerbang yang rapuh dimakan karat, sekalian sebagai pengingat kalau keluarga kami adalah orang Bali.
"Malam ini mau makan apa?" tanya Mama sembari melipat sarung bantal.
"Terserah Mama saja!" jawabku sambil rebahan di sofa.
Tadinya, aku memang berniat membantu mama tapi ternyata, selonjoran di atas sofa lebih asik. Aku mengecek smartphoneku sambil menggetarkan kaki. Notifikasi pesan Whatsapp yang belum kubaca dari Ita chan.
Ita chan
[Sebenarnya, aku takut kalau kamu di sana ketemu cewek yang lebih cantik. Terus kamu lupa sama aku karena ada gebetan baru.]
[Eh, kamu ngomong apa, sih? itu gak akan terjadi.]
Ita chan
Tapi kita kan gak tahu ke depannya. Ah, LDR itu gak enak.
LDR sangat berisiko meskipun sudah menanamkan kepercayaan diri yang begitu besar pada pasangan tapi tetap saja, pasangan yang menjalani LDR akan menjadi lebih posesif satu sama lain, akan jadi benar-benar berat untuk dijalani. Begitulah rumor yang kudengar dari beberapa temanku yang pernah LDR.
[Kalau ini berat, gak usah dipaksain]
Tiba-tiba, raut wajah gadis Jepang itu melayang di benakku. Sehari sebelum aku pindah ke Jakarta kami makan di restoran steak tempat pertama kali kencan. Aku masih ingat tentang kencan perpisahan kami. Dia memberiku CD idol grup favorit yang kebetulan dia beli langsung dari Akihabara waktu liburan semester. Ita chan juga membelikanku photopack Yokohamaa Yuri terbaru. Waktu itu dia sangat puas melihatku kegirangan menerima kedua benda tersebut. Setelah itu dia berkata dengan bangga,"Lagian gak mungkin juga kamu dapat pacar semanis Maeda Arika, seimut Watanabe Marin atau sedewasa Shinoda Rikako."
"Dan kamu sependek Takahashi Maruko." Aku selalu meledeknya begitu setiap kali dia nyeletuk seperti itu. Ita chan memang lebih pendek dari kebanyakan cewek di kelas. Tingginya saja hanya 149,5 cm, tinggi yang nanggung.
Masih bisa kurasakan juga hangat tubuh Ita chan yang ramping di Lapangan Renon sore itu. Mata kami saling beradu lalu serta ciuman dariku yang tiba-tiba di bibirnya yang tipis. Padahal, sedang ada festival budaya Bali tapi entah kenapa suasana sendu hanya menyelimuti kami berdua.. Angin malam ini menerpa sekujur tubuh kami. Tangan kami saling bergandengan. Kutatap wajah tirus Ita chan dari samping, ia terlihat seksi ketika angin membuat rambut hitam lurus itu menampar pipinya.

Komento sa Aklat (174)

  • avatar
    Jeremi Antonio

    sangat menarik dan seru

    27/05

      0
  • avatar
    SupendiSurdi

    bagus banget

    15/12

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    keren

    11/09

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata