Tanganku mengetuk pintu ruang guru kemudian mengucap salam. "Permisi!" sapaku kepada seorang guru yang bertugas di meja piket. Rambutnya yang cepak sudah putih semua. Kerutan di wajah Pak Guru ini memperjelas kalau beliau sepertinya guru senior. Kalau kuperkirakan usianya tidak terpaut jauh dengan almarhum kakek. Plat nama yang tertempel di atas saku dada kiri Pak Guru itu menarik perhatianku. Tertulis, "Sudiana D.P, S.PD." "Iya?" "Selamat pagi, Pak. Saya murid pindahan. Mau melapor." "Oke, ayo ikut saya!" Pak Guru itu pun beranjak dari tempat duduknya. Tanpa alasan aku memandang plakat tersebut. Mungkin karena nama beliau mencirikan nama orang Bali jadi mataku begitu tertarik. Ruangan guru ramai dengan aktivitas para guru yang baru selesai mengajar jam pertama. Ada yang sedang duduk, makan cemilan ringan bahkan ada beberapa guru wanita yang tertawa kecil sembari mengobrol dengan guru wanita lainnya.
Aku mengikuti langkah Pak Guru ke ruangan kepala sekolah yang katanya siswi tadi ada di dalam ruang guru ini. Benar saja, sampai di depan sebuah pintu yang dicat putih yang ada di pojok ruangan ini, Pak Guru pun mengetuk pintu. "Masuk!" teriak seseorang dari dalam. Menuruti perintah itu, Pak Guru pun membuka pintu. "Permisi, Pak Dimmy!" sapa beliau pada seseorang yang duduk di kursi belakang meja. Pria itu bertubuh tambun, mengenakan kacamata hitam. Tampak sangat berwibawa hanya dengan memandang wajahnya yang teduh. Ruangan ini cukup luas, terdapat meja dengan sebuah plakat kayu bertuliskan Dimmy Susanto, S.Pd. Satu set sofa lengkap dengan meja kaca untuk tamu di dekat jendela dan bendera Indonesia di dekat lemari kayu yang sudah penuh dengan piala. Berbagai macam piagam tertempel rapi di dinding dan pigura beberapa mantan Kepala Sekolah. Ada foto presiden dan wakil presiden yang melepit lambang Pancasila yang tertempel di dinding atas. Di sudut ruangan ditempatkan tanaman dengan pot untuk memberi kesan sejuk. "Ada perlu apa, ya?" tanya Pak Kepala Sekolah yang berwajah bulat. "Ada murid pindahan, mau lapor." jawab Pak Guru. "Oh, kamu anaknya Dimas Dananjaya?" Kenapa Bapak Kepala Sekolah tahu nama Papa? Papa bahkan tidak pernah cerita kalau punya teman seorang kepala sekolah. Sebelum pindah, Papa hanya bilang kalau aku akan masuk ke SMA Matahari. "Iya." Aku mengangguk pelan. "Papamu sudah bilang tentangmu. Tidak usah melapor lagi, semuanya sudah saya siapkan." Bapak Kepala Sekolah tersenyum sembari mendekat ke arahku. "Nah, kamu masuk di kelas 12A. Kebetulan, Pak Sudiana adalah walimu. Semoga kamu betah nuntut ilmu di sini." Pak Dimmy menepuk pundakku. "Terima kasih. Mohon bantuannya ya, Pak Dimmy dan Pak Sudiana juga." "Bentar lagi istirahat selesai, ayo siap-siap!" pinta Pak Sudiana. "Baik!" *** Bel tanda jam istirahat berbunyi tepat saat aku dan Pak Sudiana menuju kelas. Para siswa berlarian kemudian meringsak masuk ke dalam kelas. Ada juga yang berjalan dengan santai seoakan malas untuk menerima pelajaran selanjutnya. Aku mengikuti Pak Sudiana yang berjalan tertatih-tatih di depanku, postur tubuh kurus itu mulai bungkuk termakan usia. Di usia beliau yang sudah udzur seharusnya beliau pensiun dan menikmati masa tua di rumah. "Semoga kamu membiasakan diri , ya," ucap Pak Sudiana sambil melepit buku di ketiaknya. "Iya, mohon bimbingannya, Pak." Kami masuk ke ruang kelas dengan plat kayu bertuliskan, "Matahari 12A." Suasana kelas yang gaduh tiba-tiba saja menjadi hening begitu kami berdua masuk dan berdiri di depan kelas. Semua mata di kelas tertuju padaku. Beberapa cewek berbisik sehingga membuat kegaduhan kecil. "Semuanya, hari ini kita kedatangan murid baru. Nah, Silahkan naik ke undakan dan perkenalkan diri!" perintah Pak Sudiana. Aku mengangguk kemudian naik ke undakan di depan kelas, menyapukan pandangan ke seluruh kelas. "Hai, aku Pramasta Dananjaya. Panggil saja Masta. Asal Denpasar, Bali. Mohon bantuannya, ya!" Hanya itu saja yang bisa kusajikan di depan kelas untuk perkenalanku, aku melempar senyum ke seluruh kelas. Lalu tepuk tangan memenuhi ruang kelas. Baru berhenti ketika Pak Sudiana berkata, "Nah, terima kasih, silahkan duduk di sebelah Anin!" Pak Sudiana mempersilahkan sambil menunjuk ke arah bangku yang letaknya paling pojok belakang di dekat jendela, di sebelah gadis dengan rambut pendek. Aku kemudian turun dari undakan di depan kelas dan menuju bangku yang sudah ditetapkan. "Nah, ayo lanjutkan pelajaran!" ucap Pak Sudiana sesaat setelah aku duduk. Aku tersenyum ke arah gadis di sebelahku saat dia menoleh. Aku terperangah begitu sadar kalau dia adalah gadis yang tadi pagi kutanyai. Gadis dengan rambut bob, kacamata minus berbentuk kotak yang pas dengan mata itu. *** Pelajaran kedua sudah berakhir, waktunya istirahat lagi sebelum jam pelajaran terakhir, pelajaran keenam. Setelah Pak Sudiana keluar, dua siswa cowok yang tampak akrab satu sama lain menghampiriku. "Eh, kamu dari Bali, ya ?" tanya salah satu dari mereka yang kuketahui bernama Estes Rian dari name tag yang terajut di atas saku dada kirinya. Rambutnya dicukur rapi, memakai kacamata minus. Bentuk Struktur wajahnya lebih mirip orang Eropa. Postur tubuh yang tegap dan sedikit lebih tinggi dariku. "Iya." "Aku pernah ke Bali. Banyak bule cantik pakai bikini yang jemuran di pinggir pantai. Seksi," imbuhnya sembari meniru gaya ala model wanita. "Dasar mesum. Kamu hanya tahu hal seperti itu saja, ya?" tuturku dalam hati. "Kenalin, gue Daniel Darlan!" Seorang lagi mengulurkan tangannya. Dari wajahnya tidak bisa diragukan lagi. Wajah khas Asia Timur, mata sipit keturunan Tionghoa. Gamang, tanganku menjabat tangan yang terukur itu setelah sesaat memandang senyumnya. "Aku ketua kelas. Anak baru jangan coba rebut posisiku!" Dia menyombongkan diri, bergurau sambil sedikit mengancam. "Aku jadi pengen ke Bali. Lihat pantai, lihat turis," ucap Estes lagi. "Ya udah, pergi aja." aku menyunggingkan senyum. "Gadis-gadis Bali kalau pakai pakaian adat cantik, ya?" "Iya." aku menjawab singkat. Di pikiran kedua orang sahabat ini, mereka hanya tahu tentang turis memakai bikini dan wanita Bali yang mengenakan kebaya. Padahal, Bali tidak sedangkal itu. Sudah beberapa kali aku mendengar pujian tentang Bali dengan julukan 'Pulau Seribu Pura' tapi baru kali ini aku mendengar pujian tentang Bali hanya sampai seabatas turis mengenakan bikini. Aku tidak kaget sama sekali, bahkan ada beberapa yang mengatakan kalau Bali itu adalah sarang prostitusi. Mereka yang berkata begitu hanya memandang dari sisi negatif saja. Aku mengalihkan pandangan ke arah cewek berkaca mata minus di sebelahku setelah percakapan garing dengan dua orang sahabat itu. "Aku lapar. Ke kantin, yuk!" ajak Estes. "Kalian aja. Aku gak lapar." Aku menolak halus. "Ah, gak seru nih!" Mereka lalu melenggang. Sementara, aku mendekat ke arah teman sebangku. "Yang tadi pagi itu, makasih ya!" Aku mencoba membuka pembicaraan. Dia hanya menurunkan majalahnya dan hanya menjawab dengan anggukan kecil. "Siapa namamu?" tanyaku sambil menatap wajahnya dari samping. "Ranindya" jawabnya singkat. Benar-benar gadis yang miskin ekspresi, tidak asyik untuk mengobrol lebih jauh. Hanya aura muram yang kurasakan dari gadis ini. Pembicaraan kami tidak akan seru kalau kulanjutkan. Jadi, aku memutuskan untuk berdiri dan merilekskan ototku dengan bersandar di tombok belakang kelas berwarna krem. Mengeluarkan benda pioih dari saku depan celana. Satu pesan belum terbaca dari gadis Jepangku. Ita chan [Gimana hari pertamanya? Udah ketemu gadis cantik keturunan Jepang selain aku?] [Hari pertama aku telat. Tapi suasannya bagus. Maaf ya, member grup idol masih nomor dua di hatiku setelah kamu] Ita chan [Yuko udah grad ! Nyebelin banget.] [Tapi, kamu tetap Oshi nomor satuku kok.] Ita chan [Karena semua karakter mereka ada pada diriku] [Kayak member humanoid itu, dong?] Ini bukan kali pertama Ita chan memuji dirinya seperti itu. Sebenarnya Ita chan sedikit sensitif kalau aku membahas para gadis-gadis Jepang yang suka menari dan menyanyi itu tapi, dia terus menyamakan karakter dirinya dengan beberapa member. Bahkan malam sebelum pindah dia memberiku CD terbaru dari idol grup Kawaii78. Katanya hadiah perpisahan. Kutatap wajah baby face Ita chan di layar smartphone. Aku menggunakannya sebagai wallpaper kemudian setelah yakin dia tidak membalas lagi, aku menekan tombol kunci layar. Estes yang baru datang dari kantin langsung menghampiri Ranindya yang masih asik dengan dunianya. "Eh, Nin, kamu bisa lihat masa depan, kan? Dengan ekspresi datar, Anin membetulkan letak kacamatanya tanpa merespon Estes. "Tolong terawang masa depanku, dong!" Estes menangkupkan kedua tangannya, memohon pada gadis miskin ekspresi itu agar diramal.. Meskipun begitu, Ranindya tetap saja mengacuhkan Estes. Dia tetap berekspresi datar walaupun Estes memohon-mohon sampai sebegitunya. "Kamu gak akan percaya kalau cewek introver di kelas ini punya kemampuan buat lihat masa depan." Daniel tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingku sambil menyedot teh kemasan karton rasa lemon. Dia mengulurkan sekaleng kopi dingin kepadaku. "Makasih. Kamu gak perlu repot begini beliin aku kopi." "Santai saja, kawan!"
"Masa depan bagaimana maksudnya?" tanyaku penasaran. "Boleh dibilang dia punya indera keenam gitu. Dia sering diminta buat menerawang masa depan tapi, lihat deh reaksinya." Daniel menggidikan bahu, melirik ke arah Ranindya. Begitu aku melihatnya. Ranindya beranjak dari bangku, mengabaikan Estes yang memohon dan memasang muka memelas. "Tuh, kan!" keluh Estes. Suara mendesis keluar dari dalam kaleng saat aku memutar kait kaleng. Aku menyesapnya setelah menonton adegan itu. Bak menonton drama. "Selalu kayak gitu, pelit banget sih!" gerutu Estes dengan perasaan kecewa. Matanya melirik ke arah punggung Ranindya yang menghilang di balik pintu kelas. Aku dan Daniel mendekati Estes yang masih saja memelotot ke arah perginya Ranindya yang melenggang keluar kelas begitu saja. "Udah berapa kali permohonanmu diabaikan?" tanya Daniel. "Hmm, baru dua kali sih." Estes menyesap kopi kalengnya. "Ya udah, coba aja terus. Mungkin dia takut ngasi tahu kamu tentang masa depan. Ya kalau masa depanmu bagus, kalau enggak?" Daniel menepuk ringan pundakku. "I..Iya," jawabku diiringi anggukan kecil. "Ah, aku kadang iri sama Anin Selain bisa lihat masa depan, dia juga bisa lihat masa lalu tapi, sayangnya dia terlalu introver. Jadi gak asyik," celetuk Daniel. Gadis miskin ekspresi dan tidak seru itu punya anugerah atau sebut saja dia salah satu manusia istimewa. Meskipun sebenaranya aku tidak percaya pada hal-hal semacam ramalan, aku kadang memercayainya jika hasil ramalannya baik-baik saja. Aku memandang ke pintu dan terbesit sebuah pertanyaan di balik tempurung kepalaku. Punya indra keenam itu anugerah atau bencana?
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat menarik dan seru
27/05
0bagus banget
15/12
0keren
11/09
0Tingnan Lahat