Reinkarnasi adalah sebuah proses kelahiran yang berulang dari roh. Ada cerita yang mengatakan bahwa, arwah yang terlahir kembali tidak bisa mengingat apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya. Entah siapa yang memulai, kisah seorang gadis dari India seolah menjadi bukti bahwa reinkarnasi itu benar-benar ada. Tersebutlah seorang gadis bernama Shanti Devi, Gadis India yang terlahir kembali dan mampu mengingat hampir semua yang terjadi pada kehidupannya terdahulu. Bahkan Shanti Devi bisa mengingat dimana dia meletakkan uang tabungan untuk keluarganya. Mendiang kakek pun selalu bercerita tentang reinkarnasi ketika aku duduk di kelas TK. Katanya, "Reinkarnasi menjadi seorang manusia adalah hal yang paling mulia. Mereka yang terlahir kembali menjadi manusia berarti mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki tingkat kehidupan dan menyelamatkan dirinya dari penderitaan di kemudian hari." dengan kata lain, reinkarnasi menjadi manusia berarti melakukan hal yang baik kebaikan sebanyak-banyaknya untuk dituai pada kehidupan berikutnya. Setiap kali kakek bercerita tentang reinkarnasi, aku jadi memikirkan seperti apa kehidupanku terdahulu. Apakah aku seekor kucing lucu atau sekuntum bunga yang tumbuh di tepi jalan yang selalu diabaikan oleh orang-orang atau mungkin aku adalah seorang bintang terkenal. Awalnya aku hanya menganggap kisah reinkarnasi Shanti Devi hanyalah fiksi saja namun, kisah itu benar-benar ada dan sekarang menimpa diriku. Sebuah kisah tentang janji yang kutinggalkan dan harus kutebus dalam kehidupan yang kujalani sekarang sebagai seorang Pramasta Dananjaya, anak SMA yang kehidupannya biasa saja. Ya, ini terjadi ketika keluargaku baru saja pindah dari Bali ke Jakarta karena urusan pekerjaan papa di pertengahan tahun 2012, saat tahun ajaran baru dimulai. Namanya Ruth, wanita hantu itu muncul di kehidupanku karena sebuah janji yang belun kulunasi padanya di kehidupanku terdahulu. Wajah pucatnya, rambut panjang tergerai dan pakaian terusan warna biru. Bagaimana dia memelas saat aku menyerah mencari putri kami yang waktu itu kemungkinan sudah mati. Tetapi, sisa cinta dari masa lalu mungkin membawa kami ke jalan yang seharusnya. Takdir lintas ruang, waktu dan alam tetap saja menunjukkan jalan. Bagai sisa karma masa yang harus kunikmati di kehidupan sekarang. Akhirnya aku dipertemukan dengan putri kami secara tidak sengaja. Dia sudah dewasa dan memiliki seorang kepopanakn yang pernah jadi pacarku. Saat duduk seperti ini di taman sambil memegangi liontin kesayangan Ruth yang dia titipkan lalu menghirup udara bersama matahari adalah waktu yang baik untuk mengenanang kehidupanku di masa lalu yang sudah beberapa kali ditunjukan oleh Ruth lewat mimpi. Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas di balik tempurung kepalaku. "Masih menyimpan benda itu?" Anin duduk di sebelahku sembari menyodorkan es kopi. "Aku gak akan membuang ini," sahutku. "Kenapa?" "Karena ini adalah pengingat kehidupanku di masa sekarang." "Jadi, kamu belajar, ya?" tanya Anin. Aku hanya menjawab dengan anggukan kecil sembari tersenyum manis. "Entah kenapa aku jadi lebih bersyukur dan melakukan hal yang sebaik-baiknya agar di kehidupan berikutnya aku tidak menyesal." "Yah, Bagus!" Anin menengadah ke langit. Menyedot es kopi. "Kamu tahu? Ruth sudah lahir kembali menjadi seorang bayi cantik. Di keluarga kaya yang bahagia." "Kenapa kamu tahu?" Alisku berkenyit. "Aku ini spesial!" Anin membanggakan diri. Anin memang membantu selama ini, anak yang mempunyai kelebihan melihat masa depan dan masa lalu. Dia juga yang menuntunku untuk ke makam Ruth waktu itu sehingga aku bisa memenuhi janjiku. Aku beruntung karena bisa mengenal Anin di saat yang tepat. Belakangan, aku menembaknya untuk kujadikan pacar tetapi, dia menolakku dengan alasan klasik remaja masa kini "lebih nyaman berteman" atau "mau fokus belajar." "Eh, Nin!" Aku menepuk pundak Anin. "Ya?" "Ramal masa depanku, dong!" pintaku. Seketika ekspresi Anin jadi datar, dia memandangku lekat-lekat. Ekspresi yang tidak bisa kubaca yang tergambar di raut wajahnya. "Tidak mau!" Anin membuang muka, kembali menyedot es kopinya. "Kenapa?" "Enggak mau aja. Lagian, ramalan itu cuma hal yang gak boleh kamu percaya begitu saja." "Kenapa?" "Jangan banyak tanya!" ucap Anin kesal. "Kasih tahu, dong!" Aku merengek hingga membuat Anin mengalah. "Oke, kalau kamu mau tahu masa depanmu. Masa depanmu itu suram, gak ada harapan kaya!" terang Anin. "Hah? Kok gitu, sih?" Aku menelengkan kepala. Aku tahu gadis ini hanya asal-asalan saja meramalku. "Maunya gimana?" "Gak ada ramalan yang bagusan dikit?" "Enggak ada, itu sudah mutlak!" Aku melengos, menyandarkan badan di bangku. "Kalau begitu, aku gak percaya. Soalnya hasilnya jelek." "Tadi katanya mau diramal!" keluh Anin. Memang aku tidak memercayai ramalan seperti itu, kalau saja ramalannya bagus mungkin aku masih percaya karena maaf, bukannya sombong karena aku adalah orang yang gigih. "Ngomong-ngoming, Nin. Menurutmu, kenapa Ruth malah datang saat aku sudah di Jakarta? Bukannya itu malah aneh?" "Ruth pernah bilang padaku, dia gak mau nyamperin kamu jauh-jauh ke Bali." "Eh? Emangnya hantu itu bisa pilih-pilih, ya?" "Entah, tapi kadang hantu juga memiliki perasaan, kok. Ruth itu hantu baik yang menunggu reinkarnasi. Dia nunggu waktu yang tepat buat nampakin dirinya di hadapanmu. Bayangin, dari tahun 1970-an sampai tahun ini udah nyaris puluhan tahun. Dan lihat, kamu membiarkannya menderita di alam manusia." "Kok aku?" Aku menunjuk diriku dengan telunjuk. "Hahaha, kalian pasangan romantis dan cocok banget." "Jadi, apa aja yang diceritain Ruth sama kamu?" "Itu ...!" Anin beranjak dari tempat duduknya. "Rahasia!"
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat menarik dan seru
27/05
0bagus banget
15/12
0keren
11/09
0Tingnan Lahat