logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

next story 1

^-^ * ^-^
memanggilku untuk mendekatinya tetapi juga menyiratkanku akan kedinginan yang diberikannya walau
tidak membuat nyaliku ciut. Dia tidak melakukan apa-apa dan
wajahnya datar tanpa emosi.
Kemudian dengan tiba-tiba ia memutuskan kontak mata itu dan
sialnya hatiku berdenyut perih. Aku merasa kehilangan. Rasa sedih
menyergapku dengan cepat karna sikapnya yang seolah menolak
diriku. Sekarang matanya memancarkan kemarahan. Dirinya tidak ingin
aku menyentuhnya atau mendekatinya. Dia menutup kasar bukunya
dan masuk ke kamar setelah menutup pintu balkon dengan kuat.
Rasanya aku ingin menangis.

"Hey! Michel? Kau mendengar kami?" suara Kak Ireneo meyentakku
pada kenyataan. Aku langsung berpaling ke arahnya dan dia
menatapku dengan terkejut. Astaga! Kenapa?
"Kenapa kau menangis sayang?" sekarang akulah yang terkejut
mendengar perkataan Kak Urien.
Aku mengusap pipiku secara otomatis dan memang basah, ada air
mata yang terjatuh. Mengapa aku menangis? Tiba-tiba kesedihan
kembali mencekikku. Sikapnya yang membuat hatiku berdenyut perih.
Air mataku kembali keluar dan dua bersaudara itu mendekapku ke
pelukan mereka. Astaga? Ada apa denganku?
Langit telah gelap dan matahari telah terbenam. Angin malam hilir
mudik memasuki kamarku dari pintu balkon yang terbuka. Sayangnya
tidak membuatku jera atau berniat menutupnya. Aku butuh ketenangan
untuk menghadapi masalah-masalahku. Mengingat pertengkaran
dengan orangtuaku membuat hatiku sedih. Tidak pernah sebelumnya
kami bertengkar selama ini. Belum lagi Esteve Graffielo Walcott yang
akhir-akhir ini selalu menghantui pikiranku.
Aku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Sebelumnya Mama Lucy sudah menyuruhku turun dari kamar untuk
makan malam. Aku segera bergegas menuju ruang makan.
Di ruang makan, terlihat wanita cantik itu sedang menyusun makanan.
"Selamat malam, Ma."
Wanita itu menatapku. "Malam sayang. Kau turun tepat waktu,
makanan sudah siap. Ayo makan"
"Apa hanya kita berdua? Dimana yang lain?" tanyaku heran.
"Mereka bukan manusia murni seperti kita, ingat?" ujarnya jenaka.
"Oh aku lupa. Vampir-vampir itu pasti butuh darah;' aku berujar lebih
kepada diriku sendiri. Lalu mengambil tempat untuk makan malam.
"Ma, bagaimana bisa mereka tahan untuk tidak makan di siang hari?"
Mama tersenyum jenaka padaku, "sepertinya kau mulai penasaran."
Aku sedikit takut Mama akan tersinggung, "Ma, mama tidak perlu
memberitahuku jika itu mengusik privasi kalian. Anggap saja aku tidak
pernah bertanya."
Mama tertawa, "tidak apa-apa Michel. Kau juga keluarga kami. Kau
berhak untuk tau
Aku membalasnya dengan tersenyum.
"Aku akan menceritakan tentang keluarga ini kepadamu. Tapi
jangan lupa untuk menghabiskan makananmu Michel,' aku langsung
mengangguk sebagai jawaban. Well, aku benar-benar penasaran.
"Kau tau, kelima anakku memiliki darah yang berbeda. Anak pertamaku,
Al dia memiliki darah werewolf!
Aku terkejut, "how can?'
"Ireneo adalah seorang vampire campuran werewolf. Urien dan
Obelix adalah vampir dan setengahnya manusia, aku bergidik ketika
mendengar nama Obelix.
"Bagaimana dengan Esteve?" aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak
bertanya tentang laki-laki itu.
Mama Lucy memandangku dengan senyum aneh penuh misteri.
Kemudian di berdehem dan berkata, "dia satu-satunya anakku yang
mewariskan darah ayahnya seorang vampir murni."
Lelaki dingin itu vampir murni.
"Bagaimana bisa mereka memiliki darah yang berbeda?"
"Aku dan keluargaku adalah manusia asli, tetapi dahulu sekali buyutku
sudah mengenal vampir karena seorang vampir pernah menolongnya
dan dia menceritakan setiap petualangannya dengan para vampir itu
kepada keturunannya. Sampai akhirnya meraka membuat kesepakatan
untuk menjodohkan salah satu keturunannya dengan keturunan
keluarga vampir yang menolongnya. Dan benar, akulah yang dijodohkan
itu Mama menyesap orange juice di tangannya sebelum melanjutkan
dongengnya. Aku juga tetap memasukkan suap demi suap makanan ke
mulutnya
"Ayah dari Papa Edmund adalah seorang vampir dan ibunya seorang
werewolf. Mereka hanya memiliki satu anak dan dialah Edmund.
Edmund adalah seorang vampir asli. Dan aku yakin kau mengerti
darimana asal darah mereka yang berbeda-beda itu;' jelasnya dan
melanjutkan makannya.

"Apa mereka selalu berburu setiap malam?" tanyaku penasaran.
"Al tidak selalu berburu. Jika ia sedang malas, maka ia akan memakan
daging di kulkas atau daging yang aku masak. Begitupula dengan
Ireneo. Hanya saja di tanggal-tanggal tertentu ia harus meminum
darah untuk memenuhi nafsu vampirnya. Jiwa vampir Obelix dan Urien
akan kuat ketika malam, maka mereka harus berburu. Esteve adalah
vampir asli dan kebutuhannya dengan darah lebih besar. Walaupun
tampaknya, Obelix yang lebih tidak bisa mengontrol nafsunya."
Aku mengangguk.
"Kau akan semakin paham dengan kami Michel. Tentu saja dengan
perlahan. Tidak perlu terburu-buru;' sarannya padaku.
Mama Lucy berdiri dan membersihkan tangannya di wastafel. Ketika
ia ingin membersihkan pikirng bekas makanan kami, aku melarangnya
dan menyarankan agar aku saja yang membersihkannya.
"Terimakasih Michel. Lanjutkan dulu makanmu. Mama ada sedikit
pekerjaan.
"Terimakasih untuk makanannya, Ma."
Aku kembali menyuapkan makananku ke mulut sembari memikirkan
kehidupan yang aku lewati akhir-akhir in,i tidak dapat kupungkiri
bahwa aku sedikit kesulitan menerimanya. Tidak pernah terbesit di
pikiranku bahwa aku akan bersinggungan dengan makhluk-makhluk
mitos seperti, vampir, werewolf, atau bahkan nanti akan ada penyihir.
Ugh, mungkin akan seram sekali.

Makananku sudah kuhabiskan. Aku membawa piring-piring kotor
itu ke wastafel. Makanan yang tersisa kembali kuletakkan di dalam
kulkas, mungkin besok pagi dapat dihangatkan untuk sarapan. Dan
sembari mencuci piring aku kembali memikirkan kedua orangtuaku.
Mengapa mereka tidak menghubungiku sama sekali?! Tetapi apa
yang kuharapkan setelah menyakiti hati mereka seperti hari kemarin.
Aku mengatakan bahwa aku membenci mereka dan bahkan menuduh
mereka hanya ingin menumbalkanku kepada keluarga immortal ini.
Dan sekarang aku berharap mereka akan memaafkanku? Mati sajalah
kau, Michel!
Oke Michel, stop berpikiran negatif! Mungkin sinyal disana sedang
buruk sehingga mereka tidak bisa menghubungimu. Ya, pasti sinyal
disana buruk.
Aku menyemangati diriku sendiri sembari mematikan keran dan
mengibaskan air dari gelas terakhir yang kucuci, setelah ini aku bisa
bergelung kembali dibawah selimut hangatku.
Aku berbalik dan astaga dia disana!! Gelasku terjatuh dari
genggamanku karena terkejut. Dan dalam hitungan detik, sosok yang
mengejutkanku itu sudah berada di depanku dan mengambil gelas
yang terjatuh tadi sebelum hancur berkeping-keping.
Damn! Bukankah laki-laki ini sedang pergi berburu?!
Aku terpaku, tubuhku membeku dan kakiku seperti terpatri di lantai.
Aroma tubuhnya terus menusuk di indra penciumanku, menggetarkan
sesuatu dari dalam diriku. Sial jarak kami begitu dekat. Dia
mengangkat wajahnya lalu mata hitamnya menatap tajam tepat di
mataku membuat tubuhku semakin gugup. Help me!
Lelaki itu mendekatkan bibirnya pada telingaku membuat bulu-bulu
di tengkukku menggetar seketika. Aku merinding merasakan deru
nafasnya dan dia berbisik, "lakukan pekerjaanmu dengan baik." Suara
itu tanpa nada, tapi berhasil mempengaruhiku begitu besar.
Dia menjauh membuat jarak di antara kami tercipta dan meletakkan
gelas tersebut di atas meja bar. Esteve berjalan meninggalkanku yang
masih terus terpaku.
Tidak lama kemudian lelaki itu berbalik dan berkata "breathe Michel!"
dan membuatku langsung mengambil napas sebanyak-banyaknya.
Lalu dia kembali berjalan menjauh.
dam you handsome!
Hari ini aku kembali pada aktivitas rutinku, yaitu sekolah. Yippie!
Untuk pertama kalinya aku benar-benar merindukan tempat ini. Aku
mensugesti diriku sendiri untuk kembali semangat memulai hari ini
meski sebenarnya kantuk masih terasa menyerang diriku.
Sarapanku kali ini tentu terasa berbeda dengan orang-orang dan
suasana yang baru. Papa Edmund duduk di meja makan tanpa sarapan
namun membaca berita pada ipod di tangannya. Sesekali kepala
keluarga ini berdebat dengan Ireneo atau Urien yang terus menerus
menyindirnya. Dan Mama Lucy benar-benar kewalahan menghadapi
tiga laki-laki itu. Alaric terlihat lebih tenang, dia memang sesekali
tersenyum atau menimpali candaan adik-adiknya namun aura
berwibawa tetap menguar dari dirinya. Oke, sebenarnya aku malas
sekali membicarakan si brengsek Obelix. Sedari tadi, anak bungsu
keluarga ini hanya memasang raut cemberut dan kesal di wajahnya.
Hanya satu yang belum terlihat.
"Michel... Michell?!" suara itu menyentak kesadaranku.
"y-ya?"
"Mama sudah menyiapkan bekal untukmu. Astaga akhirnya Mama
dapat merasakan menyiapkan bekal untuk anak Mama. Laki-laki di
rumabh ini tidak ada yang ingin membawa bekal dari Mama." Mama Lucy
begitu bersemangat.
Laki-laki di rumah ini mendadak pura-pura sibuk, menggaruk
tengkuknya, atau bahkan pura-pura tidak mendengar. Tetapi tidak ada
yang berani menjawab perkataan Mama Lucy.
"Nah untuk ke sekolah, kau bisa berangkat bersama siapa saja disini.
Tapi jangan bersama Papa Edmund, sepertinya dia akan berangkat
sedikit lebih siang hari ini;' usul Mama Lucy.
Aku hanya mengangguk tidak tahu harus mengatakan apa.
"Pastinya dia tidak akan berangkat bersamaku;' suara itu terdengar
ketus
Oh siapa?
Si brengsek Obelix ternyata.
"Aku juga tidak berniat berangkat bersamamu, balasku ketus.
Aku tidak mengerti salah aku apa padanya. Jelas-jelas dia yang
bersalah padaku. Namun sekarang mengapa dia yang kelihatannya
marah padaku?
"Obelix kau ingin membuat hukumanmu lebih parah?" tanya Papa
Edmund. Dia hanya mendengus lalu pergi meninggalkan meja makan.
"Dia marah padaku?" aku bertanya dengan nada aneh.
"Tidak. Dia tidak marah padamu, Michel. Dia hanya sedang kesal saja;'
jelas Mama Lucy.
Aku merasa bersalah karena sepertinya aku sudah membuat
seseorang kesal akan kehadiranku disini. Aku benci ketika
menyusahkan orang lain.
"Jadi kau akan memilih siapa di antara kami berdua?" tanya Ireneo
padaku sembari menunjuk Urien.
"Apa aku tidak dapat dijadikan pilihan?" tanya Alaric.
"Hei Kakak tertua, sudah jelas kami akan kalah denganmu. Agar lebih
adil biarkan hanya kami berdua yang menjadi pilihannya,’ balas Urien
membuat Alaric tersenyum geli.
"Fine. Up to you, brother." Lalu Alaric kembali ke lantai atas mengambil
sesuatu yang tertinggal.
Lalu Ireneo dan Urien menatapku penuh harap membuatku merasa
bersalah jika harus memilih salah satu di antara mereka.
"Jangan membuat Michel merasa bersalah Urien, Ireneo!" peringat
Papa Edmund.
"Ehm, hari ini aku berangkat bersama Kak Neo mengingat dia lebih
tua daripada Kak len. Tapi besok aku akan berangkat denganmu Kak,"
ucapanku membuat semua yang di meja makan tertawa kecuali Urien.
Lelaki itu menampilkan wajah lesunya.
"Ah, kapan mobilku akan dinaiki wanita cantik;' gerutunya.
Kami keluar dari ruang makan, Mama Lucy dan Papa Edmund
mengantar kami hingga ke halaman depan. Obelix sepertinya sudah
berangkat lebih dulu dan Alaric belum turun dari lantai atas. Dan lelaki
bermata hitam itu juga belum menampakkan batang hidungnya hari ini.
Apa dia sudah berangkat?
"Dimana Esteve dan Alaric?" tanya Mama Lucy.
"Alaric bilang ada barang yang harus ia cari dan akan berangkat ketika
barang itu ditemukan jelas Urien.
"Dan Esteve?" ah, akhirnya ada yang mengungkapkan isi pikiranku.
"Tadi pagi dia ikut pulang bersama kami dan tidak kelihatan lagi setelah
itu. Mungkin dia terlambat bangun hari ini;' jawab Ireneo.
"Hei, anakku yang ini tidak seperti dirimu."
Ireneo meringis, "aku kan anakmu juga, Mom."
Papa Edmund berdesis kesal, "berhenti bersikap dramatis Neo."
"Kalian sedang membicarakanku?"
Aku terkejut ketika menemukan sosok yang kutunggu tepat berada
di sampingku. Dia terlihat keren dengan seragam SMA kami yang
membungkus tubuhnya dengan tepat. Dada bidangnya tercetak jelas.
Cool! Aku menengadah menatap wajahnya karena tinggiku yang hanya
sebahunya. Rambutnya terlihat berantakan diterpa angin pagi yang
sejuk. Wajahnya terlihat segar meski pucat. Tanpa komando, mata
hitamnya melirikku tajam.
Deg!
Aku seperti pencuri yang tertangkap basah. Tapi tatapannya selalu
berhasil mengunciku hingga aku merasa linglung.
calm down michel.
.
Aku menarik napas mencoba tenang dan memutuskan eye contact
kami.
"Jangan gunakan kekuatanmu Esteve Walcott!" peringat Papa Edmund.
" Aku terburu-buru "
Astaga! Kenapa dia selalu berbicara dengan singkat bahkan dengan
keluarganya sendiri?
"Lelaki menyebalkan,' desisku lirih. Tetapi semuanya justru tertawa
geli, terkecuali Mama Lucy yang justru kebingungan dan laki-laki itu
yang menatapku kejam dengan mata hitam miliknya.
Sial! Aku lupa bahwa mereka memiliki pendengaran yang tajam..
Aku meringis sembari menatapnya dengan tatapan permohonan maaf.
Tetapi dia tetap memberikan pandangan kejamnya padaku.
Ah, kapan mata itu akan memberikan pandangan penuh kasih padaku?
Astaga?
What do you think, Michel?
"Berhenti membuatnya takut,' ujar Ireneo dan membuat dia melempar
pandangan menyeramkan tadi ke arah lain.
Lalu tiba—tiba bahuku ditarik oleh Ireneo dan dia tersenyum menatapku
dengan lembut membuatku segan untuk tidak membalasnya. Kami
berjalan ke arah motornya yang terparkir di salah satu sudut halaman.
"Ayo kita pergi. Kau tidak ingin terlambat, kan? Ini hari pertamamu
kembali ke sekolah" Aku mengangguk menyetujuinya.
Ireneo tiba-tiba mengusap puncak kepalaku dengan lembut dan
aku tidak bisa menghentikan respon pipiku yang memerah. Siapa
yang tidak akan merona jika diperlakukan begitu manis oleh laki-laki
berparas Yunani? Mendadak aku teringat dengan Helena, aku yakin ia
akan sangat iri. Hahaha.
Tiba-tiba kurasakan tanganku dicengkram erat dan kejam, seolah
sosok itu menyalurkan semua emosinya di genggaman itu. Rangkulan
Ireneo terlepas begitu saja. Aku meringis dan dapat dipastikan
pergelangan tanganku membiru. Dan sosok penyebnya tidak lain
adalah Esteve.
Ada apa dengannya?
"Ish.. shh.. sakit Esteve. Pelan—pelan; keluhku padanya yang
menarikku menuju mobilnya dengan langkah lebar. Kakiku yang kecil
kesulitan mengikuti langkahnya.
Lelaki itu membuka pintu mobil dan menghepaskanku di kursi
penumpang dengan kasar. Di jahat sekali. Kemudian dia berjalan
dengan cepat menuju pintu supir dan mulai menjalankan mobilnya.
Mobil ini berjalan dengan kecepatan di atas rata-rata dan membuatku
takut, benar-benar takut. Aku bahkan tidak bisa melihat bagaimana
reaksi keluarga Esteve lainnya.
"Kau! Ada apa denganmu?!" seruku dengan kesal padanya.
Dia tetap bertahan dalam kebisuannya.
"JAWAB AKU SIALAN! Sebenarnya apa masalahmu?! Aku
membentaknya dan lelaki itu semakin mempercepat laju
kendaraannya, membuatku mengkeret ketakutan pada jok mobil.
"Kumohon hentikan mobil ini" lirihku dengan air mata yang menetes dipipi
Dan harapanku terkabul, mobil ini berhenti mendadak dan hampir
membuatku terlempar ke depan jika saja tangan laki-laki itu tidak
menahan tubuhku. Tangannya yang dingin menyentuh tubuhku.
Matanya menatap dingin pada jalanan yang kosong. Hanya ada
pepohonan rimbun yang berdiri kokoh di setiap pinggirnya. Ini
membuatku takut. Jalanan ini seperti berbatasan dengan pinggiran
hutan dan mungkin saja hewan buas melompat keluar dari sana.
"Keluar,' desisnya kejam.
Kata itu.
Kata itu yang kutakuti akan keluar darinya saat ini.
Aku menatapnya tidak percaya. Dan dia mengalihkan pandangannya
padaku.
degg!
Berhenti berdetak terlalu cepat jika menatapnya, jantung sialan! Ingat
jika lelaki ini sekarang sedang mencoba melemparmu menjadi umpan
hewan buas.
"A-apa?" tanyaku tidak percaya.
"Keluar,' dia berbicara dengan ringan seolah itu kata yang biasa saja saat ini.
“Kau gila?! Bagaimana mungkin kau akan meninggalkanku di pinggiran
hutan mengerikan ini?" tanyaku tidak percaya.
"Kau yang menginginkannya, remember?" ingatnya.
"Tapi kau yang menarikku naik ke mobilmu dengan begitu kejam. Jika
tidak, mungkin aku sedang dalam keadaan aman di motor Kak Neo!"
seruku frustasi.
Dia menatapku tajam. Matanya menyiratkan emosi, walaupun aku tidak
mengerti emosi apa itu?
"Aku tidak peduli; tandasnya padaku.
Teganya dia!
Ada rasa sakit yang mengusik hatiku ketika mendengar ia tidak peduli
padaku.
"Ta--ta;' aku kehilangan kata-kata untuk menyanggahnya.
Dia menatapku tajam.
"Kumohon;' kataku.
Lelaki itu tetap kekeuh dan menggeleng, "keluar!" tegasnya.
Air mataku sudah menumpuk di pelupuk maata dan tinggal menunggu
waktu untuk menetes. Setelah masalahku dengan vampir selesai,
sekarang aku harus menghadapi hewan buas? Apa-apaan hidupku ini?!
Aku turun dari mobil sialan itu dan meninggalkan pemilknya yang sialan
juga. Dan tanpa ada aba-aba ia langsung melajukan mobilnya dan
meninggalkanku.
Dia benar-benar tidak memiliki hati nurani! Sial!
Helena terlihat kesal padaku dan memandangku penuh tanda tanya.
"Ada apa?"
Dia mendesis geram lalu berdiri dan memukul meja cafetaria membuat
orang-orang diSini terkejut aan memandang Kami penun tanda tanya.
Aku saja terkejut dengan tindakannya.
"Apa maksudmu dengan ‘ada apa?'? Aku sudah memanggilmu
berkali-kali. Bahkan sedari tadi aku bercerita panjang lebar dan
kau tidak mendengar sama sekali. Kau bahkan hanya melamun dan
mengaduk-aduk makananmu tanpa minat. Ada apa denganmu setelah
tidak masuk berhari-hari?!" tanyanya menggebu-gebu.
Aku menatap risih murid—murid lain yang sedari tadi memperhatikan
kami.
"Helena, duduk dulu okay?" bujukku padanya.
Sahabatku mengerucutkan bibirnya beberapa senti lalu memindai
seluruh penjuru cafetaria dengan tatapan galaknya. "Apa lihat-lihat?!"
tanyanya marah kepada murid yang ternag-terangan memperhatikan
kami.
Hahaha! Lucu sekali sahabatku ini.
Kemudian dia menampilkan wajah galak tersebut kepadaku.
Oh sayang sekali, itu tidak mempan.
"Ceritakan;' paksanya.
"Baiklah,' aku memutuskan menceritakan secara garis besar saja pada
Helena. Aku hanya mengatakan aku pindah rumah karena orangtuaku
sedang ada urusa bisnis di tempat lain. Tentu saja tanpa mengatakan
dimana tepatnya rumah baruku.
"Oh begitu;’ ujarnya paham setelah aku menceritakan ceritaku.
Aku hanya mangut-mangut sambil menghabiskan es krimku.
Aku kembali memikirkan dia, lelaki bermata hitam yang
meninggalkanku di pinggir hutan. Dan untung saja, beberapa detik
kemudian ALaric lewat di jalan tersebut. Katanya dia melewati jalan
ini karena terburu-buru menuju sekolah. Aku mendapat informasi dari
Alaric bahwa rute ini merupakan rute tercepat ke sekolah. Tetapi jalan
itu cukup jarang dilalui mengingat disini hewan buas sering keluar dan
menghalangi pengguna jalan.
Hel! Mereka yang adalah vampur dan werewolt saja berpikir
berkali-kali untuk lewat dari sini. Dan aku yang manusia tulen,
ditinggalkan olehnya sendiri disana.
Fix!
You are my enemy now, Mr Handsome!
"Michaela!" panggil seseorang yang menarikku pada kenyataan.
"Oh ya?" responku pada gadis cantik di hadapanku.
Dia Lily, si sekretaris Student Council yang menyebalkan. Sudah
seminggu aku tidak bertemu dengannya. Syukur sekali.
"Kau kemana saja selama ini? Bagaimana nasib map-map untuk
Kepala Sekolah yang kau ambil waktu itu? Seharusnya kau lebih
bertanggung jawab dengan tugasmu!" cercanya.
Astaga dia tidak salah bicara?! Bukankah dia membicarakan dirinya
sendiri?
"Untung saja Gerald bertindak cepat sehingga acara ulang tahun
sekolah tetap terlaksana,' omel Lily.
Oke. Aku tidak tahan lagi.
Aku berdiri dari kursi cafetaria, nembuat Helena yang sedari tadi hanya
diam kini menatapku penuh tanya.
"Oke, karena aku cukup tahu diri dan aku tidak bertanggung jawab
dalam tugasku. Maka aku memutuskan untuk keluar dari Stuent
Council. Selesai;' tandasku. Lalu menarik Helena untuk bangkit berdiri.
Tetapi tangan Lily menghentikan langkahku.
"Hei, jika kau ingin mengeluarkan diri, kau harus mengikuti prosedur.
Temui Gerald dan kau harus mendapat persetujuan darinya;' ujarnya
dengan binar mata yang membuatku bingung.
Apa kata-kataku tadi tidak menyinggungnya? Dasar gila!
Aku dan Lily naik menuju tingkat empat sekolah ini dengan lift.
"Untuk apa kita ke lantai empat?" tanyaku bingung dan masih
mengabaikan wajahnya yang berbinar-binar.
"Kita akan ke kelas Gerald."
"Bukankah semua kelas 3 ada di lantai 3?" tanyaku.
"Kelasnya sedikit istimewa."
Lift itu berbunyi menandakan kami telah sampai di lantai yang kami
tuju. Hanya ada satu pintu di lantai ini dan pintu itu dijaga oleh dua
pria yang berseragam. Keduanya berbadan besar dan terlihat seperti
bodyguard.
"Permisi, kami ingin menemui Gerald;' ujar Lily pada kedua bodyguard.
"Siapa nama Anda?" tanyanya dengan suara bas yang sedikit
mencekam dan dapat kulihat dia menatapku dengan pandangan penuh
selidik
"Lily Colins dan Michaela Everlyn COllins,' ujar Lily bersemangat.
Lalu lelaki itu memegang telinganya dan terlihat seperti ada suatu alat
disana.
"Permisi Tuan Gerald, disini ada dua orang yang mencari Anda;,' lalu
lelaki itu diam sembari menunggu jawaban dari sana.
Kemudian sang pengawal menyebutkan kedua nama kami dan kembali
menunggu jawaban dari sana.
"Baik. Terimakasih Tuan;' akhirnya.
Penjaga itu menatap kami berdua dan berkata;'silahkan masuk."
Dapat kulihat Lily sangat bersemangat mendengar perkataan penjaga
itu. Kami sudah akan masuk ke ruangan tersebut jika lelaki yang
lainnya tidak menahan kami.
"Maaf Nona Thomson. Tetapi hanya Nona Collins yang dipersilahkan
masuk”
Hal ini membuat senyum Lily luntur seketika. Lelaki tersebut langsung
mengarahkan Lily menuju lift yang tadinya mengantar kami kesini. Dan
lelaki yang satunya membukakan pintu ruangan in untukku. Saat pintu
terbuka ruangan di dalamnya tampak seperti lift, aku pikir mungkin
kami akan kembali naik ke atas. Ternyata setelah pintu di depanku
tertutup, lelaki itu membalikkan badannya dan membuka pintu di
belakangku.
Oh!
"Silahkan masuk Nona."
Aku yang masih bingung dengan ruangan ini hanya
mengangguk-angguk saja. Kakiku berjalan meninggalkan ruangan tadi
dan masuk ke dalam.
what the--!?
Ruangan apa ini?!
‘Aku masih saja menatap bingung pemandangan di depanku. Sampai
tangan seseorang menepuk bahuku dan merangkulku.
"Hei kita kedatangan teman baru disini;' sapanya.
Aku bergidik ngeri melihat makhluk-makhluk tampan di depanku.
Mereka memperhatikanku dari atas sampai bawah, benar-benar
membuatku tidak nyaman.
Seorang lelaki bersuara, "bukankah dia--?" dan ucapannya terpotong
ketika Urien dengan kerasnya menepuk bahu lelaki itu. Namun lelaki itu
tidak menampilkan ekspresi kesakitan sama sekali.
Aku menatap tidak nyaman orang yang memegang bahuku dan aku
juga melihat wajahnya yang sepertinya tidak asing di mataku. Aku
benar-benar risih menjadi satu-satunya makhluk keturunan hawa di
tempat ini.
"Lepaskan tanganmu Rai,' peringat Urien.
Dia tertawa renyah lalu melepaskan tangannya dari bahuku.
Selera humor yang buruk.
Urien tersenyum lembut berjalan ke arahku.
"Ini ruangan apa?" gumamku heran.
Kuamati pria—-pria tampan disini tersenyum manis padaku. Aku
hanya bisa menelan salivaku dengan gugup. Silahkan unjuk tangan
mereka yang tidak gugup saat ada delapan keturunan adam yang
berkualitas hampir sempurna menatapmu penuh senyuman. Ralat!
Maksudku hanya enam. Obelix masih menatapku dengan tatapan kesal
seperti tadi pagi. Dan musuh tampanku terlihat tidak peduli dengan
kedatanganku.
Tenang Michel. Tarik napas. Buang.
"Jangan menatapnya seperti itu,' ujar Alaric yang tiba-tiba
menghampirikku.
"Ah, kau mencariku ya Michel sayang;' ujar Urien yang sudah
merangkulku.
Lalu seorang lagi makhluk tampan bersuara, "aku tahu kau tidak tuli
Walcott”
Nabh itu dia yang ingin kutemui Gerald Stefano Walker.
Aku berjalan cepat ke arahnya dan aku benar-benar tidak sabar untuk
keluar dari ruangan yang dipenuhi oleh pria—pria tampan ini. Aku tahu
mereka masih berusaha mencuri kesempatan untuk menatapku. Apa
yang salah sebenarnya?!
"Permisi Kak;' sapaku dan dia masih menatap laptop miliknya. "Oke,
terserah kakak mau mendengarkanku atau tidak. Yang jelas aku
datang kesini hanya untuk mengatakan bahwa aku akan keluar dari
organisasi Student Council sialan itu. Lily, sekretaris kakak yang
menyebalkan memaksaku untuk memberitahu kakak terlebih dahulu;'
ujarku sedikit kesal karena dia tidak memperhatikanku lalu beranjak
pergi.
Tiba-tiba dia mengalihkan pandangannya padaku dan berkata, "Seperti
yang Lily katakan, karena aku yang menerimamu maka aku juga yang
akan mengeluarkanmu. Dan aku sebagai ketua menolak pengunduran
dirimu;' jawabnya santai dan pria—pria disana tertawa pelan tetapi
telingaku cukup tajam untuk mendengarnya.
Aku merasa marah karena di awal pertemuan, dirinya juga sudah
membuatku kesal. Sekarang dengan semaunya dia menolak
keputusanku. Aku juga malu ditertawakan pria—pria disini. Tanpa bisa
kukontrol aku menggeram marah padanya lalu seperti ada suatu energi
yang keluar dari tubuhku. Dan keheningan terjadi. Ada keterkejutan di
mata Gerald.
Tenanglah sweetheart.
Sebuah bisikan terdengar lembut di telingaku. Bisikan yang
membuatku lebih tenang dan rileks.
Aku menghembuskan napasku dan merasa tidak sopan karena
menggeram di depan orang yang lebih tua dariku.
"Maaf,' kataku menyesal.
Gerald kembali dapat menguasai dirinya kemudian tersenyum lembut.
"Duduklah;’ suruhnya sambil menatap kursi di sampingnya. Setelah
duduk, aku melihat pria—pria lainnya kembali melanjutkan kegiatan
mereka. "Aku juga merasa tidak nyaman bekerja dengan Lily.
Pekerjaannya sama sekali tidak bagus dan dia terus-menerus
menyulitkan bawahannya seperti dirimu. Jadi, aku memerlukan
bantuanmu saat ini. Bekerja sendiri itu tidak mengenakkan sekali.
Dapatkah kau menolongku?" tanyanya baik-baik.
Kalau seperti ini kan aku jadi mudah luluh dan tidak membuatku emosi
justru merasa kasihan.
"Tapi bagaimana dengan pelajaranku di kelas, Kak?"
"Tidak masalah. Aku yang akan mengurusnya.
"Baiklah."
Mungkin sudah hampir empat jam aku duduk menatap laptop di
depanku, mengetik beberapa laporan pertanggungjawaban dan
laporan keuangan untuk acara yang ulang tahun sekolah yang sudah
dilaksanakan ketika aku tidak masuk. Urien membelikanku sebuah
minuman dingin yang juga sudah tandas kuminum. Lelah juga
ternyata. Alaric, Ireneo, Urien, Gerald, seseorang yang dipanggil Rai,
dan seseorang yang tidak kuketahui namanya masih terus menerus
menatap laptop mereka. Entah kemana perginya Obelix dan Musuhku
yang sialan tampan itu.
"Kak, kau sedang mengetik apa?" tanyaku mengintip dia yang sedari
tadi fokus pada laptop miliknya.
"Mengelola perusahaanku,' jawabnya tanpa melihatku.
"Kau punya perusahaan?" tanyaku terkejut.
"Kami semua memiliki perusahaan Cantik;' ujar pria yang tadi menepuk
bahuku. "Perkenalkan namaku Rai, Rai Drake Black. Dan aku seorang
penyihir;' dia memperkenalkan dirinya dengan mengulurkan tangan.
Aku terkejut. Jadi dia bukan manusia? "Kakak juga bukan manusia
ternyata"
"Ralat sayang. Penyihir itu adalah manusia yang memiliki kekuatan
lebih keren"
“Oke. Oke. Terserah padamu Kak Ral. AKu Michaela everiyn Collins aan
aku manusia,' aku membalas jabat tangannya. Namun ada yang aneh
dengan senyumnya. Ada kesedihan hinggap disana yang membuatku
bingung. Dan ketika aku menggengam tangannya, ada sengatan yang
terasa, seperti aku menemukan sesuatu yang hilang. Walau bukan
jenis sengatan yang kurasakan ketika aku bersentuhan dengan Esteve.
Astaga! Kenapa aku menyamakannya dengan Esteve?
"Hail Aku Kelvin Zura Carlistle. Aku vampir setengah manusia,' seorang
pria tampan lagi mengulurkan tangannya padaku.
"Hai juga Kak Kelvin. AKu Michaela dan bukannya kau ketua tim futsal
sekolah?" tanyaku mengingat Helena yang seringkali menstalker most
wanted sekolah ini. Dan dirinya mengangguk.
"Jadi? Jika kalian sudah mempunyai pekerjaan. Untuk apa kalian
bersekolah lagi?" tanyaku dan betapa herannya aku melihat mereka
semua menghentikan ketikannya pada laptop dan memandangku
bingung.
"Ada apa?" tanyaku heran. Lalu keheningan panjang terjadi dan
gemuruh di perutku terdengar pelan. Namun mengingat mereka semua
memiliki pendengarannya yang tajam sehingga mereka semua dapat
mendengarnya dan menertawakan aku.
"Baiklah. Mari kita makan, sepertinya princess kita kelaparan;'
perkataan Rai membuat semburat merah di pipiku.
Ah memalukan!
"Yeay makan;' seruku girang melihat bermacam-macam makanan yang
kupesan dan mereka kembali menertawakanku. Mereka juga makan,
beberapa dari antara mereka kupaksa untuk makan.
“Es krimmu sudah kuletakkan di kulkas Michel. Makanlah sesudah
makananmu habis;' pesannya padaku.
Privat room ini benar-benar lengkap. Ada ruang santai, ada dapur kecil,
dan peralatannya juga cukup lengkap. Seperti saat ini kami sedang
duduk di sebuah ruang makan yang dilingkupi kaca tembus pandang
jika dilihat dari dalam. Namun dari luar tidak akan terlihat apapun.
"Hei sepertinya sedang ada acara makan besar disini,’ suara seorangpria lagi.
Hah, sebenarnya ada berapa orang yang sering ke tempat ini?
Itu Eldric Alden Walker si ketua tim basket dan seseorang di
sampingnya tidak kukenal namun memakai seragam basket yang
sama. Ditambah Obelix yang masih menatapku dengan pandangan
permusuhan.
"Aaah ada gadis cantik disini. Hai Michaela;' sapanya membuatku
menatapnya aneh.
"Darimana kakak tahu namaku?" heranku. Memangnya siapa aku ini
sehingga banyak pria tampan mengenalku.
"Itu tidak penting. Intinya aku benar, bukan?" balasnya santai.
"Tapi aku tidak tahu siapa kakak?"
"Baiklah, perkenalkan aku Rafael Grey,' dia mengedipkanseblah
matanya padaku lalu mencium pipiku.
Playboy!
"Dasar werewolf sinting! Bersihkan dahulu keringatmu yang bau itu!"
tukas Rai kejam.
"Diamlah.’
"Hai,' sapa Eldric dengan senyum yang begitu manis sehingga
membuatku tidak tahan untuk membalasnya dan wajahku bersemu
merah.
"Hai juga kak." Lalu ia berlalu dari hadapanku dan betapa terkejutnya
aku ketika melihat sosok musuh sialanku dari sana. Ruang santai yang
memiliki pintu penghubung dengan ruang makan. Dia menatapku tajam
dengan amarah yang tidak kumengerti. Esteve memang tidak mungkin
ikut makan dengan kami.
Aku langsung membuang pandanganku darinya.
"Apa tidak ada makanan untuk kami berdua?" tanya Rafael.
"Pesan makananmu sendiri. Aku tidak mau berbagi makananku dengan mu. Kau makan seperti babi;' balas Ireneo.
"Secara tidak langsung kau mengejekku Kak karena makananku yang
paling banyak disini;' balasku cemberut.
Mereka menertawakan aku.
"Astaga manisnya anak ini;' kata Kelvin sambil mencubit pipiku.
Lalu mereka melanjutkan percakapan mereka tentang berbagai hal.
Namun aku masih tidak bisa mengalihkan pikiranku dari tatapan Esteve
yang tidak terbaca.
Sekarang aku sedang duduk di ruangan santai. Hari sudah mulai sore
dan pria—pria tampan itu kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
Gerald berkata agar aku melanjutkan pekerjaanku di rumah saja
dan dia sudah tahu bahwa aku sekarang tinggaal di rumah keluarga
Walcott. Urien berpesan untuk menunggu mereka disini karena kami
nanti akan pulang bersama. Dan disinilah aku terdampar dengan
kebosanan.
Aku meneliti tempat ini. Memang terasa cukup mewah namun tidak
membuatku nyaman karena disini terlalu sepi. Mereka semua terlalu
sibuk dan aku segan mengganggunya.
Seketika tatapanku bertemu dengan sorot kekesalan milik Obelix.
Astaga, aku tahu aku cantik. Tetapi tolong! Aku risih jika kau setiap
saat menatapku, Obelix.
Dia terlihat tidak sedang mengerjakan apapun. Maka aku mencaba
untuk menghampirinya.

"Kau;' tujukku padanya. "Ada apa denganmu?!" tanyaku kesal.
Namun dia justru menarikku ke suatu lift yang hampir sama dengan
lift yang merupakan pintu masuk ke ruangan ini. Namun letaknya saja
yang berbeda. Lift ini berada di bagian belakang. Dia menekan tombol
dengan tulisan rooftop. Dan bunyi 'ting' menandakan kami telah sampai
di tempat tujuan. Lalu dia menghempaskan tanganku dengan kasar.
"Aku tidak suka denganmu,’ kesal Obelix.
Aku mengusap pergelangan tanganku yang terasa sakit. Lalu aku
menatapnya polos, "aku tidak memintamu menyukaiku."
"Tetapi akibat kau, aku harus menerima hukuman dari Daddy!" ujarnya
kesal.
Aku mengernyit heran, "lalu itu salahku? Bukannya itu akibat
perbuatanmu sendiri"
Dia terlihat semakin emosi. Lalu menghimpitku di antara tembok dan
tubuhnya.
"Kau mulai berani sekarang sayang,' bisiknya tajam sambil menunduk.
Lalu saat dia mengangkat wajahnya, aku bisa melihat taring itu muncul
dari mulutnya. Sialan! Walaupun aku sudah berkali-kali melihat ini,
tetapi taring itu tetap mampu membuat tubuhku bergetar.
"Kau masih takut ternyata. Apa kau pikir setelah tinggal bersama kami,
maka akan menutup kemungkinan untuk aku mengoyak lehermu
dengan taringku?" dia menempelkan taringnya pada leherku.
"Jangan. Kumohon;' pintaku sambil memberontak melepaskan diri dari
kurungannya. Tetapi dia sudah mengunci tubuhku dengan kaki dan
tangannya.
"Teruslah memohon;' ujarnya kejam sambil menijilat leherku.
Aku sudah hampir menangis.
Tetapi itu tidak bertahan lama ketika kurasakan tubuh Obelix mulai
menjauh dariku karena ada yang menariknya dengan kasar.
Dia si brengsek.
Esteve!
"Apa yang kau lakukan?" desisnya kejam lalu memberikan satu pukulan
dengan kuat kepada Obelix. Memang hanya luka kecil untuk Obelix
tetapi berpengaruh cukup besar untukku.
Esteve menarik kuat tanganku menyalurkan emosinya disana. Aku
kesakitan namun memilih diam melihat emosi Esteve yang tersulut.
Kami kembali ke lift dan Esteve membawaku ke ruangan yang tidak
kuketahui. Tetapi ada sebuah pintu dengan tulisan Esteve Graffielo
Walcott disana. Dia membuka pintu itu dan di dalamnya terdapat sofa,
meja, kursi kerja, dan sejenisnya. Esteve menghempaskanku di sofa
lalu pergi.
Kemudian dia datang kembali dengan sebuah mangkuk yang
sepertinya diisi air dan kain bersih. Dia menarik tanganku yang
membiru dengan kasar. Hal ini membuatku merengut kesal.
Tanganku bukan semakin baik jika diperlakukan seperti itu, bodoh!
"Tidak bisakah kau sedikit lembut?!" protesku.
Namun dia menatapku dengan tatapan dinginnya membuatku bergidik
ngeri. "Diam!" titahnya.
Esteve kembali mengusap pergelangan tanganku dan syukurnya dia
melakukannya dengan lebih lembut.
Begini menjadi lebih baik.
Aku menatapnya yang begitu fokus mengusap lenganku dengan
berhati-hati.
Manisnya.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba dia mengangkat wajahnya dan menatap
tepat di manik mataku. Aku gelagapan. "Berhenti menatapku,' ujarnya
dingin yang membuat hatiku kecewa.
sialan kau!!
Aku langsung membuang pandanganku. Hatiku kecewa, terluka, dan
harga diriku tergores.
Tahan Michel. Jangan menangis!
Dia beralih menatap leherku, membuatku menatapnya penuh tanya.
"Ada apa?"
"Miringkan kepalamu;' titahnya lagi.
Aku sedikit takut. Apa dia akan melakukan yang seperti Obelix lakukan, mengingat dia seorang vampire murni?
"Untuk apa? Kau ingin menggigitku juga? Kau akan melakukan seperti
yang Obelix lakukan? Lalu kenapa kau menyelamatkanku? Biarkan saja
aku mati di tangannya;' cercaku kesal.
Dia terus menerus menatapku tajam sehingga aku menelan ludah
dengan gugup. "Lakukan saja"
Sial!
Kenapa aku selalu saja tidak bisa melawannya.
Dengan pasrah aku memiringkan kepalaku, menampilkan daerah yang
sama dimana Obelix menjilat dan menempelkan taringnya.
Esteve mendekat dan membawa kain dengan air dingin itu mendekat
pada leherku, mengusapnya perlahan. Sensasi dingin terasa di leherku,
tetapi tetap mampu membuatku meringis sakit. Sebenarnya Obelix
cukup kuat menekan taringnya disana meski tidak sampai membuatku
terluka. Dia semakin mendekat setelah mendengarku meringis. deru
nafasnya terasa begitu dekat menerpa leherku. Kemudian kain dingin
itu tidak lagi terasa, namun seperti ada sesuatu yang meniup leherku
dan membuatku kegelian. Tubuhku kaku.
kini bukaan deru napas yang terasa tetapi ...
^-^*^-^

Komento sa Aklat (71)

  • avatar
    Sinta Queena Reborn

    aku suka alur ceritanya... bikin kesel, greget sekaligus gemes sm es batu nya esteve..

    04/07/2022

      2
  • avatar
    Rada Dan Yasir

    kenapa lama bnget ceritanya kk ... sya sudh chek setiap hri tapi masih lom dilanjut lanjut kak . ayo dong semngat kak .. lanjutin lagi kak .

    21/06/2022

      0
  • avatar
    AzuzaYui

    ceritanya bagus dan banyak pembelajarannya dan mohon untuk autor jangan lama2 rehatnya kasihan yang sudah menunggu termasuk saya 😁

    09/06/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata