logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Bagian 8. Pengaruh Buruk (2)

Jangan Meminta Cerai
Bagian 8. Pengaruh Buruk (2)
Tanganku sedikit bergetar saat melihat story WA Vania. Kuremas geram ponsel di genggaman. Rahangku mengeras.
"Kamu yang bohong, atau Vania, Dan?" tanya Kak Fitri.
Aku tertunduk, masih memandangi foto itu tak percaya.
"Istrimu Kakak lihat, kok pergaulannya seperti liar begitu? Kamu bilang dia sedang tak enak badan di rumah?" imbuh Kak Fitri lagi.
Aku tak bisa berkata-kata. Dalam foto itu, terpampang jelas Vania yang sedang tersenyum hanya menggunakan hot pants dan sport bra di dalam sebuah gym. Lekuk tubuh dan auratnya terlihat jelas. Sementara di sampingnya berdiri Bella dengan penampilan yang sama. Yang menjadi masalah lagi, di kiri dan kanan mereka berdiri dua orang pria bertampang bule yang dengan bangga memamerkan perut sixpack. Salah satunya dengan sangat lancang merangkul pundak Vania! Kurang ajar!
Aku mengembuskan napas kasar. Segera kutelpon Vania untuk menyuruhnya cepat pulang. Tak ada jawaban darinya. Sudah pasti ia sengaja tak mengangkat panggilan.
"Kakak tidak bermaksud kepo ataupun ikut campur, Dan. Hanya saja Kakak mau kamu jujur. Sebenarnya, kalian apa ada masalah akhir-akhir ini?" tanya Kak Fitri hati-hati.
Aku menangkupkan kedua tangan di wajah. Haruskah aku bercerita?
"Aku gak tau harus cerita mulai dari mana, Kak!" jawabku akhirnya.
"Pelan-pelan saja, Kakak akan dengarkan!" timbal kak Fitri.
Maka, mulailah ceritaku tentang perubahan sikap Vania sejak tiga bulan lalu. Tepatnya, setelah aku terkena PHK. Vania yang menjadi malas-malasan dan pembangkang. Dengan suara sedikit bergetar pula, kupaparkan sikap Mama yang tak mau peduli dan selalu merongrong masalah uang. Bahkan, tentangnya yang menyaranku untuk menggadaikan barang. Selama ini, Kak Fitri hanya tau kalau aku boros. Padahal, Mama dan Vanialah yang menghabiskan hampir seluruh uangku.
"Aku gak tau harus bagaimana, Kak .... Aku bahkan sudah sampai khilaf menampar Vania, satu kali." Kak Fitri mendesah. Wajahnya tampak memendam kekhawatiran. Ia seperti berpikir sejenak.
"Kakak juga bingung mau berkata apa, Dan! Dulu Kakak kurang setuju denganmu untuk menikahi Vania, karena melihat sikapnya dan mamanya itu. Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Jika masih sanggup, didiklah istrimu itu agar tidak menjadi seperti mamanya! Kalau tidak, kau kembalikan ia baik-baik kepada papanya!" tegas Kak Fitri.
Aku terhenyak mencerna kata-katanya. Sepertinya selama ini aku benar-benar belum menjadi seorang imam yang baik. Lihatlah istriku sekarang, dengan berani menyingkap aurat di tempat umum seperti itu. Bahkan, ia tak terlihat risih sedikit pun disentuh oleh pria asing!
"Aku sangat menyayangi Vania, Kak. Sangat ingin ia seperti dulu lagi. Manis dan penurut padaku. Hanya saja, kurasa ia hanya menyukai uangku saja. Buktinya, sikapnya sekarang berubah 180 derajat! Bahkan, hakku sebagai seorang suami pun, tak lagi ia berikan!" Tanpa rasa malu kuungkapkan semua beban di dada kepada Kak Fitri. Sedari dulu, setelah ayah dan ibu tiada, hanya Kak Fitrilah tempatku bercerita segalanya.
"Perbaiki semuanya pelan-pelan. Kamu adalah pemimpin untuk Vania. Lakukan apa pun, serahkan hasilnya pada yang di atas!" Sejuk sekali rasanya mendengar ucapan Kak Fitri. Bebanku di dada terasa banyak berkurang.
"Akan aku coba, Kak. Semoga keadaan cepat membaik!" Kak Fitri mengangguk.
"Satu hal lagi, Dan. Jangan pernah memukul! Cukup satu kali itu saja, khilafmu!" pesan Kak Fitri.
"Aku janji, Kak!"
*
Melaju pulang, pikiranku melayang kemana-mana. Ingin rasanya protes kepada Tuhan, kenapa keadaan menjadi begini? Namun, aku malu. Melewati jalan WR. Supratman, aku tiba-tiba teringat dengan alamat si pemilik dompet yang tertinggal di trotoar pagi tadi. Sebaiknya kukembalikan saja hari ini. Toh, Vania juga pasti belum pulang ke rumah.
Ternyata alamat tersebut berada di komplek perumahan elite. Rumah-rumah modern minimalis yang rata-rata bertingkat dua berjejer. Setelah yakin berada di rumah yang tepat, kuhentikan laju motor.
Rumah berwarna hijau pastel dengan gerbang tinggi menjulang bernomor 56 A. Kupencet bel sebanyak dua kali, setelah yang pertama tidak ada respon. Tak lama, seorang lelaki paruh baya muncul di balik gerbang.
"Cari siapa, Mas?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Apa benar, ini alamat rumahnya Ayudia Ningtyas?" Aku balik bertanya.
"Iya, benar. Ada yang bisa dibantu?"
"Saya mau mengembalikan dompetnya. Tadi pagi saya temukan di trotoar pinggir jalan." Kutunjukkan dompet berwara biru tua itu padanya.
Dengan cekatan ia membuka kunci gerbang, lalu mempersilahkanku masuk.
"Silakan tunggu sebentar, Mas! Non Tyas sedang keluar bersama Ibu. Akan saya panggilkan Bapak di dalam." Ia berlalu ke dalam rumah yang megah itu.
Kuamati keadaan sekeliling. Halamannya sangat luas, dengan taman yang tertata apik. Sangat asri dan sedap dipandang. Dua buah mobil terparkir di garasi. Di sampingnya, ada pula sebuah motor gede dan dua motor matik. Salah satunya, adalah motor yang dikendarai perempuan itu tadi pagi. Sedangkan yang satunya lagi ... sepertinya, aku kenal motor itu!
"Sebentar lagi Bapak keluar, Mas. Beliau baru saja selesai salat zuhur. Silakan minum dulu!" ujar Bapak yang tadi, sambil menaruh secangkir teh di meja teras.
"Oh, iya. Terima kasih, Pak!"
Beberapa saat kemudian, derap langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Seorang pria keluar menggunakan kaos dan kain sarung.
"Loh, Pak Wira?!" Aku tersentak kaget dan langsung berdiri.
"Mas Dani?!" Pak Wira pun sama kagetnya.
"Bapak tinggal di sini?" tanyaku penasaran.
Pak Wira tersenyum. "Ya ampun, dunia sempit sekali ya, Mas! Mari-mari, silakan duduk lagi!" ujarnya. Kami lantas bersalaman.
"Saya kira rumah Bapak di ruko tempat Ibu berjualan itu, Pak!"
Pak Wira terkekeh. "Iya betul, itu rumah kami. Di sini, juga rumah kami."
"Wahh, saya tidak menyangka Pak Wira punya rumah sebagus ini di kawasan perumahan elite!" Aku terkagum-kagum. Jika dilihat dari luar, sosok Pak Wira sangat sederhana. Siapa pun tak akan menyangka beliau orang yang punya harta. Bahkan, lihat saja tampilannya sekarang, hanya mengenakan kaos dan kain sarung.
"Ini hasil kerja keras saya dan istri selama berpuluh-puluh tahun, Mas. Alhamdulillah, bisa memiliki hunian yang nyaman," imbuhnya.
Aku mengangguk-angguk, sangat salut terhadap Pak Wira. Kalau diperhatikan, rumah-rumah di sini pasti harganya di angka milyaran.
"Oh, ya. Katanya Mas Dani mau mengembalikan dompet anak saya?"
"Waduh, benar, Pak! Tak kusangka nama lengkap anak bapak Ayudia Ningtyas!" Aku sampai lupa tujuanku kemari.
"Iya, Ayudia Ningtyas, kami panggil Tyas. Tadi pagi dia juga cerita kalau terjatuh dari motor. Apa Mas Dani juga yang menolong, sampai membelikan minum segala?"
"Iya, Pak. Kebetulan saya sedang ada di sana saat kejadian." Pak Wira manggut-manggut mendengar penjelasanku.
"Terima kasih banyak ya, Mas Dani! Sudah merepotkan, sampai mengantar dompetnya Tyas ke sini. Kebetulan dia sedang keluar, diajak berobat dan pijat sama istri saya," ujar Pak Wira.
"Ah, tidak merepotkan kok, Pak! Sudah kewajiban saya menolong. Kalau begitu, saya pamit dulu. Sudah semakin siang, Pak!" pamitku.
"Aduh, sayang sekali! Padahal saya masih mau ngobrol lama-lama sama Mas Dani. Tapi, ya sudah! Lain kali mampir kemari, Mas!"
Kami bersalaman lagi, lalu Pak Wira mengantarku sampai ke gerbang.
"Hati-hati di jalan, Mas Dani!" teriaknya sambil melambaikan tangan.
*
Sekarang aku hanya memikirkan apa yang harus aku lakukan pada Vania nanti? Sejujurnya aku sangat takut akan khilaf lagi. Teringat jelas bayangan foto story WA Vania. Sialan, lancang sekali lelaki itu menyentuh istriku! Vania juga, kenapa mau-maunya dipegang oleh orang yang bukan mahramnya!
Pikiranku berkecamuk. Kupacu motor melaju lebih cepat dari biasanya, ingin segera sampai ke rumah. Vania, tunggulah suamimu pulang!
***

Komento sa Aklat (195)

  • avatar
    Riski Jack

    cerita sangat sangat bagus bagi saya terimakasih telah menulis cerita ini...

    20/12/2021

    Β Β 0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget aku udah baca semua karya kakak kutunggu karya selanjutnya πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    16d

    Β Β 0
  • avatar
    RamadaniAnssya

    emng mantap

    26/07

    Β Β 0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata