logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Bagian 7. Pengaruh Buruk (1)

Wanita berambut pirang dan berbaju ketat di depanku tersenyum.
"Vanianya, ada?" tanya wanita itu. Aku masih melongo.
"Eh, i—iya ada. Ada perlu apa?" Aku balik bertanya.
"Saya mau ketemu aja!" jawabnya tiba-tiba judes.
"Ok, tunggu. Saya panggilkan!" Aku berlalu ke dalam.
Vania terlihat menyeka keringatnya. Menjemur pakaian bukanlah hal berat, tapi ia kelihatan letih sekali. Mungkin karena sudah lama ia tidak melakukan pekerjaan rumah.
"Ada yang mencarimu di depan," kataku sambil mendekatinya.
"Siapa?" sahutnya.
"Abang gak tau. Rambutnya pirang!" Mata Vania langsung berbinar mendengar jawabanku. Diletakkannya keranjang pakaian, lalu langsung berlari ke depan. Aku yang merasa penasaran, diam-diam mengekor.
"Bella!" teriak Vania girang. Kedua perempuan itu kemudian berpelukan seperti Teletubbies.
"Apa kabar, Van?" kata wanita yang ternyata bernama Bella.
"Ayo, duduk dulu. Aku baik-baik aja, Bell. Ya ampun, udah lama banget gak ketemu. Kamu tambah cantik aja!" puji Vania. Aku yang mendengar dari balik dinding langsung mencebik. Modelan begitu kok dibilang cantik.
"Kamu bisa aja, Van. Malah kamu tambah cantik!" Bella membalas pujian.
Begitulah wanita, kalau sudah ketemu bakal lomba saling memuji. Padahal, tak tahu dalam hatinya seperti apa. Kutinggalkan mereka, lebih baik melanjutkan pekerjaan rumah yang tertunda. Menjemur pakaian yang tadi dikerjakan Vania, langsung aku selesaikan.
Entah apa yang mereka obrolkan, suara cekikikan sampai terdengar ke dapur. Sesaat kemudian, tak terdengar lagi suara mengobrol. Kukira teman Vania tadi sudah pulang. Namun, tebakanku meleset.
Vania sudah sudah berganti pakaian, berdiri di pintu dapur. Ia sedikit berdandan, mengenakan pakaian dan sepatu sporty. Cantik sekali seperti ABG.
"Mau kemana kamu?" tanyaku cepat.
"Hmm. Mau pergi ke gym dengan Bella. Minta uangnya, Bang!" Vania menengadahkan tangan.
"Pergi? Berberes belum selesai, Van! Bahkan kita belum sarapan. Sekarang masih pagi! Abang juga sudah punya rencana hari ini," ujarku sedikit kesal. Jam dinding baru menunjukkan pukul sembilan.
"Ck! Kan bisa dilanjutin nanti, Bang! Pokoknya aku mau pergi, Bella udah jemput ke sini lho! Minta uangnya, Bang!" Vania memaksa.
Aku menggeleng. "Uangnya Abang berikan, kalau semua sudah beres!"
Vania mendengkus kesal. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa.
"Ya sudah! Abang gak kasih uang pun, Bella pasti mau bayarin. Lagi pula, gym itu punya pacarnya!" Istriku berlalu sambil menghentakkan kaki.
"Van, tunggu! Vania!" Aku berusaha mengejar, tapi sudah terlambat. Vania sudah masuk ke mobil bersama si Ondel-ondel.
*
Aku mengembuskan napas kecewa. Rencananya hari ini mau mengajak Vania makan di luar, lalu mengunjungi kak Fitri. Sudah lama kami tidak jalan-jalan berdua. Namun apa daya, ia malah sudah pergi dengan temannya. Kutatap sekeliling rumah yang sudah tampak rapi. Piring dan pakaian kotor pun sudah bersih. Kuputuskan untuk mandi, lalu pergi sendiri. Sudah rindu rasanya mendengar celoteh keponakanku yang lucu.
Kulajukan motor perlahan, sekali-kali melirik toko buah yang berjejer di pinggir jalan. Mataku tertuju pada buah kelengkeng yang tampak segar, kesukaan Adelia. Melipir, kuraih sekantong lalu langsung membayar.
Brak!
Aku yang baru saja akan naik ke motor terkejut. Sebuah motor tergeletak di pinggir trotoar. Seorang perempuan terlihat susah payah tertindih di bawahnya. Tanpa pikir panjang, aku segera menghampiri. Sementara para pedagang yang berjejer di dekat sana, tak ada yang menggubris.
Kuangkat motor matiknya yang cukup berat itu. Pengendaranya terlihat sedikit meringis. Tangannya terlihat memerah dan sedikit berdarah. Kupapah ia duduk di pinggir trotoar. Kasihan sekali melihatnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyaku. Kutaksir dari perawakannya, umur kami tak terpaut jauh.
"Eh, iya saya gak apa-apa," jawabnya sambil mengelus betis. Mungkin terasa pegal.
"Tunggu di sini!" Aku berlari kecil membeli sebotol air mineral di warung terdekat.
"Terima kasih!" katanya saat kusodorkan air itu. Tak menunggu lama, ia langsung menenggaknya.
"Bisa pulang sendiri?" Kulihat lukanya tidak terlalu parah. Hanya tampak sedikit di tangan. Tapi aku tahu pasti, karena pakaiannya tertutup dari atas hingga bawah.

Ia mengangguk. "Iya, terima kasih banyak sudah menolong saya!" katanya sambil tersenyum.
"Coba saya starter dulu motornya!" Menurut pengalamanku, motor yang baru jatuh agak sulit distarter. Tapi sukurlah, sepertinya motor itu tidak bermasalah.
"Sekali lagi, terima kasih sudah menolong saya. Maaf, saya tidak bisa membalas apa-apa!" Perempuan tadi seketika sudah berdiri di samping motornya sambil menangkupkan tangan di dada.
"Tak usah sungkan. Hati-hati berkendaranya!" kataku. Tak lama, ia sudah melaju semakin jauh.
Mataku menangkap sesuatu yang teronggok begitu saja di atas trotoar. Sebuah dompet berwarna biru tua tertinggal di sana. Aku mendesah. Ah, pasti milik perempuan tadi. Kubuka dompet itu, mencari identitasnya. Nama Ayudia Ningtyas tertera. Sebaiknya aku kembalikan saja nanti ke alamatnya.
*
Kumasuki pekarangan rumah yang asri dikelilingi pepohonan dan bunga-bungaan. Kak Fitri senang dengan tumbuh-tumbuhan, apa pun yang ia tanam pasti tumbuh subur. Keponakanku sedang duduk di teras bermain susun lego sendirian. Saat melihatku, ia langsung bangkit dan melompat-lompat kegirangan.
"Oom Dani! Oom Dani datang!" Matanya berbinar bahagia. Senyumnya mengembang menampakkan gigi kelinci. Aku langsung tertawa.
Turun dari motor, kuhampiri dia sambil menenteng bungkusan plastik.
"Oom Dani, Adel kangen!" teriaknya. Langsung kuraih tubuhnya yang berisi ke dalam gendongan, lalu mencium pipinya gemas. Kubawa ia masuk ke dalam rumah. Suara mengosreng terdengar dari dapur. Tampaknya Kak Fitri sedang masak. Sementara kakak iparku, Bang Tamrin, mungkin sedang keluar melihat kebun sawit milik mereka.
"Ini, untuk Adel!" Kuserahkan bungkusan tadi. Tangannya langsung merogoh penasaran. Keningnya berkerut lucu.
"Apa ini? O—ohhh, buah kelengkeng! Yeeeeeyy! Adel suka, Adel suka! Makasih Om Dani!" Sebuah kecupan mendarat di pipiku.
Kuturunkan Adelia dari gendongan saat Kak Fitri muncul dari dapur.
"Eh, kamu, Dan! Pantesan suara Adel rame. Sudah lama sampainya?" Kak Fitri mematikan kompor. Aroma khas gulai ayam tercium semerbak. Perutku yang sedikit keroncongan, seketika meronta-ronta.
Kuraih tangan Kak Fitri. "Baru saja, Kak! Bang Tamrin, mana?" tanyaku.
"Abangmu sedang memperbaiki motor di bengkel, kemarin malam mogok di jalan! Kasihan, masih di simpang jauh sana malah mogok. Akhirnya dituntun sampai rumah. Bengkel udah pada tutup," ujarnya panjang lebar.
Aku manggut-manggut. Adelia sudah duduk dengan sekantung buah kelengkeng di pangkuan. Pipinya yang gembil, tampak menonjol mengunyah buah itu. Aku terkekeh melihat tingkahnya.
"Istrimu, mana?" tanya Kak Fitri tiba-tiba.
"Emm, di rumah, Kak. Lagi gak enak badan." Aku terpaksa berbohong.
"Ohhhh, Kakak pikir dia gak mau ke sini. Seingat Kakak, sudah beberapa bulan tidak pernah ikut kamu datang."
Tak mungkin kukatakan yang sebenarnya, karena pasti Kak Fitri tak akan suka. Apalagi selama ini dia dan Vania memang tidak bisa akrab. Lebih tepatnya, Vanialah yang menjaga jarak. Saat bertemu, hanya mengobrol sekadarnya saja. Vania pun, saat diajak berkunjung pasti tak betah terlalu lama.
"Eng—enggak, Kak. Beneran dia lagi gak enak badan!" Aku berusaha meyakinkan. Kak Fitri mengangguk-angguk.
"Sudah makan? Kalau belum, ayo ke dapur! Adel, yuk cuci tangan, Sayang! Nanti makan buah lagi, ya!" ajak Kak Fitri.
"Oke, Bunda!" Adelia langsung menurut. Benar-benar menggemaskan.
*
Rasanya nikmat sekali, setelah menyantap masakan Kak Fitri. Seperti sehabis makan di restoran bintang lima. Aku sampai menghabiskan dua piring nasi dan dua potong ayam. Kak Fitri menatapku penuh arti.
"Kamu lapar atau gimana, Dan? Tadi di rumah belum makan?" tanya Kak Fitri. Aku tersenyum malu.
"Iya, Kak. Vania tadi belum masak," jawabku sambil menuang air ke gelas.
"Istrimu, benar-benar di rumah?" tanyanya lagi. Kali ini tangannya sibuk memencet ponsel di genggaman.
"I—iya, Kak! Emang kenapa?" Tiba-tiba aku merasa sangat gugup.
"Pinter bohong ya, kamu sekarang. Coba cek story WA istrimu!" titah Kak Fitri.
Tergesa, kukeluarkan ponsel dari kantung celana. Kubuka WA untuk melihat story Vania. Mataku terbelalak lebar. Sedikit syok dengan apa yang aku lihat.
***

Komento sa Aklat (195)

  • avatar
    Riski Jack

    cerita sangat sangat bagus bagi saya terimakasih telah menulis cerita ini...

    20/12/2021

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget aku udah baca semua karya kakak kutunggu karya selanjutnya 👍👍👍

    17d

      0
  • avatar
    RamadaniAnssya

    emng mantap

    26/07

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata