logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Bagian 6. Menikahiku Karena Uang?

Setelah kepergian Mama, aku langsung ke kamar. Badan dan pikiran perlu diistirahatkan. Letih badan mungkin tak seberapa, tapi lelah hati sungguh menyiksa. Rumah yang dulu seperti surga, perlahan terasa seperti neraka.
Aku baru saja akan memejamkan mata, saat pintu kamar tersibak. Vania datang setelah mengantarkan kepergian Mama yang pulang dengan taksi online. Kuacuhkan kedatangannya. Dari raut wajahnya yang ditekuk itu, aku tahu dia pasti sangat kesal dengan kejadian tadi. Biarlah, agar mereka mengerti bahwa aku tidak bisa dilemahkan.
"Abang masih bisa tidur, setelah berucap jahat kepada Mama?" sindir Vania. Aku bergeming. Malas untuk meladeninya.
"Aku tak menyangka, Abang bisa seperti ini!" geramnya lagi.
"Terus, maumu Abang tetap diam saat kalian bertingkah seenaknya?" Aku akhirnya buka suara.
"Seenaknya, Abang bilang? Abang pun sekarang hanya memberiku uang seenaknya!" Vania berkacak pinggang di pinggir ranjang. Uang dan selalu uang yang ia bahas.
"Kamu tau kan, kondisi kita sedang sulit, Van? Apa pernah kamu lihat Abang berhenti bekerja? Atau kamu mau Abang jadi pengangguran sekalian? Biar kamu tau rasanya tidak punya uang sedikit pun!" ketusku lalu mengambil posisi duduk. Wajah Vania pias.
"Men—menjadi pengangguran?" Vania tergagap.
"Selama ini Abang salah terlalu memanjakanmu dan juga Mama. Mulai sekarang, Abang hanya akan memberimu uang secukupnya sesuai kemampuan Abang. Untuk kebutuhan dapur dan lainnya, biar Abang yang beli sendiri! Sedangkan Mama, masih dinafkahi dengan uang pensiun Papa. Bang Robi sebagai anak lelaki tertua pun bertanggung jawab atas Mama!" Tekadku sudah bulat, Vania harus mulai belajar untuk menghargai hasil jerih payah orang lain.
"Tidak mau! Pokoknya kalau Abang punya uang, harus diserahkan semua kepadaku seperti dulu!" titah Vania. Aku mendesah.
"Memberikan semua uang kepadamu, lalu kemudian kau habiskan tanpa memikirkan Abang? Sadar, Vania! Kapan terakhir kali kau masak untuk suamimu? Kamu ingin Abang mati kelaparan?" Aku menggelengkan kepala seakan tak percaya.
"Dasar suami pelit! Kalau tau Abang akan menjadi miskin seperti ini, aku tak akan mau menikah dengan Abang!" Vania menghentakkan kakinya. Jantungku serasa diremas-remas.
"Kau ... hanya menikahi Abang karena uang, Vania? Benarkah begitu maksudmu? Apa Abang tidak salah mengartikan?" tanyaku lirih. Ia terdiam, salah tingkah.
"Ya memang begitu! Mana ada wanita yang mau menikah dengan lelaki sengsara!" Vania membela diri. Lucu sekali.
Aku tertawa sumbang. Ya, saat masih menjadi manager di perusahaan percetakan, gajiku memang lebih dari cukup. Sayang, aku tak pandai mengelola keuangan. Apalagi setelah menikah, uang itu habis tanpa jejak. Mengucur deras, seperti pipa bocor. Keborosan Vania dan Mama, kini kembali terbayang di depan mata.
Setiap awal bulan setelah gajiku turun, Vania akan mengajak Mama berkeliling mall. Seharian mereka akan menghabiskan waktu berburu barang-barang yang kadang tak penting sama sekali. Belum lagi, Mama yang sudah siaga meminta jatahnya. Dalam sehari, gajiku yang baru turun bisa habis sampai setengahnya. Setiap akhir pekan, mereka akan mengajakku makan ke restoran-restoran dan kafe mahal. Ah, andaikan waktu bisa diputar. Seandainya saja!
"Jangan menilai besar kecilnya yang Abang berikan sekarang, Vania. Abang berjanji akan bekerja lebih giat. Maaf, sekarang kamu harus merasakan hidup serba hemat." Kembali kubaringkan tubuh, rasanya lelah sekali. Mataku seketika terpejam.
Vania menghentakkan kakinya kesal, lalu naik ke ranjang. Seperti malam-malam sebelumnya, ia akan tidur membelakangiku. Andaikan aku tak ridho, maka para malaikat pasti akan mengutuknya, karena telah mengabaikan hakku sebagai seorang suami. Namun biarlah, aku ikhlas.
*
Hari Minggu yang biasanya kunikmati dengan bersantai, kini sebaliknya. Keadaan rumah yang sangat kotor dan berantakan, membuatku tak nyaman. Rumah warisan dan orangtuaku ini, dulu begitu terjaga kebersihannya. Namun sayang, sudah tiga bulan ini Vania acuh tak acuh merawatnya. Debu dan sampah terlihat hampir di semua sudut ruangan. Mesin cuci sudah lama tak melakukan tugasnya. Piring kotor menumpuk di tempat cucian. Benar-benar seperti rumah yang sudah lama tidak ditempati.
"Van, Vania bangun!" Kuguncang lembut tubuhnya. Ia menggeliat sebentar, lalu kembali terlelap.
"Van! Bangun Van!" Kali ini kuguncang lebih kuat. Matanya terbuka.
"Abang mau apa, sih!" tanyanya sebal. Padahal, sekarang sudah jam tujuh pagi.
"Bangun, ayo bersihkan rumah!" titahku. Hari ini rumah harus bersih. Pakaian dan piring harus dicuci semua.
"Vania gak mau! Abang saja yang kerjakan!" ucapnya sambil merapatkan selimut di tubuhnya. Aku mengambil sesuatu dari kantung celana.
"Kalau kau tidak mau, Abang akan bayar orang untuk bersih-bersih dengan uang ini!" Kukibas-kibaskan tiga lembar uang berwarna merah di dekatnya. Mata Vania terbuka lebar. Seketika ia bangun, lalu berusaha menyambar uang di tanganku. Dengan cepat aku mengelak.
"Mau bantu Abang bersihkan rumah?" tanyaku memastikan. Ia mengembuskan napas sebal.
"Oke! Dasar suami perhitungan! Sini uangnya!" ketus Vania.
"Abang berikan setelah berberes!" kataku seraya keluar kamar. Vania segera mengekor di belakang. Sambil tersenyum kecil, kuraih sapu dan pel.
*
"Aku capek!" rengek Vania. Padahal, sedari tadi tugasnya hanya memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci. Sedangkan aku, sudah selesai menyapu dan mengepel seluruh ruangan.
"Yang berputar sedari tadi mesin cuci, tapi kamu yang capek!" sindirku.
"Abang pikir, menunggui mesin cuci gak capek? Belum lagi menjemurnya!"
"Jangan manja, Vania! Masih untung kita punya mesin cuci. Bayangkan bagaimana rasanya mencuci dengan tangan! Cobalah sekali-kali berpikir sedikit saja!" Aku mulai kesal dengan kekonyolannya. Wajar saja ia merasa capek. Mencuci tumpukan pakaian yang sudah seperti bukit kecil.
"Vania gak tahan terus-terusan begini, Bang! Kita panggil lagi saja orang untuk datang bersih-bersih seperti dulu!" pinta Vania memelas. Dulu kami memang biasa menyuruh Bik Ainun untuk datang ke rumah seminggu tiga kali. Tentu saja, saat itu aku masih punya cukup uang untuk membayar.
"Daripada uangnya dipakai untuk membayar orang, lebih baik gunakan tenaga sendiri untuk bersih-bersih! Lagi pula yang dikerjakan tidaklah banyak, asal tidak ditumpuk! Abang janji, kalau nanti keuangan sudah stabil, kita akan panggil Bik Ainun lagi."
"Hah, janji terus! Entah kapan bisa ditepati!" sungut Vania sambil mengisi air ke mesin cuci.
"Sabar, Vania! Keadaan kita sedang di bawah." Aku berlalu mendekati tumpukan piring kotor. Aroma tak sedap sedikit mengganggu penciuman. Segera, kusiapkan sabun dan spons.
"Sabar, sabar, sabar! Makan tuh sabar!" ujar Vania sambil membawa sekeranjang pakaian untuk dijemur. Aku mengelus dada. Ya Allah, semoga istriku bisa berubah lebih baik.
Kami lanjutkan pekerjaan rumah dalam diam. Vania sekali-kali melirikku sinis. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Semoga sedikit-sedikit ia akan mengerti bahwa ini semua adalah ujian. Kata pak Wira, semua rumah tangga ada ujiannya masing-masing. Bisa jadi ujian soal kesehatan, harta, keturunan, ataupun hubungan dengan ipar dan mertua. Maka, untukku ujiannya adalah soal harta dan hubungan dengan mertua. Mungkin juga, ini teguran dari-Nya agar kami bisa memperbaiki diri.
Baru saja selesai menyusun piring yang sudah bersih, ketukan terdengar dari pintu depan. Akhir-akhir ini aku sedikit trauma dengan suara ketukan pintu. Jangan-jangan Mama datang lagi, untuk merecoki urusan rumah tangga kami.
Dengan sedikit terpaksa, kubuka pintu. Seorang wanita dengan rambut pirang dan pakaian seksi bagaikan kurang bahan, sedang berdiri di sana.
***

Komento sa Aklat (195)

  • avatar
    Riski Jack

    cerita sangat sangat bagus bagi saya terimakasih telah menulis cerita ini...

    20/12/2021

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget aku udah baca semua karya kakak kutunggu karya selanjutnya 👍👍👍

    18d

      0
  • avatar
    RamadaniAnssya

    emng mantap

    26/07

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata