logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

BELANG SISKA

Bab 4
Belang Siska
"Ngomong yang jelas. Berapa?" teriak Ibu mertuanya.
"Ish … Ibu kelamaan," ujar Niken. Dia meletakkan makanannya di meja, lalu menggeledah saku baju Andini.
"Mbak! Mbak mau apa? Jangan begini."
"Udah, diem kamu!" bentak Mertuanya.
Niken terus melakukan aksinya. Tak berselang lama, dia tertawa kegirangan. Dia menemukan sesuatu.
"Lihat ini, Bu! Wuih … lima ratus ribu!" ujar Niken sambil memamerkan uangnya.
"Mbak, kembalikan uangnya! Itu untuk beli bahan dan belanja!" rengek Andini.
"Siniin uangnya!"ujar Ibu Agung sambil merebut dari tangan Niken.
"Bu, bagi dong! Kan, aku yang temuin!" ujar Niken.
"Bu, tolong kembalikan uangnya!"
"Gak. Ini uangnya Ibu ambil semuanya. Awas, jangan coba-coba cerita sama Agung!" ancam mertuanya.
"Bu, setidaknya, jangan di dibawa semua," ujar Dini memelas.
"Nih! Buat kamu segitu saja cukup! Ayo, Ken! Kita pulang!" ujar mertuanya sambil melempar uang dua puluh ribuan.
Dini memandang uang itu dengan memelas. Rencananya, uang itu akan dia gunakan untuk membeli beras yang sudah menipis dan baju untuk Rasyid. Sebagian bajunya sudah kusam dan kekecilan.
Dini menghela napas. Kenapa dia tidak pernah berani melawan mertua dan iparnya? Batinnya.
Dini kembali ke dapur meneruskan pekerjaannya. Mumpung Rasyid masih tidur, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.
"Bunda … bunda …."
Terdengar teriakan dan tangis Rasyid saat pekerjaan rumah Dini baru saja selesai.
"Aduh ... anaknya Bunda yang ganteng sudah bangun! Mandi dulu, yuk! Habis itu, kita sarapan!"
Rasyid tersenyum senang. Dia mandi sambil berceloteh.
"Kamu adalah penyemangat Bunda, Nak!"
Setelah selesai mandi dan sarapan, Dini mendudukkan Rasyid di tikar dekat mesin jahit dan meletakkan mainannya di situ. Rasyid memang anak yang manis. Dia jarang sekali rewel. Dia bisa betah duduk seharian di situ menemani Ibunya menjahit sambil bermain.
***********
Di kantin kantor
"Hei, Bro! Semalam kemana? Tiba-tiba ngilang, gitu?" tanya Doni.
"Nganterin Siska pulang!" jawab Agung.
"Bukannya gue mau ikut campur, cuma, gue mau ngingetin elu, jangan bermain api! Elu udah punya anak bini di ruma! Jangan sampai elu menyesal nantinya!"
"Ngomong apaan sih, lu! Yang bermain api juga siapa?"
"Gue kan bilangnya cuma ngingetin, bukan nuduh. Gue bisa lihat dari gelagatnya, kalo si Siska itu naksir berat sama elo. Jangan-jangan,elo juga suka sama dia?"
"Siapa sih yang tidak suka sama dia? Masih muda, cantik, bodinya aduhai lagi!" ujar Agung sambil nyengir.
"Waduh, gak beres ini orang! Gung, gak usah macem-macem, deh!"
"Berisik lu! Udah, ah! Gue cabut dulu!"
**********
"Mas Agung, jalan yuk! Bete jam segini di kost sendirian!" ujar Siska manja setelah jam pulang kantor.
"Ekhm….. ekhm!" dehem Ricky. Kebetulan, meja kerja Ricky berada di dekat meja Agung.
"Kenapa lu, Rick!"
"Gak tau, nih! Tenggorokan gue gatel! Gue cabut dulu!"
"Gimana, Mas?"
Agung berpikir sejenak.
"Ayo! Mau kemana, nih?"
"Ke mall di Simpang Lima, ya? Kemarin, aku lihat ada tas bagus! Pengen beli! Mumpung lagi diskon! Habis gajian juga no!" ujar Siska sambil cengengesan.
Mereka berkeliling mall hingga puas. Sepanjang jalan, Siska bergelayut manja di lengan Agung.
Siska memilih-milih tas.
"Mas, ini bagus yang mana?" tanya Siska sambil menenteng dua buah tas.
"Dua-duanya bagus," jawab Agung.
"Aduh … Mas! Gue bingung!"
"Kalo bingung, ambil dua-duanya saja!"
"Gak bisa! Uangku mana cukup!"
"Udah, ambil aja! Yuk, ke kasir!" Agung menarik lengan Siska menuju kasir.
"Mbak, bungkus yang ini ya! Berapa?"
"Totalnya tujuh juta, Pak!"
Agung mengeluarkan kartu kreditnya.
Setelah selesai melakukan pembayaran, mereka beranjak keluar.
"Terimakasih, Mas! Udah dibayarin! Gue jadi ngerasa gak enak!" ujar Siska malu-malu kucing.
"Udah, santai saja. Mau beli apa lagi? Ntar gue beliin" tanya Agung.
"Beneran, Mas?" tanya Siska kegirangan.
"Tentu saja! Ayo!"
Siska benar-benar bersemangat. Kapan lagi coba,bisa belanja sepuasnya tanpa bingung mikirin bayar.
Akhirnya bukan hanya membeli tas, Siska juga membeli beberapa buah pakaian dan sepatu. Dan, sebagai pria sejati, Agung benar-benar membayar semua belanjaan Siska.
Setelah puas belanja,mereka makan di cafe dekat mall, lalu beranjak pulang menuju kost Siska.
"Terimakasih, ya,Mas! Udah dibayarin! Padahal, aku bisa bayar sendiri!" ujar Siska sambil memeluk Agung, Agung pun membalas pelukan Siska.
"Jangan terimakasih doang, dong!"
"Terus maunya apa?"
Agung mengecup bibir Siska. Dan lagi, mereka melakukannya!
" Bagaimana kalau istrimu tahu tentang kita?" tanya Siska setelah mereka selesai melakukannya.
"Sudah, gak usah dipikirkan! Kita jalani saja apa adanya sekarang!"
Siska tersenyum penuh arti. Dia sudah bisa mendapatkan Agung, walaupun statusnya hanya selingkuhan.
Pelan-pelan, dia akan menyingkirkan istri sah Agung. Siska yakin, dia pasti bisa.
Agung beranjak bangun dari tidurnya.
"Mau kemana, Sayang?" tanya Siska sambil bergelayut manja. Melihat itu, Agung tersenyum dan memberi kecupan kecil untuk Siska.
"Ini sudah malam, Sayang! Gue harus pulang!" jawab Agung.
"Gak pengen nginep sini aja?" tanya Siska.
Agung terkekeh.
"Jangan sekarang, ya! Gue janji lain kali akan menginap!"
"Beneran? Janji, ya?"
"Iya, gue janji," ujar Agung sembari mengecup kening Siska. Agung segera pamit dan pulang.
Setelah Agung pulang, Siska segera meraih ponselnya. Banyak panggilan dan pesan dan masuk. Dia tampak menelepon seseorang.
"Siska, kemana saja sih kamu? Susah sekali dihubungi dari tadi," omel seseorang di seberang sana.
"Maaf, Mi. Masih sibuk tadi. Bagaimana? Ada tamu buat gue malam ini?" tanya Siska.
"Iya. Udah, cepeten ke sini. Ini tamu spesial dari tadi nungguin lo. Dia gak mau sama yang lain," ujar wanita yang biasa dipanggil Mami oleh Siska.
"Oke, mi. Gue meluncur kesana sekarang."
Setelah mandi dan bersiap sebentar, Siska sudah meluncur ke tempat mami.
"Mami …!" panggil Siska begitu memasuki ruang tamu.
"Siska! Sini!" jawab Mami sambil berteriak dari pojok ruangan.
"Mana,Mi, tamunya?" tanya Siska.
"Udah di atas. Kamu langsung naik sana."
"Siap, Mi."
**********
"Sis, kenapa sih, kamu gak fokus disini saja? Daripada kerja kantoran. Udah capek, gajinya dikit lagi," ujar Mami setelah Siska selesai melakukan tugasnya.
"Gak bisa, Mi. Gue juga pengen punya kehidupan yg normal. Gue pengen nikah dan punya keluarga."
"Emang ada yang mau sama pelacur? Memangnya kamu tidak takut, kalau nantinya sakit hati saat dia dan keluarganya tahu latar belakangmu?"
"Gue yakin bisa atasi itu. Gue akan bikin dia cinta mati sama gue."
"Ya … terserah kamu sih, yang penting, saat ada tamu, kamu siap dipanggil."
"Siplah kalo itu, Mi. Jangan kuatir. Selama belum kawin, gue siap. Yang penting, jangan terlalu sering."

Komento sa Aklat (255)

  • avatar
    SitianiTafonao

    suka

    19/04

      0
  • avatar
    PgaVingki

    vidio ini sangat menyenangkan

    10/04

      0
  • avatar
    Intan Khoerunnisa

    baguss bangettt

    04/05/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata