logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Hilang kabar

Tak terasa jam kerja telah usai, waktunya para karyawan untuk pulang. Tapi tidak untuk Dita, apa lagi kini ia harus merangkap sebagai asisten pribadi Adrian yang membuatnya semakin sibuk.
Karena terlalu lelah, tak terasa Dita sampai tertidur di atas meja kerjanya dengan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal. Adrian mengetuk pintu ruangan Dita beberapa kali. Merasa tak ada jawaban dari pemilik ruangan, Adrian masuk begitu saja ke dalam ruangan Dita dan mendapatinya sedang tertidur dengan sangat lelap.
“Pantas saja nggak di jawab, dianya tidur hmmm...,” batin Adrian sambil berjalan perlahan mendekat ke meja Dita.
Memperhatikan Dita yang sedang terlelap membuat hatinya tersentuh, seharian ini ia telah banyak membuat Dita sangat kerepotan dengan berbagai permintaannya. Ia pun menyadari itu, semua memang ia lakukan untuk mengetahui seberapa layak Dita menjadi asisten pribadi sekaligus sekretaris yang akan mendampinginya untuk bisa membuat perusahaan ini semakin sukses.
Adrian tak ingin gegabah, untuk itu ia membuat serangkaian tes guna menguji seberapa tangguh keinginan para karyawannya untuk tetap berada di posisi mereka sekarang, “Memang Diko nggak salah pilih ya, selain cantik dia memang pekerja keras dan cukup sabar dalam menghadapi orang seperti aku,” ujar Adrian menertawai dirinya, sambil terus memperhatikan Dita yang membuatnya tersenyum sendiri.
Adrian menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah Dita, membuat sang pemilik merasa terganggu lalu perlahan membuka matanya.
“Pak Adrian!,” seru Dita merasa kaget dengan kehadiran Adrian di ruangannya, “Maaf Pak saya ketiduran, laporan yang Bapak minta sudah selesai. Tadinya akan saya antar ke ruangan Bapak tapi saya malah mengantuk dan tertidur di sini. Sekali lagi saya minta maaf Pak,” ujarnya lirih dengan menunduk.
“It’s oke, lagi pula jam kantor sudah berakhir 1 jam yang lalu,” sahut Adrian.
“Maaf Pak, kalau boleh saya tahu ada perlu apa sampai Bapak kemari?” tanya Dita hati-hati.
“Nggak ada, memangnya saya nggak boleh kemari?” tanya balik Adrian sambil duduk di kursi depan meja Dita.
Dita tak dapat menjawab lagi jika bosnya itu sudah bertanya hal demikian, selain lelah jika harus terus mendebat perkataan bosnya itu ia pun tak akan pernah menang jadi saat ini percuma baginya melawan, ia tak punya cukup tenaga karena belum makan sejak tadi siang.
Hening...
Krucuk... krucuk...
Karena suara ruangan yang terlalu sepi, membuat isi perut Dita yang sedang kelaparan sampai terdengar di dalam ruangan kecil miliknya.
“Itu tadi suara perut kamu? Apa kamu belum makan?” cecar Adrian.
Dita menggeleng pelan, “Belum sempat Pak,” sahutnya.
“Kamu ini..., kenapa nggak makan dulu tadi? Berapa tahun kerja di sini sampai mengatur waktu untuk makan saja nggak bisa. Kamu tahu nggak makan itu penting, kalau kamu nggak makan bagaimana bisa berpikir dengan baik?” tanya Adrian dengan penuh penekanan.
Mendengar omelan Adrian membuat kepala Dita pusing, ia memijat keningnya perlahan berharap pusing itu dapat segera hilang bersamaan dengan menghilangnya Adrian dari ruangannya membuat Dita merasa sedikit lega karena tak harus mendengar omelan dari bosnya itu, “Kemana itu bos, pergi nggak pamit. Bodo amat lah,” batinnya.
Baru saja merasa lega karena kepergian Adrian, bosnya itu malah kembali ke ruangannya dengan membawa satu nampan penuh berisi 4 macam makanan di antaranya soto ayam, sate, bakso, dan nasi goreng.
Karena Adrian tidak mengetahui apa makanan kesukaan Dita, akhirnya ia memesan semua makanan dari kantin yang masih buka. Dengan begitu Dita bisa memilih mana yang ingin ia makan, dan Adrian yang akan menghabiskan sisanya karena ia pun sudah merasa lapar sejak terakhir kali makan tadi siang.
“Silakan kamu pilih mau makan yang mana,” tawar Adrian seraya meletakkan nampan berisi 4 macam makanan di atas meja Dita.
Dita membelalakkan matanya menatap berbagai jenis makanan di atas mejanya, aroma dari makanan-makanan itu menusuk indra penciumannya membuat perutnya semakin terasa lapar.
“Ini semua untuk saya Pak?” tanya Dita mulai mengambil sendok untuknya.
“Ya kalau kamu mau habiskan saja, kalau nggak biar saya yang makan,” sahut Adrian sambil duduk di kursi depan meja Dita.
“Biar adil, semuanya kita bagi 2 saja Pak,” usul Dita.
“Ya, boleh saja,” jawab Adrian lalu mengambil sendok untuknya.
20 menit berlalu, Dita dan Adrian menghabiskan semua makanan di depan mereka hingga tak tersisa, membuat perut mereka tersenyum bahagia karena telah diisi dengan penuh.
“Saya nggak nyangka ya kamu kuat juga makan sebanyak itu,” ujar Adrian seraya mengusap perutnya yang kekenyangan.
Dita menyeringai tipis, “Maaf Pak, saya belum makan dari siang. Jadi porsinya doble.”
“Baguslah, kamu memang harus banyak makan. Ingat pesan saya ya jangan sampai telat makan lagi, saya nggak mau karyawan saya sampai sakit hanya karena telat makan,” tutur Adrian yang di jawab anggukan oleh Dita.
*
*
3 hari kemudian...
Sesampainya di rumah, Dita menyalakan ponselnya untuk mengecek setiap sosial media, pesan, email, atau pun panggilan masuk dari Diko namun tak ia temukan satu pun. Hatinya mulai merasa gelisah, karena tak kunjung mendapat kabar apa pun dari kekasihnya itu.
Tok! Tok! Tok!
“Dita, kamu sudah tidur?” panggil Dave dari balik pintu kamar Dita.
“Belum pi, masuk aja,” sahut Dita dari dalam lalu Dave masuk ke kamar Dita.
“Kenapa putri cantik papi belum tidur, ini sudah malam besok kamu kerja kan?” tanya Dave sambil duduk di tepi ranjang.
“Iya pi, sebentar lagi. Ini lagi cari tahu kabar tentang Diko, sejak berangkat kemarin lusa dia nggak kasih kabar apa pun ke aku. Aku coba telepon ponselnya nggak pernah aktif, aku telepon Pak David dan Bu Aulia pun sama. Aku jadi khawatir,” terang Dita.
“Kamu tenang ya, lebih baik sekarang kamu tidur dan besok coba tanya ke orang tuanya. Papi yakin Diko baik-baik saja, mungkin dia terlalu sibuk dengan bisnis barunya. Kamu jangan terlalu khawatir ya, pikirkan kesehatan kamu juga lebih baik sekarang kamu tidur,” tutur Dave seraya mengelus rambut Dita.
“Baik pi,” sahut Dita memilih menuruti nasehat papinya dan mencoba untuk tidur meski pikirannya selalu tertuju pada Diko.
*
*
Keesokan paginya, Dita mengikuti nasehat papinya untuk menemui orang tua Diko di rumah mereka. Namun tak membuahkan hasil, orang tua Diko sedang dinas ke luar kota dan hanya ada surat dari Diko yang dititipkan pada pembantunya.
Segera Dita pergi dari rumah Diko dan membaca surat itu saat ia sudah duduk di dalam taksi dan perjalanan menuju ke kantornya.
*
*
*
Next...

Komento sa Aklat (102)

  • avatar
    salmasani

    suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁

    20/01/2022

      1
  • avatar
    PonselXiaomi

    CERITA BAGUS SANANG BAGUS

    16/05/2025

      1
  • avatar
    SaebahIneu

    bagusssss

    05/05/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata