# Hikmah di Balik Hilangnya KTP Bab 3 ( Perubahan Sikap Ridwan ) Jdeeerrr Pintu kamar langsung dibanting Ridwan, sampai-sampai Widya dan Indah terhenyak kaget. " Apa dia gak suka aku datang ya? " " Aneh aneh saja kamu, mungkin dia ada masalah disekolahnya. Sebentar aku ke atas dulu " Widya naik menyusul Ridwan karena merasa khawatir tak biasanya putranya bersikap seperti itu. Tok tok tok Widya mengetuk pintu kamar Ridwan. " Kak, kakak kenapa apa ada masalah sini cerita sama mamah " Hening, tak ada jawaban. " Kak ayo dong jangan bikin mama khawatir " " Aku gak papa mah, biarin aku sendiri dulu " jawab Ridwan dari dalam kamarnya. " Ya sudah nanti kalau udah siap cerita nanti cari mama ya sayang. Mama ada dibawah gak kemana mana " " Iya ma " Ridwan tetap menjawab dari dalam kamar tanpa membuka pintu. " Kenapa? " tanya Indah. Widya mengendikan bahunya " Entah dia belum mau cerita. Biarkan saja dulu " " Nih pesanan kamu sudah datang, sudah aku makan dikiiit " ujar Widya sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapih. " Kita makan di bawah aku panggil anak anak dulu ya " " Kapan kita lihat lihat isi mobil suami kamu " " Nanti lah kalau anak anak sudah di kamar takutnya mereka heran kita obrak abrik mobil papahnya. Mending kita makan dulu " " Oke boss " Ridwan dan Putri sudah turun mereka menuju meja makan karena sudah waktunya makan. Peraturan yang dibuat Widya mengharuskan keluarganya makan bersama di meja makan agar tetap terjalin komunikasi dan kedekatan. Mereka makan bersama di meja makan sambil mendengarkan Putri yang berceloteh. Namun Widya terus fokus memperhatikan Ridwan yang terus terdiam bahkan terlihat malas untuk makan. " Kakak kenapa sih kok gak semangat, kalau ada masalah cerita dong biar beban kakak berkurang " tanya Widya. " Gak papa mah lagi malas saja, aku naik lagi ya mah. Tante aku mau ke atas dulu " Indah menganggukan kepalanya. " Ini kak bawa sebagian pizza nya buat kakak dikamar biar sekalian ngemil ya " " Iya mah, makasih " Ridwan naik lagi ke atas " Mah ade juga mau makan di kamar ya sambil menggambar " " Iya boleh nanti kalau mau tidur jangan lupa gosok gigi ya " " Huum " Putri mencium pipi mamanya dan Indah, kemudian dia pergi ke kamarnya. " Nah anak anak sudah dikamarnya sekarang kita beraksi. Come on bestie " Indah terlihat bersemangat ingin segera memeriksa mobil Herman. " Iya iya gak sabaran amat. Ayo kita ke garasi sekarang " Di dalam mobil Widya berada di kursi depan sedang Indah dikursi belakang. Mereka sibuk masing masing di mulai dari membuka dashboard bahkan, jok mobil bahkan karpet mereka singkap. " Kalau kamu mau sembunyiin barang kira kira dimana Wid? " " Mmhhh, aku gak pernah simpan barang di mobil lama-lama. Tapi sepertinya emang gak ada apa-apa deh " " Ya sudah mungkin memang gak ada apa-apa kita turun saja. Tadinya aku berharap bisa nemuin hal penting " " Emang ngarep nemuin apa celana dalam, Bra gitu? " ucap Widya dengan ketus. " Nah itu kamu tahu " jawab Indah sambil terkekeh geli. " Ih dasar teman lakn*t hahaa " Ketika Indah hendak turun tak sengaja dia menendang sepatu milik Herman. Buukkk Sepatu terjatuh ke lantai, kaos kaki sepatu sebelah kanan terlepas dari sepatunya dan terlihat ada benda hitam berukuran sekitar 5 inch. " Ih apa ini " lalu Indah memungutnya. Matanya langsung membelalak melihat ada sebuah HP di dalamnya. Langsung diserahkannya pada Widya. " Nah ketahuan kakang mu menyimpan HP disini dasar jorok. Apa gak bau ya pas dia pake HP nya " Widya memperhatikan HP nya, beruntung sekali HP dalam keadaan hidup dan tidak terkunci. " Emang si Suhe ini, kalau bangke di tutup serapat mungkin juga percuma pasti kecium " Widya tersenyum kecut mendengar ocehan sahabatnya. " Coba cek isinya jangan dibolak balik aza kalau perlu dibanting. Sini biar aku yang cek bisa sawan nungguin kamu kelamaan mikir. Pasti kamu takut menghadapi kenyataan iya kan? " ujar Indah sambil tersenyum sinis dan mengambil HP yang dipegang Widya. Dibuka nya semua file data, galeri, Wa SmS dan riwayat panggilan tapi bersih tidak ada apa-apa. " Nah bersih kan gak ada apa-apa, berarti kecurigaanmu tidak terbukti " Widya tersenyum penuh kemenangan. " Mungkin, tapi kamu jangan bohongi diri sendiri kita kan belum cek ke kota sebelah soal KK baru, aku juga butuh penjelasan soal panggilan keberangkatan pesawat tadi siang. Satu hal lagi coba fikir baik baik ngapain suami kamu simpan HP sampe ngumpet ngumpet gitu kalau gak ada apa-apanya. Firasat aku gak pernah salah sis " papar Indah. " Kita lihat saja nanti saja, semoga semua kecurigaanmu gak terbukti " balas Widya. " Ah sebaiknya kamu retas HP nya Wid, kita harus menjaga segala kemungkinan " " Ya sudah aku juga pengen lebih yaki biar gak ada rasa curiga " Mereka pun mengotak atik HP Herman dan meretasnya agar setiap percakapan bisa tersambung dengan HP Widya. " Oke beres, sekarang kita istirahaaatt " Indah berucap sambil berlalu ke dalam rumah, kemudian Widya menyusul setelah merapihkan isi mobil seperti semula. " Aku ke kamar dulu mau istirahat cape seharian nemenin kamu " " Oke aku mau ke kamar anak anak dulu melihat mereka, jangan lupa besok kita ke kota sebelah ya antar aku " " Siyap Bu Bos " Widya menuju kamar Putri, dilihatnya si bungsu sudah terlelap, Widya membenahi selimut putri bungsunya kemudianencium keningnya. Beralih ke kamar Ridwan, dia masih merasa khawatir melihat anak lelakinya yang berubah sikap menjadi murung. Tok tok tok " Kak, mamah tau kakak belum tidur. Mamah masuk ya " tanpa menunggu jawaban Widya masuk ke kamar. Widya duduk di sisi ranjang, mengajak Ridwan bicara dari hati ke hati. " Ayo dong Kak bicara sama mamah ada masalah apa jangan bikin mamah khawatir " " Mmmhhh, mah tadi aku ketemu nenek di minimarket. Aku malu sama teman temanku " " Malu kenapa sayang?" " Nenek maki maki aku mah, dia bilang aku cucu pembawa sial karena terlahir dari menantu yang tidak sukainya. Aku malu sama teman-teman, nenek sampai menunjuk-nunjuk wajahku mana banyak pengunjung juga. Salahku juga sih tadi gak sengaja menyenggol anak perempuan balita, anaknya nangis. Aku sudah minta maaf pada mamanya, tapi tiba-tiba nenek datang dan memaki aku. Aku gak tahu anak itu siapa tapi aku lihat nenek seperti sayang banget sama anak itu. " Ada rasa perih di hati Widya, mengapa mertuanya berbicara seperti itu. Kalau dia tidak suka padanya kenapa harus Ridwan yang menjadi korban kemarahannya. Dia tahu mertuanya tidak pernah menyukainya sedari dulu. Widya mengira dengan berjalannya waktu mertuanya akan berubah. Tapi harapan itu hanya sia-sia, bahkan cucunya sendiri disakiti dengan ucapannya yang tajam. Di usapnya rambut Ridwan penuh kasih. " Mungkin nenek lagi badmood, jadi dia khilaf berkata seperti itu. Kakak gak boleh membenci nenek ya. Kita harus selalu menghargai orang yang lebih tua ". Ridwan mengangguk perlahan " Iya mah " " Sekarang kakak tidur ya besok kan sekolah pagi apalagi siangnya ada les tambahan " Diselimutinya Ridwan kemudian mengelus rambutnya. " Selamat malam jangan lupa do'a sebelum tidur ya " Ridwan mengangguk, Widya pun keluar dan menutup pintu kamar kembali. Widya masuk ke kamar dan bersiap tidur, dia membersihkan wajahnya dengan serangkaian skincare. Setelah selesai dia duduk di ranjang dan bersandar pada headboard. " Siapa ya anak perempuan itu, seingatku cucu ibu hanya dariku dan Cindy. Kalau misal anak Cindy pasti Ridwan mengenalinya " gumam Widya Diambilnya HP berniat menghubungi suaminya. Tuutttt Tuuuttt Sudah berulang kali tapi tak ada jawaban. Sekali lagi dicobanya. Tuutt Tuuut [ Hallo ] [ Pah, susah banget sih di telepon ] [ Maaf mah tadi meeting, ini baru beres ] Huaaa huaaa [ Loh mas kok ada suara anak kecil itu siapa? ] [ Ah bukan siapa siapa mah, itu pengunjung restoran anaknya nangis ] [ Loh bukannya papah baru beres meeting kok di resto, yang bener yang mana? ] [ Mama cerewet banget sih, Papah disini lagi kerja jangan mikir yang aneh aneh. Sudah papah cape ] Tut tut tut " Dih kok di tutup sih, gak bener ini. Awas kamu ya pah "
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus, tapi bacanya belum selesai, bikin penasara
05/07/2025
0baguss
25/04/2025
0mantapppp
19/03/2025
0Tingnan Lahat