“Cepat, carikan itu, atau aku akan memutusmu jadi pacar palsuku!” teriak Anna dengan nada menantang. Gadis itu menyeka air matanya sambil menunjuk kasar kearah Ravel. Tapi pria itu sama sekali tidak mengurbisnya. Tentu membuat Anna bingung dalam kemarahannya. Tidak tau mau katakan apa lagi. Detik setelahnya dia kembali mengingat siapa yang hidupnya tergantung tangannya sendiri. “Carikan, atau aku akan membatalkan serta memulangkan semua dokter profesional dari luar negeri itu agar nyawa ibumu putus saat ini juga!” Deg! Bagaikan disambar petir pada hari tak mendung ini, tubuh Ravel seakan kaku. Pikirannya mulai kelayapan pergi kemana-mana. Ibunya? Owh ... Jangan-jangan! Ibunya harus sembuh! Tidak boleh-tidak boleh! Argh! Kenapa dia bisa lupa sih, kalau nyawa ibu tersayangnya ada di tangan gadis ini! Mau gimanapun, ibunya, hanya dia yang dimiliki Ravel dalam hidupnya. Ibunya tidak boleh meninggalkan dia secepat ini! “Gimana? Sudah kah memikirkannya?” ucap Anna melipat tangan di dada. Melirik Ravel di sampingnya terlihat sungguh kaku bak sebuah batu. Anna dalam hati tertawa puas. Akhirnya dirinya berhasil membuat pria itu tertunduk padanya. LAGI! Perlahan, Ravel membuka pintu mobil. Dimana pintu itu tidak lagi dikunci Anna dari kontrol mobilnya. Melangkahkan satu kaki dan tak sengaja menyenggol sesuatu. Hanya terasa benda datar itu licin, hampir membuat Ravel tergelincir masuk kedalam sebuah jurang yang sangat dalam menurutnya. Untung dia berpegangan pada kursi dalam mobil Anna. Kalau tidak, aduh ... Ravel sendiri tak tau gimana nasipnya jika masuk kedalam sana. “Sekaligus tutup pintu itu Rev!” Anna berteriak lagi. Ravel diluar sana hanya menggeleng-geleng kan kepalanya. Baru beberapa jam menjadi kekasih palsunya Anna, Ravel sudah hampir menyerah! Sepertinya Anna ingin mengerjai Ravel deh, tapi alasannya apa ya? Ravel menutup pintu. Pria itu mulai berjongkok. Lumayan dekat dari mobil dan agak jauh dari jalanan terjal kebawah penuh hutan dan bebatuan tajam dibawahnya. Pandangan sangat minim, membuat ia hampir pasrah mencari kartu itu. Kebetulan hari sudah malam saat mereka mulai berkendara meninggalkan toko orang kaya yang jauhnya lebih sekilometer dari posisi mereka saat ini. Meraba-raba semua rerumputan disana. Tapi tidak ketemu juga. ‘Ah Ravell! Jadi orang pintar dikit kenapa sih! Kan jadi susah jadinya!’ Ravel dalam hati merituki bebodohannya. Walau memang benar kata-katanya. Anna tidak boleh berpikiran terlalu sempit mau dibodoh-bodohi dengan orang tua modelan seperti orang tua Anna. Hal itu jadi mengingatinya sesuatu hal ... ‘Ah! ngapain diingat lagi! Sudah Rev, cari. Cukup mencari saja! Tidak perlu merasa tersulitkan!’ Ravel membatin, menyemangati dirinya yang sedang gelisah ini. Semua demi ibunya! Dia tidak boleh menyerah! Kartu itu adalah kartu peyelamat ibunya. Karena di zaman sekarang, semua diatur sama uang. Hampir setengah jam mencari, tapi tak kunjung mendapatinya. Ravel mulai merasa menggigil. Udara disekitarnya terasa semakin bertambah suhunya. Ravel, walau sering berada di luaran hanya sampai pukul 18.00 saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Karena dagangannya cepat laku sebab dia melayani pelanggannya dengan ramah, banyak berdoa dan menyajikan yang terbaik! Sehabis berdagang dia pasti akan kuliah. Itupun tidak di luar ruangan, melainkan dalam ruangan. Menyamankan dia dalam menimbah ilmu. “Sudahnya Rev!” lama kelamaan, Anna jadi karatan hanya menunggu Ravel didalam sana hampir setengah jam! ‘Dia itu ngapain sih!’ Anna itu gadis yang suka bosan. Maka dia akan melakukan apapun agar tidak merasa bosan. Anna akhirnya memilih turun dari dalam mobil. Tentu, melalui pintu disampingnya. Ia menutar setengah jalur melalui kiri, mencari keberadaan Ravel ada di mana. “Ravel!” teriak Anna. Gadis itu, sangkin tidak taunya Ravel dimana, padahal pria itu sudah ada di depan mobilnya tetap mencari. Anna mengelilingi seluruh sisi mobilnya dengan kesal dan marah pada lelaki itu. Tapi dia malah ... “Aaaaa!” Anna terpeleset. Kedua kaki yang menggunakan sepatu tumit itu lolos jatuh saat area pertahanan dataran dipijakkannya melengser mengikut serta kan dirinya. Untung Anna segera menggapai satu badan pohon di depannya tadi. “Ravel! Tolonggg!” teriak Anna. Terkadang gadis itu menoleh kebawah. Malam hari terlihat sungguh mengerikan dibawah sana. Gelap! Tapi sebuah benda yang dicari mereka berdua daritadi akhirnya ketemu. Dia meraih benda itu setelah melepaskan paksa salah satu tangan dari badan pohon. Kebetulan menyangkut nyaman di atas batu lumayan besar di dekat perutnya. Akhirnya dapat! Anna menyimpan kartunya dalam saku rok span pendeknya dan kembali berpegangan di badan pohon. Ravel segera melihat kondisi Anna di dalam bawah sana. Tadi, saat Anna berteriak, dia langsung bergegas mencari Anna di dalam mobil, tapi tidak ada. Pintu mobil terbuka, membuat dia bertanya-tanya kemana gadis itu berada. Dia berlari menuju suara Anna dan melihat gadis itu memegangi badan pohon. Wajahnya yang malang membuat Ravel iba ingin menolong segera gadis itu. Ravel memposikikan diri untuk segera menolong Anna. Pria itu berusaha menggapai jemari Anna, tapi terhalang pohon yang di dipengang Anna. Duri-duri merambat disekitar pohon itu salah satu penghalangnya juga. Tangan Anna pasti ikut terluka, pikir Ravel. Dan memang benar pikiran Ravel, tangan Anna terluka duri-duri tajam mengenai jemari dan telapak tangan mungilnya. Perawatan tangan yang kemarin jadi hancur karena duri-duri ini. Darah segar menetes deras disana. Anna bergidik ngeri melihat darahnya sendiri mengenai beberapa bagian di wajah berbedak tipis keluaran terbaru dari W-Up. Perusahaan kosmetik terlaris sepanjang masa. Lama kelamaan kedua tangan Anna melemah. Tak kuat untuk memegangi tubuh pohon di atasnya. Pandangannya mulai buram serta kelihatan dua-dua. “Anna! Jangan pingsan dulu! Kamu harus ingat, kalau ada mantan pacarmu yang menunggumu kembali!” teriak Ravel seperti seorang dokter ketika membantu proses persalinan pasiennya. Menyemangati agar Anna tidak putus asa. Ravel mulai mencari cara. Ya! Dia harus melibatkan warga! Menyerukan warga untuk membantunya. Tak selang beberapa menit, Ravel menemukan warga yang siap membantu. Mereka mulai berbondong-bondong menyiapkan alat seadanya supaya bisa menolong Anna. Para warga secara berantai dari atas untuk menggapai Anna dibawah sana. Sekitar tiga orang. Dua warga dan Ravel tentunya. Ravel tidak ingin jika Anna, mengklaim Ravel sebagai penyebab serta tidak bertanggung jawab atas kesalahannya. Dia juga mulai tau gimana sikap Anna. Maka dia tidak mau jika mulut Anna kembali mengoreksi kesalahannya. Setelah hampir menggapai Anna, Anna mulai lelah sepertinya. Gadis itu menutup mata dan pandangan buram terakhir kali dilihatnya adalah Ravel. Anna dengan kulit tangan terkelupas hebat, terjatuh terguling-guling menuju jurang sana. Tapi tangan Ravel berhasil menarik Anna kembali dan membawanya ke atas dengan bantuan para warga. Ravel membawa Anna ke dalam mobil dan mencoba mengipas-ipas wajah Anna dalam pangkuannya. Keringat dingin tertera disana. Ravel kasihan pada Anna. “Kami pergi dulu ya anak muda.” pamit orang-orang itu. “Iya. Terimahkasih, terimahkasih banyak.” “Jaga pacarnya ya.” “Iya pak.” Setelah semua warga peduli itu pergi, Ravel meraih sebuah kotak obat yang dicarinya dari tadi di dalam nakas. Mengambil air dingin di dalam kotak obat tadi dan mulai menyirami terluka serta terkelupas milik Anna, dimana air tersebut mengalir ke tanah sebab Ravel dan mendudukkan dirinya serta Anna di kursi menghadap keluar. Sedang tangan sibuk menyirami tangan lain mulai menghidupkan lampu. Pria itu kemudian meraih kembali kotak obat dan mengambil perban di sana. Anna yang pingsan sama sekali tidak mengetahui siapa yang sedang melakukan itu padanya. Matanya tertutup tak bisa membuka. Tapi dia merasakan betul kalau ada yang menjamah tubuhnya. Setelah siap memberi pertolongan pertama pada Anna, Ravel membersihkan wajah Anna yang terkena darah Anna sendiri. Ravel menaruh Anna di atas kursi penumpang. Menutup kedua pintu dan mulai mengendarai mobil. Ravel pandai mengendarai mobil. Tapi pria itu berusaha menolak ketika Anna menyuruhnya mengendarai mobil tersebut. Mobil itu milik Anna. Bukan miliknya. Jadi siapa yang punya, dia yang berhak. Tapi di situasi darurat ini Ravel harus mengendarai mobil itu *** Bersambung ...
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
cerita novel nya sangat baguss hebatt💞
06/05/2022
4cerita nya bagus kak..
19/03/2025
0bagus
16/02/2025
0Tingnan Lahat