Mandi sepertinya solusi yang tepat. Rasanya beban pikiranku berkurang. Aku sudah selesai membersihkan diri. Aku keluar kamar bertemu ibu yang sedang menonton tv. “Ibu, Ana cape” rengekku “anak ibu cape ya, sini peluk. Bagaimana pekerjaanmu.” “ Melelahkan bu, tapi ana suka” “ berarti kamu menikmati pekerjaanmu. Kamu sebulan lagi berarti selesai magang kan?” “iya bu, makanya ana mau ambil ilmu sebanyak – banyaknya untuk bekal ana nanti di London” “kamu memang jadi melanjutkan disana, ibu ditinggal dong” “ jangan bilang gitu dong ibu, in ikan sudah cita – cita ana. Aku janji nanti aku akan selesaikan dengan cepat dan bisa ajak ibu kesana. Siapa tau kitab isa tinggal disana” “ Iya sayang, amin” “ Ibu ana tidur dulu ya, ana cape” “ya sudah sana ibu selesaikan acara ini dulu ya” Aku mencium pipi ibuku dan Kembali kekamar. Aku membuka handphone ku ada notifikasi panggilan tak terjawab dari nomor tadi. Siapa ya, batinku. Tak lama terdengat dering telpon masuk. Aku angkat “ hallo” Tak ada jawaban “ halo ini siapa ya?” “ ini Briana?” “ Iya benar, dengan siapa saya bicara?” “ Saya Sem” Deg, aku mendengar nama itu. Benarkah ini dia “ Pak Bos?” “ Sem, bukan Pak Bos” “ Oke , oke maksud saya Pak Sem” “bukankah kamu sudah berjanji memanggilku mas” “Iya” aku tersenyum senang, semoga dia tak tahu bagaimana raut bahagiaku saat ini “Ada apa ya mas telpon saya malam – malam, dan tahu nomor saya dari mana?” “ bukankah kamu sendiri yang menyuruh saya mencari nomor telponmu.” Aku tertawa lepas “ maaf pak, ada yang bisa saya bantu pak?” “ stop bicara saya dan bapak, kamu bisa lebih santai. Bisa aku kamu atau aku mas. Jangan saya” “ oke, ada yang bisa aku bantu mas,” “ hahahahaha gitu dong, ga ada. Aku Cuma mau tau kabarmu.” “aku baik” jawabku, senyum masih mengembang dipipiku “ besok kamu survey lapangan kan?” “ko mas tau?” “ aku tau semua ana, besok aku jemput ya. Sekalian akum au kesana” “ ga usah mas, aku bisa naik motor.” “ kalau begitu aku naik motor bersamamu” “Aduh apa lagi itu, jangan. Mas naik mobil saja” “ makanya kamu berangkat sama aku. Oke titik. Besok aku jemput jam 9 ya” “ hmmm, ya sudah” “ oke, selamat malam Briana” “malam pak” Telpon terputus, aku meloncat – loncat kegirangan. Aku sampai lupa kejadian beberapa waktu lalu. Pesona Sem memang gila. *** Pagi ini aku bangun lebih siang karena tidak harus kekantor. Jadwalku hari ini hanya kelapangan dan boleh langsung pulang. Aku mulai siap – siap mandi, ibu sudah berangkat dari pukul 7 dan sekarang suadah pukul 8. Tak butuh waktu lama untukku untuk bersiap. Aku tak suka memoles wajahku terlalu tebal. Hanya bedak dan sedikit lipstick. Aku sarapan makanan yang sudah ibu siapkan. Tak lama ada suara ketukan pintu. Tok tok tok “Iya “ aku melangkah kepintu Ternyata Mas Sem. Dia tampak lebih tampan hari ini dengan pakaian kasual. Tidak seperti biasanya dengan setelan rapih. “ Mas sudah sampai, katanya jam 9, ini masih setengah jam lagi. Silahkan masuk” “Aku bangun terlalu pagi” sambil melangkah masuk “ kamu sedang sarapan?” tanya mas Sem “ Iya mas, sini. Kamu belum sarapan kan?” “ Belum” “ Aku ambilkan piring ya, kamu duduk disini” Aku ambilkan nasi goreng yang ibu buat. Semoga dia mau makan makanan seperti ini. “ ini memang bukan makanan mahal, tapi aku jamin enak mas” ucapku sambil meletakan sepiring nasi goreng dihadapannya Mas Sem mulai mencicipinya. “ Enak” ucapnya singkat Aku tersenyum. kami melanjutkan sarapan kami dengan tenang. Sebenarnya dihati sedang ada perang. Kalau sampai dia dengar pasti aku malu. Sudah selesai sarapan. Aku bersihkan meja makan. Dan mengambil tasku dikamar. Mas Sem sudah menunggu diluar. Aku menutup pintu dan mendekat kearahnya. “sudah siap?” “ Siap “ Ma Sem membukakan pintu mobil, aku seperti putri. Aduh aku bisa gila kalau begini, batinku.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
menarik
11/09
0ceritanya menarik bgttttt
25/07/2025
0asikkk juga isi ceritanya
12/07/2025
0Tingnan Lahat