hari ini terasa cepat sekali, panas terik matahari dilapangan tak terasa. bukan karena aku kebal, semua karena ada mas Sem disampingku. kami bekerja seprofesional mungkin, dilapangan juga aku tetap memanggil Sem dengan sebutan Pak. Aku takut ada yang salah paham. sekarang sudah sore, waktunya aku pulang. Mas Sem masih sibuk dengan klien kami. Aku berencana pulang sendiri, tak mau mengganggu kerjanya. Aku mengambil tasku dimeja dan aku pergi keluar lapangan proyek. diluar aku mampir kesebuah minimarket, aku sangat lapar. mungkin karena siang tadi sangat banyak berdiri. aku beberapa mengambil roti dan susu. lalu aku membayarnya. Baru beberapa langkah keluar minimarket,aku sudah melihat mas Sem didepanku dengan tangan berlipat didada. aku mendekat. "Bapak kenapa disini?" dia masih terdiam "Mas" tanyaku lagi "kenapa kamu ninggalin aku?, aku cari kemana-mana, untuk ada satpam yang liat kamu kesini" " maaf mas, aku lapar. aku kira kamu masih lama dengan klien tadi." " ya sudah ayo masuk mobil" aku mengikutinya, dimobil aku membuka roti yang tadi aku beli dan aku tawarkan pada mas Sem " mas ini roti makan dulu, kamu kan juga belum makan." " tanganku sedang memegang kemudi" aku berinisyatif menyuapi mas Sem, dari pada aku makan sendiri kan tidak enak. Tak ada maksud lain. " ini mas, buka mulutmu" dia tersenyum sambil membuka mulutnya " mau langsung pulang atau kemana?" tanya Sem " langsung pulang saja ya mas, cape soalnya" " oke" sesampainya dirumah, mas Sem tidak mampir karena masih banyak pekerjaan dikantor. Sepanjang perjalanan kami, handphone mas Sem beberapa kali berdering, tapi ia mengabaikannya. Aku dirumah langsng istirahat, aku membuka noteku dan mulai menulis apakah aku pantas menyukainya apakah sopan jika aku dengannya setauku langit biru akan indah jika dengan pelangi tapi apakah aku begitu warna - warni satu warna saja begitu berarti ya Tuhan semoga dia memang takdir ilahi ana, 17 Maret 2018 tringg, suara telpon berdering " halo Mas" " aku sudah dikantor, kamu sedang apa?" " syukurlah. aku sedang beristirahat. silahkan lanjutkan pekerjaanmu" " oke,, nanti aku hubungi lagi" " iya mas" Mas Sem jadi semakin dekat denganku, aku senang tapi aku bingung. Apakah aku boleh sebahagian ini. Jika dia hanya menganggapku karyawan biasa bagaimana. *** ditempat lain. Aku menikmati sekali hari ini, padahal aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan akan menemui Briana, walaupun hanya sekedar berangkat bersama. Aku berangkat cukup pagi dari rumah, aku tak mau datang terlambat. jam 7 aku sudah sampai didepan rumahnya. Aku menunggu dimobil, aku takut dia kaget jika aku datang terlalu pagi. Aku melihat seseorang keluar dari rumah itu,mungkin ibunya, wajahnya tak asing. tapi entah lah. mungkin hanya perasaanku. Aku tak berani menyapa. Satu jam setengah aku menunggu dimobil, akhirnya aku beranikan diri mengetuk pintu rumahnya. Tok tok tok “Iya “ ada jawaban dari dalam “ Mas sudah sampai, katanya jam 9, ini masih setengah jam lagi. Silahkan masuk” “Aku bangun terlalu pagi” jawabku “ kamu sedang sarapan?” tanyaku karena melihat meja makan yang berisi hidangan. “ Iya mas, sini. Kamu belum sarapan kan?” “ Belum” “ Aku ambilkan piring ya, kamu duduk disini” aku Tersenyum, aku seperti pengantin baru yang sedang dimanjakan istrinya “ ini memang bukan makanan mahal, tapi aku jamin enak mas” “ Enak” ucapku Aku melanjutkan makanku dengan hati yang tak karuan. Tak sia-sia aku menunggu dari pagi disini. aku menunggu didepan Mobil, dia berjalan kearahku. Dia benar-benar cantik, apakah aku benar menyukainya. “sudah siap?” “ Siap “ *** Aku memalingkan wajahku mencari dimana keberadaan Briana, dia tidah ada. Aku berlari kearah depan, berpapasan dengan karyawan lain, apakah dia sudah pergi, batinku. aku memasuki mobilku buru-buru dan digerbang depan aku bertanya pada sekuriti, dan ternyata dia melihat Briana di minimarket depan. Aku tunggu didepan. ketika aku melibatnya, ingin rasanya memeluknya sambil memarahinya, kenapa meninggalkanku. Tapi ya sudahlah. Dimobil, dia menawarkanku makan. dan tanpa diduga dia menyuapi ku sepotong roti. Sungguh membuat jantungku copot saking deg degannya. Aku masih ingin berlama - lama dengannya, tapi tumpukan pekerjaan membuatku harus mengesampingkan hati. sesampainya dikantor aku langsung menelponnya. Tak ingin kehilangan moment dengannya
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
menarik
11/09
0ceritanya menarik bgttttt
25/07/2025
0asikkk juga isi ceritanya
12/07/2025
0Tingnan Lahat