logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

ke enam

Chika diam.
"Buru naik, kalo lo gak naik gue bakal teriak kalo lo itu mantan gue yang gagal muveon makanya lo pindah sekolah karena lo ingin liat gue terus."
"Apaan sih lo jangan sok akrab deh."
Habis sudah kesabaran Arkan. Arkan turun dari motornya kemudian mendekati Chika.
"Nona manis, Naik atau gue cium?" tanya Arkan pelan.
Chika membulatkan mata, emang orang ini sudah gila.
"Oke, gue naik, tapi lo jangan macem-macem, gue tonjok lo," ucap Chika.
Arkan tersenyum penuh kemenangan kemudian menaikki motornya kembali.
"Gitu dong nurut, jangan nanti di ancam yang mesum baru mau nurut."
Arkan mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Chika yang kelihatannya kesulitan naik ke motor yang tinggi itu.
"Thanks," ucap Chika saat sudah berada di motor Arkan.
"Bentar Chik, gue mau ngechat 01 gue dulu," ucap Arkan kemudian masuk di aplikasi instagram. Tak ingin pusing dengan ketololan apa yang akan Arkan lakukan Chika memilih diam, dan berharap agar papanya segara tiba agar ia tidak jadi pulang dengan cowok Aneh seperti Arkan.
Setelah rasanya sudah selesai urusan dengan 01, Arkan memasukan kembali ponselnya kedalam saku dan bersiap untuk berangkat mengantar Chika pulang.
Arkan melihat dari spion motornya ada teman-temannya yang cengar-cengir melihat ia boncengan dengan cewek. Pasti si anak buahnya itu sedang menggibahi nya.
Deg deg deg, Jantung Arkan berdetak tak karuan. Bagaimana tidak, ini kan pertama kali nya ia bonceng cewek, mana belum belajar tutorial bonceng cewek dengan baik lagi, ntar kalo salah gimana, pasti itu yang ada di pikiran konyol Arkan.
Motor Arkan keluar dari halaman sekolah.
"Chika," tanya Arkan di tengah tengah perjalanan.
"Ha?"
"Gue bukan Dilan yang bisa ngeramal rumah Milea, jadi gue gak tau di mana rumah lo, lo tinggalnya di mana ntar kita nyasar," tanya Arkan pada Chika karena takut nyasar.
"Enggak gue lagi gak pengen kepasar hanya untuk makan telur gulung, langsung pulang aja."
Arkan berusaha menangkap apa yang Chika katakan, karena kendaraan yang berisik membuat telinga Arkan sedikit tidak fokus pada ucapan Chika. Ya sudah Arkan putuskan untuk menjawab apa yang telinganya dengar saja, terlalu gengsi untuk bertanya, ntar yang ada di bilang budek, masa ganteng-ganteng budek, kan malu-maluin.
"Bapak gue bukan pemulung di pasar," kata Arkan.
"Ya iyalah goblok semua orang mah pernah duduk di bangku sekolah dasar," ucap Chika ngegas.
Arkan memilih diam tidak ingin tersesat terlalu jauh, telinganya benar-benar eror tidak bisa berfungsi dengan baik saat ngebonceng cewek.
Sumpah ini yang ditanya apa yang di jawab apa, gak nyambung emang kalo bicara di atas motor.
Chika memukul bahu Arkan yang membuat sang empuh ngeramas rem mendadak yang mengakibatkan Chika tersandar di punggung Arkan tanpa aba-aba.
Wow nikmat, ternyata gini rasanya ngerem mendadak pas bonceng cewek, pantes aja si anak buah gue kalo ngapel pada kagak mau bawa mobil- Batin Arkan dengan otak kotornya.
"Eh Astaghfirullah," batin Arkan lagi
"Bisa bawa motor gak sih," ucap Chika yang kesal karena kepalanya kepentok helm Arkan.
"Lagian lo sih mukul-mukul gue, kenapa sih mukul-mukul?"
"Dari tadi lo gak nanya dimana rumah gue, malah mutar -mutar gak jelas, emang lo tau rumah gue?" tanya Chika ngegas.
"Lah kok lo yang marah sih Chik, tadi gue udah nanya dimana rumah lo, ntar kita kesasar, gue bilang gitu eh malah lo bilang bapak gue mulung di pasar, harusnya gue yang marah bukan elo," ucap Arkan tidak mau kalah.
Chika memukul helm Arkan.
"Gue gak ada bilangin bapak lo mulung di pasar ya, lo jangan fitnah. Dari tadi lo gak ada tuh nanya di mana rumah gue, lo malah ngajak kepasar buat makan telur gulung."
Arkan diam, ternyata bukan cuma telinga nya yang eror tapi telinga Chika juga.
1 detik hening.
2 detik masih hening.
3 detik....
"Hahahahhahaaha," Arkan dan Chika tertawa bersama menyadari jika mereka dari tadi di atas motor ngobrol yang tidak nyambung.
"Udah ah buru pulang, rumah gue di jalan Hasanudin," ucap Chika setelah selesai larut dalam tawa.
"Oke siap," jawab Arkan yang masih tertawa.
Motor Arkan jalan kembali menuju alamat yang Chika katakan, selama perjalanan mereka berdua tidak berniat untuk membuka percakapan karena masih trauma dengan kejadian tadi, lebih baik diam dari pada harus malu untuk yang kedua kali.
"Makasih ya untuk tumpangannya," ucap Chika saat sudah sampai didepan rumah.
"Oke, gue balik duluan ya, bay," kata Arkan kemudian pergi dari kalangan rumah Chika setelah berpamitan dengan Chika.
Setelah Arkan pergi Chika tertawa ngakak karena membayangkan ketololan yang ia dan Arkan ciptakan tadi.
Senin pagi setelah selesai upacara Arkan beserta teman-temannya menghadap Bapak Fadri, kepala sekolah SMA Unjulan Bangsa.
"Masuk!" ucap Fadri pada kelima muridnya.
Arkan dan teman-temannya pun masuk.
"Kalian tau apa kesalahan kalian?" tanya Fadri pada Anggota Live Coals.
Arkan dan teman-temannya diam.
"Faisal Arkananta Ruzika, kenapa diam? Biasanya kamu yang akan paling bersemangat untuk bicara."
"Bapak udah berulang kali ngingetin kalian supaya tidak bandel, tidak ngerokok di belakang sekolah."
"Bapak kecewa."
"Tapi pak, setelah kejadian di kelas 10 waktu itu kami tidak lagi ngerokok pak," bantah Reklin.

Komento sa Aklat (188)

  • avatar
    RosmawatiYanti

    beeeest

    23/03/2025

      0
  • avatar
    Ooll Ooll

    msnrap

    23/03/2025

      0
  • avatar
    Zhianda naldoGhanim

    bagus

    09/08/2024

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata