Arkan berdiri di dekat lapangan voli menunggu seseorang. 5 menit menunggu akhirnya orang itu tiba. "Gimana Del? Udah lo kasih?" tanya Arkan pada Adel. "Udah," jawabnya jutek. "Gitu dong jadi adek angkat harus patuh sama abang mu yang tampan ini," kata Arkan kemudian memberi selembar uang 50 ribu kepada Adel. "Lain kali kalo mau nyuruh nyuruh kasih yang lebih dari ini," kata Adel kemudian pergi meninggalkan Arkan setelah Mengambil uang tersebut. "Dih dosa apa gue tuhan sampe di titipin adik angkat modelan Adel." Adel adalah anak tunggal dari Bi Surti, dan Geng LIVE COALS sudah menganggap Adel seperti adik mereka sendiri, Adel di jaga dengan baik bagaikan ratu. Dan Adel baru saja duduk dibangku kelas 10. Arkan ingin membuktikan kepada teman-teman tololnya itu kalau dia juga bisa mendapatkan pacar, hanya saja belum ketemu dengan orang yang tepat. Tapi sekarang mungkin Chika adalah wanita pertama yang akan mampir di hatinya yang sudah berantakan karena lama tak berpenghuni. Arkan pun melangkahkan kaki ke dalam kelas yang tentunya sudah sangat rusuh sepeti pasar. "Dari mana lo?" tanya Bima yang sedang main game online. "Nyoli," jawab Arkan asal. "Makanya lo punya pacar biar gak main sabun mulu," kata Reklin. "Gue takut nya lo homo Ar," kali ini Nabil yang berbicara. "Iya tuh jadi ngeri," tambah Arga "He'em gue nya homo, mau dong di belai ama mas Bima," ucap Arkan se-centil mungkin. "Tolol," ucap Bima kemudian mereka Berlima tertawa receh. 1 jam sudah berlalu, dan guru-guru masih belum selesai rapat. "Bosan gue sumpah, gue mau balik ah," Ucap Akran kemudian berdiri mengambil tas lalu keluar kelas meninggalkan teman-temannya yang sudah tertidur di kelas. Sebelum meninggalkan teman-temannya, Arkan mempunyai ide kreatif. Arkan mendekati kaki teman-temannya yang saat itu tidur pulas. Kemudian Arkan mengikat tali sepatu mereka secara berantai. "Gini kan enak, biar solidaritasnya makin tinggi," Ucap Arkan kemudian pergi meninggalkan teman-temannya. Jangan sebut dia Arkan jika sehari saja ia tidak melakukan kebodohan atau kejahilan. Melangkahkan kaki dengan gagah menuju parkiran, memakai kaca mata hitam dan hoodie itam yang selalu menjadi favorit harian seorang Arkan. Setelah tiba di parkiran Arkan segera menaikki motor KLX hitam miliknya. "Kita jalan Milky," ucap Arkan kemudian keluar dari halaman sekolah. Milky? Apa lagi itu?. Arkan terlalu banyak istilah dalam hidupnya. Sekedar informasi saja ya, Milky adalah nama untuk motor kesayangan miliknya. Jika ditanya kenapa harus Milky? Kenapa bukan black? Ataukah joni, atau white? Kenapa harus Milky yang hampir menyerupai nama permen itu. Jika ditanya seperti itu maka Arkan akan menanyakan balik dengan dialog seperti ini "KENAPA LO HARUS KEPO? APAKAH LO ADALAH SEPUPU DORA?" Sudahlah terserah Arkan saja, dunia milik Arkan doang, yang lain ngontrak. Motor Arkan tiba di apertemen pribadi miliknya, ia tidak mungkin pulang ke rumah disaat jam sekolah, pasti ia akan di omeli walaupun sudah memberi tau kalau guru sedang rapat dan tidak ada pelajaran yang masuk. Sudahlah, kata Arkan 'Mama mah selalu benar' Arkan merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, menatap langit-langit kamar di apertemen miliknya sambil memikirkan nona manis yang belum ia ketahui namanya. "Pokoknya gue kudu tau nama tu cewek siapa, biar besok bisa ngeramal seperti Dilan ngeramal Milea, kan keren tuh," ucap Arkan bicara sendiri. "Tapi gimana gue cari tau namanya ya?" Arkan menatap bingkai foto yang berada di nakas. "Eyang tau gak siapa nama tu cewek?" "Kata mama, eyang hebat, coba deh kalo hebat Arkan mau nanya, tapi kok eyang diam doang? Fix ini mah mama bohongin Arkan, eyang kan bukan Dilan yang jago ngeramal," ucap Arkan yang kesal sendiri karena eyang hanya diam. Emang ada ya foto bisa bicara? Arkan ini tampan tapi tolol. "Gue tau kudu ngapain," kata Arkan kemudian membuka permen Milkita rasa Strawbery. "Nah gue udah tau mau nanya ke siapa, nanya ke Salsa lah masa iya nanya ke pak Bondan. Emang makan permen bikin otak gue encer, makasih selalu ada ya Milkita," Kata Arkan kemudian mencari kontak Salsa. Arkan menunggu Salsa mengangkat telepon, 3 menit tak juga kunjung ada respon. Berusaha menelpon terus hingga Salsa mengangkat, dan akhirnya setelah penantian panjang Salsa menjawab telepon Arkan. "Selamat siang Salsa, mau nagih hutang," ucap Arkan menyapa Salsa di seberang sana. "Apaan Arkan, buru lo mau apa, lo kan gitu orangnya datang pas butuh doang," Ucap Salsa sudah hafal tabiat seorang Arkan. "Salsa mah pintar, jadi gini gue mau tanya nama cewek yang tadi bareng lo siapa?" "Emang nya kenapa?" "Gak kok tanya doang." "Chika, kenapa sih?" "Oke makasih gue tutup dulu ya sibuk soalnya lain kali lo jangan nelpon-nelpon gue ya Salsa, ada hati Rose dan Milkita yang harus gue jaga." Tut. Sambungan telepon dimatikan Arkan begitu saja, coba bayangkan saja bagaimana ekspresi Salsa sekarang, mungkin jika Arkan ada di hadapan Salsa ia akan menguliti ginjal Arkan. Setelah mengetahui nama yang ia mau, Arkan memutuskan untuk tidur dan akan balik ke rumah jika sudah sore. *** "Assalamualaikum Arkan pulang," Ucap Arkan setelah tiba di rumah. "Waalaikumsalam," jawab Rizal yang sedang fokus membaca koran. "Papa?" Panggil Arkan. "Hm." "Mama mana?" Tanya Arkan. "Di dapur Faisal Arkananta Ruzika," ucap Rizal yang kesel karena dari kecil anaknya yang satu ini selalu menanyakan mama nya, tidak pernah menanyakan dirinya. "Oke bos oke bos," ucap Arkan kemudian pergi setelah menyalimi tangan Rizal. "Papa," panggil Arkan lagi. "Apa lagi sih?" Rizal bertanya mulai emosi. "Dapur sebelah mana ya? Soalnya saya anak bawang yang baru di panen," ucap Arkan bercanda. Melihat Rizal yang sudah berdiri mengambil ancang-ancang untuk gelut, Arkan memilih cari aman, lari menuju kamar, melewati kamar Tisya yang pintunya terbuka Arkan punya inisiatif untuk membuat Tisya bahagia. Tik, Arkan memadamkan sakral lampu di kamar Tisya yang kebetulan sakral itu di pasang dekat pintu, jadi gampang saja untuk Arkan menjalankan misinya. "Mamaaaaa," teriak Tisya karena lampu kamar nya tiba tiba padam. "Nahkan kalo teriak begitu pasti udah bahagia," ucap Arkan kemudian melangkahkan kaki menuju kamar Tisya adalah adik perempuan Arkan yang sekarang masih kelas 3 Smp, dan juga Arkan mempunyai satu kakak perempuan yang sekarang sudah kuliah ambil jurusan kedokteran di Australia. Setelah membersihkan badan, Arkan turun ke bawah untuk bergabung bersama keluarga yang sekarang sedang makan malam. "Malam," Ucap Arkan kemudian duduk. Tisya menatap sinis Arkan. "Kenapa lo Tis?" tanya Arkan sok polos. "Abang kan yang matiin lampu kamar Tisya?" tanya Tisya sedikit ngegas. Arkan diam pura-pura tuli dan bego. "Karna abang matiin lampu kamar Tisya, Masker Tisya tumpah karena Tisya gak sengaja senggol, ganti rugi pokoknya," ucap Tisya kesal. "Tis gak boleh marah-marah gitu," ucap Rena menasehati. "Habisnya abang nyebelin sih ma." "Arkan tanggung jawab, kamu udah berbuat salah jadi tanggung jawab," suruh Rizal. "Iya tenang aja Tis bakal abang ganti kok," kata Arkan yang terus saja makan tanpa ada sedikit pun rasa bersalah.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
beeeest
23/03/2025
0msnrap
23/03/2025
0bagus
09/08/2024
0Tingnan Lahat