Seminggu sudah Chika menjabat sebagai wakil ketua OSIS di SMA Unjulan Bangsa, padahal baru seminggu juga dia pindah ke SMA Ujulan Bangsa, tetapi karena kecerdasannya ia langsung diangkat menjadi wakil ketua OSIS karena wakil yang lama pindah sekolah. Dua gadis dari arah kantin berjalan menyusuri koridor sekolah. Berbincang ringan seputar pelajaran dan beberapa hal yang tidak terlalu penting. "Woi Bima berhenti lo jangan lari, pecundang!" teriak seorang cowok dari arah yang agak jauh. Chika yang sedang berbincang dengan Salsa pun menoleh ke sumber suara, disana terdapat gerombolan murid cowok dengan rambut acak-acakan. Kelihatannya sedang mengejar 1 murit cowok yang berlari. "Eeh Chika sini minggir nanti lo ketab-" ucapan Salsa terhenti. Brugh Salsa membulatkan matanya menatap Chika yang terjungkal ke lantai. "Aawww sakit!" teriak Chika. "Ma-maaf," ucap pria yang menabrak Chika. Kemudian pria itu berlari lagi tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Lo gak papa nona?" tanya Arkan lembut. "Nona-nona, nama gue bukan nona !" Chika berdiri dan menatap Arkan sinis. "Oke nanti kita kenalan yang lebih lanjut, gue ngejar orang itu dulu," kata Arkan kemudian berlari mengejar Bima, kemudian menyusul lah antek-antek Arkan. Setelah mereka berlalu, keadaan menjadi hening seperti semula. "Shit!" umpat Chika. Salsa menahan tawa. "Ta- Tadi lo ngejungkir ke lantai anjai ngakak gue Chik," setelah mengucap kalimat itu, Salsa ketawa terbahak-bahak. "Terus aja terus Sal terus, teman lagi kesusahan lagi kesakitan lo ketawain, gas Sal gass." Salsa berdeham berusaha meredakan tawanya. "Ekhem, iya maaf." Tak mengindahkan kata maaf Salsa, Chika berlalu meninggalkan Salsa. "Chik tungguin gue dong, Chika tunggu," panggil Salsa tetapi Chika tidak juga menoleh. "CHIKA LUTFIAH!" Teriak Salsa. Chika yang kaget spontan menoleh kebelakang. "Apa Monyett?" teriak Chika lagi. "Tungguin kampret." kata Salsa sambil berlari mengimbangi langkahnya dengan langkah Chika. "Sal,tadi siapa sih, kok gue baru liat." Salsa ngos-ngosan karena tadi sempat berlari kecil mengejar Chika, "yang mana?" "Itu yang saling kejar-kejaran," jawab Chika. "Ooo itu Arkan and the geng lagi ngejar temannya sendiri," balas Salsa. Chika mengerutkan alis. "Hah? Geng? Emang ada?" tanya Chika lagi. "Ya ada lah ramleh, di sekolah ini ada geng terkenal dan disegani, geng tersebut di ketuai oleh Faisal Arkananta Ruzika, ketua OSIS sekaligus ketua ekskul karate, trus yang nabrak lo tadi itu wakil ketua geng LIVE COALS, mereka itu bukan geng sembarangan, bukan geng yang suka tauran gak jelas, tapi mereka bakal tauran jika ketenangan mereka di usik duluan," jelas Salsa. Chika membeo, "Apa? Ketua OSIS?!" tanya Chika dengan nada kaget. Salsa mengangguk pertanda menjawab iya. "Trus pas gue di lantik, si ketua OSIS itu di mana? Kok gue gak lihat?" Chika semakin penasaran. "Seminggu yang lalu anggota inti geng LIVE COALS pergi ke Singapura mengikuti lomba. Arkan lomba olimpiade fisika, Bima lomba olimpiade bahasa inggris Reklin lomba olimpiade matematika, Nabil lomba olimpiade biologi, Arga sebenarnya lomba kimia tapi dia sakit jadi di gantikan oleh Bayu yang bukan anggota geng LIVE COALS. Jadi seminggu yang lalu mereka gak ada karena itu," jelas Salsa. Bengong, hanya itu yang Chika lakukan, Chika tidak tau harus mengekpresikannya seperti apa. "Tapi kenapa dia jadi KETOS? Dia kan ketua geng," ucap Chika. "Emang ketua OSIS harus selamanya yang berkacamata bulat, kutu buku, dan seragam di kancingin sampe leher? Harus selamanya gitu?" Salsa balik bertanya. Chika menggeleng, "Gak juga sih." "Nah makanya gak usah nanya gitu. Lagian Arkan itu orangnya tau menempatkan diri, kapan harus serius, kapan harus bercanda. Nanti lama kelamaan lo bakal tahu kok bagaimana karakter Arkan," Perkataan Salsa membuat Chika terdiam. "Ya udah ayo kita ke kelas," ajak Salsa. Chika mengangguk patuh kemudian mengikuti langkah Salsa. ~~~ Kelas 11 IPA 2 adalah kelas yang di juluki dengan kelas unggulan di angkatan mereka, karena di kelas 11 IPA 2 tempat di mana para murid ber-IQ tinggi di satukan. Kelas dengan wali kelas yang ramah terhadap murit menjadikan kelas itu makin tertib. Selain di kenal dengan kepintaran, kelas 11 IPA 2 juga di kenal karena siswi-siswi yang berada di kelas itu bisa dikatakan semuanya cantik di atas rata-rata, Salah satunya yaitu Chika lutfia, murid baru di SMA unjulan bangsa. Chika lutfia, gadis cantik yg memiliki tubuh yang bisa di bilang ideal. Mata bulat miliknya di tambah dengan bulu mata yang panjang nan-lentik sejak lahir itu membuat para kaum adam yang menatap akan terpanah. Kulit putihnya mendominasi badan yang goals itu, di lengkapi dengan gigi ginsul yang akan semakin membuat lelaki lemah jika melihat seorang Chika lutfi tertawa. SMA Unjulan Bangsa adalah salah satu SMA yg bisa di katakan SMA berkelas di kalangan jakarta, orang yang bersekolah di situ bukan lah orang biasa, siswa di SMA Unjulan Bangsa kebanyakan adalah anak dari pejabat ternama. Kelas 11 IPA 1 juga adalah kelas yang terpandang, kelas terfavorit, kelas unggulan juga seperti 11 IPA 2, yang membedakan keduanya adalah jika di ipa 2 didominasi dengan siswi yang cantik cantik sedangkan di ipa 1 didominasi oleh siswa yang tampan tampan, contohnya adalah geng LIVE COALS. "Bisa ae lu Bim, capek gue ngejar lo," ucap Arkan yang terbaring lemah di lantai karena lelah habis melakukan olahraga kejar-kejaran dengan sang sohib. Sama seperti Arkan, Bima pun merebahkan tubuhnya di samping Arkan. "Lagian lo sih, masa satu permen Milkita aja pelit," sahut Bima. Satu menit setelah Bima mengatakan itu tibalah anggota mereka yang di mana langsung duduk lemah karena mengejar Bima dan Arkan. "Lain kali kalo mau kejar-kejaran ngomong biar gue pemanasan dulu, biar otot gue gak kaku," protes Reklin. "Tau nih Arkan semena-mena mulu," Arga pun ikut menyalahkan Arkan. "Kok lo pada nyalahin gue, salahin Bima dong yang nyolong milkita gue." "Alah pelit si loh," bentah Bima. "Stop! diam!" Nabil yang sedari tadi diam pun buka suara. "Bima lo juga udah tau Arkan itu gimana kalo sama Milkitanya malah lo curi, Milkita harganya goceng doang Bim, jangan malu-maluin bokap lo yang pejabat itu hanya karna lo nyuri permen goceng milik Arkan," omel Nabil pada Bima. "Lo juga Arkan, pelitnya bukan berkurang malah makin nambah, kalo lo mati yang ngubur lo itu manusia bukan permen," kata Nabil lagi. Memang di antara mereka berlima hanya Nabil lah yang waras. "Ganteng doang, pengen makan permen milkita aja kudu nyuri dulu," ejek Arkan. "Sebenarnya gue bisa beli, bokap gue gak semiskin itu, kalo gue mau pun bakal gue suruh bokap beliin sekalian dengan pabriknya. Hanya saja gue kesel liat lo yang pelitnya kelewatan," ucap Bima enteng. "Ho'o benar nih, secara bokapnya Bima kan direktur ternama," tambah Arga. "Bokapnya Arkan juga bukan bokap sembarangan, emang siapa sih yang kagak kenal turunan RUZIKA, separuh dunia juga tau kali kalo turunan Ruzika itu punya harta yang berlimpah," kata Reklin alih-alih membela Arkan. Arkan yang di bela pun membusungkan dada seakan menandakan bahwa ia emang berkuasa. "Tapi sayang, ganteng doang ngisap nya permen milkita," tambah Reklin sambil tertawa. "Iya benar, masa ganteng doang pacarannya sama permen, kissnya sama permen juga ngakak banget teman gue." ucap Arga ikut mengejek. "Kayak kita dong, kissnya ke cewek bukan ke permen, makanya you don't jombi biar bisa cipok cewek," kata Bima yang mulai menggunakan bahasa gado-gado indonesia-inggris. "Jomblo Bim jomblo bukan jombi," jawab Arga membenarkan. "Nah eta." "Berani ya kalian ngehina ketua, lagian gue tuh masih ting-ting, ga boleh cipok-cipok, mama marah," kata Arkan tidak terima. "Gue laper mau ke kantin, bisa gila gue kalo lama-lama dengan lo pada," ucap Nabil kemudian meninggalkan teman-temannya.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
beeeest
23/03/2025
0msnrap
23/03/2025
0bagus
09/08/2024
0Tingnan Lahat