Mendengar nama Lili, Rendi langsung murung. Sebelum temannya menyadari perubahan raut wajahnya dia menormalkan kembali raut wajahnya… “Nggak, Reski ngacoh nih. Nggak mungkinlah secara gue kalau ketemu dia selalu berantem” balasnya. “Oh… ya sudah” ucap Anton. Waktu cepat berlalu bel pulang telah berbunyi, mereka kembali ke rumah masing-masing… Haripun telah berganti malam, baru Lili menyadari. Kalau ini adalah minggu terakhir dia bersama Rendi. Dia merasa senang karena minggu depan bisa bertemu dengan kedua orang tuanya. Dia pun ke kamar Rendi… “Ren, loe ada di dalam” teriaknya. “Iya, ada apa. Masuk saja pintu tidak gue kunci” balas Rendi. “Ren, ini minggu terakhir gue kan di rumah loe. Jadi minggu depan gue boleh pulang ke rumah gue” tanyanya. “Iya, sekarang loe bebas dari tugas-tugas loe” balas Rendi. “Foto sama video gue bagaimana” tanyanya. “sudah gue hapus, jadi loe tenang aja” balas Rendi. “Baguslah, gue sudah nggak sabar pulang ke rumah. Kangen sama ayah dan bunda” ucapnya. “Dasar anak manja” ledek Rendi. “Biarin, orang tua loe kapan baliknya” tanyanya. “Besok malam mereka sudah balik” jawab Rendi enteng. “Besok malam, kalau mereka lihat gue disini. bagaimana” tanyanya panik. “Nggak akan, loe bisa balik besok pagi” jawab Rendi. “Beneran Ren” tanyanya. “Iya beneran” jawab Rendi. “Terima kasih Ren, gue senang banget dengarnya” ucapnya. “Sama-sama” balas Rendi. Hari yang ditunggu Lili pun tiba, dia sudah membereskan kopernya dari semalam. Jadi tinggal berangkat saja… “Ayo Li, gue antar loe sampai di taman indah” ucap Rendi. “Ok” balasnya. “Li, loe…” Rendi menggantungkan ucapannya. “Kenapa Ren” Tanyanya. “Nggak jadi malas” ucap Rendi. “Nggak jadi ya udah” balasnya. “Kenapa sih Li susah banget bilang sama loe. Kalau gue itu suka sama loe. Loe mau nggak jadi pacar gue” batin Rendi. “Eh Rendi loe ngelamun ya, ngelamun apaan sih” tanyanya. “Nggak, sok tahu loe” balas Rendi menyanggah ucapan Lili. “Ya sudah. Ren gue sudah sampai. Terima kasih sudah nganterin gue” uacpnya. “Sama-sama” ucap Rendi. Setelah Lili turun Rendi pun pulang, Lili kemudian menelpon supir yang biasa menjemputnya. Tak lama kemudian supirnya pun datang, dan mengantarkan sang majikan ke rumahnya… “Ayah… Bunda… Lili pulang. Ayah… bunda…” teriaknya. “Mba Sumi tuan dan nyonya pergi kemana” tanyanya. “Mereka pergi ada urusan katanya non” jawab mba Sumi. “Ya sudah, saya ke kamar saja” ucapnya. “Iya non” Ucap mba Sumi. Di rumah Rendi, dia kaget dengan rencana perjodohannya dengan anak rekan bisinis papanya di Surabaya… “Perjodohan pa, apa Rendi kurang ganteng apa untuk cari jodoh sendiri” tanyanya. “Kamu harus setuju, nggak boleh nolak. Ini sudah direncanakan sebelum kamu tumbuh dewasa” ucap papanya. “Tapi kan pa, Rendi sudah dewasa. Bisa cari sesuai pilihan Rendi” ucapnya. “Nggak bisa, kamu harus nikah sama anak teman papa” ucap papanya meradang. “Terserah papa saja, Rendi mau pergi dari rumah ini” ucapnya. “Rendi… Rendi kamu…” ucap papanya kemudian pingsan. “Mas… mas, kamu kenapa mas. Ayo Ren telepon ambulance sekarang” ucap mamanya. “Baik ma” ucapnya. Tak lama kemudian ambulance pun tiba, mereka segera membawa papa Rendi ke rumah sakit… “Ini sudah kedua kalinya papa kamu terken serangan jantung, kalau ini terjadi lagi bisa membahayakan nyawanya” ucap Dokter Ridwan. Mendengar penjelasan dokter, dia pun akhirnya menerima perjodohannya… “Baiklah pa, saya akan terima perjodohan ini” ucapnya terpaksa. Di rumah Lili lain lagi, dia hanya bisa pasrah dengan keputusan orang tuanya… “Kamu bersedia dijodohkan dengan anak teman Ayahkan Li” Tanya Adam. “Kalau itu yang terbaik untuk Lili, Lili bersedia Yah” ucapnya mantap namun hatinya menangis. “Kalau begitu besok malam teman ayah akan datang ke rumah” ucap Adam. “Baik Yah” ucapnya pasrah. Malam harinya, terjadilah sebuah kejutan yang membuat Lili dan Rendi terkejut, rupanya… “Keluarga tamu sudah datang bun, panggil Lili turun” ucap Ayah Lili. “Baik Yah” ucap bunda Lili. “Pak ini anak saya Lili” ucap Ayah Lili. “Anaknya cantik ya ma” Tanya teman ayah Lili. “Ini anak kami Fausan”ucap mam Fausan. Lili yang tadinya hanya menunduk, mendengar nama Fausan dia mengangkat kepalanya. “Fausan kamu” ucapnya. “Permisi Om… Tante…” ucap Fausan menarik Lili keluar. Di taman… “Li, loe bukannya pacaran sama Rendi” Tanya Fausan. “Kami tidak pacaran itu cuma pura-pura, kamu bukannya pacaran sama Rara sahabat aku. Kok kamu menerima perjodohan ini” tanyanya. “Gue terpaksa, demi kebahagiaan orang tua gue” ucap Fausan. Di rumah Rara… “Ma keluarga pak Granexa sudah datang. Mana Rara” ucap papa Rara. “Sebentar pa” ucap Mama Rara. “Selamat datang pak” sapa papa Rara. “Iya, perkenalkan ini istri saya” ucap pak Granexa. Rara tiba di meja makan… “Oh iya pak ini anak saya Rara” ucap papa Rara. Mendengar nama itu Rendi mendongakkan kepalanya… “Rara” “Rendi” ucap keduanya berbarengan. “Kalian sudah saling kenal rupanya, baguslah” ucap pak Granexa. “Permisi om… tante” ucap Rendi lalu menarik Rara keluar. Di taman… Rendi Dan Rara, tiba di taman yang terletak di belakang rumah Rendi. Di sanalah Rendi mengungkapkan isi hatinya yang selama ini dia pendam. “Ra, bukannya loe pacaran sama Fausan. Kok loe terima perjodohan ini” ucapnya. “Gue terpaksa Ren, padahal gue sayang banget sama Fausan. Loe bukannya pacaran sama Lili sahabat gue” ucap Rara. “Sebenarnya hanya pura-pura, tapi lama-lama gue suka beneran sama Lili. Tapi perjodohan ini, sudahlah ini sudah takdir gue” ucapnya. “Jadi kita harus terima perjodohan ini, itu maksud loe Ren” Tanya Rara. “Harus bagaimana lagi, gue nolak nggak ada gunanya juga” ucapnya pasrah. “Loe benar Ren” ucap Rara lebih pasrah. Perjodohan yang tidak pernah diharapkan, menghancurkan dua pasangan yang saling mencintai. Lebih hancur lagi perasaan mereka yang dijodohkan dengan teman kekasih mereka sendiri. Keegoisan orang tua telh menghancurkan mimpi-mimpi mereka. Takdir yang ditunggu Rendi, ternyata hanyalah penantian yang sia-sia. Rupanya takdir tak menyatukan cintanya bersama Lili. ”Sekejam inikah takdir kita Li. Apa ini karma yang harus aku lewati, akibat selalu jahat kepada kamu ya. Mengapa ini harus terjadi sih Li. Benar ya, jatuh cinta itu indah, tapi patah hati sangat menyakitkan dan menyesakkan ya Li. Gue harus apa Li... apa ini jawaban dari penantianku selama ini” batin Rendi. Sejauh apapaun kaki melangkah, sedalam apapun cinta yang bersemi. Jika takdir tak menyatukan, tak akan bisa bersatu. Dua hati yang melebur menjadi satu, sangtlah mudah untuk memisahkannya. Dua hati yang saling mencintai, sangatlah mudah untuknya meluluh lantahkannya. Hanya menunggu waktu bermain dengan cantiknya. Perih dan sesak, hanyalah rasa yang tergambarkan di hati keduanya. Tapi siapa sangkah kehancuran yang nyata yaitu, ketika mereka tak lagi bisa berjumpa satu sama lain. Akankah perjodohan ini akan berakhir bahagia tunggu cerita berikutnya. Ada rahasia dibalik perjodohan ini, tunggu kelanjutannya…
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus
15/04
0mantap
23/10
0good
17/08
0Tingnan Lahat