logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Rasa Ini

Dua minggu telah berlalu, cinta mulai bersemi di hati Lili. Rendipun semakin sering menjahilinya. Inilah awal kedekatan mereka…
“Lili kesini loe” teriaknya.
“Ada apa Ren” ucap Lili, dengan wajah kesal.
“Gue ada janji sama teman-teman gue. Malam ini kami akan ke temu di Kafe” ucapnya.
“Terus hubungannya sama gue apaan” Tanya Lili.
“Loe harus ikut gue, karena gue harus bawa pacar” ucapnya sambil menarik napas.
“Ha…Ha… Teman loe sudah gila apa, ketemuan harus bawa pacar segala” ejek Lili.
“Loe mau kan, please bantu gue” ucapnya memelas.
“Iya… Iya gue bantu loe” ucap Lili.
“Gitu dong, sekarang loe ikut gue” ajaknya.
“Ikut kemana” Tanya Lili.
“Tidak usah banyak Tanya, ikut aja” balasnya.
Tak lama kemudian, merekapun tiba di salon…
“Ngapain kita ke sini Ren” Tanya Lili.
“Gue nggak mau kalau teman gue, tahu pacar gue kaya gini” balasnya.
“Maksud loe gue jelek gitu” ucap Lili cemberut.
“Yang bilang loe jelek siapa, nggak adakan” ucapnya.
“Yang tadi loe bilang barusan apa” ucap Lili.
“Loe tuh ya, berdebat sama loe nggak aka nada habisnya. Sekarang loe masuk saja, gue tunggu disini” ucapnya.
“Loe awas ninggalin gue” ucap Lili.
“Nggak akan, buruan masuk” ucapnya.
Lilipun masuk kedalam salon, singkat cerita tak lama kemudian diapun keluar menghampiri Rendi.
“Hei Rendi” sapanya.
“Ini beneran loe Li, loe beda banget” ucap Rendi.
“Beda kenapa, aneh ya. Kalu gitu gue ganti aja” ucapnya.
“Nggak gitu, maksud gue loe cantik banget sumpah” ucap Rendi.
“Gombal, sudah nggak jama kali” ucapnya.
“Gue nggak gombal Li, gue serius” ucap Rendi.
“Kita jadi pergi nggak sih, kalu nggak kita pulang sekarang” ancamnya.
“Jadi dong, nggak usah ngambek gitu. Nanti cantiknya hilang loh” ucap Rendi merayu.
“Udah basih, loe nyetir aja yang bener” ucapnya.
“Kok udah basih sih” ucap Rendi.
“Kalau loe ngomong terus, gue turun nih” ancamnya.
“Jangan dong, iya gue nggak ngomong lagi” ucap Rendi.
Beberpa menit kemudian mereka pun sampai ke kfe tujuan. Rendi mengajak Lili menghampiri teman-temannya.
“Hai bro, apa kabar loe” ucap Ryan.
“Kabar gue baik bro” balasnya.
“Ini pacar loe bro, gila pacar loe cakep banget” ucap Ryan.
“Hm… hm” Ucap Nisa.
“Jadi lupa, kenali ini Nisa pacar gue” ucap Ryan.
“Nisa” ucap Nisa.
“Rendi, ini Lili pacar gue” ucapnya.
“Kalian duduk dong, masa berdiri saja” ucap Nisa.
“Iya, ayo Li” ajak Rendi.
“Kalian berdua saja, yang lain mana. Pada nggak jadi dateng” Tanya Rendi.
“Bentar lagi mereka juga datang, kita pesan makanan dan minuman dulu” tawar Ryan.
Mereka pun memesan makanan dan minuman, tak lama kemudian teman-teman Rendi yang lain datang. Lili mengenal salah satu cewek teman Rendi.
“Hai bro” ucap Irwan.
“Kalian udah telat, kami udah pesan makanan dan minuman” ucap Riyan.
“Jangan ngambek gitu dong bro, loe tahukan Jakarta itu macet banget” ucap Fausan.
“Loe alasan aja, Jakarta macetlah” tambah Rendi.
Lili menghampiri seorang gadis…
“Loe Rara kan, Rara Amanda” tanyanya.
“Iya gue Rara, loe Lili kan. Liliana Almaherah” jawab Rara.
“Iya, loe apa kabar. Kapan balik dari Surabaya” tanyanya.
“Kabar gue baik, baru seminggu yang lalu gue balik” jawab Rara.
Fauzan pun angkat bicara…
“Kalian udah pada kenal rupanya” ucapnya.
“Iya kami teman waktu SMP, tentunya ya kami teman dekat” ucap Rara.
Rendi menghampiri ketiganya…
“Kok kamu nggak pernah cerita sama aku, kalau punya teman tinggalnya di Surabaya” tanyanya.
Lili hanya diam saja, Rara pun bertanya tentang Lisa…
“Lili, ngomong-ngomong bagaimana kabar Lisa. Kok gue nggak lihat dia di sini” tanyanya.
Mendengar nama Lisa, Lili pun bersedih…
“Lisa udah pergi Ra, pergi untuk selama-lamanya” ucapnya.
“Kapan Li, kok gue nggak tahu” Tanya Rara.
“Sekitar tiga minggu yng lalu” jawabnya.
“Loe yang sabar Li” ucap Rara lalu memeluk Lili.
“Iya gue harus bangkit, Lisa nggak akan mau lihat gue sedih seperti ini” ucapnya.
Karena suasananya menjadi hening, Rendi pun angkat bicara…
“Loe mau terus ngomong di sini, lihat tue makanan udah dingin semua. Nanti makanannya nangis minta dimakan” ucapnya.
Mereka pun tertawa, Rendi memang ahli dalam urusan seperti ini…
Mereka pun duduk di kursi masing-masing…
“Ha… ha, loe emang juara Ren bikin suasana jadi rame. Kenapa nggak ikut stand up komedi aja, loe pasti juara” ucap Riyan.
“Loe benar Yan, kalau dia ikutan bukan penonton aja yang ketawa. Tapi tvnya yang bisa-bisa meledak” tambah Fausan.
“Loe tuh ya, pada suka banget ledekin gue” ucap Rendi.
“Sudahlah Yan… Fausan, kalian nggak ada bosannya ledekin Rendi” ucap Roymon.
“Udah puas ledekin gue, tuh makanannya udah ngambek nggak kalian makan-makan” ucap Rendi.
“Loe jangan mulai lagi Ren, kita mau makan nih” ucap Roymon.
“Iya… iya, gue nggak berulah lagi” ucap Rendi.
Rupanya Rendi punya kelebihan yang disembunyikan lewat sikapnya yang sok cuek, suka ngatur dan selalu nyusahin orang lain. Tapi sebenarnya hatinya baik, pengertian dan yang paling mereka nggak nyangka dia humoris. Lelucon yang dibuatnya membuat kami tertawa…
Ulahnya membuat kami teringat dengan Lisa…
“Jadi kangen Lisa, dulu dia suka banget buat lelucon seperti ini. Tapi sayang dia udah nggak ada, loe yang tenang disana Lisa” batin Rara.
Suasanya berubah jadi hening, Rendi pun mencairkan suasana…
“Kita kumpul begini jadi ingat masa SMP” ucapnya.
“Iya jadi ingat saat loe…” ucap Riyan kemudian tertawa.
“Awas ya loe Yan, loe bongkar mampus loe ditangan gue” ancamnya.
“Apa sih cerita dong” ucap Nisa.
“Dulu kami suka banget gangguin cewek, eh sih Rendi malah gangguin banci kaleng. habislah dia dikejar-kejar sama tuh banci. Sampai dicium banci segala” terang Fausan.
“Itu benar Ren” Tanya Lili.
“Iya, gue apes banget hari itu” balas Rendi malu.
“Ha… ha… sumpah loe gila banget” ucap Lili.
“Kenapa kalian tertawa, ini nggak lucu tahu” ucap Rendi.
“Ini lucu banget kali Ren, lihat muka loe tuh” ucap Lili nggak bisa menahan ketawanya.
“Memangnya kenapa muka gue, muka gue tampan udah rahasia umum kali” ucap Rendi Narsis.
“Pd amat loe, loe tahu kenapa kami ketawa. Muka loe kaya orang ketakutan yang dituduh nyuri uang sekoper” ucap Riyan.
“Puaskan loe, ngetawain gue” ucap Rendi merajuk.
“Jangan marah dong Ren, gue kan Cuma bercanda” ucap Riyan.
“Bercanda loe nggak lucu tahu” ucap Rendi.
“Loe gitu sih, lihat tuh pacar loe biasa aja” ucap Fausan.
“Riyan… Fausan… diam nggak, ayo Rendi kita bikin lelucon yang lain” ucap Roymon.
“Gue minta maaf Ren, jangan ngambek gitu dong” ucap Riyan.
“Gue nggak ngambek kali, muka kalian serius banget” ucap Rendi.
“Gitu dong” ucap Roymon.
Karena keasikan ngobrol mereka pun kemalaman, Rendi dan Lili pamit pulang…
“Gue balik dulu ya, kasihan cewek gue”pamitnya.
“Iya kalian hati-hati” ucap Riyan.
“Gue pulang dulu ya Ra” ucap Lili.
“Iya Li, loe hati-hati dijalan” ucap Rara.
“Lain waktu kita kesini lagi. Bye” ucapnya.
“Bye” ucap semuanya serentak.
Setelah berpamitan, mereka pulang ke rumah Rendi. Di perjalanan Rendi memulai lagi leluconnya, membuat Lili tertawa.
“Kok tuan putri diam aja, nanti pangerannya marah loe” ucapnya.
“Pangeran apaan” ucap Lili.
“Ya pangeran loe, ups pangeran kambing maksudnya. Mbek.. mbek” ucapnya.
“Apaan sih loe Ren” ucap Lili kemudian tertawa.
“Gitu dong tertawa, jangan diam saja” ucapnya.
“Loe emang ahli Ren” ucap Lili.
“Kalau loe diam, dunia ini akan membisu. Tapi kalau loe tertawa membut dunia ini ikut tertawa” ucapnya.
“Loe jago banget gombalnya, pantes aja banci mau sama loe” ucap Lili.
“Iya gue jago gombal, tapi jangan ungkit-ungkit masa lalu dong” ucapnya ngambek.
“Rendi loe ngambek, muka loe lucu amat. Persis banget kaya…” lili menggantungkan ucupannya.
“Kaya apa” Tanyanya.
“Kaya monyet minta pisang” sambung Lili kemudian tertawa.
“Ha… ha, ledekin aja terus, biar loe puas” ucapnya.
“Jangan marah gitu dong, gue kan Cuma bercanda. Maaf ya” ucap Lili.
“Iya gue nggak marah, makasih ya untuk hari ini” ucapnya.
“Makasih untuk apa” Tanya Lili.
Rendi mengalihkan pembicaraan, membuat Lili penasaran…
“Ok… kita sudah sampai, buruan turun” ucapnya.
“Jawab dulu pertanyaan gue tadi, Rendi jawab” ucap Lili.
“Nggak ah gue males, gue mau tidur dulu. Selamat malam” ucapnya.
“Selamat malam” ucap Lili.
Malampun cepat berlalu, pagi mulai datang. Ayam jantan mulai berkokok…
“Selamat pagi Li” sapa Rendi.
“Selamat pagi Ren” balas Lili.
“Kamu sudah siap, ayo kita makan” ajak Rendi.
“Iya” ucap Lili.
Setelah sarapan mereka berangkat bersama, perjalanan ke sekolah Rendi tidak berbuat ulah. Membuat Lili keheranan…
“Kita sudah sampai, ayo turun” ucapnya.
“Iya” ucap Lili.
“Ini anak kenapa sih, biasanya nyuruh gue seenaknya. Hari ini kok dia jadi baik banget sama gue” batin Lili.
Setelah masuk ke dalam kelas Rendi hanya diam saja, membuat heboh semua temannya.
“Hai Rendi“ sapa Anton.
“Hai Anton” balasnya dengan malas.
“Rendi loe kenapa sih” Tanya Reski.
“Dia salah minum obat kali” sambar Wilda.
“Kalian ngomong apaan sih, gue lagi malas aja” ucapnya.
“Malas kenapa Ren, gara-gara Lili ya” ledek Reski.
“Benaran Ren, gara-gara Lili” Tanya Anton.

Komento sa Aklat (254)

  • avatar
    PratamaSatria

    bagus

    15/04

      0
  • avatar
    AmaliaRizka

    mantap

    23/10

      0
  • avatar
    Andi Lubis

    good

    17/08

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata