logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Kepergianmu

Ternyata Rendi pun merasakan hal yang sama…
“Maafkan gue Li, gue nggak bermaksud nyakitin loe. Ini belum saatnya loe tahu yang sebenarnya” batinnya.
Karena terus menangis Lili pun tertidur, Rendi datang ke kamarnya bermaksud meminta maaf.
(Pintu kamar tertutup) “ Li… kamu ada didalam” teriaknya.
(Hening)
(Membuka pintu kamar) “Kenapa pintu kamarnya tidak dikunci” batinnya.
“Li… gue kesini ingin minta maaf sama loe. Maaf karena sudah marah-marah sama loe. Li… loe dengar nggak sih” ucapnya panjang lebar.
(Mendekati Lili) “Li..(Membalikkan badan Lili) “Loe sudah tidur. Kasihan lao Li gue juga nggak mau kaya gini tetapi…” ucapnya.
(Memakaikan selimut kebadan Lili) “Selamat tidur sayang” ucapnya lalu mengecup kening Lili.
Rendi pun kembali ke kamarnya dan dia pun tertidur.
Hari kedua di rumah Rendi. Lili dan Rendi bersiap ke sekolah mereka sarapan bersama.
“Selamat makan Rendi” ucapnya.
“Hm… iya selamat makan” ucap Rendi.
(setelah makan) “Gue duluan ya Ren” pamitnya.
“Loe berangkat aja sam gue” tawar Rendi.
“Betul juga, biar nggak keluarin ongkos” batinnya.
“Ok… gue setuju” ucanya.
“Begitu dong. Ayo kita berangkat” ucap Rendi.
Setelah sampai di sekolah, Rendi kembali mengerjainya.
(Hendak turun)
“Eith… loe mau kemana. Loe nggak numpan gratis ya” ucap Rendi.
“Jadi gue harus apa” tanyanya.
“Loe bawain tas gue” ucap Rendi.
“Ha…. Bawa tas loe, bawa aja sendiri” ucapnya.
“Loe udah lupa dengan perjanjian kita” ucap Rendi.
“Iya gue ingat, gue akan bawain tas loe. Sekarang loe puas” ucapnya.
“Bagus, gitu dong” ucap Rendi.
Mereka berangkat kekelasnya, Lisa heran melihat merka berdua datang berdua.
“Ada angin apa ini, kok kalian datang bersama” ledeknya.
“Lis loe apa-apaan sih” ucap Lili.
“Memangnya tidak boleh. Lili kan pacar gue” ucap Rendi.
“Ren loe bilang apa sih” bisik Lili.
“Loe diam saja” bisik Rendi.
“Kapan kalian jadian kok gue nggak tahu” tanyanya.
“Kita…” ucap Lili.
“Kita jadian dua hari yang lalu” potong Rendi.
“O… kalau begitu selamat ya” ucapnya.
Setelah Lisa, pergi Lili bicara pada Rendi…
“Kenapa loe nggak biarkan gue terus terang pada Lisa. Kalo kita hanya pura-pura” ucapnya.
“Loe sudah gila, kalo dia bertanya kenapa. Loe mau berterus terang pada dia tentang semuanya” ucap Rendi.
“Dia kan sahabat gue, apa gue harus bohong sama dia” ucapnya.
“Kalo itu demi kebaikan, loe harus melakukannya” ucap Rendi.
“Maafkan gue lisa, gue harus bohongi loe” batinnya.
Melihat Lili melamun Rendi menyadarkannya.
“Li… loe ngagak apa-apakan” tanyanya.
“Iya, kita duduk saja Ren” balas Lili.
waktu cepat berlalu, penderitaan Lili tidak berhenti sampai disini. Dia harus menerima kenyataan memilukan bahwa sahabatnya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Sahabat yang selalu bersamanya dalam suka maupun duka. Kini hanya tinggal kenangan yang tersisa untuknya.
“Kenapa Lis, loe nggak pernah jujur sama gue. Kalo loe sakit. Kenapa loe nggak bagi penderitaan itu ke gue, kenapa loe nanggung ini sendiri” ucapnya berlinang air mata.
“Selamat jalan lisa, semoga loe tenang disana. Gue janji sama loe , gue akan bahagiain Lili” batin Rendi.
“Kenapa loe ninggalin gue secepat ini lis” ucapnya.
“Sudah Li, loe harus ikhlaskan Lisa, ini sudah terjadi” ucap Rendi.
“Aku nggak percaya ini terjadi, aku… aku” ucapnya sambil terisak.
“Sudahlah, ayo kita pulang” ajak Rendi.
Satu minggu kemudian setelah kepergian Lisa, itu berarti sudah seminggu Lili melaksanakan tugasnya.
“Nggak terasa satu minggu telah berlalu, tinggal 3 minggu lagi. Gue harus tetap semangat” batinnya.
“Li… loe dimana” teriak Rendi.
“Di kamar, ada apa Ren” balasnya.
“Loe sudah lupa, hari ini kita kan harus kerumah Lisa” ucap Rendi.
“Astaga gue lupa, loe juga mau pergi” ucapnya.
“Iya, Lisa teman gue juga kan” ucap Rendi.
“Gue mau siap-siap dulu. Sekarang loe bisa keluar” ucapnya.
“Gue udah mau kelur juga kali, nggak usah loe usir” ucap Rendi.
Rendi keluar kamar, Lili bersiap-bersiap dia mengenakan busana muslim dan membuat Rendi terpanah.
“Loe udah siap Li” teriaknya.
(keluar kamar)“Gue udah siap Ren” ucap Lili.
(berbalik badan)”Lili cantik banget” batinnya.
“Hello Rendi, loe jadi pergi nggak sih” teriak Lili.
(Tersadar dari lamunannya)“Hah… Ayo kita berangkat” ajaknya.
Mereka berangkat ke rumah Lisa, dan disambut suka cita oleh keluarga lisa.
”Assalamualaikum om… tante” ucapnya.
“Waalaikumsalam nak Lili, ibu senang kamu datang” ucap mama Lisa.
“Saya juga senang bisa bertemu dengan tante” ucapnya.
“Ini nak Rendi ya, pacar Lili” Tanya mama Lisa.
“Iya tante” jawab Rendi.
“Ayo masuk sudah mau dimulai” ucap mama Lisa.
“Baik tante” ucapnya.
Acaranya berjalan lancar, air mata tak bisa tertahankan mengenang kebersamaan Lili dan Lisa.setelah selesai mereka berpamitan pulang.
“Om… Tante… Lili pulang dulu sudah larut soalnya” pamitnya.
“Kamu tidak nginap di sini saja” Tanya Tante Ami.
“Ndak tante, besok saya harus masuk sekolah” jawabnya.
“Ya sudah kalian hati-hati” ucap tante Ami.
Setelah pamit mereka pun pulang, karena kelelahan Lili tertidur dalam mobil.
“Li… sebenarnya gue itu suka sama loe. Loe mau nggak jadi pacar gue” ucap Rendi.
Karena tidak ada respon dari Lili, diapun melirik ke arah LIli.
“Loe dengar nggak sih, loe sudah tidur Li. Padahal gue serius suka sama loe” ucapnya.
Setelah sampai di rumahnya Rendi menggendong Lili ke kamarnya lalu kembali ke kamarnya. Tetapi dia tidak bisa melupakan wajah Lili, berulang kali dia memejamkan mata yang selalu terbayang wajah Lili. Rupanya api cinta mulai membara di hatinya, bara yang bersemi tanpa mereka sadari. Semua telah berubah dari benci setengah mati menjadi cinta sampai mati.
“Benar kata orang ya Li... cinta datang karena terbiasa. Dan loe sudah membuat gue jatuh cinta sedalam-dalamnya. Loe berhasil Li, mencairkan hati gue yang telah lama membeku ini. Apa takdir akan menyatukan kita ya Li. Aku berharap iya, kalau tidak. Mungkin gue lebih baik mati kali ya” batin Rendi.
“Selamat malam Li, semoga loe mimpi indah, dan jangan lupa ya datang kemimpi gue. Sekali saja. Gue bucin banget ya” ucapnya.
Kasih tulus yang dirindukan rupanya telah ditemukan, api cinta yang membakar hati, kesedihan yang bersemayam perlahan hilang seiring berjalannya sang waktu…
Hanya bersama Lili, Rendi akhirnya bisa merasakan indahnya mencintai. Tentu saja dia tak tahu, bagaimana perasaan Lili terhadapnya. Apakah cintanya bertepuk sebelah tangan??? Ataukah terbalaskan. Hanya sang waktu yang akan menjawabnya.
Mungkinkah takdir akan memihak mereka, kalau ini hanya Tuhan yang tahu jawabannya. Jangan menerka-nerka dan mendahului sang pemilik cinta. Jika waktunya tiba, semua itu akan terjawab. Siap tidak siap, suka tidak suka. Kita harus menerima semua takdir itu.

Komento sa Aklat (254)

  • avatar
    PratamaSatria

    bagus

    15/04

      0
  • avatar
    AmaliaRizka

    mantap

    23/10

      0
  • avatar
    Andi Lubis

    good

    17/08

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata