"Tolong kamu antar berkas ini ke ruangan pak Nevan!" ujar Tiara yang membuat semuanya menatap kearah mereka, tapi tak biasanya Tiara menyuruh seorang magang, apalagi ini yang baru datang. Yeona yang merasa akan canggung, mencoba bertanya. "Tapi Bu, kenapa saya?" "Katanya dia ingin berbicara dengan kamu, sambil bertanya beberapa hal, kamu mau langsung jadi karyawan bukan?" tanya Tiara yang membuat Yeona menatap Siska, tentu saja kalau Nevan tidak masalah. Pria yang lebih terkenal dari pada pemilik perusahaan itu sendiri, adalah orang yang baik, tegas juga berwibawa, dia juga adil dalam segala hal. Jadi para karyawan di sini berlomba-lomba untuk lebih terlihat oleh Nevan agar mereka mendapatkan bonus. Ya siapa yang tidak suka dengan uang, Siska mengangguk. Setahunya Nevan adalah pria baik tapi mereka tidak tau kalau pria itu adalah mantannya. Yeona bangkit dari duduknya, wanita yang saat di dalam kandungan ibunya ingin anaknya menjadi artis Korea hingga menamainya seperti itu, terlihat cantik dengan kulit putih miliknya. Walau sudah berada di bawah tak seperti dulu, tapi perawatannya tak hilang walau sudah beberapa tahun. Tak lupa dia juga membeli perawatan yang tergolong murah tapi hasilnya juga tidak buruk, membuat dia masih cantik seperti dulu. Setelah tau tempatnya dimana, Yeona berjalan ke lorong kantor yang berada dilantai 10 sambil mencari nama pria yang tak bisa ia lupa sampai saat ini, jantungnya berdetak kencang seperti dulu. Jika saja dia tak mengkhianatinya mungkin mereka masih bersama, tapi dulu hanya dulu, tak bisa menjadi sekarang, lagipula dia punya Ravin dia tak akan mengulangi hal yang sama. Sesampainya di depan pintu ruangan Nevan, Yeona mengatur nafasnya, lalu dia mengetuk pintu tersebut. Nevan yang sedang fokus pada pendapatan bulan ini, melihat kearah pintu. Ia rasa tak ada pertemuan hari ini apalagi meeting, siapa yang datang. Tanpa mereka tau, bahwa Xerxes yang menyuruh Yeona untuk datang dan Xerxes sudah pergi untuk menemui kakeknya. "Siapa?" tanya Nevan. "Yeona." Mendengar nama itu Nevan bangkit duduk dan berjalan kearah pintu, lalu membukanya. Yeona menatapnya, ia kira akan disuruh membuka pintu tapi lihat pria itu yang membukakannya. "Kamu mau apa?" Yeona memberikan berkas itu pada Nevan. "Bu Tiara bilang kalau anda menyuruh saya datang." "Apa?" tanya Nevan yang tak paham, kapan dia bilang begitu. Cukup lama Nevan terdiam, berpikir siapa yang membuat lelucon ini, tapi otaknya langsung terpaku pada orang yang tak ada dalam ruangan mereka. "Tiara bilang apa?" "Dia bilang anda mau mengajukan pertanyaan, dan saya akan segera menjadi karyawan," ucap Yeona, yang tak tau harus apa. Dia gugup saat hanya mereka berdua di sini. "Sejujurnya aku tidak pernah mengatakan itu, tapi aku memang ingin bertanya sekarang, masuklah!" ujar Nevan yang menyingkir dari pintu, mempersilahkan wanita itu Masuk kedalam. Awalannya Yeona ragu, tapi karena Nevan adalah bos jadi mau tak mau dia harus masuk. Lagipula dia butuh pekerjaan ini untuk menikah nanti juga membantu keluarganya. Keduanya sekarang berhadapan, Yeona sekarang melihat orang lain padahal pria itu orang sama dengan pria yang sangat sabar saat bersamanya. "Jadi anda mau bicara apa?" "Kamu selalu berbicara formal seperti ini?" tanya Nevan yang tak dimengerti Yeona. "Apa maksud anda?" Nevan melepaskan kacamatanya, membuat mata indah itu semakin terlihat jelas, membuat Yeona menunduk situasinya semakin canggung disini. "Kamu selalu hebat berakting, Yeona." "Nevan!" ucap Yeona dengan nada penuh penyesalan, padahal dia berharap tak akan pernah melihat pria itu lagi dan melupakan kesalahannya juga membuat pria itu bahagia. Tapi takdir sialan malah mempertemukan mereka kembali. "Kamu hidup bahagiakan sekarang? Aku minta maaf atas semuanya, maaf." Wajah Nevan tak berekspresi, membuat Yeona tak tau harus apa. Padahal ia berpikir kalau pria itu akan pura-pura tak mengenalinya, jadi kehidupan akan terus berjalan. "Jadi kamu akan dilamar?" "Iya." "Kapan?" "Minggu ini." "Kamu sudah berubah? Atau pria itu yang lebih sabar dari aku?" tanya Nevan yang membuat Yeona menatapnya. "Aku berubah, setelah kamu pergi dan usaha keluarga aku bangkrut." "Kenapa kamu berubah setelah aku pergi? Kenapa gak sejak dulu?" tanya Nevan tak tak paham. "Maaf," ucap Yeona yang tak bisa berkata-kata, wajahnya menatap kearah lain. "Lagipula itu sudah lama, kehidupan kita milik kita masing-masing sekarang!" "Itu untukmu, enggak buat aku," ucap Nevan, yang membuat Yeona tak mengerti, apa pria itu masih memiliki perasaan padanya? "Nevan! Apa ... Apa kamu masih punya rasa sama aku?" tanya Yeona yang meminta kepastian, dia berharap tidak. Dirinya sudah berubah dia tak ingin lagi kembali seperti dimasa lalu. Pria itu menghembuskan nafas sambil menutup matanya. Tentu saja Yeona seketika mendapatkan jawaban, wanita itu bangkit dari kursinya membuat Nevan menatapnya. "Aku akan pergi!" ucap Yeona yang berjalan kearah pintu, tapi belum sempat menyentuh knop pintu, sebuah tangan menghalanginya. Wanita itu berbalik, sebuah Sambaran bibir membuat Yeona menutup mata sambil memberontak, namun Nevan memeluk juga memojokkan dengan kuat. Tanpa sadar Nevan mengunci pintu ditengah-tengah perkelahian bibir mereka lalu membuangnya sembarangan, saat itu juga PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nevan. Pria yang sekarang dalam balutan cemburu, hanya terdiam menatap kearah dimana pipinya ditampar. "Hubungan kita sudah berakhir! Kamu yang mengakhiri ini Nevan! Tolong jangan buat aku melakukan hal yang sama pada Ravin, aku mencintainya," tangis Yeona yang membuat Nevan menatapnya. Pria itu mendekat dan memegang kedua rahang Yeona. Wanita itu menangis pilu, ini bukan alunan ketakutan, tapi rasa cinta yang tertahan oleh kenyataan, diluar sana ada yang ingin bersamanya. Mata mereka saling bertatapan. "Siapa yang kamu cintai? Aku atau pria itu?" Mata Yeona menatap kearah lain, tapi Nevan tetap menahannya membuat tangisan itu semakin kencang, Yeona memeluk tubuh pria itu, aroma yang sama terhirup, Dimana inilah yang selalu dia rindukan. "Walau aku bilang aku cinta sama kamu, kita tetap gak bisa bersama, kubur cinta kita!" ujar Yeona yang membuat Nevan hanya terdiam, dia yang sudah membuat mereka berakhir karena dia pikir Yeona tak akan berubah. Tapi ia salah, pada akhirnya kesabaran hanya menjadi abu, wanita itu bukan miliknya. Tiba-tiba Nevan mendorong tubuh Yeona dengan wajah dingin, pria itu berjalan lalu melemparkan kunci pintu pada wanita itu. "Keluar! KELUAR!" Bentakan itu membuat Yeona segera keluar dari sana, Setelahnya pria itu mengacak-acak meja kerjanya lalu membanting apapun yang ada di dekatnya, ia tak perduli apa yang dikatakan Xerxes, pria itu yang membuat keduanya bertemu, lalu berpisah dengan rasa sakit yang menyiksa.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat bagus
11/02/2025
0good job
28/01/2025
0bagus sekali
26/01/2025
0Tingnan Lahat