Saat jam makan siang, Yeona yang baru masuk kantor merasa pinggangnya akan patah, dia tak pernah duduk terlalu lama seperti ini. Wanita itu merentangkan tangannya guna melenturkan semua otot, Siska yang melihat itu hanya tersenyum. "Pegel ya?" tanya Siska yang mendapatkan anggukan dari Yeona. "Iya kak, saya gak pernah duduk selama ini soalnya," balas Yeona yang membuat Siska menggeleng. "Gak usah terlalu formal kali, kayak sama siapa aja? Umur Lo berapa?" "25 tahun kak." "Sama berarti, udah panggil biasa aja!" ujar Siska yang membuat Yeona menggaruk kepalanya tak gatal, dia juga tersenyum seperti orang bodoh karena dia agak canggung dengan orang baru. "Iya, Siska." "Ke kantin kantor yuk! Laper nih?" ajak Siska, kantor itu memang disediakan kantin untuk para karyawan, tapi tetap mereka harus bayar apa pun yang mereka makan. Yeona mengangguk dan berjalan kerjanya, mereka pun pergi dari sana. Banyak orang dalam satu Ruangan itu tapi yang mengajak ngobrol duluan adalah Siska, selebihnya hanya menatap tak perduli. Lagipula Siska juga baru seminggu Bekerja, mungkin beberapa hari lagi atau bisa lebih akan dipindahkan pada posisi yang dia kuasai. Sesampainya di kantin, Yeona menatap takjub ruang itu, yang di mana sangat luas juga banyak makanan yang ada di sana, tak lupa pemandangan juga indah, membuat siapa saja pasti nyaman makan di sana. Tidak bahkan itu seperti restoran bintang lima dari pada kantin kantor. "Wah makanannya banyak ya?" "Tapi Lo harus bayar!" ujar Siska yang membuat Yeona mantapnya tak paham, ia kira karena kita bekerja jadi makanannya gratis, tapi ternyata tak ada yang mau rugi. Wanita itu merogoh saku celananya, terlihat uang 10 RB disana, dia tak membawa uang banyak karena ia pikir tak ada kantin, jadi otomatis mereka membeli makanan di luar. Warung di luar kantor mungkin lebih murah, seketika wajah Yeona meringis, membuat Siska menatapnya heran, padahal tadi dia sedang mengira-ngira makanan apa yang dia makan. Setiap hari menu akan di ganti dan itu sangat menggiurkan, apalagi terdengar kalau yang masak adalah Chef terkenal, siapa yang tidak lapar mendengarnya. "Kenapa, na?" "Uang gue cuma 10 RB, dapat apa?" "Mungkin nasi sama telor balado dapet kok, atau Lo mau pakek duit gue dulu?" tanya Siska sambil memperlihatkan isi dompetnya yang banyak sekali uang berwarna merah. "Lo orang kaya ya?" "Kayak sih enggak, cuma ada duit lah bokap nyokap gue. Jadi mau minjem gak?" tanya Siska dengan wajah ramah, tapi Yeona menggeleng tak mau. "Gak usah deh! Gajian masih lama," ucap Yeona yang tentu saja mendapatkan tawa dari Siska. "Ya lama lah, kan Lo baru masuk," ucap Siska yang membuat Yeona menghembuskan nafas kasar. Tanpa sadar dibelakang mereka ada dua pria yang berjalan kearah mereka. Bahu Nevan juga Yeona bersenggolan, Nevan yang sedang berbicara dengan seseorang ditelepon, berbalik melihat siapa yang dia sentuh. Xerxes juga ikut berhenti, pandangan mereka saling tertuju, tapi tiba-tiba Siska mendorong kepalanya kebawah untuk menunduk. Sontak Yeona menatap tak paham, sambil terus mengikuti tingkahnya yang memberikan hormat pada kedua orang itu. "Pagi pak Xerxes, pak Nevan!" ucap Siska yang setelah selesai membungkuk sebanyak tiga kali, membuat Yeona juga menunduk karena tak ingin melihat Nevan. "Pagi," balas Nevan yang hendak pergi tapi Xerxes menatapnya, tak lupa dia juga melihat Yeona dengan lekat. Membuat semua orang yang melihat itu seketika menahan nafas, pria itu seperti sudah menentukan targetnya. "Yeona!" Mendengar hal itu Yeona menatap kearah Xerxes, yang sekarang berada tepat di depannya, tentu saja dia terkejut karena itu. "Iya, pak." "Xer! Ayo!" ujar Nevan yang merasa tak enak dengan tingkah temannya ini, selain tampan juga playboy dia juga tergolong gila. "Tunggu, kamu mau makan bareng kami?" tanya Xerxes yang membuat Yeona mematung, dia pun melihat Siska. Tanpa mendengar jawaban Xerxes merangkul bahunya dan membawanya menuju meja kosong yang tak jauh dari mereka, Nevan sekarang memijit keningnya tak tau harus apa, anak itu keponya luar biasa. Tak lama Siska memegang lengannya yang membuat Nevan tak paham. "Kamu ngapain?" "Pak Nevan! Selamatkan teman saya!" "Maksudnya?" "Saya yakin dia masih suci pak, Jangan buat pak Xerxes menodainya!" "Kamu tuh gila ya? Sudah makan sana! Sebentar lagi istirahatnya berakhir!" ujar Nevan yang berjalan kearah mereka, sementara itu Yeona semakin tegang saja melihat tatapan mata Nevan. Kenapa tak melihat selama bertahun-tahun, matanya semakin memikat, dia juga memiliki aura berwibawa, beda sekali dengan pria disebelahnya ini auranya berbahaya. "Xerxes! Lo buat dia takut." "Yeona, kamu ...." "Pak, saya mau dilamar," ucap Yeona sambil menutup matanya, berharap dengan ucapan itu Xerxes tak akan menodainya seperti yang diceritakan Siska sebelumnya. Tapi hal itu membuat kedua pria tersebut terdiam, terutama Nevan yang tak percaya. Apa seorang Yeona bisa berubah? Hingga ada pria yang mau melamar wanita murahan sepertinya? Melihat kedua orang itu terdiam, Yeona bangkit dari sana sambil membungkuk beberapa kali lalu pergi menuju meja Siska, yang membuat temannya itu bertanya. Xerxes menatap temannya yang hanya menghembuskan nafas, tadi sebelum duduk dia sedang berbicara pada investor yang dia bicarakan lalu ditutup setelah melihat Xerxes membawa Yeona. Rencana yang dia buat seakan buyar di kepala, karena tak tau harus apa setelah mendengar ucapan dilamar dari bibir wanita itu, yang dia tak mengerti adalah kenapa secepat itu? Apakah ada yang lebih sabar dari pada dia? Pria itu? "Bro!" ucap Xerxes, tak lama Nevan berdiri selera makannya seakan hilang. "Gue lupa ada sesuatu yang harus gue kerjain," ucap Nevan membuat Xerxes menatap cemas. Sudah banyak wanita yang dia kenalkan pada Nevan, bahkan yang belum dia kencani sebelumnya. Mereka yang seksi, cantik, manis juga menggoda tak ada yang bisa membuat pria itu tertarik, bahkan senyuman itu hilang saat kedua orang itu putus. Yang ada hanya senyum palsu yang dibuat-buat, jadi Xerxes berpikir kalau memang wanita itu yang bisa membuat Nevan bahagia, walau harus di lukai setiap saat kenapa tidak kembali? Bahkan sampai sekarang Xerxes tak pernah mengerti apa yang istimewa dari seorang Yeona hingga membuat perubahan yang besar bagi Nevan. . . Yeona terdiam sambil memijat kepalanya, padahal dia sudah bilang sejujurnya tapi kenapa dia gelisah, apa karena Nevan? Tapi mereka sudah putus sangat lama, apa yang salah darinya? Tidak ini sudah benar, dia akan menikah dan keduanya cuma masa lalu yang tak akan pernah kembali. Tak lama Tiara datang kearah mereka sambil membawa setumpuk berkas. "Yeona!" "Iya?" tanya Yeona yang tadinya sedang melamun terkejut dengan kedatangan wanita yang membuat dia menjadi bekerja di sini. "Tolong kamu antar berkas ini ke ruangan pak Nevan!" ujar Tiara yang membuat semuanya menatap kearah mereka, tapi tak biasanya Tiara menyuruh seorang magang, apalagi ini yang baru datang.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat bagus
11/02/2025
0good job
28/01/2025
0bagus sekali
26/01/2025
0Tingnan Lahat