"Nevan! Nevan! Tunggu!" teriak seseorang dari arah belakang. Nafas pria itu begitu menggebu-gebu, setelah sekian lama bersama wanita itu tak kunjung berubah, hingga kala sebuah tangan meraihnya pria itu berbalik dan menepis dengan cepat hingga gadis yang mengejarnya mundur beberapa langkah. "Apa? Apa gak cukup untukmu, Yeona?" "Aku minta maaf?" ucap gadis itu yang begitu gampang, tapi baginya maaf adalah kata main-main yang selalu dia ucapkan ketika salah, dan Nevan selalu luluh karenanya. "Kita putus!" ucap Nevan yang membuat Yeona sang kekasih terdiam tak percaya, bukannya dia yang harus bilang begitu dan pria itu akan menahannya agar tidak putus. "Apa? Kamu mau putus? Kamu bercandakan?" tanya Yeona yang tak percaya, entah kenapa hatinya sakit mendengar hal itu. "Apa ucapanku terlihat seperti candaan?" tanya Nevan yang hendak berbalik untuk pergi, namun Yeona menahannya dengan memeluknya dari belakang. "Gak, aku gak mau, jangan putus!" ujar Yeona, dia memang salah tapi hatinya tak rela bila pria ini pergi, dia memang orang yang jahat karena telah mengkhianati berkali-kali, tapi sebanyak apapun pria yang dia kenal tak ada yang seperti Nevan. Nevan melepaskan pelukan itu. "Bukannya itu yang kamu mau sejak dulu?" "Gak, aku ngomong kayak gitu biar kamu gak biarin aku pergi, aku minta maaf Nevan! Aku janji berubah." Nevan menatap ke atas berusaha agar air mata tak jatuh, matanya berkaca-kaca. Hatinya sangat lemah pada gadis ini, atau dia yang terlalu bodoh? "Tapi sejak dulu kamu bilang gitu." "Gak, ini yang terakhir," ucap Yeona yang sudah terdengar serak, walau ia yakin ini tak akan berhasil tapi setidaknya dia sudah menahannya. Manusia memang memiliki sisi lelah, dia mana ketika batas kesabaran sudah di puncak, saat itu pula dia sudah muak dengan semuanya. Nevan berbalik, melihat tinggi Yeona yang hanya sampai lehernya. Mata gadis berkaca-kaca. "Nevan! Aku tau aku emang egois, tapi tolong beri aku 1 kesempatan terakhir, aku akan memperbaiki semuanya." Pria itu mencium bibir Yeona, gadis itu kira mereka akan kembali bersama, tapi setelah ciuman singkat itu Nevan berkata. "Terlambat." Pria itu pun pergi dengan sakit hatinya yang dia pendam selama ini, membuat Yeona hanya bisa menangis untuk merelakan pria yang sudah dia sakiti. "Nevan! Semoga kamu menemukan yang lebih baik dari aku! Aku mencintaimu." . . Beberapa tahun kemudian ... Sekarang Yeona menggosok paha dengan tangannya yang mengepal, hari ini dia akan melamar pekerjaan disebuah perusahaan besar juga ternama di kota, jika dia diterima maka dia akan sangat beruntung juga bisa membantu orang tuanya. Ada sekitar 5 orang yang melamar juga, karena pengumumannya sudah lama juga tak ada orang yang lolos tinggal dia yang lain, seleksi di sini sangat ketat, jika tidak masuk kriteria maka akan didiskualifikasi, tentu saja hal itu membuat Yeona gugup. Apalagi dengan banyak penolakan yang dia terima, hingga kala dia masih menunggu dengan yang lain, seorang wanita cantik berpakaian formal datang kearah mereka. "Kalian yang mau melamar?" Tentu saja Yeona juga yang lain mengangguk lalu berdiri. "Kalau begitu ikuti saya!" ujar wanita itu yang membuat semuanya mengikutinya, jantung Yeona tak bisa dikondisikan, dia takut tak lolos. Saat mereka sampai disebuah ruangan, pintu itu terbuka memperlihatkan 3 orang pria yang akan mewawancarai mereka, namun matanya tertuju pada pria yang ditengah, dia mantannya. Bagus, dia yakin tak akan lolos kali ini. Karena keyakinan itu dia pun tak jadi masuk dan berjalan keluar membuat semua wanita yang tadi membuka pintu heran. "Hei kamu mau kemana?" "Bu, kayaknya saya gak jadi deh ngelamar." "Kenapa?" tanya wanita itu tak paham. "Tiara! Ada apa?" tanya pria ditengah, ya siapa lagi kalau bukan Nevan. Pria yang terlihat seperti Perfect man itu menatap heran pada sekertarisnya. "Ada cewek yang malah keluar, pak. Hei sini kamu!" ujar wanita bernama Tiara itu. Mendengar suara itu mau tak mau Yeona berjalan ke sana dengan rasa takut, mungkin dia harus pura-pura tak kenal karena bagaimanapun masa lalu sangat buruk bagi keduanya. Yeona masuk dengan ragu. "Permisi." Nevan menatapnya datar tapi pandangan tak kunjung beralih pada wanita itu, dia awalnya terkejut dengan Yeona yang melamar kerja, karena ia pikir orang tuanya masih kaya, hingga salah satu orang disampingnya bilang kalau orang tua wanita itu sudah bangkrut. Sekarang Nevan menjabat sebagai wakil direktur perusahaan ini, jadi semua yang bisa dia kontrol akan dia lihat hingga masalah karyawan, ia takut pegawai yang salah akan membuat kekacauan di kantor jadi sebisa mungkin dia melihatnya. Wawancara itu tanya secara bergiliran hingga gilirannya, dia melewati dengan cukup baik. "Apa kamu punya pacar?" tanya Nevan, yang membuat Yeona tak paham, tapi tak mungkin dia basa-basi dengannya, dia harus profesional mungkin. "Maaf, pertanyaan itu sama pekerjaan apa ya pak?" "Cuma mau tanya saja?" balas Nevan, yang membuat semuanya tak aneh karena kadang basa-basi itu perlu. "Maaf pak, saya gak bisa jawab untuk pertanyaan itu," ucap Yeona sambil menunduk sesaat, ia rasa itu urusan pribadi jadi dia tak bisa mengatakan, tapi kalau dilihat-lihat Nevan semakin tampan saja bahkan tubuhnya, bahunya cukup lebar dari pada dulu. Pasti pria itu memiliki kekasih yang sangat cantik, dia akan kalah dengan wanita itu. Tapi ia sama sekali tak bisa bohong kalau dia sangat merindukan pria itu, setelah kejadian Nevan meninggalkan hidupnya tak lagi sama, dia pun memutuskan untuk berubah dan disaat bersamaan perusahaan ayahnya bangkrut membuat dia mau tak mau bekerja keras untuk pendidikannya juga membantu kedua orang tuanya. "Baiklah wawancara sudah selesai, kami secepatnya memberikan informasi lewat email," ucap Nevan yang membuat semua orang berdiri, pria itu pun pergi meninggalkan semua orang. "Lihat dia! Sangat tampan." "Tubuhnya juga indah, dia tipeku banget." "Dia mirip seperti yang ada di cerita novel." "Apa dia punya pacar?" Ucapan mereka masuk kedalam telinga Yeona, ya 5 orang itu terdiri dari 4 wanita dan 1 pria, tentu saja setelah mereka keluar langsung heboh, sayang dia malu untuk berkenalan jadi dia diam saja. Tapi dia mungkin salah satu orang yang tidak beruntung karena kehilangan orang seperti Nevan, mungkin ini karma untuknya. Saat diluar kantor sebuah motor beat berwarna merah dengan pria yang bertengger di sana seperti sedang menunggu seseorang, dikejutkan oleh kekasihnya. "Dor!" Yeona berteriak sedikit kencang membuat beberapa orang yang ada diluar melihat mereka, tentu saja pria itu menatapnya kesal. "Kamu tuh ya!" ucap pria itu sambil mencubit pipi Yeona, tapi bukannya kesakitan wanita itu hanya tertawa kecil. Kedekatan itu terlihat oleh seorang pria, yang membuat tangannya mengepal kuat, wajahnya juga menatap tak suka.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat bagus
11/02/2025
0good job
28/01/2025
0bagus sekali
26/01/2025
0Tingnan Lahat