Bab 7 Salah Kaprah Darah kental muncrat, bau amis darah menguar seantero kamar gelap di sebuah rumah beratap genting tanah merah, dindingnya berwarna putih pucat, akibat dimakan waktu. Daun pohon beringin berserakan disana sini, tampak sekali tak pernah tersentuh sapu lidi. “ Kadal buntung, kau Misbah selalu saja turut campur urusanku!!” Umpat lelaki berusia sekitar 50 tahun tapi masih tegap dan terlihat gesit. Setangkup bunga setaman, rokok lisong, telur ayam putih dan hitam, kopi hitam, susu, serta setanggi(kemenyan) menyeruak hebat dalam ruangan Kumal dan sempit. Mbah Duraji kembali tersungkur, setelah terjungkal berkali-kali terpelanting jauh berakhir dengan terbentur hebat ke dinding, menabrak barang sajen serta kumpulan benda pusaka miliknya. “Begund**l , kenapa dia semakin kuat tidak seperti sejak 6 bulan terakhir, dia hampir saja musnah oleh keris pusaka ku, kenapa sekarang dia makin kuat” Mbah Duraji menekan kuat dada yang terasa sesak, dan panas yang menjalar ke sekujur tubuh. Mbah Duraji berjalan ke sebuah peti coklat, yang dalam nya ada keris yang tak berlekuk, itu merupakan keris Kramat peninggalan dari guru nya, saat dia lulus jadi seorang dukun, serta menyelesaikan pertapaan nya. Konon keris itu sangat sakti, dan sangat kuat jika untuk membunuh. Tapi hanya untuk kasus berat saja keris ini Mbah Duraji keluarkan dari tempat nya. Keris itu dia mandikan, dan diberi minyak kemudian dia mengacungkan ke atas langit, dan menyembah nya seperti seorang abdi yang setia. Hembusan wangi bunga melati bercampur harum amis, menguar kembali lalu bayangan hitam pun tampak di depan Mbah Duraji. “Ada apa kau membangunkan ku Duraji..?” bayangan hitam itu menggeram dan suara nya sangat menyeramkan. “ Sembah hamba Tuan, hamba butuh bantuan Tuan ku, untuk melumpuhkan musuh bebuyutan hamba, si Misbah Kepar** dia berani melawan hamba, dengan membantu target hamba Tuanku!” dengan menahan emosi yang bergemuruh, Mbah Duraji memohon bantuan junjungan nya. Ya, makhluk bertubuh besar dan hitam itu adalah junjungan nya, dia makhluk dari alam astral yang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat, apalagi untuk pekerjaan kotor yang selalu Si Dukun lakukan selama puluhan tahun. “ Ha-ha-ha, Duraji itu salah mu, kenapa kau tak pernah lagi bertapa untuk menambah ilmu mu, kau selalu menerima pekerjaan kotor, tanpa melihat kemampuan mu dulu, sekarang begini akibatnya” sosok itu menertawakan Sang Dukun yang sudah kepayahan karena senjatanya terus kembali menyerangnya, dan mencelakai diri nya sendiri Dalam hatinya Duraji mengiyakan perkataan itu, karena sejak dilenakan oleh uang dari hasil dari pekerjaan kotornya, dia mulai malas menimba ilmu lagi, dia merasa sudah sangat mumpuni, tak ada yang bisa mengalahkannya. Bahkan pasien nya banyak yang puas serta membayar sangat mahal pekerjaan nya. Bagi Duraji mengirim santet, teluh, guna-guna serta menutup usaha, membuat sakit target atas permintaan pasien bukan hal yang tabu, asalkan mereka sanggup membayar jasanya berapa pun yang diminta, harus diberikan jika tidak Duraji tak segan mengancam atau menakut-nakuti. Dan bodohnya banyak pula orang berpendidikan tinggi, meminta jasanya. Sangat miris mereka dimanfaatkan nafsu dan keserakahan akan dunia hingga membuat buta mata hatinya, tak tahu lagi membedakan mana benar dan salah, hingga semua halal Dimata mereka. “Baiklah, aku akan membantu mu Duraji, melawan ustaz itu, sekarang persiapan kan semua persyaratan yang harus kau lakukan, besok malam Jumat Kliwon kita serang ustaz itu hahahaha...” suara tawa yang bergema dan memekakkan gendang telinga , bagi Duraji adalah hal yang biasa. Dengan langkah terburu- buru Duraji menghambur ke luar rumah, kemudian dia menyalakan sepeda motor nya, dia pergi ke suatu kampung disana khusus beternak ayam cemani, ayam cemani ayam yang memiliki warna hitam, dari bulu, hingga semua organ serba hitam. Konon makhluk ini menyukai ayam cemani untuk sajen nya, Duraji tak pernah menawar berapa harga ayam tersebut. Karena itu pantangan bagi nya. Setelah dapat ayam cemani, Duraji pergi untuk mencari persyaratan yang lain, ada apel jin, minyak wangi khusus, kemenyan serta tak lupa bunga tujuh rupa untuk pelengkap sesajen junjungan nya. Saat sedang berkendara di perjalanan pulang sengaja, dia melewati rumah target, saat itu ustaz Misbah sedang mengali tanah didepan rumah nya. Dia sedang menanam pohon hias didepan rumah nya, memakai kaos singlet, dan celana panjang. Terlihat segar wajah nya walau usia nya sudah lebih dari setengah abad. Tak lama dari dalam rumah ada wanita cantik berhijab. Membawa, nampan berisi teh dan camilan untuk suaminya yang sedang membersihkan halaman dari rumput liar, wanita itu masih sangat cantik dan menawan di usia yang sudah tak muda lagi. “Wulan, kau masih seperti yang dulu, waktu tak menggerus goresan cantikmu, andai saja waktu itu kamu tidak memilih nya, mungkin hidup ku tak seperti sekarang, semua itu karena Misbah siala*, dia merebut mu dari ku, awas kau Misbah!” Genggaman tangan Duraji mengeras, memendam emosi yang selalu saja meronta jika melihat wanita yang di cintai nya bersama Misbah. Yah, Wulan adalah wanita yang diimpikan siang malam saat Duraji masih menjadi santri di pondok pesantren tempat guru nya Kiai Makhtum dan Wulan adalah anak Abah Kiai yang paling santun, dan taat beragama. Duraji jatuh hati sejak pertama kali jumpa. Tapi untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, Wulan lebih memilih Misbah sebagai suami daripada dia. Wulan selalu menghindar jika berpapasan dengannya. “Lihat saja, kau akan menyesal karena tidak memilihku, mengacuhkan ku, bahkan tidak ingin berbicara padaku, Tidak akan dendam ku surut sebelum melihat orang yang jadi duri itu mati!” Rupa nya Misbah dan Duraji adalah teman saat masih pesantren dulu, mereka mencintai wanita yang sama, Wulan anak Abah kiai tempat mereka menuntut ilmu, karena dalam setiap pelajaran Misbah selalu unggul dari Duraji, sehingga Abah Kiai Mahktum menjadikan Misbah sebagai murid kesayangan nya , ke mana pun kiai pergi Misbah selalu di ikut sertakan, berbeda dengan Duraji selalu menuruti hawa nafsu nya saja, malas dalam pelajaran, karena selalu memikirkan bahkan berani menggoda Wulan. Karena nya Wulan kurang menaruh hormat pada Duraji, dia selalu saja merasa kesal, apalagi Dia selalu membuntuti, bahkan mencuri bicara jika Wulan kebetulan bertemu dijalan. Tak salah Wulan memilih Misbah yang lebih kalem, dan lembut, serta sangat menghormati wanita, bahkan bisa dibilang dia adalah cetakan ilmu dari Abah nya ,karena semua ilmu yang Abah nya beri dipelajari dengan sungguh-sungguh dan sempurna. Apa mau dikata jika seseorang sudah sakit hati, meski pun dia salah tak kan mengaku salah, malah makin menjadi itulah tipikal Duraji, baginya sangat pantang di telikung sahabat sendiri, padahal tidak ada yang menelikung, toh Wulan bukan milik Duraji, tapi karena ego manusia nya terlampau tinggi melewati langit, yang membuat nya tak sadar diri malah makin menjadi. Siapa kah yang mengirim penyakit ke keluarga Irfan?
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
good
18/03/2025
1bagus
02/12/2024
0good
01/11/2024
0Tingnan Lahat