Bab 6 Ujian hidup Sesampai di rumah Irfan langsung membawa Yuri ke klinik, menurut dokter tak ada sakit apa pun yang Yuri derita. Tapi kenapa terus menerus sakit di perutnya? Akhirnya mereka memutuskan ke dokter lain hari itu juga, karena tak tega dengan si kecil jika terus menahan sakit. Tapi hasil dari dokter kedua sama nihil tidak ditemukan penyakit pada Yuri, tapi kalau ditilik dari fisik, sangat jelas ada perasaan tersiksa menahan sakit. Pikiran seorang ibu tentu saja runyam ke Utara ke timur, tak paham lagi harus bagaimana, harus apa menghadapi sesuatu yang tak memiliki jawaban. Akhir nya mereka pulang dengan tatapan mata sembab, karena sepanjang jalan mereka Cuma bisa meneteskan air mata. Biasa nya lelaki itu lebih tegar dari wanita Dan selalu tabah menghibur istrinya. Justru yang terjadi mereka malah duet menangis. Saat masih kebingungan, sedih, galau, campur aduk nih perasaan. Terdengar suara ketukan dari luar di iring salam. “ Assalamualaikum Mbak Lala, boleh saya masuk?” ujar nya masih tetap berada di luar pintu, seperti nya sungkan dengan suami Lala. “ Walaikumusalam, masuk saja Bu pintu tak di kunci” ternyata yang datang Bu Irma si lemes nan cetar, tetangga yang paling rame kalau sedang kumpul. “ Maaf yah, sebelumnya tadi aku lihat Yuri digendong terus pergi, saya lihat nya kaya orang sedang panik saja, maka nya pas saya lihat sudah pulang, saya memberanikan diri” “ terima kasih sebelumnya, Bu Irma sudah peduli dengan kami si anak rantau” ucap Kak Irfan dengan tatapan sendu. Karena dia sudah bingung dua dokter bilang putri ku Yuri tak sakit, tapi kenyataannya tidak demikian. Kak Irfan kemudian menceritakan hal yang membuat kami kalang kabut tadi, dan masih saja bingung harus ke mana berobat. “ coba bawa ke Ustaz Misbah Mbak Lala, dia guru mengaji disini, coba saja ikhtiar ke sana dulu siapa tahu sembuh iya kan?” seketika ada cahaya baru, Lala gegas bersiap pergi ke sana. Lala memakaikan selimut juga kaos kaki, untuk Yuri selama perjalanan ke sana, walau dekat tapi aku khawatir penyakit nya tambah parah karena tadi sudah setengah jam perjalanan ke dua klinik. Tak berapa lama kami sampai ke rumah ustad Misbah, yang terletak tidak jauh dari rumah tempat kami tinggal hanya beda RT saja. Tapi memang kami tak mengenal selain bukan orang asli daerah sini. “Begini Pa ustaz, saya mengantarkan tetangga saya ke sini untuk minta doa nya, karena Mbak Lala ini sudah dua klinik dia bawa berobat Anak nya, tapi menurut dokter tidak ada penyakit di tubuh anaknya pak ustaz, mereka bingung harus bagaimana, makanya saya menganjurkan untuk ikhtiar dahulu kesini” Bu Irma berbicara mewakili kami, karena jujur kami agak canggung dengan beliau. Pa ustaz hanya mangut saja mendengar semua penuturan Bu Irma, kemudian beliau pamit untuk Shalat kata nya. Rumah nya terasa sejuk walau tanpa pendingin ruangan dan kipas angin, tapi yang aneh nya Yuri tetiba tidak lagi mengerang seperti saat sebelum di bawa kesini. Hanya masih gelisah saja, tapi dia lebih tenang , juga raut wajah nya sudah tidak pucat seperti tadi. Perasaan ku seketika tenang, tidak kalut seperti tadi. Entah kenapa bisa seperti itu “ Bu Irma, Kak Irfan coba lihat deh, Yuri tak mengerang kesakitan lagi, Alhamdulillah perasaan ku juga tak lagi kalut, Alhamdulillah ya Allah, kok bisa yah?” “ Bersyukur pada Allah Bu, kalau Neng Yuri sudah membaik, mungkin Allah memberi kesembuhan lewat Ustaz Misbah Mbak, kita Cuma bisa berusaha selanjutnya pasrahkan sama Allah saja yah” Selagi asyik berbincang, Ustaz Misbah muncul dari dalam kamar sambil membawa air segelas. “ ini tolong minumkan untuk anak nya yah Bu, usap ke wajah dan Balur ke semua tubuh, juga minumkan sisa nya sampai habis, in Syaa Allah diberi kesembuhan.” “ Iya Pak ustaz, nanti saya minumkan juga di balur ke semua badan tapi, mau tanya Pak anak saya sakit apa? Kenapa menurut dokter anak saya tak sakit padahal kenyataannya kondisi nya seperti ini” Seraya tersenyum Pak ustaz Misbah menuturkan “ Semua yang terjadi kehendak yang maha kuasa, jadi ibu dan bapak harap selalu di lipat gandakan ibadahnya jangan bolong-bolong, banyak sedekah juga, sebagai tameng dari musibah apa pun, juga besok kabari bagaimana keadaan nya via telepon Saja, kasihan Dede nya masih capek dia kalau dibawa ke mana- ke mana” ucap ustaz misbah dengan tenang nya, antahlah apa maksud dari perkataan nya itu. Ingin bertanya tapi takut suuzan, tapi hati terus berbisik ada yang tidak wajar terjadi pada Yuri. Kami pamit pulang, di perjalanan aku tatap wajah mungil nan lucu sudah tidak pucat lagi seperti tadi sudah agak cerah. Alhamdulillah Allah kasih Rizki tetangga yang baik. Mesti cerewet hehe. Sesampai di rumah Yuri ku Balur kan, dan meminumkan air dari ustaz Misbah. Setelah itu kubiarkan dia bobok sejenak. “ Ya Allah apa benar firasat ku?” sambil berbisik lirih, tapi suuzan ku tidak hilang, sepertinya perkataan ustaz Misbah itu seperti suatu petunjuk, ada yang tidak baik sedang menimpa keluarga ku disini, tapi Dia tak mau membeberkan nya. “ Dik sudah jangan khawatir , Yuri sudah baik saja, sekarang kamu yang harus istirahat yah, jangan sampai sakit. Masih ada Yura , Yuri, juga ayah yang butuh perhatian mu” cecar Kak Irfan dengan kata menasihati juga mengingatkan bahwa aku juga butuh istirahat. “Iya Kak Irfan, makasih yah selalu ada buat aku dan anak-anak, tapi yang jadi beban pikiran , kok ada penyakit yang tidak bisa didiagnosis dokter, malah harus dibawa ke seorang ustaz, itu bukan main-main Kak Irfan, Feeling ku tak enak Kak, pasti ada sesuatu yang tidak kita paham, sesuatu yang di luar kemampuan manusia biasa seperti kita” akhir nya aku jelaskan apa yang membuat ganjalan hati. Kak Irfan terdiam sejurus, mungkin dia sedang mencerna apa yang baru saja ku ungkapkan, kini wajah nya berubah dari terlihat sudah lebih relaks , kembali tegang serta khawatir. Tapi sudah seharusnya seperti itu, hati nurani ku membisik bukan sesuatu hal yang kecil, jika dokter tidak dapat mendiagnosis tapi harus pergi ke ustaz. Bagaimana pun aku hanya manusia biasa yang tak memiliki kemampuan apa pun. Hanya bisa berpasrah saja tak cukup kalau yang mulai terancam adalah orang yang paling aku sayangi. “ Mulai sekarang kita harus bersiap Kak, untuk apa pun yang terjadi didepan sana selain seperti pesan pak ustaz Misbah harus perbaiki amalan Soleh serta ibadah kita in Syaa Allah selalu di lindungi yang maha kuasa, aamiin”
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
good
18/03/2025
1bagus
02/12/2024
0good
01/11/2024
0Tingnan Lahat