logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Makanan pembawa petaka

Bab 5
Makanan Pembawa petaka
Ketukan pintu membuyarkan aktivitas Lala, siapa pula yang ketok pintu jam begini, ga tahu orang masih repot sudah bertamu pagi-pagi. Terus saja Lala mengumpat dalam hati. Gegas dipercepat langkah nya, meraih gagang pintu dari kayu tripleks, yang di cat dengan warna senada kayu.
“Eh, Dewi tumben pagi sudah mampir, ada apa nih?” Sapa Lala ramah saat yang melihat orang yang menggedor pintu tetangga depan rumah ternyata.
“ ini Mbak Lala, sayur Semur ayam hari ini kebetulan lagi selamatan nenek, terima yah saling sedikit sama yang lain lain, yang penting semua kebagian” ujarnya seraya menyerahkan rantang berisi semur. Wuih, dari aroma nya terbayang rasanya ==macam iklan== tapi entah karena lapar yang melanda perut sudah keroncongan minta di isi.
Perut Lala keroncongan minta diisi, akhirnya piring kosong sudah ditambah satu centong nasi putih, aroma kecap menguar di sekitar Indra pencium menggugah selera sekali. Sekalian makan bareng Yura dan Yuri makan nya. Kak Irfan kebetulan sudah pergi kerja dari pagi, maklum kerja pabrik harus bangun pagi, kalau tidak berbahaya bagi kelanjutan hidup kantong.
Yura dan Yuri semangat banget makan nya, bolak balik nambah terus, yang menyuapi semangat juga nambah nya , eh.
“ Enak yah kak, de lahap bener makan nya? Yang kenyang yah, nanti biar bobo siang nya pulas.” Mereka berdua senyum saja, sang Kakak juga ngobrol apa saja yang terlintas dibenak nya.
Setelah kenyang mereka tidur siang, kembali Lala berjibaku dengan pekerjaan rumah, kadang diselingi dengan membalas chat dari konsumen yang ingin pesan barang. Dengan sigap Lala mencatat pesanan satu persatu supaya tak lupa karena esok hari ingin belanja pesanan mereka.
Karena kelelahan kedua Barbie tertidur lebih dulu, sudah makan kenyang ditambah capek bermain serta meluluh lantakan seisi kamar.
Tak lama setelah mereka tertidur, Lala bereskan satu persatu mainan. Berlanjut ke dapur.
Namun tiba-tiba saja, ekor mata Lala seperti melihat sesuatu dibalik pintu dapur, yang terbuat dari anyaman bambu, yah sangat jelas sekali ada seseorang yang bersembunyi di samping rumah. Dengan sigap Di ambil nya sapu lidi yang bergagang bambu utuh, kemudian dia mengendap supaya derap langkah tak terdengar. Betapa kagetnya ternyata di sana berdiri Mas Dimas Abang ipar Lala.
“ astagfirullah! Bang lagj apa disitu? Hampir saya pukul dengan gagang sapu ini” ujar Lala sewot sambil mengacungkan gagang sapu kearah wajah nya.
Dia mundur sedikit terkejut, jika dilihat sekilas dari wajah Dimas , dia sangat tak menduga jika Lala mengeluarkan gagang sapu untuk menghajarnya.
“ maaf Dik, Abang tadi mau mampir sebentar lihat Yura juga Yuri, sedang apa sekarang?” tanya nya seperti ingin mengalihkan pembicaraan.
“ mereka sudah tidur dari tadi Bang, jangan diganggu kasihan capek bermain sampai berantakan semua nya Bang, kok tumben biasa nya dari pintu depan kenapa dari samping ? Seperti maling saja?” ketus Lala tidak puas dengan jawaban Dimas yang terkesan asal dan mengada-mengada.
“ Tadi aku denger , sepertinya kamu ada di dapur, Abang pikir Yura juga Yuri ada di dapur, makanya langsung lewat samping saja deh, yah pada tidur yah, mending Abang balik deh , padahal kangen dengan Meraka” masih dengan alasan yang makin dijelaskan tapi makin aku tak percaya, firasat ku berkata ada hal buruk, entah apa aku tak paham walau hati terus membisik akan ada hal yang terjadi.
“ Ya, dah Abang pamit, Malam bang kesini lagi, mau ajak mereka jalan-jalan boleh yah?” ucap nya sembari melipat kedua tangan, memohon diperbolehkan Mengajak duo bocil .
“ kesini saja Bang seperti orang lain saja, segala ijin biasa nya juga langsung bawa saja” kata ku terkekeh sambil senyum saja , yang di guyon mesem malu.
“ Iya, deh Abang langsung bawa saja, sama mamanya sekalian “ balas nya sambil menatap ku
Seketika terdiam mencerna kata yang keluar begitu saja dari mulut Dimas. Kemudian karena melihat aku gugup bahkan malah terlihat marah, Bang Dimas langsung meluruskan.
“ Eh, maaf jangan marah yah, Abang bercanda saja tak lebih” seraya tersenyum manis kalah tuh gula sama senyum nya. Karena kaget juga takut tangan Lala berubah sedingin es dan buru-buru menyuruh Dimas pulang.
“ Bang lebih baik pulang, soal nya aku mau pergi maaf, yah bukan ngusir loh ini”
Lala menekan perasaan takut juga geram nya, dan meminta Dimas pulang saja , Daripada terjadi hal yang tak diinginkan lebih baik menjaga jarak saja. Begitu fikir Lala .
“ ok, deh Abang pulang dulu, ada butuh apa pun telepon Abang jangan sungkan Yah Lala” lanjut nya sambil berlalu keluar rumah.
“Alhamdulillah, akhirnya pulang juga” degup jantung seperti akan lompat keluar membuat keringat dingin mengucur. Saat shock masih mendera, terdengar teriakan Yura dan Yuri. Tak ayal Lala berlari ke sumber suara, ternyata si bocil yang kecil sedang menangis menahan sakit, memegang perutnya. Entah apa karena dia mengigau atau bagaimana. Masih berusaha tenang Lala goyang badan nya, dan menepuk lembut pipinya.
“ Nak, Yuri bangun kenapa nak, kok nangis ini bunda nak, ayo bangun!” tetapi walau ku guncang tubuh nya mata nya tak jua mau terbuka, hanya tertutup tapi terus menangis dengan memegang perut nya. Hati nya mendesir perasaan yang sulit dijabarkan, sontak kepikiran untuk telepon Kak Irfan, ditempat kerja untuk kasih kabar Yuri sakit.
“ Kak, Bisa izin pulang? Yuri sakit Kak, nangis sambil pegang perut dan mata nya tak mau terbuka menutup saja, pulang cepet Kak, Aku takut!” air mata masih ku tahan, agar Kak Irfan juga tenang tidak terlalu panik.
“ Iya , Kakak pulang adik tenang dulu, jangan panik dulu ok” sambungan telepon ditutup. Aku ambil minyak kayu putih, tubuh Yuri ku Balur semuanya.
Entah itu berguna Atau tidak, Lala hanya mampu berusaha, dan berdoa semoga lekas diketahui apa sakit anaknya. Tadi masih baik saja, makan pun lahap serta makan pun nambah. Tak ada tanda dia sakit, kenapa tiba- tuan menangis seperti itu.
Selama menunggu Irfan datang, Lala hanya terus beristigfar minta pertolongan yang maha kuasa, semoga anak nya tidak berlarut-larut sakitnya. Dan lekas embuh lagi seperti sedia kala.
Kupijat kaki, anakku makin dingin saja anehnya, saat mulut beristigfar suara erangan nya makin parah bahkan berguling kesana kemari, tak mau aku sentuh. Kalau aku memaksa mendekat , Yuri menendang tanganku, agar menyingkir tak menyentuhnya. Kalau aku diam tak beristigfar hanya memegang perut saja, tidak mengamuk berguling-guling seperti cacing kepanasan.
‘ Ya Rabb , sakit apa Yuri ku ini’ dalam hati masih bertanya, jujur ingin minta tolong tetangga saja, mungkin ada yang pernah mengalami seperti itu. Tapi aih, bagaimana yah aku takut nanti Kak Irfan ga setuju, padahal tadi aku sudah menyuruh nya pulang.
Bagaimana pun seorang ibu tak kan tega lihat anak nya sakit seperti itu. Sebenar nya sakit apa sih Yuri??

Komento sa Aklat (36)

  • avatar
    BudiawanRifky

    good

    18/03/2025

      1
  • avatar
    Ram Dhani

    bagus

    02/12/2024

      0
  • avatar
    Ricaldo Argento Mailoa

    good

    01/11/2024

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata