Tangan Airin terulur memegang dadanya setelah keluar dari ruang pak Radit. Ia cepat-cepat menghirup udara agar oksigen masuk ke dalam paru-paru. Rasanya seperti ingin menjadi Iron Man, eh eh, bukan. Maksudnya perasaannya aneh, perasaan apa ini? "Dorrrr. Ai kamu kok hobi banget melamun sih. Kamu itu kenapa?" tanya Riska yang dari tadi menunggu Airin bimbingan skripsi. Entah sudah berapa lama Riska menunggu sahabatnya, sampai ia juga merasa bosan. "Ihhh. Kamu apa-apaan sih ris? Bikin kaget saja." tanya Airin balik. "Ya, kamu saja sukanya melamun. Oh iya. Malam ini aku nginep di kostan baru kamu ya. Sekalian aku mau kamu bantu skripsi aku." pinta Riska dan mengapit tangan Airin agar pergi dari ruang dosen. "Duh. Gak bisa Ris. Aku ada shift malam di cafe depan." jelas Airin sambil menyeimbangi langkahnya dengan langkah Riska. "Kok gitu sih? Gak asik. Kan aku juga pingin belajar bareng kamu." ujar Riska sebal. "Aku minta tukar shift sama karyawan yang lain. Soalnya kan ada bimbingan skripsi siang ini." jelas Airin. "Iya udah deh. Gampang nanti-nanti aja. Emang kamu sampai jam berapa kerjanya?" "Dari jam 18:00 - 22.00. Ini aku mau langsung ke sana." "Kalau gitu sekalian aku ikut. Mau nongki-nongki cantik sebelum pulang." Sesampainya Airin dan Riska di cafe "Maniska", mereka harus berpisah. Airin pergi ke ruang ganti karyawan, sedangkan Riska duduk di kursi dekat jendela. Setelah siap, Airin menempati tempat yang biasa dijadikan untuk melayani pelanggan. Sore ini, pelanggan cafe cukup ramai. Mungkin karena sudah hampir malam, banyak yang mampir untuk istirahat. Airin melayani pelanggang dengan ramah dan terkadang bolak-balik mengantar pesanan. Setelah agak lengah, ia melihat ke arah Riska, ternyata sahabatnya belum juga pulang. Cake red velvet dan americano sudah tersaji di meja Riska dan sudah tinggal setengah. Sepertinya bukan hanya Airin saja yang sedang memperhatikan Riska, sahabatnya. Tapi, juga seseorang di sebelah Airin yang dengan jelas memperhatikan Riska dengan senyum-senyum. Anji, mahasiswa teknik di kampusnya yang juga bekerja bersama Airin di Cafe Maniska. "Kenapa nih anak? Senyum-senyum gitu?" tanya Airin dalam hati. merasa diperhatikan, Anji gantian menoleh ke arah Airin. "Kenapa?" tanya Anji. "Gak. Gak kenapa-napa." jawab Airin. Anji hanya mengangkat bahunya dan menghampiri pelanggan yang dari tadi minta dilayani. *** Jam dinding di kostan Airin sudah menunjukan pukul 11:30. Tadi setelah pulang dari kerja paruh waktunya, Airin langsung bergegas mandi dan sekarang sedang merebahkan badannya di kasur. Ia mengambil handphone miliknya yang tergeletak di atas nakas. Lalu Airin menekan panggilan keluar ke nomor sahabatnya, Riska. "Halo." ucap Riska dari seberang telepon sana. "Halo. Kamu belum tidur Ris? Tadi kok pulang gak pamit dulu?" tanya Airin. "Belum nih. Aku lagi nyicil memperbaiki revisi skripsi. Iya mana sempet aku pamit sama kamu Ai. Orang kamunya juga sibuk. Jadi, daripada aku ganggu ya aku pulang dulu. Tapi, tadi sempet pamit sama Anji yang anak teknik itu sih, yang rambutnya agak gerondong itu." jawab Riska. "Oh." "Iya. Jam segini kamu udah balik ke kosan kan?" "Udah. Nih aku mau tidur, capek." ujar Airin mengakhiri panggilan telepon.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus juga, 👍
13d
0empat aja dulu yo
18d
0good
26/05
0Tingnan Lahat