Keesokan harinya Airin bersiap-siap ke sekolah. Ia mengambil baju putih berlengan panjang untuk menutupi lukanya. Kadang teman-teman sekolahnya bingung. Mengapa terkadang Airin memakai baju lengan pendek dan lengan panjang? Airin jika ditanya pasti akan menjawab, "Bajuku sedang kotor." Padahal setiap ia berbaju lengan panjang itu supaya bisa menutupi luka-lukanya yang membiru bahkan menghitam. Luka memarnya juga tidak sebentar hilangnya bahkan hampir sebulan dan selama belum sembuh Airin selalu berpakaian tertutup. Badan Airin lemas dan sedikit demam mencoba menuju dapur untuk mencari makanan. Dari tadi malam ia belum makan apa pun. Setelah sampai di dapur, tangan Airin membuka tudung saji. Tidak ada apa-apa. Selalu saja begini, jika ada keributan di rumah ini. Airin kembali berjalan untuk berangkat sekolah. Rumahnya sepi, mungkin papanya sudah pergi kerja dan mama beserta adiknya entah dimana. *** “Pak, ini uangnya.” ucap Airin sambil menyodorkan uang 5000-an setelah angkotan umum berhenti di depan sekolahnya. Tukang sopir angkot menerima uang Airin dan kembali menjalankan angkotnya. Airin menyeberang jalan dan segera menuju gerbang yang sudah tertutup. “Duh terlambat lagi.” ucap Airin bingung. Airin celingak-celinguk mencari pak satpam untuk memohon dibukakan pintu gerbang. Akan tetapi, tidak terlihat batang hidungnya. “Terlambat ya?” tanya seorang cowok yang Airin tahu dia Herman, si ketua OSIS. Airin hanya mengangguk sambil memperhatikan Herman membuka gembok pintu gerbang. “Masuk. Dan keliling lapangan bola basket sepuluh kali. Kamu juga kena poin pinalti.” ucap Herman tegas. Airin segera masuk dan menuju lapangan untuk melaksanakan hukumannya. Ia tidak protes sama sekali karena ini memang salahnya. *** Terik matahari pagi cukup hangat menyeliputi Airin yang sedang keliling lapangan bola basket. Keringat mulai jatuh ke pelipis Airin dan segera ia menyekanya. "Tinggal satu putaran." batin Airin. Tetapi tiba-tiba memar di tubuhnya mulai menimbulkan rasa perih. Airin merintih sakit lalu berhenti sejenak dan memegang lengannya. "Aduh sakit." rintih Airin. "Kamu Tidak apa-apa?" tanya seseorang khawatir. Airin mendongak dan melihat bu Linda, guru Bahasa Indonesianya. Pagi ini memang jam pertama diisi mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi, ko bu Linda belum masuk. "Saya tidak apa-apa bu. Maaf saya terlambat bu." jawab Airin. "Baik, ibu maafkan. Ayo masuk ke kelas!" ajak bu Linda. "Tidak bu. Saya selesaikan satu putaran lagi. Ini kesalahan saya karena terlambat. Jadi, saya harus menanggung hukumannya." ucap Airin. "Kalau begitu ibu ke kelas dulu. Setelah selesai segera masuk ke kelas ya?" suruh bu Linda. "Baik bu." Bu Linda berbalik dan melanjutkan langkahnya. Namun, langkahnya terhenti dan kembali menghampiri Airin. "Airin. Sudah. Ayo masuk. Kamu sudah selesai hukumannya. Saya tidak tega melihat kamu berlari sambil kesakitan. Kamu ini kenapa?" tanya bu Linda kembali khawatir dan menyentuh lengan Airin. "Aduh. Sakit." "Aduh. Maaf maafkan ibu Airin". ucap bu Linda dan membuka lengan panjang yang Airin kenakan. "Astagfirullah. Airin, tangan kamu memar. Kenapa bisa begini?" "Tidak bu. Saya tidak apa-apa? Ini cuma jatuh. Ibu tidak usah khawatir. Ibu jangan bilang ke siapa-siapa ya bu?" ucap Airin memohon. Bu Linda hanya terdiam dan merasa kasihan sama muridnya ini. "Kalau kamu ada masalah, kamu boleh cerita ke ibu." ujar bu Linda dan diangguki Airin.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus juga, 👍
16d
0empat aja dulu yo
21d
0good
26/05
0Tingnan Lahat