logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Bab 5

'Anakku' pekik Fio dalam hati, sambil memandang lurus waah adik ipar nya itu.
Revan tak kalah terkejut nya dengan fio, dia tidak menyangka bahwa sang kakak ipar sudah berdiri di ambang pintu kamar sambil menggendong keponakan nya.
"Eeh, Udah selesai Fasya mandi nya." Revan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Sini pakai baju nya sama ayah aja, Biar ibu mandi dulu ya." Meski canggung, Revan tetap berusaha mencairkan suasana la.
'Aduuh gimana kalau tadi kak fio dengar.' Batin revan.
"enggak usah Van, kamu mandi aja, nanti kakak urus fasya."
"Oya Van, kamu jangan biasakan Fasya panggil kamu ayah dong, gimana kalau dia kebiasaan beneran Van, nanti orang jadi salah paham sama kamu." cicit fioni pada adik ipar nya, sambil melangkah ke kamar.
"Enggak apa kali kak, emang apa salah nya sih." Cetus Revan dengan wajah jengkel.
"udah sana kakak mandi aja, Biar aku yang pakaikan Fasya baju." Revan tetap bersikukuh.
"Bukan begitu Van, kamu kok enggak maksud sih maksud aku, kamu kan bukan ayah Fasya, nanti kalau Fasya fikir kamu ayah nya gimana!, Nanti kalau kamu punya istri gimana, mungkin ini biasa aja buat kamu, tapi ini risih buat aku, Mungkin aku memang kakak ipar kamu Van, Tapi mas fai sudah tidak ada, dan kamu tau kan kalau Fasya itu bukan~." Kemarahan Fioni di pungkas secepat kilat oleh Revan.
"Udah cukup kak, kenapa sih kamu egois banget, cuma soal panggilan aja sampai segini nya, kamu hampir mengungkit apa yang sudah lalu kak." sentak Revan tak kalah kencang nya.
Fioni seketika tersadar dari amarah nya, ia terduduk lemas di pinggir Ranjang tempat tidur nya, di mana Fasya sedang memandangi nya dengan tatapan penuh tanya, dengan wajah khas anak seusia nya, imut dan lucu, tetapi semakin membuat Fioni merasa sedih, lebih tepat nya, kasihan pada anak nya itu.
"Ibu, Ibu, kenapa marah." tanya anak kecil itu dengan polos nya.
Revan yang sedari tadi berdiri, tak kuasa menahan haru di hati nya, memandang pandangan pilu itu, ia melangkah kan kaku mendekati keponakan nya itu.
"Ibu engga marah nak, Ibu sedang mengobrol, suara nya aja yang agak kuat." Ucap Revan sembari meremas jemari lentik Fasya.
"Oooh, gitu ya ayah." Bocah cantik itu nampak mengangguk angguk kan kepala nya, seakan sangat memahami ucapan Revan.
"Iya sayang, jadi Fasya pakai baju dulu ya, sini sama ayah." Bujuk Revan kepada keponakan nya itu.
"Iya ayah, aku pakai baju apa ya." gadis kecil itu melonjak riang.
"Pakai ini, baju kesukaan Fasya, Rapunsel." Revan membentang kan baju ala ala Putri raja, itu, di hadapan Fasya.
seketika gadis kecil itu melompat kegirangan.
"Hore, ayah hebat, tau kesukaan asya." begitu ucapan Fasya.
"Iya dong ayah kan sayang Fasya." Timpal Revan, sambil mulai memakai kan pakaian keponakan nya itu.
sementara fio hanya memandangi interaksi kedua manusia itu, dengan wajah datar, tetapi air muka nya tak bisa di bohongi bahwa ia sangat terharu akan hal itu dan dia tidak dapat membohongi bahwa kehadiran Revan benar benar membuat Fasya merasa memiliki seorang ayah.
'Tapi sampai kapan, Suatu saat Revan tidak akan sibuk lagi dengan nya, Dan putriku pasti kecewa, apalagi saat dia sudah mengerti nanti, Bahwa Revan hanya lah paman nya, bagai mana perasaan nya, hal ini sangat ku takut kan, aku takut Fasya kecewa.' Batin Fioni berkecamuk, menggema lah segala tanya di dalam hati nya, yang tak kunjung mendapat jawaban.
Tak terasa adzan Maghrib berkumandang, Fioni tersadar dari segala lamunan nya.
"Kak sana mandi terus sholat, kita mau ke rumah mamah," Ucap Revan pada kakak ipar nya.
Revan sendiri berlalu dan menju kamar mandi di depan mushola rumah itu.
mengambil wudhu dan siap shalat.
Fioni bangkit dari duduk nya, menuju kamar mandi.
**
Tak berselang berapa lama setelah mereka selesai shalat, Fio, Fasya dan Revan bersiap untuk menuju rumah mertua Fio.
suara deru mobil meninggalkan rumah fio.
Setelah setengah jam di perjalanan akhir nya tiba lah di kawasan perumahan elite milik orang tua mendiang Fairuz.
Mobil memasuki garasi dan langsung terparkir di garasi yang cukup besar itu, garasi yang bisa menampung empat mobil sekaligus.
"Assalamualaikum." Fioni memberi salam di depan pintu rumah mertua nya.
"Wa'alaikumasallam." jawab mereka serentak.
Fioni melihat dua kendaraan milik saudara mertua nya memang sudah terparkir di garasi itu lebih dulu, jadi ia tidak terkejut ketika di dalam rumah sudah ada beberapa orang tambahan.
"Eh, fio, apa kabar sayang." ucap Tante ana, itu adalah kakak tertua mama Raisa, mertua fio.
"Baik Tante alhamdulilah." timpal fio ssmbil menciumi punggung tangan mereka satu persatu.
Sebab hadir juga di sana, Tante Ratih, adik kandung Dari papa abram, berserta suami nya.
'Tumben Rame begini, jangan jangan bener nih, Revan mau ngenalin calon istri nya, pasti si indah indah tadi, bisa bisa nya dia gak kasih tau aku.' monolog fio pada diri nya.
"Eh duduk sini fio." Ucap mama Raisa yang tahu tahu sudah menggendong Fasya, seperti nya mereka saling merindukan satu sama lain.
"Eeh, iya mah, Masyaallah banyak banget masakan nya ini siapa yang masak ma." Fioni terkejut dengan hidangan di meja makan mertua nya.
"Iya nih riques nya si Revano, bibik dong pasti nya yang masak, mama mana bisa masak." celetuk papa mertua fio.
Semua yang berada di meja makan itu pun terkekeh tak terkecuali Mama Raisa sendiri.
"Iish papa, tega banget istri nya di kata katain." Cetus mama Raisa dengan nada manja, sambil menimang Minang cucu nya.
"Bukan ngatain ma, emang kenyataan kok." kelit papa mertua ayu.
semua pun tertawa.
Namun Fioni malah menjadi heran, kenapa yang ia tunggu tunggu tidak datang datang juga.
'Kok calon Revan belum ada.' Batin fio, sambil celingukan kesana kemari.
"Fio, kamu cari apa sih." Tante ana menegur fio yang terlihat aneh.
"eh, mmm engga Tan, ini kita kumpul kumpul gini, ada apa ya, aku fikir si Revan bawa calon nya." ucap fio jujur.
Mereka semua saling pandang mendengar ucapan fio, hingga tiba tiba saja.
Uhuk!!!
Revan tersedak Saliva sendiri saat mendengar ucapan kakak ipar nya.
seketika semua panik, Tante Ratih segera bangun dari kursi nya, mengambil kan air putih untuk Revan.
"Ada ada aja kalian ini, ini gimana sih sebenarnya." Cicit Tante Ratih.
"Ini si fio aneh banget, kan memang Revan udah bawa calon istri nya." celetuk Tante ana.
"Hah?, mana?"

Komento sa Aklat (78)

  • avatar
    Fani ArisnawatiNur

    romance novel

    08/07/2025

      0
  • avatar
    Aura Aura

    Bagus kakak

    01/06/2025

      0
  • avatar
    WulanNesmawulan

    bagus

    19/05/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata