"Indah." gumam Revan sambil memandang sang kakak ipar. "Haaah?." fio terheran heran dengan ucapan sang adik ipar. "Enggak jelas banget kamu Van, apaan sih, kakak lagi ngomong sama kamu tau, malah meracau kaya orang mabuk." cicit fioni, dengan perasaan sedikit jengkel kepada sang adik ipar yang tingkah nya sedikit sableng. "Ee-eh, enggak kak." Revan tergagap sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal. 'Dasar enggak peka, di bilang indah, malah nyerocos engga jelas.' gerutu Revan dalam hati. "Indah." Fio menggumam sambil menepuk nepuk dagu nya dengan telunjuk. "Siapa tuh indah, calon kamu ya Van, hayoo." ucap fio meledek sang adik ipar. "eeeh, enak aja, mana ada nama calon ku indah, ada ada aja ini kak fio." Revan semakin jengkel dengan sang kakak ipar yang malah terus meledek nya. "Iish, kok sewot gitu sih Van biasa aja keles." Fioni mencebik kan bibir nya. "Yaa sewot lah, habis kak fio Ngadi-ngadi sih." Jawab Revan sengit. "iiiih bahasa nya, ngondek." celetuk fio. "Iya dong cyin, emang Fioni Santika aja yang boleh ngondek." Ledek Revan sambil melambai lambai kan tangan nya, lalu di jemari nya di lentik kan, layak nya seperti seorang waria bicara. "Hahahaha." Suara Fioni tertawa lepas. "Apaan sih Van kamu nih malah ngeledek aku, Dosa loh, Gini gini aku kakak ipar mu tau." cicit fioni, Tangan nya melempar kan bantal kursi yang ia pegang ke arah Revan. Revan terkekeh dengan ucapan sang kakak ipar, Ia melempar kan kembali bantal kursi itu ke arah Fioni, terjadi lah perang bantal di antara mereka, hingga akhir nya. "Ayah, Mamam, Ayah Mamam." Rengek bocah berusia tiga tahun itu, sambil menarik narik tangan Revan. Revan dan fio menghentikan perang bantal mereka dan menoleh ke arah Fasya. "Fasya mau makan sama ayah?." tanya Revan kepada keponakan nya. "iya ayah, Mamam cama ayah." cicit Fasya dengan wajah sumringah, imut nan lucu. "Itu uncle sayang, bukan ayah." Fioni menasehati anak nya dengan nada lembut. "Ayah ibu, Ayah!." Fasya besrsikukuh dengan ingin nya, sambil mengerucutkan bibir nya. Fioni yang melihat itu hanya geleng geleng kepala. "Udah lah kak, kenapa sih, biarkan saja dia panggil aku ayah, memang apa salah nya." ucap Revan sambil berlalu ke dapur untuk mengambil makan siang Fasya. Fioni yang mendengar ucapan adik ipar nya, hanya memandangi punggung adik ipar nya, lalu mengalihkan pandangan kepada Fasya. 'Kasian sekali kamu nak, ibu harap kamu mengerti kalau ayah sudah tidak lagi bersama kita.' 'Ibu juga sama seperti Fasya, Ibu rindu sekali ayah, sangat rindu.' Fioni membatin, tak terasa air mata menggenang dan membanjiri pipi nya. Revan datang membawa makan siang untuk ponakan nya, dan menoleh ke arah kakak ipar nya, Revan terkejut kala melihat tatapan kosong kakak ipar nya, air mata mengalir membasahi wajah indah itu. Revan meletakkan dulu makanan itu di atas meja, ia menghampiri Fioni. "kakak kenapa menangis kak?." Revan duduk di samping kakak ipar nya. Fioni Bergeming, pandangan nya masih kosong, Jauh menerawang ke depan, lidah yang terasa Kelu, air mata terus menerus membasahi wajah nya. "Kak, kakak kenapa, jangan begini kak, nanti Fasya lihat." Revan menggoyangkan pundak Fioni. Fioni yang merasa bahu nya tergoncang pun tersentak, Lalu tersadar dari lamunan nya. "ee-eh Van, kok kamu duduk di sini." Fioni tergagap. "Iya aku dari tadi ngajak kakak ngobrol malah." timpal Revan. "masa sih, kakak gak mendengar apa apa tuh." ucap fio lagi. "Yaa gimana mau mendengar, kalau kakak nya melamun dan menangis." timpal Revan sarkas. "Apa sih Van, mana ada aku nangis." sahut Fioni tak kalah ketus, mungkin ia benar benar tidak sadar sedang menangis. "Ini bukti nya." Revan menghapus air mata di kedua pipi fio dengan telunjuk nya. "kakak jangan nangis lagi, ada aku di sini." ucap Revan sambil memandang sendu kepada Fioni. Fioni pun memandangi wajah adik ipar nya, lalu mengerjapkan mata. 'Apa arti dari ucapan Revan?, apa mungkin hanya sekedar menghibur hatiku, tetapi kenapa tatapan itu, tatapan itu begitu menyelam ke dasar Hatiku, aku rindu tatapan mas fai yang seperti itu, sendu, penuh permohonan.' Batin Fioni bergejolak, mengartikan setiap ucapan dan tatapan Revan, karna bagai mana pun juga, Fioni adalah wanita dewasa. Dan di antara kemelut tentang arti Dari ucapan Revan, Terdapat juga setitik rindu untuk mendiang suami nya, Fairuz Zaldi. "Terimakasih Van." ucap fio dengan memaksa kan seutas senyum di bibir indah nya. "Sama sama kak, terus lah tersenyum, terus lah bahagia." timpal Revan, dengan pandangan syahdu. Revan beranjak dari sofa itu, menghampiri Fasya, layak nya Fairuz, Revan menjelma menjadi ayah yang sabar untuk fasya (uupz, uncle), menyuapi Fasya satu demi satu suapan, hingga nasi dan lauk nya habis di lahap bocah cantik usia tiga tahun tersebut. Fioni hanya bisa melihat pemandangan di depan nya itu, dengan perasaan penuh haru. 'Enam bulan kepergian mu mas, Aku berusaha ikhlas, namun aku masih tidak sanggup melihat Fasya yang merindukan sosok mu, sosok seorang ayah, aku bersyukur bahwa Revan bersedia untuk selalu ada di samping nya, tapi bagaimana nanti jika Fasya tau, apalagi bahwa tidak mungkin bagi Revan untuk selalu bersama Fasya, dia punya kehidupan nya sendiri mas.' Berapa jam berlalu Fio menyibukkan diri dengan laptopnya, dan Revan sibuk mengurusi keponakan nya. setelah sholat ashar berjamaah, Revan membawa Fasya ke kamar mandi. "Fasya tunggu ya, ya, Ayah panggil ibu dulu." ucap Revan dengan nada lembut. "Iya ayah." timpal Fasya dengan wajah lucu nya. Revan menuju kamar Fioni dan berdiri di depan pintu kamar Fioni. "Kak, itu Fasya udah di kamar mandi situ." ucap Revan, menunjuk kamar mandi depan mushola lantai atas rumah fio. "Oh, ya udah aku siapkan baju Fasya dulu deh." timpal Fioni. "Engga usah kak, nanti aku siap kan, baju nya, susu nya, baju ganti dan lain lain, aku tau kok." ucap Revan bersemangat. Fioni melongo tidak percaya, bagai mana mungkin adik ipar nya, bisa sangat sangat mengerti soal anak nya. "Yakin tau Van, nanti asal asalan lagi." tanya fio dengan tatapan tidak percaya. "Bisa kakak, udah sana urus Fasya, percaya deh sama aku." Ucap Revan sambil menepuk nepuk dada nya. Fioni tertawa melihat tingkah laku adik ipar nya, ia berlalu meninggalkan adik ipar nya sendiri, dan menghampiri Fasya ke kamar mandi, terlihat fasya sedang asyik bermain air. Sementara Revan sibuk memilih baju keponakan nya, Berkeliling kamar mencari semua benda yang ia cari, menyusun baju ganti, kotak susu dan dot ke dalam tas khusus untuk peralatan keponakan nya itu. "Hah beres juga pakaian anakku." Ucap Revan lega sembari menepuk nepuk kedua tangan nya. Tampa di sadari Revan bahwa fio berdiri di ambang pintu, Sambil menggendong Fasya, dan fio mendengae dengan jelas, apa yang di ucap kan oleh Revan barusan. 'Anakku?.'
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
romance novel
08/07/2025
0Bagus kakak
01/06/2025
0bagus
19/05/2025
0Tingnan Lahat