Enam bulan setelah kepergian fairuz Zaldi, Fioni Santika sudah berusaha ikhlas, dan menguasai diri. setelah berusaha menguasai diri , dengan dukungan Dari keluarga Suami Nya Tak terkecuali sang adik ipar. fio sudah tidak melakukan kebiasaan nya lagi, selama dua bulan, setiap hari pagi atau sore Fioni ke makam Fairuz duduk merenung atau kadang bercerita, sambil menabur kan bunga, membuat siapa pun yang menyaksikan menjadi pilu. Fioni tinggal hanya berdua dengan Fasya di rumah nya. "ibu~ ibu," suara lembut terdengar dari mulut mungil fasya, Fasya Alexa Zaldi. "kenapa sayang, ibu lagi kerja nak," fio menghampiri anak nya yang sedang bermain. semenjak kepergian fai, fio yang punya basic sebagai desain interior, memulai pekerjaan nya sebagai pekerja freelance. kemampuan fio yang luar biasa mumpuni mampu memikat hati banyak perusahaan yang menggunakan jasa nya sabagai desain interior, penghasilan itu lah yang fio guna kan untuk diri nya dan fasya. sedang asik bermain, tiba tiba fio mendengar suara ponsel nya berdering. Ddrtt Drtt Drttt "hmm ini siapa yang nelfon ya," gumam Fioni, sembari menyambar ponsel nya di atas meja. "Mama Raisa" terlihat di layar panggilan. 'ada pa ya mama telfon, tumben banget," batin Fioni. lalu ia buru buru menggeser ke tombol hijau. "halo ma, apa kabar mama dan papa," seru Fioni riang. " kabar mama baik sayang, kamu dan Fasya gimana kabar nya," sahut mertua fio dari seberang. "alhamdulilah baik ma, hmmm ada apa ma tumben telfon fio," timpal fio. "mama cuma tanya kabar kamu sama Fasya nak, dan sekalian, kalau kamu ada waktu entar sore mama suruh Revan susul kamu ya, makan malam bareng di sini," ujar nyonya Raisa. " memang ada apa ma, ada acara?," tanya fio penasaran. "engga sayang, Pokok nya kamu kesini dulu," ucapa nyonya Raisa. 'hmm, ada apa ya mama suruh aku kesana, apa ada sesuatu,' batin fio. "iya ma, insyaallah, nanti fio akan ke sana." ujar fio dengan nafas berat. "oke sayang, terimakasih, mama tunggu ya." mama Raisa memutuskan sambungan Nya. fio sendiri kadang merasa malu Dan canggung jika berkumpul dengan keluarga Suami Nya. Apa lagi semenjak fairuz meninggal. 'kira kira ada apa ya, kok mama isa suruh aku ke rumah nya, tumben banget.' batin fio. fio meletak kan ponsel nya di nakas, dan menghampiri lagi fasya. fio memandangi anak semata wayang nya yang sedang asyik bermain, kadang fio merasaha sedih mana kala sang anak selalu berceloteh memanggil sang ayah. "ayah, ibu, ayah." begitu celotehan gadis berusia tiga tahun lebih itu di sela sela waktu bermain nya. 'ibu harap, fasya tumbuh menjadi anak sholeha, yang baik, berbudi luhur ya nak.' itu lah doa doa fio untuk gadis mungil nya itu. "ibu, ayah , ibu ayah." tiba tiba suara fasya membuyarkan lamunan nya, sambil menunjuk nunjuk ke bawah. "Astaga sayang, fasya jangan berdiri di pinggir jendela nak." fio shok dan seketika menghampiri anak nya, dan ternyata di bawah ada pria yg melambaikan tangan pada fasya. "ayah ibu, ayah." ucap fasya menunjuk ke bawah. tyo mengembus nafas yang terasa berat. "itu bukan ayah sayang, itu uncle." ucap fio dengan mata berkaca kaca. 'kasian kamu nak.' batin fioni. fio membawa fasya menuruni anak tangga dan menuju pintu ruang tamu. ceklek.. pintu fioni buka. "Ayaaaah." tiba tiba fasya merentangkan tangan ke arah Revan. "iya sayang." Revan mengambil fasya dari gendongan fio. "fasya sudah makan belum." Tanya revan pada fasya dengan nada lembut. dan memang harus fio akui, Bahwa suara dan wajah revan, sangat lah mirip dengan mendiang suami nya. " itu bukan ayah fasya, itu uncle." ucap fio lembut kepada anak nya. "ayah!." timpal gadis mungil itu seraya mengerucutkan bibir nya. revan dan fio pun sontak tertawa melihat tingkah anak kecil itu. "Yaa sudah kak, biar saja, aku gak keberatan kok jadi ayah fio." ucap revan dengan santai. lalu melangkah masuk Tampa menunggu untuk di persilahkan oleh sang tuan rumah. fio yang mendengar ucapan sang adik ipar menaut kan kedua alis nya. 'apa maksud nya ini bocah.' batin fio seraya memandang revan yang membawa fasya ke tempat bermain sang anak. fio sudah tidak heran kalau revan sering datang, karna revan memang sering datang dengan alasan untuk menjenguk ponakan nya. kadang fio merasa bersyukur, dengan ada nya revan, fasya tetap bisa bermain dengan sosok seperti seorang ayah, meski itu hanya uncle nya. "van kamu dari mana." tanya fio basa basi. "biasa kak, dari bengkel." jawab revan sambil meladeni permainan fasya. revan meski masih muda tapi dia sudah memiliki usaha sendiri, yaitu bengkel mobil sekaligus shorum mobil. "oh, emang udah ga rame, ini kan masih siang." tanya fio lagi. "Ramai ka, kan ada montir, aku lagi kangen sama fasya nih." timpal revan sembari mengusap usap rambut ponaka nya itu. "oooh, ya udah kakak ke belakang dulu buat jus untuk kalian."ucap fio seraya melangkah pergi ke arah dapur. Revan hanya memandangi punggung sang kakak ipar yang berjalan mengarah ke dapur, meski fioni sudah punya satu anak, dan sudah berusia hampir kepala tiga, wajah nya masih bak seorang gadis mungil, mata nya sipit, bibir indah, pipi sedikit tembem, tinggi 165 dan kulit yang amat putih bersih, bak gadis korea. wajah imut seperti Lalisa, begitu revan menggambarkan kakak ipar nya. "ayaaah, minum, ayah minum." terdengar suara rengekan fasya, membuyarkan lamunan revan. "Ohh iy sayang, entar ya ayah ke dapur dulu." ucap revan melangkah ke dapur terburu buru. setiba di dapur rehan melihat kakak ipar nya sedang kesulitan menjangkau gelas di kitceh shet, revan pun tamp fikir panjang mendekat dan berdiri di belakang sang kakak ipar, dan mengambil dua gelas tinggi untuk jus itu. fio yang terkejut reflek memutar badan nya kebelakang dan dia hany bertemu dengan dada bidang milik revan, revan memang lebih tinggi dari fio. "kakak kurang tinggi sih." ucap revan sembari memberikan dua gelas tersebut. fio pun mendongakkan kepala nya, dan melihat wajah tampan yang sedang tersenyum dengan lesung pipi sebelah kanan itu, hidung macung mereka bertemu sangat dekat. "kak, aku boleh jadi ayah fasya kan?." ucap revan dengan suara berat nya. Degh!!!! Hal ini sukses membuat fioni melongo untuk sesaat, apa lagi saat itu fio menikmati aroma mint yang menguar dari tubuh sang adik ipar, Rahang yang tegas dan hidung mancung, lesung pipi di sebelah kanan, bibir tipis merah jambu, tidak jauh beda dengan fairuz, mendiang suami fio. 'mas fai, kau mas fai ku.' batin fio. sehingga secara tidak sadar fio menggeleng kan kepala nya. " kak, kenapa geleng geleng gitu, enggak boleh ya aku jadi ayah fasya?." tanya revan kepada sang kakak ipar. "eeh, hmm, bukan gitu van." fio tergagap. "kamu kan memang uncle kandung nya fasya, tapi, kalau dia kebiasaan panggil kamu ayah, nanti kebiasaan sampai dia dewasa fan, itu sulit di rubah." ujar fioni, yang sedikit pun tidak mengerti dengan apa yang di maksud kan revan, fikiran mereka amat bersebrangan. "lalu, apa masalah nya kak?." tanya revan bingung dengan jawaban kakak ipar, tampa menyadari bahwa mereka sama sama gagal paham dengan ucapan masing masing. kalau fioni menyangka sang adik ipar hanya sekedar ingin di panggil ayah, maka revan berfikir kalau sang kakak ipar sudah sedikit membuka jalan untuk nya. "Yaa nanti kalau kamu punya istri, apa dia enggak keberatan, kamu sudah jadi ayah, sebelum punya istri, nanti kamu di kira duda dong van." fio mengambil centong nasi, dan memukul kepala adik ipar nya, sambil terkekeh. "ada ada saja van, biasa kan fasya untuk panggil kamu uncle van." ujar fio sambil berlalu, menuju blender yang di atas meja. "hah?!." revan menjadi gagal paham dengan jawaban sang kakak ipar. 'aku fikir kak fio ngerti, ternyata engga, cantik doang, daya tangkap ny lemot, padahal pinter, tapi kok lemot.' batin revan, sambil mengacak acak rambut nya frustasi. "Biar gimana pun, aku akan selalu menjaga kalian." gumam revan. Revan melangkah mendekati kakak ipar nya. "sini kak aku bantu bawain." Revan mengambil dua gelas jus mangga itu, lalu melangkah menuju ruang tamu, tak lupa ia membawa air putih untuk fasya. Fio mengikuti langkah Revan menuju ruang tamu, menatap punggung sang adik ipar yang kokoh. 'kenapa tiba tiba aku ingat mas fai.' Fio membatin dengan diri nya sendiri. Fioni duduk di sofa, sementara Revan menemani Fasya bermain. Tiba Tiba fio teringat sesuatu. "Van, bukan nya, tadi mama bilang, sore kamu jemput aku ya?." tanya Fioni kepada sang adik ipar. "haa?, mmmm iya, nanti sore." Revan menjawab kakak ipar nya dengan sedikit gugup, pipi nya sedikit memerah. Fio memperhatikan wajah sang adik ipar dengan kening berkerut. "kamu kenapa Van, kok gugup gitu, pipi kamu merah kaya tomat tuh." fio menegur Revan dengan wajah usil, pasal nya fio berfikir bahwa Revan sedang ingin memperkenal kan seseorang di acara nanti sore. "eeh, masa sih kak." Revan meraba raba wajah nya. 'waduuh, malu dong aku, ketara banget.' ucap Revan dalam hati. Fioni yang melihat tingkah adik ipar nya, tergelak dalam rasa heran nya. "kenapa si kamu Van, kok aneh banget." ucap fio masih sambil tergelak. "apaan sih kak, kok malah ketawa." jawab Revan malu. "aneh kamu Van, wajah mu makin mirip tomat Mateng." Fioni terus tergelak. Revan memandangi wajah Fioni yang sedang tergelak. 'sudah lama sekali rasa nya tidak melihat tawa di wajah indah itu.' Batin Revan, sambil Tampa sadar tersenyum sendiri. Fioni berhenti tertawa dan malah semakin heran dengan sikap adik ipar nya. "Van kamu kok cengar cengir sendiri sih." cetus Fioni jengkel, jengkel karna adik ipar nya malah cengar cengir sendiri. "Indah." gumam Revan Tanpa sadar. "haa?." Fioni makin terheran dengan tingkah sang adik ipar.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
romance novel
08/07/2025
0Bagus kakak
01/06/2025
0bagus
19/05/2025
0Tingnan Lahat