logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Ternoda Oleh Ku

Ternoda Oleh Ku

Diane


Chapter 1

Pearly mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan, dirinya bahkan begitu polos tanpa sehelai benang pun. Apa yang terjadi? Pearly berusaha mengingat kejadian semalam. Saat ia dan ketiga sahabat nya, Ria, Neva,dan Risma pergi ke sebuah klub malam.
Pearly mengiyakan ajakan ketiga sahabat baiknya karena ini adalah hari terakhir ia akan pergi ke klub malam . Setelah menikah nanti ia tidak mungkin lagi bisa keluar jauh bersama teman-temannya.
Apa yang terjadi?
Pertanyaan itu kembali berputar di kepala Pearly. Sejak ia mengingat ia minum terlalu banyak,ia menemukan dirinya di sebuah kamar hotel. Bola matanya terbelalak melihat bercak merah di sprei putih polos ranjang itu.
Pearly menggeleng kepalanya, bentuk penolakan atas pikiran nya.
Apa yang ia pikirkan saat itu tidak benar-benar terjadi. Sahabatnya pasti sedang mengerjai dirinya.
Sahabat sialan itu,kemana mereka? Pearly mencoba menghibur hatinya. Semua pasti tidak benar terjadi, Pearly bahkan tidak mengingat ia bersama seorang pria atau Antony tunangannya?
Ini pasti akal-akalan sahabatnya, iya, mereka yang melakukan semua ini , pikir Pearly.
Pearly pun mencoba mencari keberadaan semua sahabatnya. Saat turun dari ranjang, Pearly kaget dengan rasa nyeri di bagian sensitifnya.
Ia kembali melihat bercak merah di sprei, ia bahkan kesusahan menelan ludahnya sendiri.
Pearly masih berharap kalau ini adalah sebuah lelucon teman-temannya. Ia pun meraih semua pakaian dan segera pergi dari hotel itu. Red Hilton, sebuah hotel terkenal di ibu kota. Hotel ini biasanya hanya mampu di pesan oleh orang kaya.
Pearly yang dari keluarga cukup berada tentu mengetahui tentang hotel ini.
Pearly menutup wajahnya saat melewati orang-orang di sepanjang jalan keluar dari hotel. Pearly ingin menemui ketiga sahabatnya dan menanyakan kejadian yang hari ini ia alami.
Setibanya di rumah, Pearly menelpon satu-persatu sahabatnya. Namun, mereka tidak ada yang mengangkat panggilan telepon dari Pearly. Ini seperti mimpi tapi Pearly tahu kalau ibunya yang menyambut kedatangan dirinya tadi adalah nyata. Ibunya bahkan mengatakan kalau Neva mengirim pesan kalau dirinya bermalam di rumah Neva. Lelucon apa ini? Apakah semua sahabatnya telah menjebak dirinya? Pearly tidak sabar untuk dapat bertemu dengan mereka bertiga.
"Neva!"
Pearly mulai mengingat sedikit demi sedikit kejadian tadi malam. Di kamarnya ia menangis histeris, frustasi, Pearly menjambak rambutnya. Ia mulai dapat membayangkan tubuh pria yang tadi malam bersama dirinya.
Tubuhnya tidak seperti Antony, wajahnya? Pearly tidak mampu menggambar wajah pria itu dalam ingatan yang saat ini sedang kacau.
Pearly mabuk berat , ia hanya merasakan sentuhan seseorang kepada dirinya. Ia tidak dapat melihat jelas siapa Pria itu,kenapa dirinya berada di kamar hotel?
"Aghh..!!"
Pearly menangis sambil menggigit lengannya agar suaranya tidak terdengar hingga ke luar kamar. Pearly takut, ketakutan yang tidak pernah ia bayangkan. Pearly tahu siapa ayah dan ibunya.
"Anton!" Nama Antony di sebutnya dengan pelan.
Bagaimana dirinya bisa mengkhianati pria baik itu. Pria yang hampir satu tahun mengejar dirinya. Pria baik pilihan orang tuanya yang mampu merubah ia menjadi wanita anggun.
Hari itu berlalu tanpa tanpa jawaban telepon dari ketiga sahabatnya, Ria yang memang sibuk bekerja karena tidak melanjutkan kuliah, Neva yang satu kampus dengan Pearly ternyata masuk rumah sakit karena terlalu banyak minum alkohol. Sedangkan Risma, Pearly tahu kalau sahabatnya yang satu itu kuliah sambil bekerja.
Dertt....
Ponsel Pearly bergetar saat ia akan pergi ke kamar mandi, Neva menelepon dirinya, dengan buru-buru Pearly pun mengangkat panggilan telepon dari Neva.
"Dia sangat keras kepala, dia tidak mau makan setelah seharian berada di rumah sakit, bisakah Tante minta tolong Nak Pear untuk membujuknya?"
Ternyata tante Sarah , ibunya Neva . Jawaban yang bukan Pearly harapkan. Hari sudah malam tapi Pearly butuh jawaban segera. Ia tidak ingin terus berada dalam rasa takut dan bersalah.
Rasa bersalah yang bahkan tidak dapat membuat dirinya tidur.
"Kamu mau kemana,Pear?" Jesika ibunya Pearly menghentikan langkahnya yang hendak keluar rumah.
"Mama, Pearly hampir lupa bilang kalau Neva masuk rumah sakit dan Pear harus segera ke rumah sakit sekarang."
"Pear, inikan sudah malam, apa sebaiknya besok saja?"
Pearly sedikit bingung tapi ia harus segera ke rumah sakit.
"Mah, kan ada Pak Kasim , Pear pergi di antar Pak Kasim."
"Iya udah, kamu hati-hati. Jangan pulang larut. Mama khawatir di jalan ada apa-apa."
"Em, Pear pergi ,Ma."
Pearly segera meminta pak Kasim untuk mengantarkan dirinya ke rumah sakit. Ia harus segera bertemu dengan Neva. Pearly ingat malam kemarin ia berdua dengan Neva setelah Ria dan Risma pulang duluan.
Sejak kapan ia berpisah dengan Neva malam itu? Pearly tidak ingat .
"Pear..."
Tante Sarah menyambut kedatangan Pear dan mempersilahkannya duduk.
"Dia tidak mau makan tapi kata dokter dia harus makan agar segera pulih , ia muntah dan kehilangan banyak cairan ia sangat lemah. Anak nakal ini kenapa ia bisa minum terlalu banyak dan Tante juga tidak tahu siapa yang telah menelepon dengan ponselnya."
Pearly tercengang, ia kaget saat ibunya Neva mengatakan kalau dirinya di telepon oleh seorang yang tidak di kenal dengan ponsel Neva sendiri.
"Nev, ayo makan ! Kamu harus segera pulih , Tante Sarah sangat sedih melihat keadaan kamu."
Pearly mulai mencerna sedikit demi sedikit kejadian kemarin, Neva yang mengirim pesan dan juga Neva yang terkapar di rumah sakit.
"Ada hal yang ingin ku tanyakan, kamu harus segera pulih!"
Pearly tidak tahan untuk tidak berkata, sepertinya Neva benar-benar lemah. Pearly harus sabar sampai keadaan nya membaik.
Pearly yang ingin menunggu sampai keadaan Neva membaik pun akhirnya menelepon kerumahnya untuk mengabari ibunya kalau ia tidak pulang. Pak Kasim pun di suruh pulang karena Pearly memutuskan untuk menemani Neva di rumah sakit.
Pearly juga mengabari kedua temannya kalau Neva ada di rumah sakit. Pearly berharap Risma dan Ria akan datang ke sana.
Keesokan harinya di tempat yang berbeda seseorang dengan perawakan tinggi , berat badan yang ideal tetap berisi, duduk di sebuah singgasana kepemilikannya.
Ia baru saja meminta asisten pribadi nya untuk mentransfer uang ke rekening seseorang. Entah apa yang membuat dirinya begitu bersemangat hari ini, sesekali ia tersenyum karena mengingat sesuatu.
"Sudah saya transfer uangnya ,Pak."
"Selidiki gadis itu, aku ingin tahu dimana ia tinggal!"
"Baik,Pak!"
Dengan memainkan jarinya di dagu,Reynaldi masih senyum-senyum sendiri. Ia mengambil sebuah kertas kosong dan entah membuat coretan apa di sana, Reynaldi masih terbayang pengalaman dirinya di Red Hilton.

Komento sa Aklat (116)

  • avatar
    syaitsme

    smgt lg

    20/12

      0
  • avatar
    KanayaTania

    i like it!!

    01/11

      0
  • avatar
    YanaLusi

    bagus banget novelnyaa

    21/09

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata