logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Bab 2. Salah Satu Persyaratan Ujian

"Siapa yang bisa mengerjakan soal ini?" tanya Pak Johan.
Suasana yang sudah tegang kini menjadi semakin tegang dan mencekam karena satu pertanyaan dari Pak Johan.
Untuk beberapa saat, Pak Johan masih menunggu jawaban dari tantangan yang diajukan. Hingga lima menit berlalu, tidak ada yang mengajukan diri untuk menjawab soal itu. Akhirnya, Pak Johan menunjuk murid yang mendapatkan nilai bagus dipelajaran matematika.
"Coba Ardi dan Gayatri. Maju ke depan. Kerjakan soal-soal itu!" perintah Pak Johan.
Ardi dan Gayatri pun maju ke depan. Ardi meraih kertas yang diberikan Leni.
Lima menit Ardi sudah selesai mengerjakan soal itu. Kemudian, bukunya diberikan kepada Gayatri. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima menit soal itu pun selesai dikerjakan oleh Gayatri.
"Lihat anak-anak, ini adalah dua teman kalian yang sama-sama memiliki nilai bagus pada mata pelajaran matematika. Mereka berdua membutuhkan waktu kurang lebih lima menit.
Perhatikan baik-baik jawaban Ardi dan Gayatri. Hasilnya sama-sama benar. Namun, cara pengerjaannya sedikit berbeda. Ada yang ditanyakan?"
"Pak, kenapa cara pengerjaannya berbeda tetapi hasilnya bisa sama?" tanya salah satu murid.
"Sebenarnya hampir sama, Ardi mengerjakannya lebih ringkas sedangkan Gayatri menjabarkannya lebih detail dan terperinci," jawab Pak Johan.
"Kalian bertiga boleh duduk!" perintah Pak Johan.
"Sekarang kumpulkan buku tugas matematika kalian. Tugas berikutnya, pelajari halaman dua puluh lima. Saya akan membentuk kelompok belajar, Ardi dan Gayatri menjadi ketua kelompok I sedangkan Bian dan Sasa menjadi ketua kelompok II. Masing-masing kelompok terdiri dari lima belas anak, karena di sini total ada tiga puluh anak."
Akhirnya, Jam mata pelajaran matematika selesai. Terlihat ada kelegaan di wajah para murid. Sesuai perintah, mereka pun membentuk kelompok belajar. Terlihat Leni menghampiri Ardi, lalu menghampiri Gayatri.
"Yatri, nanti pulang sekolah meluncur, yuk?" ajak Leni.
"Maaf, sepertinya aku nggak bisa," jawab Gayatri.
Leni tampak kecewa dengan bibir mengerucut. Sikapnya membuat Gayatri merasa sedikit tidak enak karena tidak bisa menerima ajakan Leni.
"Ah, kamu nggak asyik, Yatri," ucap Leni. Kemudian, berlalu dari depan Gayatri.
Gayatri hanya diam melihat kelakuan sahabat terbaiknya barusan, mungkin karena dia belum mengetahui alasan sebenarnya kenapa selalu menolak jika diajak pergi jalan.
Suara ketukan pintu terdengar dan sempat membuyarkan beberapa murid-murid yang sedang bergerombol dan bercanda ria. Beberapa ada yang kaget karena melamun seperti yang terjadi pada Gayatri.
Seorang guru wanita memasuki kelas. Terlihat, beberapa anak berlarian kalang kabut menuju ke bangkunya masing-masing sambil menyebutkan nama guru wanita itu, Bu Mia.
Bu Mia pun duduk sambil geleng kepala melihat ulah beberapa muridnya
"Saya hanya meminta waktu sebentar saja, sebelum jam pelajaran berikutnya. Sebagai wali kelas III, IPA-1, saya hanya ingin menyampaikan beberapa nama anak yang belum melunasi pembayaran dan beberapa masih ada yang baru mencicil separuh. Total semua ada tiga anak. Tolong segera dilunasi karena sebentar lagi ujian."
Kemudian, Bu Mia menyebutkan satu persatu nama anak yang sudah mencicil separuh dan yang belum membayar sama sekali. Di antara tiga anak yang belum membayar ada nama Gayatri.
"Jika kalian ada kendala bisa menemui ibu. Siapa tahu, ibu bisa memberikan solusi terbaik. Untuk saat ini, hanya itu saja yang ingin ibu sampaikan. Semangat belajar karena kalian sudah berada di titik akhir perjuangan. Terima kasih atas waktu dan perhatiannya."
***
Gayatri masih terdiam memikirkan uang pembayaran yang saat ini belum bisa dilunasi. Uang pembayaran dengan nilai nominal lima ratus ribu membuat dadanya terasa sesak. Jika tidak segera melunasi dia terancam tidak bisa ikut ujian, tetapi jika ingin melunasi akan menambah beban baru terhadap kedua orang tuanya.
Terlahir menjadi anak tunggal di keluarga pasangan Pak Harjo dan Bu Marni tidak serta merta menjadikannya seorang anak manja dan dengan mudah bisa memperoleh apa pun yang diinginkan.
Kehidupan kedua orang tuanya yang serba kekurangan membuatnya harus rela melepas semua mimpi yang ingin diwujudkan.
Ayahnya hanya bekerja sebagai buruh tani dan ibunya sebagai tukang jahit dengan upah yang sangat rendah dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Bu, Yatri masih punya tunggakan pembayaran yang harus dilunasi sebesar lima ratus ribu rupiah," ucap Yatri kepada ibunya.
"Ibu dan Ayah masih belum ada uang, Nak," jawab Bu Marni.
"Tidak apa-apa, Bu."
Gayatri sudah tahu pasti jawaban seperti itu yang akan didengar. Namun, setidaknya bisa bernapas lega karena sudah menyampaikan hal itu kepada ibunya.
"Yatri, Ibu akan usahakan untuk bisa memperoleh uang lima ratus ribu. Bisa minta tolong untuk meminta kelonggaran waktu lagi kepada gurumu, Nak?"
"Iya, Bu. Yatri besok akan meminta kelonggaran ke Bu Mia. Ayah belum pulang, Bu?"
"Ayah tadi pergi ke rumah Paklek Tarjo, sepertinya langsung pergi ronda. Hari ini, Ayah ada jadwal ronda kampung."
"Ya sudah, Yatri tidur dulu, Bu."
Gayatri masuk ke dalam kamar. Merebahkan tubuhnya di ranjang. Kamar sederhana yang hanya berdinding dari papan kayu membuatnya masih bisa mendengar suara deritan mesin jahit ibunya.
Angannya terbang menerawang tinggi menembus langit. Memikirkan uang pembayaran yang harus segera dilunasi membuat Gayatri sedikit pusing. Sementara, orang tuanya masih belum mempunyai uang sejumlah lima ratus ribu. Bagi kedua orang tuanya, lima ratus ribu adalah nilai yang cukup besar dan butuh kerja keras ekstra untuk memperolehnya.
Gayatri terlihat tidak tenang memikirkan semua itu. Namun, rasa lelah yang mendera membuatnya tertidur juga.
***
"Kita sambut desainer hebat kita, Gayatri Pratiwi."
Melangkah dengan percaya diri di atas cat walk. Gayatri pun menerima sambutan tepuk tangan yang sangat meriah dan menggema memenuhi setiap sudut gedung. Sebuah buket bunga diterimanya, lalu melangkah menuju ke ujung depan cat walk dan berhenti sebentar sambil membungkuk memberikan penghormatan kepada penonton yang semuanya adalah pecinta desain Gayatri. Setelah itu Gayatri melangkah kembali ke belakang sambil melambaikan tangan.
Tibalah sesi wawancara oleh beberapa media yang telah mengapresiasi karya-karya desainnya hingga ke manca negara.
Pecinta desain Gayatri Pratiwi dari kalangan pejabat, konglomerat hingga artis. Bahkan, beberapa desainnya pun sudah dipakai untuk kostum dalam film hollywood.
Mengusung nama desain, Gapra Colection, namanya pun semakin dikenal dan diburu oleh para, Pedes Gapra—pecinta desain Gayatri Pratiwi. Nama itu pun dipakai untuk nama fans yang sangat menyukai desain Gayatri.
"Pedes Gapra, Pedes Gapra, Pedes Gapra!"
Mendengar yel-yel beberapa fans membuat Gayatri melambaikan tangan cantik sambil melangkah menuju mobil. Namun, kakinya tersandung dan jatuh.
"Aduh sakit!"
Gayatri pun menoleh ke kanan dan ke kiri. Ternyata ini hanyalah mimpi.
Mimpi itu datang lagi, batin Gayatri
Gayatri pun mengucek mata. Tubuhnya sudah berada di bawah ranjang. Karena lantai rumahnya masih beralaskan tanah, membuat tubuhnya sedikit kotor.
Mimpi indah hilang dalam sekejap dan kini dia sibuk membersihkan tubuh yang kotor.
Ya, nasib. Benar-benar apes, mimpi indah yang menerbangkannya ke langit, tetapi mimpi itu pula yang menjatuhkannya di bawah ranjang. Terlihat senyum samar menghiasi wajah cantiknya.
Bersambung ...

Komento sa Aklat (93)

  • avatar
    Shazarina

    Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya... Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง

    28/01/2022

      0
  • avatar
    KurniawanFurqon

    enk untuk di baca terimakasih:))

    26/02/2025

      0
  • avatar
    Wulan SariRatna

    saya sangat antusias membaca novel terbaik

    27/01/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata