Sore ini rumah Ibu terlihat sepi, Ningsih beserta Alea dan Rival sudah pulang ke rumah mereka. Bapak sedang menghadiri acara di kampung sebelah. Tinggalah Ibu hanya berdua dengan Luna. "Assalamualaikum" ucap Fathir saat memasuki rumah, wajahnya tampak kusut dan lelah karena seharian bekerja. "Waalaikumsalam, Alhamdulillah sudah pulang, Le" sambut Ibu dengan senyuman hangat. "Coba bangunin istrimu, ajak makan bersama. Dari tadi siang tidur, Ibu gak tega yang mau bangunin." titah Ibu saat mengetahui Fathir ingin merebahkan tubuhnya di sofa, bukan menghampiri istrinya terlebih dahulu. Sepertinya Ibu paham dengan situasi dan kondisi mereka berdua pasca tragedi kemarin. Fathir hanya mengangguk, menuruti perkataan Ibunya. Saat membuka pintu kamar, Luna berbaring dengan wajah yang pucat. Tubuhnya terlihat lemas. "Ayo bangun, makan dulu. Jangan bersikap mencurigakan di depan Ibu, aku tak ingin membuatnya bersedih" ucapan Fathir terdengar dingin. Luna tak bergeming, ia tetap berbaring tanpa berniat membuka mata atau pun beranjak dari tempat tidur. "Ayo cepatlah, akhiri semua dramamu, aku sudah muak" Fathir mengguncang bahu Luna. "Makan lauk apa, Mas?" sahut Luna dengan suara lemas. "Kamu yang di rumah seharian kok nanya ke aku, mana aku tau. Sudahlah ayo cepat, rapikan sedikit penampilanmu, baru kita makan" "Aku pingin mie ayam, Mas. Cari yuk?" ujar Luna penuh harap, matanya menatap Fathir lekat. "Males" jawab Fathir cuek. "Jangan gitu lah, Mas. Kamu benci sama aku gapapa, asal jangan ke anak yang tak berdosa ini" "Kenapa kamu ngajak aku? Kenapa tak telpon Frans saja?" Fathir tersenyum mengejek. "Cukup, Mas. Jangan bahas itu lagi" "Cukup? Hahaha. Enteng banget ya, Lun kamu bilang cukup. Kamu inget gak? Aku rela panas-panasan ajak rekan menuju Pulau Madura demi mendapatkan petis khas seperti yang kau pinta, tapi apa balasanmu? Bersenang-senang di belakangku tanpa mikirin bagaimana perasaanku, hebat kamu, Lun! Bahkan hingga sampai detik ini, aku sendiri pun tak menyangka, kamu berbuat serendah itu" Fathir berdecak kesal, kepalanya terus menggeleng. "Aku khilaf, Mas. Aku sudah minta maaf" "Khilaf? Denger ya, Lun. Tak ada perselingkuhan yang terjadi karena khilaf, semua itu dilakukan dengan penuh kesadaran. Kamu selingkuh di belakangku, itu kamu lakukan dengan kesadaran jelas, sebelum melakukannya, pastinya kamu tau hal itu akan menyakitiku dan menghancurkan hubungan kita. Namun, kenapa kamu masih melakukannya? Kenapa, Lun?!" bentak Fathir dengan sengit. Luna menciut, ia ketakutan melihat Fathir mengeluarkan nada bicara yang tinggi. "Oh aku tahu, karena itu bisa jadi anak Frans? Pantas saat aku tak menuruti permintaanmu, kau memintanya pada Frans? Bukan begitu? Hina sekali dirimu, Lun." Tes...tes… Air mata Luna menetes, dengan cepat Luna mengusapnya, ia tak ingin Fathir melihatnya lemah dan rapuh. "Kenapa diam saja? Tak bisa mengelak lagi kah kamu sekarang? Sudahlah, Lun. Selera makanku tiba-tiba menghilang. Tidurlah kembali, aku akan bilang ke Ibu bahwa kamu masih ingin beristirahat" Fathir meninggalkan Luna di dalam kamar. "Tunggu, Mas. Sekali ini saja aku mohon" ucapan Luna berhasil menghentikan langkah Fathir. "Aku pun tak yakin ini anak Mas Frans, mengingat kita juga sering melakukannya kan? Jangan rendahkan diriku terus-menerus atau kau akan menyesal jika nantinya anak ini terbukti darah dagingmu" ujar Luna menahan amarah. Fathir membalikkan badan, memicingkan mata menatap Luna. "Sering? Coba kamu ingat kembali, dalam waktu seminggu saja belum tentu kamu mau melayaniku walau hanya satu kali, apa kau lupa? Pil kontrasepsi yang aku temukan di dalam tas milikmu, ingatlah sejak kapan kau melepaskan pil itu, bahkan setelahnya kita jarang sekali melakukan. Dulu, aku pikir mungkin kamu terlalu lelah hingga tak bersemangat lagi melayaniku sehingga aku memaklumi, tapi ternyata memang benar kamu lelah, karena menghabiskan tenagamu bersama pria lain. Sudah berapa pria yang tidur denganmu selama kita menikah?" Fathir memandang Luna dengan tatapan jijik. "Apa maksudmu? Aku sudah berulang kali bilang, hanya denganmu dan Mas Frans aku melakukan setelah kita menikah" sengit Luna. "Terserah, aku tak peduli lagi dengan segala hal yang berhubungan denganmu" Fathir membanting pintu kamar dengan keras, hingga menimbulkan suara dentuman. Luna meremas sprei dengan kuat, rasa sakit di hatinya terasa perih, sudah cukup mereka merendahkan, Luna tak terima dipandang sebelah mata oleh suaminya sendiri. Perut Luna terasa melilit, ia baru sadar semenjak pagi belum makan nasi, hanya minum teh dan beberapa biskuit yang berhasil ia telan. Matanya berkunang-kunang, sakit di perutnya kian menjadi, kali ini disertai kram. Luna meringis sambil sesekali memegangi perutnya. Luna merebahkan dirinya di atas pembaringan, sakit perut yang dirasakan membuatnya lemas, hingga kemudian matanya terpejam. Sementara itu di meja makan, Fathir makan dengan lahap ditemani Ibu. "Apa Luna tak nafsu makan, Le?" ujar Ibu sambil menambahkan lauk di piring milik Fathir. "Iya, Bu. Katanya capek, pengen tidur terus, biarkan saja dia rebahan" Ibu hanya mengangguk memaklumi dan melanjutkan makannya kembali. Adzan Maghrib berkumandang terdengar dari speaker Masjid. Fathir bergegas mengambil sarung dan peci dalam lemari untuk sholat berjamaah di Masjid. Fathir membuka lemari, mengambil peci berwarna hitam dan sarung. Seketika matanya menatap ke arah Luna yang sedang tidur. Fathir melihat wajah Luna pucat pasi. Entah perintah dari mana, Fathir memegang kening Luna, menyentuh pipi serta lehernya. Raut wajah Fathir berubah menjadi khawatir, badan Luna panas, sepertinya ia demam. Fathir yang dikuasai rasa cemas, bergegas membangunkan Luna. Fathir mengguncang tubuh Luna. "Lun, Luna. Bangun, Lun" "Nghhhhhh...nghhhhhh" Luna hanya meraung, matanya tetap terpejam. Badannya panas, Luna menggigil. Tak menunggu waktu lama, Fathir segera membopong tubuh Luna, memasukkannya ke dalam mobil. Ibu mengikuti Fathir yang tergopoh-gopoh akan membawa Luna ke Rumah Sakit. Mereka bertiga menuju ke Rumah Sakit terdekat, Ibu menopang tubuh Luna sembari mengoleskan minyak ke hidung dan pelipis Luna. Fathir mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Tak bisa dipungkiri, raut wajahnya terlihat cemas. Walau bagaimanapun, tak mudah membenci Luna dan menghilangkan semua perasaan sayang yang telah tumbuh dalam hatinya. Sesampainya di Rumah Sakit, Luna dibawa ke ruang IGD, diperiksa oleh dokter. Fathir berjalan mondar-mandir dengan cemas, Ibu berusaha terlihat tenang, walau dalam hatinya pun gusar. Setelah perawat keluar memanggil Fathir, bergegas ia masuk untuk menemui dokter. Saat dokter berbicara dengan Fathir, raut wajah Sang dokter tampak serius, seperti ada hal yang perlu dilakukan tindakan dengan secepatnya. Terlihat Fathir mengusap wajah kasar setelah berbicara serius dengan dokter. "Lakukan apapun yang terbaik, Dok. Saya siap bertanda tangan dan bertanggung jawab atas istri saya. Saya mohon dengan sangat, tolong selamatkan istri saya beserta anak yang sedang ia kandung" Fathir gusar, ia takut sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada Luna saat ini, apalagi Luna sedang hamil, walaupun belum tahu anak siapa yang dikandungnya. Namun, jika memang benar itu anak Fathir, maka Fathir tak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu dengan buah hatinya. Wah…kira-kira ada apa dengan cinta? Ehhh….Luna maksudnya hehehe Kenapa ya, Kak kira-kira? Ada yang bisa jawab? Tulis di kolom komentar dong😁 ***** Tetep staytune yaaaa Sayang2nya mamakkkkkkk...... Setia terus yuk ikutin kisah Luna 😘😘😘😘 ******* ******* ******* ****** ******* ******** ******** Bakal makin seru nih kelanjutannya, yuk simak terus kisahnya ya Shay... Mamak sayang kalian semua .... Ditunggu next nya 😘😘😘😘 ****** ****** ****** ****** ****** ****** ****** ****** ****** Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan lompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️ Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rezeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rezeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0keren ceritanya lanjut kan
18/03/2025
0Tingnan Lahat