Luna gelisah di dalam kamar bernuansa coklat muda. Ia berjalan mondar-mandir sambil sesekali melirik jam dinding yang tergantung tepat di atas pintu. Sudah larut malam Fathir tak kunjung pulang, ponselnya pun tak aktif. Luna khawatir akan kondisi Fathir, ia takut Fathir tak terkontrol di luar sana karena sakit hati akibat perbuatannya. Kembali Luna melihat arah jarum yang berjalan di angka sebelas, Luna keluar dari kamar menuju ruang tamu, berniat menunggu Fathir disana. Luna tak bisa tidur, matanya enggan terpejam. Padahal tubuhnya letih, ingin rebahan. Namun, dorongan dalam hatinya lebih kuat untuk tetap menunggu Fathir pulang. Satu jam kemudian... Terdengar deru motor memasuki garasi, Luna mengucap syukur dalam hati, suaminya akhirnya pulang dengan kondisi selamat dan sehat seperti sebelumnya. Fathir membuka pintu tanpa mengucapkan salam, ia berpikir jam segini pastilah semua keluarganya sudah terlelap dalam mimpi. Fathir sedikit terjingkat, mengetahui Luna yang belum tidur, duduk memandangnya dengan senyum tipis. "Dari Mana aja, Mas? Aku nungguin kamu dari tadi, nggak bisa tidur" Luna menghampiri Fathir, berniat mencium punggung tangan suaminya seperti rutinitas mereka. Fathir tak menjawab, ia berlalu begitu saja menuju kamar mandi belakang. Luna mengikuti hingga Fathir masuk ke dalam kamar mandi. Dengan telaten Luna menunggu Fathir, di tangannya sudah siap handuk, pakaian ganti dan essential oil. Beberapa menit kemudian, Fathir keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Luna bergegas memberikan handuk untuk Fathir, namun apa yang terjadi? Fathir hanya melengos, melewati Luna begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Terasa nyeri di palung hati Luna, baru kali ini ia merasakan sakitnya dicuekin, perihnya tak dianggap dan pedihnya tak dihargai sama sekali. Luna menyadari, kesalahan yang dia perbuat begitu fatal dan dalam. Maka ia wajib menerima semua konsekuensinya, untung lah Fathir masih mau menerimanya tinggal bersama. Tak langsung mendepak atau mengusirnya. Luna yakin, jika hal ini dialami oleh lelaki lain, tentu saat ini dirinya sudah tertatih di jalan raya menjadi gembel jalanan. Luna kembali mengikuti Fathir masuk ke dalam kamar, Luna duduk di tepian ranjang, memperhatikan Fathir yang sedang memakai kaos. "Mas masih marah sama Luna?" tanya Luna, matanya tak lepas sedetik pun mengamati suami di hadapannya. "Hmm…" Fathir hanya menanggapi dengan deheman singkat. Tak berniat memandang Luna sedikit pun. Luna menghela nafas, Fathir mengambil selimut dari dalam lemari, membawa dua bantal dan bergegas menuju ruang tamu. Luna memandang heran atas perbuatan Fathir. "Mau tidur dimana, Mas?" "Luar" jawab Fathir singkat. "Tidur di sini saja ya, Mas. Temenin aku dan calon anak kita" ujar Luna terlihat memohon. Fathir tak menjawab, ia terus berlalu melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Luna meraih tangan Fathir, matanya berkaca-kaca menatap Fathir. "Please, Mas. Maafin aku, jangan perlakukan aku seperti ini!" Luna sedikit berteriak, sembari menahan rasa sakit yang teramat perih dalam hatinya. Fathir melepaskan tangannya dari cekalan Luna, ia tetap melanjutkan menata bantal di atas karpet ruang tamu. Pilihannya sudah bulat, ia ingin tidur sendiri malam ini, bahkan malam-malam berikutnya. Fathir sungguh ingin menikmati momen sendiri. Luna pasrah, ia kembali masuk ke dalam kamar. Menangis sesenggukan seorang diri. *** Suara burung berkicau saling bersahutan, matahari mulai menampakkan sinarnya dengan malu. "Lho, Fathir kok tidur di bawah gini, Dek?" ujar Ningsih menepuk pelan tangan Fathir untuk membangunkan. Fathir membuka matanya perlahan, "Iya, Mbak. Jam berapa ini?" ujarnya dengan suara serak, khas bangun tidur. "Sudah jam setengah enam pagi ini, kamu gak subuhan?" "Gak, Mbak. Fathir kesiangan" jawabnya dengan perasaan bersalah. "Yaudah, sana buruan mandi. Setelah itu sarapan, sebelum berangkat" titah Ningsih dengan lembut. "Iya, Mbak. Makasih" Fathir segera merapikan selimut, membawa bantal ke kamar, bergegas menuju kamar mandi. Ningsih pergi ke dapur menyiapkan sarapan untuk suami, anak serta adik bungsunya, Fathir. Harum nasi goreng menguar hingga ke kamar yang ditempati Luna. Memang jarak kamar Luna dan dapur hanya sebatas tembok. Kamar Fathir dulu saat masih bujang, berada di ujung paling belakang, dekat dengan dapur dan kamar mandi. Luna mengucek matanya, mengendus bau nasi goreng yang menggugah selera, seketika perutnya lapar. Ia ingin sekali makan nasi goreng pagi ini. Luna mematut dirinya di cermin, tampilan nya acak-acakan. Matanya sembab, rambut dan bajunya kusut. Luna segera menguncir rambutnya, merapikan sedikit pakaiannya dan keluar dari kamar menuju dapur. Ningsih terlihat asyik berkutat dengan bahan di dapur, Ningsih menata empat telur mata sapi ke dalam empat piring yang sudah berisi nasi goreng. "Wah, baunya harum banget, Mbak. Luna mau, ya?" ucap Luna dengan mata berbinar. Ningsih hanya mengangguk. Luna mengambil sendok, dengan cepat memasukkan suapan nasi goreng ke dalam mulutnya. "Huh hah huh hah, paa...panas, Mbak" ujar Luna mengipas lidahnya dengan tangan. Hendak menyendokkan suapan kedua, perut Luna terasa mual, ia ingin muntah. "Huwek….huwek…" Luna mengeluarkan kembali nasi goreng yang masuk ke dalam perutnya. Wajahnya pucat, Luna muntah di dapur. Ia tak sempat pergi ke kamar mandi, karena di dalam kamar mandi ada Fathir. Ningsih yang melihat kejadian itu, segera menghampiri Luna. Ningsih menyodorkan minyak angin ke tangan Luna. Luna duduk di ruang makan sambil memijat tengkuknya, perutnya seperti diaduk-aduk, terasa mual. Fathir yang baru selesai mandi, melihat Luna dengan tatapan tak tega. Jauh di lubuk hatinya, ia ingin memijat wanita yang masih sah menjadi istrinya itu. Namun logikanya menolak keras, perasaan dan logikanya saat ini saling bertentangan. Fathir tak ingin luluh dengan kondisi Luna saat ini, ia hanya diam dan mencoba bersikap santai saat melewati Luna. Luna melihat Fathir dengan mulut tercengang, Fathir benar-benar tak ingin berinteraksi dengannya. Hati Luna seperti diremas, luka yang ditorehkan Fathir terasa dalam. "Mas, gak sarapan?" tanya Luna berusaha sebaik mungkin mengambil hati Fathir. "Mbak, minta tolong sarapanku bekelin, ya. Masukkan ke dalam tepak tupperware itu aja" perintah Fathir untuk Ningsih yang menata sarapan di atas meja. 'Mas Fathir bener-bener gak nganggap aku' batin Luna dalam hati. Ningsih hendak memasukkan nasi goreng dari piring ke dalam kotak bekal yang dimaksud Fathir, dengan cepat Luna menahannya. "Jangan, Mbak! Biar Luna saja, ya" Luna segera mengambil alih tugas Ningsih, memasukkan nasi ke dalam kotak, menutupnya erat dan menyerahkan kepada Fathir. Fathir mendengus, namun tetap saja diambil kotak bekal dari tangan Luna, memasukkan ke dalam tasnya. "Fathir berangkat ya, Mbak. Assalamualaikum" pamit Fathir mencium tangan Ningsih. Luna hanya diam melihat pemandangan hangat antar saudara tersebut. Luna berharap Fathir juga akan menghampirinya, mencium keningnya dan mengelus pipinya sekilas, seperti rutinitas saat Fathir berangkat. Luna menunggu, namun Fathir menghiraukan kehadiran Luna. Fathir keluar menuju garasi, mengendarai motor dan bergegas pergi tanpa sedikitpun menoleh ke arah Luna. Ningsih merasa serba salah, ia sebenarnya tak tega melihat wanita kondisi hamil diperlakukan seperti itu. Namun, perbuatan Luna sudah melampaui batas, membuat Ningsih berat untuk bersikap hangat padanya. Selepas kepergian Fathir, Ningsih kembali ke kamar untuk membangunkan anak dan suaminya, tanpa sepatah katapun meninggalkan Luna di halaman. Bu Wiwik, tetangga depan rumah yang memperhatikan semua kejadian barusan tersenyum mengejek. "Aduh, dicuekin Neng sama Kang Fathir? Emang salah apa?" tanyanya dengan senyum licik. Luna mengusap air matanya yang akan tumpah, ia memandang Bu Wiwik dengan tatapan tak suka. "Bukan urusan kamu!" ujar Luna berlenggang masuk ke dalam rumah. "Hahaha, emang kapok!," seru Bu Wiwik tetap dengan senyum meledek. 'Berita seru nih, aku harus cari tahu. Tumben tuh Kang Fathir nyuekin istrinya, biasanya juga kecintaan gitu kalau memperlakukan istri, pasti Luna bikin kesalahan fatal, ntar aku tanya Lujeng aja deh' batin Bu Wiwik kepo dengan masalah rumah tangga tetangganya. ***** Wah, kapok gak tuh Luna dicuekin? Baru aja sehari ya, ini baru permulaan. Next bakal Mamak bikin lebih kejam tuh si Fathir merlakuin Luna. He..he..he.. Tetep setia yuk pantengin Luna, jangan bosen-bosen ya ! Kita pantau Luna sampai ending kena karma dan batunya🤣 ***** ****** ***** Bagaimana nasib Luna setelahnya? Bertahankan ia bersama calon anak yang sedang tumbuh dengan baik di dalam rahimnya ? Sanggupkah Luna menghadapi dan menerima semua hukuman atas perbuatannya ? Apa langkah Fathir selanjutnya? Ahhh ... Coba yuk tebak! Tulis di kolom komentar yaaa, jangan lupa tap tombol like nya, semakin banyak komentar dan like maka akan semakin cepat juga Mamak updatenya...love you All 😘😘😘 ***** ****** ******* ****** Tetep staytune yaaaa Sayang2nya mamakkkkkkk...... Setia terus yuk ikutin kisah Luna 😘😘😘😘 ******* ******* ******* ****** ******* ******** ******** Bakal makin seru nih kelanjutannya, yuk simak terus kisahnya ya Shay... Mamak sayang kalian semua .... Ditunggu next nya 😘😘😘😘 ****** ****** ****** ****** ****** ****** ****** ****** ****** Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan lompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️ Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rezeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rezeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0keren ceritanya lanjut kan
18/03/2025
0Tingnan Lahat