Semua tergopoh-gopoh membopong Luna ke dalam kamar, mereka tampak khawatir, kecuali Fathir. Lelaki yang beberapa menit lalu masih perhatian dan penuh kasih sayang, kali ini tak lagi peduli. Hanya amarah dan kebencian yang terlihat dari sorot matanya. Ia sungguh kecewa besar dengan apa yang sudah dilakukan Luna padanya. Memang benar jika kecewa levelnya jauh lebih tinggi diatas marah, terbukti dengan Fathir saat ini, bahkan tak berniat sedikit pun melihat kondisi Luna. Ibu dengan cekatan membalur tubuh Luna dengan minyak kayu putih dan memijitnya lembut. Beliau sangat khawatir dengan kondisi Luna, teruma calon cucunya. Ningsih juga tak tinggal diam, ia mengoleskan minyak angin di hidung Luna, berbagai upaya dilakukan, namun Luna tak kunjung sadar. Chintya menemui Fathir yang sedang duduk melamun di ruang tamu. "Thir, sebaiknya kita bawa saja Luna ke rumah sakit, ya?" tawar Chintya dengan lembut. "Buat apa, Mbak? Biarlah ia mat* sekalian aku sudah tak peduli" ujar Fathir tajam. "Ck, jangan bicara seperti itu. Kamu boleh benci sama Luna, tapi ingat. Janin yang ada di perutnya itu anakmu, Dek" Chintya mengusap pelan lengan Fathir, berharap Adik semata wayangnya itu sedikit melunak. Fathir melirik Chintya sekilas, wajahnya memerah. "Apa Mbak bilang? Setelah melihat semua video rekaman tadi, apa Mbak masih yakin itu anakku? Aku jadi sangsi, baiknya setelah anak itu lahir, aku akan melakukan tes DNA, jika memang benar itu anakku, akan aku bawa dia bersamaku dan sudah pasti Luna aku ceraikan. Tapi, jika terbukti anak itu bukan darah dagingku, aku tak akan segan membuat perhitungan dengan jalang murahan seperti Luna" "Cukup! Istighfar lah. Sudah, sabar. Tenangkan dulu pikiranmu, jangan mengambil keputusan apapun saat marah, atau kamu akan menyesal!" seru Chintya sedikit menusuk. "Hahaha... Menyesal Mbak? Aku tak akan mungkin menyesal meninggalkan kerikil seperti dia, sudahlah. Aku ingin keluar sebentar, menenangkan pikiran. Mbak atur aja dia baiknya gimana, aku tak peduli" Fathir beranjak pergi mengambil jaket dan kunci motor, meninggalkan Chintya tanpa beban. Selepas kepergian Fathir, Chintya kembali ke kamar untuk melihat keadaan Luna. Tampak Ibu dan Ningsih cemas akan kondisi Luna. "Kita bawa ke RS aja ya, Bu. Aku khawatir terjadi sesuatu dengan janinny," ujar Chintya gusar. "Cepet kamu bilang Arif buat siapin mobil, kalau nunggu ambulans takut ga keburu. Kita cari RS terdekat dulu aja" Ningsih mengangkat kepala Luna dan menopangkan di dalam pelukannya. "Mm...Masss....." Semua mata mengarah ke arah sumber suara, Luna mengerjapkan matanya pelan. "Alhamdulillah, untung kamu sudah sadar, Nduk" Ibu mengelus lembut kepala Luna. "Ibu, Mas Fathir mana?" suara Luna terdengar lirih. "Sudahlah, Nduk. Jangan dipikir dulu, tenangin diri ya, kasihan calon cucu Ibu" "Luna bisa jelasin, Bu. Luna mohon, ajak Mas Fathir kesini, Luna pingin minta maaf, Bu" ucap Luna terisak, air matanya mengalir deras. Ibu menghela nafas pelan, mengkode Ningsih untuk menghubungi Fathir. Lita dan Frans masih berada di luar ditemani Bapak, Arif dan Rival. Setelah beberapa menit, terdengar deru motor Fathir masuk ke dalam garasi. Mereka berkumpul kembali seperti tadi, hanya saja kali ini lebih tenang dan terkontrol. Tak terlalu menegangkan. Chintya dan Ningsih membantu memapah Luna ke ruang tamu. Dengan suara yang parau, Luna kembali menjelaskan, pikirannya menerawang jauh, mengenang masa yang telah lalu. "Dulu, beberapa tahun yang lalu. Aku pernah putus asa hingga rela terjun ke dunia kelam tanpa batas. Saat terlena menikmati gemerlapnya dunia, aku bertemu dengan Mas Frans yang berhasil merubahku meninggalkan dunia hitam. Untuk Lita, maaf beribu maaf aku sampaikan dari hatiku yang paling dalam. Jauh sebelum Mas Frans dijodohkan denganmu, dia adalah kekasihku. Kami saling mencintai dan berniat untuk menikah. Namun, karena perbedaan kasta, Papa Mas Frans tak pernah sudi menjadikanku menantu. Hingga tiba-tiba, Mas Frans hilang tanpa kabar, membuatku frustasi dan terpuruk. Sejak saat itulah, aku berjanji untuk keluar dari lembah maksiat. Lambat laun aku mulai bangkit dari keterpurukan, menjalani lembaran baru bersama Mas Fathir. Akan tetapi, saat aku mulai menempuh hidup baru, Mas Frans kembali hadir membawa sejuta kenangan yang membuatku terlena dan mengulangi kisah cinta yang belum usai. Semua berjalan dan mengalir begitu saja. Ampuni aku, Mas. Aku khilaf, selama ini aku kufur, tak pandai bersyukur. Jujur saja, aku mencintaimu, Mas. Teramat menyayangimu, aku jatuh cinta padamu, Mas. Dan bodohnya aku baru menyadari semua itu. Maaf, Mas. Aku memang keterlaluan, aku janji dan bersumpah, Mas. Aku tak mengulangi lagi." Luna bersimpuh memeluk kaki Fathir sambil menangis. Fathir tak bergeming, bahkan melirik sekilas ke arah Luna pun ia enggan. Luna mengusap air matanya, menuju ke arah Ningsih, tanpa disangka Luna berhambur memeluk Ningsih dengan tangisan semakin menjadi-jadi. "Mba Ningsih, maafin Luna kalau Luna udah keterlaluan sama Mba. Jujur aja Luna gak tau, Mba. Kalau Luna tau Mas Rival suaminya Mba, Luna gaakan mau, Mba. Maafin Luna ya, Mba. Bukan maksud Luna buat nyakitin Mba Ningsih. Sumpah Luna gak ada hubungan apa-apa dengan Mas Rival, Mba. Semua hanya masa lalu, Luna menyesal. Mba Ningsih percaya sama Luna, Mas Rival hanya butuh hiburan. Mba Ningsih mau kan maafin Luna?" Luna melepaskan pelukannya, matanya menatap Ningsih dengan sayu. Tanpa disadari, air mata Ningsih meluruh. Ningsih membalas pelukan Luna tanpa suara. Bapak dan Ibu yang menyaksikan tragedi anak-anaknya hanya tertunduk lesu, pasrah dengan keputusan mereka. Setelah puas berpelukan dengan Ningsih, Luna menghampiri Lita yang menatapnya dengan sorot kebencian. Luna duduk di hadapan Lita, menatap Lita dalam, yang ditatap hanya diam, berusaha mengalihkan pandangan lawan bicaranya. "Aku minta maaf juga sama kamu. Bagaimanapun ini salahku, aku melakukannya dengan penuh kesadaran. Kamu berhak menghukumku sesukamu, bahkan hukuman apapun tak akan mungkin sanggup menyembuhkan hatimu yang terluka karna goresanku. Namun satu pelajaran berharga yang harus kamu pahami, cinta memang tak bisa dipaksakan. Kamu berhak bahagia, jangan sampai kamu salah memilih cinta" karena tak mendapat sambutan apapun dari Lita, Luna kembali berjalan ke arah Fathir. Berharap suaminya mau memaafkan semua kesalahannya. "Sudahlah, aku butuh waktu Lun" ujar Fathir dingin. "Iya, Mas. Aku akan tunggu sampai kapanpun itu, untuk menebus semua kesalahanku padamu" Luna tersenyum tipis. "Kamu boleh tetap tinggal disini, tapi maaf aku tak ingin berinteraksi lebih denganmu. Dan satu hal lagi, aku ingin mengajukan tes DNA, begitu anak ini lahir. Aku hanya ingin memastikan, keputusanku nantinya tak salah hingga aku tak perlu menyesal" ucap Fathir mantap. "Bb..baik, Mas" ujar Luna tergagap. Seketika suasana menjadi hening, semua sibuk dengan pikiran masing-masing. "Kenapa kamu diam saja, Mas? Terlalu terkejutkah dirimu hingga tak mampu berbicara sepatah katapun sedari tadi?" ucapan Lita untuk Frans sanggup memecah keheningan. Sontak, semua mata mengarah pada Frans yang sedang menundukkan kepala. Karena drama permintaan maaf dari Luna, semua lupa akan kehadiran Frans. "Ap..Ap..Apa maksudmu?" Frans tak berani menatap mata Lita di hadapannya. "Aku pikir kamu tidak tuli dan cukup mengerti untuk mencerna perkataan Fathir baru saja" tegas Lita. Frans menggeleng lemah. "Fathir akan mengajukan test DNA, untuk memastikan benih siapa yang dikandung Luna. Tak peduli apapun hasilnya nanti, entah anakmu atau bukan, aku tetap pada keputusanku. Aku akan menggugat cerai, biarkan Lala bersamaku di rumah Papa, kita akan bertemu lagi di Pengadilan" Lita mengemasi semua file dan dokumen yang berserakan. Mematikan laptop dan beranjak berdiri hendak meninggalkan Frans. "Jangan mengambil keputusan sembarangan, apa kamu tak kasihan pada Lala? Apa kata Papa nantinya? Sengajakah kamu menghancurkan hidupku? Jangan main-main, Lit. Aku mohon" wajah Frans memelas sambil memegang tangan Lita agar tak beranjak meninggalkannya. "Ya. Setelah kamu berhasil menghancurkan hidupku, maka saatnya aku yang akan menghancurkan hidupmu, Mas. Tak usah belagak peduli pada Lala, sebentar lagi kamu juga akan mempunyai anak dari wanita lain kan? Pastinya kamu tak akan butuh lagi padaku ataupun Lala" Skakmat. Kalimat Lita berhasil membuat Frans mati kutu. Bahkan semua yang berada di ruangan, tak sanggup menelan ludah mencerna kalimat yang dilontarkan Lita. "Gak usah kaget gitu, Mas. Aku hanya menduga, siapa tahu itu memang darah dagingmu. Sudahlah, aku pamit. Kamu gak usah mencari tahu tentangku dan Lala, jangan habiskan tenagamu untuk orang yang tak pernah kau cinta. Bapak, Ibu, Mba Ningsih, Chintya dan semua, Lita pamit dulu. Lita mohon maaf sekali lagi, sudah membuat kegaduhan. Lita rasa semua sudah jelas dan terima kasih kalian semua sudah ngijinin Lita mengungkap kebenaran. Lita pulang dulu, Assalamualaikum semuanya. Semoga kita bertemu lagi dengan kondisi hati yang bahagia" Lita berpamitan dengan senyuman yang tulus. Frans berlari tergopoh-gopoh mensejajarkan langkahnya mengejar Lita. Bapak masuk ke dalam kamar tanpa sepatah katapun, disusul Ibu. Rival dan Ningsih ikut masuk ke kamar mereka, sepertinya menyelesaikan masalahnya sendiri. Fathir mengambil kunci dan berlalu pergi, tak menggubris Luna yang bertanya akan kepergiannya. Chintya hanya menghela nafas panjang, menggandeng Kiara diikuti oleh Arif masuk ke dalam kamar. Tinggal lah Luna sendirian, meratapi dan menyesali semuanya. Ia terus-terusan memukul perutnya, seakan yang terjadi adalah kesalahan janin yang ada di dalam rahimnya. Bagaimana nasib Luna setelahnya? Bertahankan ia bersama calon anak yang sedang tumbuh dengan baik di dalam rahimnya ? Sanggupkah Luna menghadapi dan menerima semua hukuman atas perbuatannya ? Apa langkah Fathir selanjutnya? Ahhh ... Coba yuk tebak! Tulis di kolom komentar yaaa, jangan lupa tap tombol like nya, semakin banyak komentar dan like maka akan semakin cepat juga Mamak updatenya...love you All 😘😘😘 ***** ****** ******* ****** Tetep staytune yaaaa Sayang2nya mamakkkkkkk...... Setia terus yuk ikutin kisah Luna 😘😘😘😘 ******* ******* ******* ****** ******* ******** ******** Bakal makin seru nih kelanjutannya, yuk simak terus kisahnya ya Shay... Mamak sayang kalian semua .... Ditunggu next nya 😘😘😘😘 ****** ****** ****** ****** ****** ****** ****** ****** ****** Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️ Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘 Kali ini, yang udah baca sampe sini, wajib KOMEN!!!!!! Tunjukin dong kalo kalian suka sama cerita Luna, biar Mamak seneng gitu huhu. Yuk komen yuk!!!
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0keren ceritanya lanjut kan
18/03/2025
0Tingnan Lahat