Luna sampai di rumah sekitar pukul 19.00. Fathir yang melihat kepulangan istri sahnya tampak lega. Matanya memancarkan kebahagiaan. "Alhamdulillah akhirnya sampe rumah. Macet ya Sayang?" Fathir dengan sigap membawakan tas dan beberapa kantong belanja milik Luna. "Iya Mas, maaf ya aku pulang telat. Suka lupa waktu kalo udah kumpul" Luna tersenyum tanpa dosa, tak merasa bersalah sekalipun. "Yaudah kamu mandi dulu gih terus makan ya. Biar seger" "Iya Mas" *** Sepeninggal Luna mandi, Fathir membongkar tas dan kantong belanjaan Luna, tak ada yang aneh. Hanya ada beberapa helai pakaian , aneka macam kue dan pernak-pernik wanita lainnya. Fathir merasa bersalah karena mencurigai istrinya. Setan apa yang udah merasukiku sampai aku segitunya sama Luna, batin Fathir. Segera ia rapikan kembali kantong belanja yang sempat dibongkarnya. Tatapannya tertuju ke ponsel Luna yang tergeletak di tempat tidur. Ingin meraihnya, mencari tahu apa saja isi di balik ponsel Luna, namun segera diurungkan niatnya. Semenjak mereka kenal hingga kini Luna menjadi istrinya, Fathir tak pernah sekalipun membuka ponsel milik Luna, menyentuhnya saja hampir tak pernah. Sama seperti Luna, tak pernah kepo dengan isi ponsel milik Fathir. Luna sangat menghargai privasinya. Berbeda dengan rekan-rekan di kantornya yang setiap hari berceloteh karna istri mereka yang selalu mengontrol isi ponsel suaminya. Fathir tersenyum dalam hati, tenang dan nyaman sekali berkeluarga dengan Luna. Luna bukan istri yang ribet, cerewet maupun cemburuan ,apalagi posesif. Luna istri yang pengertian dan tak banyak mengatur . Tapi satu kelemahan Luna, sifat foya-foya dan borosnya lah yang kadang membuat Fathir geleng-geleng. Tapi tak apa, selama Luna bahagia Fathir akan selalu menurutinya. Lagian juga di dalam rejeki yang diperoleh Fathir ada hak Luna disana, jadi biarkan Luna yang menghabiskannya. *** Pagi yang cerah, aku sudah sampai di rumah Ibu. Mas Rival berangkat lebih awal, itu karnanya sekalian mengantarkanku dan Alea pagi-pagi sekali kesini. "Berangkat Dek?" Aku menyapa Fathir yang sudah rapi dengan seragam dinasnya sedang memakai sepatu. "Iya Mba" "Ndak sarapan dulu?" "Udah kok Mba, tadi beli nasi pecel di Mak Wita" Aku mengangguk paham. "Fathir pamit Mba, berangkat dulu ya" Fathir mencium punggung tanganku. "Lho istrimu mana? Suaminya berangkat kok nggak nganter keluar?" Aku menatapnya heran. "Luna tidur Mba, kasihan semalam habis dari Puncak. Kecapean, biarkan istirahat" Fathir berlalu menaiki motor sportnya. "Yaudah sana kamu berangkat. Hati-hati lho ya, ndak usah ngebut!" Setelah deru motor Fathir tak terdengar lagi, aku bergegas mengetuk pintu kamar Luna. "Bangun Lun, jam berapa ini?" Ujarku sambil mengetok pintu. Tak ada sahutan, Luna sepertinya masih tidur dengan nyenyak . *** Pukul 11.00 siang Chintya datang bersama Kiara. Tak lama kemudian , Lita juga datang dan ikut bergabung. "Wah akhirnya kumpul bareng lagi, bakal seru nih," ujar Chintya berbinar. Lita hanya menanggapi dengan senyuman. "Ngerujak yuk, enak deh pas banget cuacanya," ucapku antusias. "Wah, boleh! Bentar ya aku cek dulu di kulkas ada buah ndak" Chintya bergegas pergi meninggalkan aku dan Lita yang sedang asyik menemani Kiara bermain bersama Alea. Aku menatap Lita takjub, wanita di depanku ini sungguh cantik. Terlihat berkelas dan elegan. Tampak luar sih selevel jika dibandingkan dengan Luna, namun sifat mereka sangat bertolak belakang. Latar belakang keluarga dan pendidikan juga berpengaruh rupanya. Ingatanku berputar pada waktu lalu, saat beberapa kali aku tak sengaja memergoki Luna bersama Frans membuatku iba melihat Lita yang kurasa mulai dipermainkan oleh mereka. "Mba Ningsih, kok ngelihatin aku segitunya?" cengir Lita. Aku tergagap, merasa canggung karena kepergok sedang mengamatinya. "Ehm ehh nggak, anu itu. Kamu perawatan dimana? Cantik banget" lihatlah, aku mulai ngelantur. "Huahahahahha, Mba bisa aja. Mba Ningsih juga glowing kaliiiii. Padal usia jauh beda sama aku ,tapi kita kaya seumuran ya" Lita mulai menggodaku . Kami tertawa bersama. "Asyik banget ketawanya, kedengeran sampe dalem nih" Luna muncul dengan tampilan acak-acakan khas bangun tidur. "Eh Tuan Puteri udah bangun. Maaf ya tamunya mengganggu" sindirku pedas. "Lagi pada ngapain ? Kayanya seru" Luna menghampiri kami dan ikut bergabung. Tak sengaja kulihat Lita yang sedang menatap Luna, sorot matanya terlihat tajam seperti ingin membunuh , ngeri aku dibuatnya. Hanya sekejap, Lita berubah tersenyum manis menyapa Luna. "Wah ini istri Fathir ya? Sini gabung biar makin seru" Aneh, kenapa Lita mendadak jadi baik ke Luna? Bukankah beberapa detik lalu tatapannya ingin menelan Luna bulat-bulat. Atau aku salah lihat ya? Ah yasudahlah, urusan masing-masing itu mah. "Rujak siap, mari kita santap" Chintya membawa sebaskom penuh buah-buahan. Ada mentimun, pepaya, nanas, mangga muda ,belimbing dan kedondong. Tak lupa bumbu olahan kacang dipadukan dengan gula merah ,cabai dan cuka sangat menggugah selera. "Wah mantap ini" ujarku bersemangat, tak sabar menikmati. "Eh eh tunggu dong , ini cabe berapa?" Luna mengernyit. "Entahlah, mana ngitung aku. Udahlah makan aja" Chintya menyahut. "Tapi kan kamu tau aku ndak suka pedes, bisa sakit perut aku ntar" suara Luna yang lembut terdengar menjijikkan di telingaku. "Bodo amat" serentak aku dan Chintya menyahut bersamaan , sehingga membuat kami tertawa. Lita yang menyaksikan pun ikut tertawa. "Huh hah huh hah huh....Ssh..ssshh aduh Mba pedes . Minum dong!!" Luna mengibaskan tangan di depan bibir , keringatnya bercucuran. "Yeee sana ambil sendiri, emangnya aku babumu," ujarku tak peduli. "Tauk,males banget sih! Tadi katanya gasuka pedes, bisa sakit perut. Tapi doyan juga" Chintya menimpali. Luna hanya melengos lalu pergi ke dapur untuk mengambil minum. Beberapa detik kemudian .... "Mbaaaaaaaaa" teriakan Luna terdengar nyaring dari arah dapur. Chintya tertawa cekikikan. Aku dan Lita menatap Chintya kebingungan "Biar tau rasa!" Chintya kembali terkikik. "Kenapasih?" Ujarku kepo. "Galon kan habis Mba, gaada air sama sekali. Mungkin dia minum air di gelas tupperwade milik Kiara" Aku masih tak paham ucapan Chintya. "Masalahnya, di gelas itu airnya udah kecampur nasi bekas semburan Kiara pas makan tadi" Chintya kembali tertawa . Kali ini lebih kencang . Aku dan Lita ikut tertawa , Lita terlihat sangat senang. Entah kenapa. "Terus kita minum apa dong?" "Tenang Mba, ini dia!" Chintya menunjukkan 3 botol besar air minum kemasan di dalam kresek putih berlogo Indojuni . "Wah keterlaluan kamu usilnya. Tapi seru sih. Hahahahha" Tak henti-henti kami tertawa. "Halah Mba,yang dilakuin Chintya itu masih ringan. Belum seberapa" kali ini Lita menyahut . Aku menatapnya dalam, mencari arti dari kalimatnya barusan. Apa maksutnya? Lita hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya, terlihat salah tingkah. "Jorok banget sih kamu, air bekas ngapain disimpen? Buang dong" Luna kembali menghampiri kami sambil mengomel. "Yeee, salah siapa rakus! Kapok kan" Chintya menekan ucapannya. Luna tak menyahut lagi, asyik dengan ponselnya. "Senyum-senyum sendiri, segitunya kalo pengantin baru. Fathir bisa romantis ya? Aku kira dia type es batu" Lita menyindir Luna. "Kenapa? Iri gapernah di romantisin suami? Kasian!" Luna menatap Lita ketus. "Aku? Iri sama kamu? Buat apa!" Lita meninggikan suaranya. "Nyatanya aku jauh lebih segalanya dari kamu, makanya kamu iri. Kenapa sih tiba-tiba sewot gitu sama aku. Kenal juga enggak!" Luna mengibaskan rambutnya, sengaja memancing emosi Lita. Wajah Lita merah padam, termakan omongan Luna. "Eh udah..... Kok jadi berantem beneran gini sih?" Chintya menengahi. "Adik iparmu tuh gaada akhlaq! Harusnya taulah ngomong sama orang yang lebih tua itu kayak gimana" Lita mulai mengatur napas, mengontrol emosinya . "Tua, iyaiya tua. Dih yang udah tua, dasar tua. Hahahhahah, canda tua" Luna tersenyum mengejek . "Udah Lit, anggap ga waras" aku menepuk pelan pundak Lita. Berhasil, Lita tak menggubris. "Yaudahdeh, aku pamit undur diri mau mandi terus cus deh shopping. Biar awet muda gitu, males deh kumpul sama orang tua kek kalian, jadi ikut tua ntar. Bye!" Luna melambaikan tangan, berjalan geal-geol menuju kamarnya . "Kok onok wong edan koyok ngono yo" (Kok ada orang gila seperti itu ya), aku mengelus dada sabar. "Duh, iparmu segitunya ya Mba. Pingin aku pites deh sumpah!" Lita terlihat geram . "Taudeh, ajaibnya ga tanggung-tanggung" Chintya mengedikkan bahu. "Lagian tak liat-liat nih. Kamu kayaknya emosi banget sama Luna, ada apa?" "Eh....hhh...nggak Mba" Lita tergagap. Aku merasa Lita seperti menyembunyikan sesuatu. ****** ****** ****** Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe. Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rejeki kalian semua & memudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rejeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin. Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru. Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus
4d
0nowelnya bagus
16/08
0seruuuu
19/03/2025
0Tingnan Lahat