logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

TUAN POSESIF

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, membebaskan ratusan siswa SMA Harapan Bangsa dari penatnya pelajaran hari itu. Namun bagi Alena, bunyi bel itu bukanlah tanda kebebasan, melainkan alarm yang menandakan bahwa waktunya sebagai siswi biasa telah habis. Waktunya kembali menjadi milik Arzan.
Alena buru-buru mengemas buku-bukunya ke dalam tas.
"Al, kamu buru-buru banget? Nggak ikut nongkrong dulu di kantin depan?" tanya Dita sambil merapikan rona pipinya di cermin kecil.
"Maaf banget, Dit. Aku harus langsung ke rumah sakit buat jenguk ibuku," bohong Alena lagi. Kebohongan demi kebohongan mulai terasa seperti makanan sehari-harinya.
"Oh, iya juga. Ya udah, titip salam buat Tante Widya ya. Hati-hati di jalan!"
Alena mengangguk, lalu melangkah cepat keluar dari area sekolah. Sesuai kesepakatan, ia berjalan menuju minimarket yang terletak dua blok dari gerbang sekolah. Di sana, mobil sedan hitam milik Yudha sudah terparkir rapi dengan mesin yang menyala.
Begitu Alena mendekat, pintu belakang mobil terbuka otomatis dari dalam. Alena segera masuk dan duduk di kursi penumpang. Namun, jantungnya mendadak berhenti berdetak selama satu detik saat melihat siapa yang duduk di sampingnya.
Bukan kursi kosong, melainkan sosok Arzan Dirgantara yang sedang fokus membaca berkas di pangkuannya. Pria itu masih mengenakan kemeja formal tanpa jas, dengan lengan yang digulung rapi. Aura dominannya seketika memenuhi kabin mobil yang sempit.
"M-Mas Arzan? Kenapa ada di sini?" tanya Alena terbata-bata. Setahu Alena, Yudha yang harusnya menjemputnya.
Arzan tidak langsung menjawab. Ia menutup berkasnya, menyerahkannya pada Yudha yang berada di kursi kemudi, lalu menoleh ke arah Alena. Mata elangnya meneliti penampilan Alena dari atas ke bawah—rambutnya yang dikuncir kuda, seragamnya yang sedikit kusut setelah seharian belajar, hingga kaos kaki putihnya.
"Aku punya waktu luang di antara jam rapatku," jawab Arzan datar, namun tatapannya begitu mengintimidasi. "Dan aku ingin melihat apakah sugar baby-ku mematuhi aturanku untuk tidak terlambat."
Arzan mengulurkan tangan, menarik tengkuk Alena mendekat secara tiba-tiba. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti. Arzan menghirup aroma leher Alena yang masih menyisakan wangi bedak bayi dan keringat tipis khas remaja.
"Kau wangi matahari," bisik Arzan, suaranya serak. "Tapi aku tidak suka ada aroma lain di tubuhmu. Tadi aku melihat dari kejauhan, ada seorang siswa laki-laki yang mencoba bicara padamu di koridor dekat gerbang. Siapa dia?"
Alena tersentak. Jadi, Arzan sudah mengawasinya sejak ia melangkah keluar dari gerbang? "Itu... itu cuma Kevin, Mas. Dia ketua OSIS. Dia cuma menanyakan soal tugas kelompok, tidak ada apa-apa lagi."
Arzan mencengkeram rahang Alena dengan lembut namun penuh penekanan, memaksa gadis itu menatap matanya yang sedalam lautan malam.
"Dengar, Alena. Aku membayar mahal untuk kepemilikan mutlak atas dirimu. Aku tidak suka barang milikku ditatap, didekati, atau disentuh oleh bocah-bocah ingusan di sekolahmu. Ingat posisimu," ucap Arzan dengan nada posesif yang dingin.
"I-iya, Mas. Aku mengerti," bisik Alena pasrah. Rasa takut dan debar aneh di dadanya bercampur menjadi satu setiap kali Arzan menunjukkan sifat posesifnya.
Arzan melepaskan cengkeramannya, lalu mengetuk sandaran kursi Yudha. "Yudha, jalan. Kita ke butik milik Madam Chloe sekarang."
"Baik, Tuan." Mobil pun melaju membelah jalanan kota yang mulai padat.
"Butik? Untuk apa kita ke sana, Mas?" tanya Alena heran.
"Malam ini ada jamuan makan malam privat dengan beberapa kolega bisnisku. Kau harus mendampingiku," jawab Arzan santai sembari menyandarkan punggungnya yang tegap.
"Tapi... aku kan masih pakai seragam, Mas. Lagipula, aku tidak tahu cara bersikap di depan orang-orang kaya seperti Anda," ujar Alena panik. Membayangkan dirinya harus masuk ke dunia Arzan yang glamor membuatnya merasa sangat minder.
Arzan menoleh, menatap Alena dengan senyuman tipis yang sarat akan pesona misterius.
"Maka dari itu kita ke butik, Alena. Di sana, mereka akan menyulapmu dari seorang siswi SMA yang polos... menjadi wanita tercantik yang mendampingi Arzan Dirgantara malam ini. Soal cara bersikap, cukup berdiri di sampingku, tersenyum, dan biarkan semua orang tahu bahwa kau adalah milikku."
Alena hanya bisa meremas rok abu-abunya. Ia menyadari satu hal: di bawah kendali Arzan, ia tidak lagi memiliki hak atas tubuhnya, waktunya, bahkan pilihan pakaiannya. Sangkar emas itu kini pintunya semakin tertutup rapat.
---
Butik milik Madam Chloe bukan sekadar toko baju. Terletak di kawasan tersembunyi Menteng, tempat ini adalah sebuah mansion kolonial yang diubah menjadi ruang pamer busana haute couture khusus kalangan super-rich. Tidak ada papan nama di luar, karena hanya mereka yang memiliki kartu keanggotaan khusus—atau pengaruh sebesar Arzan Dirgantara—yang bisa melangkah masuk.
Begitu pintu jati besar itu terbuka, dua orang pelayan dengan setelan jas rapi langsung membungkuk hormat.
"Selamat sore, Tuan Dirgantara. Madam Chloe sudah menunggu Anda di dalam," ucap salah satu pelayan dengan nada yang sangat sopan. Arzan hanya mengangguk samar, tangannya beralih ke pinggang Alena, meremasnya pelan untuk menuntun gadis itu berjalan di sampingnya. Alena merasa sangat kerdil. Langkah kakinya yang dibungkus sepatu kets sekolah terasa berisik di atas lantai marmer mengilat.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian serba hitam yang sangat modis dan kacamata berbingkai emas berjalan mendekat. Dialah Madam Chloe. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Alena, menelitinya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan seorang kurator seni melihat kanvas kosong.
"Oh, Arzan... jadi ini 'permata' baru yang kau ceritakan di telepon?" suara Madam Chloe terdengar renyah namun berwibawa. "Sangat muda. Dan... seragam sekolah? Selera yang sangat berani, Tuan Milyarder."
Alena merona merah karena malu. Ia merasa seperti sepotong daging yang sedang dinilai kualitasnya.
"Ubah dia menjadi wanita paling memukau malam ini, Chloe. Tapi ingat, pertahankan kesan murni di wajahnya. Aku tidak suka riasan yang terlalu tebal," perintah Arzan mutlak. Ia kemudian mendudukkan dirinya di sebuah sofa beludru mewah, menerima secangkir espresso yang disuguhkan pelayan.
"Serahkan padaku," jawab Chloe penuh percaya diri. Ia lalu menggandeng lengan Alena. "Mari ikut saya, Sayang."
Alena dibawa ke sebuah ruangan besar yang dikelilingi cermin raksasa dan deretan gaun-gaun malam yang berkilauan. Selama dua jam berikutnya, Alena merasa tubuhnya bukan lagi miliknya. Kulitnya dibersihkan, rambutnya yang panjang dan hitam legam ditata menjadi sanggulan modern yang menyisakan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang tirus. Riasan wajahnya dibuat sangat natural (no-makeup look), namun entah bagaimana berhasil menonjolkan mata bulat Alena yang jernih dan bibirnya yang penuh.
Terakhir adalah gaunnya. Chloe memilihkan sebuah slip dress panjang berbahan sutra premium berwarna hijau zamrud (emerald green). Gaun itu melekat sempurna di tubuh Alena yang ramping, mengekspos punggungnya yang mulus berkat potongan pola yang rendah di bagian belakang.
Saat Alena melangkah keluar dari ruang ganti dengan mengenakan sepatu hak tinggi beludru hitam setinggi sembilan sentimeter, keheningan langsung melanda ruangan.
Arzan, yang sedang menatap layar ponselnya, perlahan menurunkan gawainya. Mata elangnya terpaku pada sosok Alena. Kilat kepuasan, obsesi, dan gairah yang gelap melintas di netra pria itu. Alena tidak lagi terlihat seperti siswi SMA yang malang. Ia telah menjelma menjadi seorang dewi yang anggun, namun tetap memancarkan aura kepolosan yang memikat.
Arzan bangkit dari sofanya, berjalan mendekati Alena. Suara ketukan sepatunya terdengar tegas di keheningan ruangan. Ia berdiri di hadapan Alena, menatap leher jenjang gadis itu yang masih kosong.
Dari saku celananya, Arzan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam. Ia membukanya, menampilkan sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian berbentuk tetesan air yang berkilau mewah.
"Pakai ini," bisik Arzan. Ia membalik tubuh Alena, menyibakkan helaian rambut di lehernya, lalu memakaikan kalung itu. Sentuhan jemari hangat Arzan di kulit leher Alena yang dingin membuat gadis itu merinding pelan.
"M-Mas Arzan... ini terlalu mahal," bisik Alena saat melihat pantulan dirinya di cermin. Kalung itu pasti berharga ratusan juta, atau bahkan miliaran.
"Tidak ada yang terlalu mahal untuk wanitaku," jawab Arzan di dekat telinga Alena, napasnya yang hangat menggelitik kulitnya. "Malam ini, kau akan masuk ke duniaku. Semua mata pria di ruangan itu akan menatapmu, tapi ingat... kau hanya pulang bersamaku."
Arzan mengulurkan lengannya, memberi isyarat agar Alena menggandengnya. Dengan jantung yang berdebar kencang menembus dada, Alena menyelipkan jemarinya di lengan kokoh sang milyarder. Transformasi pertamanya telah selesai, dan babak baru di dunia kaum elit Jakarta siap menyambutnya.

Komento sa Aklat (2)

  • avatar
    SajaApa

    lanjut

    23d

      0
  • avatar
    Nevii_Chaa

    saya suka

    23d

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata