Sentuhan bibir Arzan terasa seperti sengatan listrik yang melumpuhkan seluruh saraf di tubuh Alena. Kecupan itu tidak kasar, melainkan sebuah tekanan yang dalam, menuntut, dan penuh dengan dominasi yang absolut. Alena yang tidak pernah sekalipun berciuman hanya bisa mematung, meremas rok seragamnya yang basah dengan jari-jarinya yang gemetar. Ketika Arzan melepaskan pagutan itu, ia menatap bibir Alena yang kini sedikit memerah karena ulahnya. Ada kilat kepuasan di mata elang pria itu saat melihat kepolosan Alena yang begitu nyata. "Masih terlalu kaku," bisik Arzan, ibu jarinya mengusap sudut bibir Alena dengan lembut namun posesif. "Tapi aku suka barang yang masih murni. Kau akan belajar banyak hal denganku, Alena." Mobil limosin mewah itu akhirnya berhenti di pelataran parkir bawah tanah sebuah gedung *penthouse* eksklusif di kawasan SCBD. Kawasan yang hanya bisa diimpikan oleh orang-orang dari kalangan Alena. "Turun," perintah Arzan singkat sembari merapikan jasnya yang sedikit kusut. Alena melangkah keluar dengan ragu. Tubuhnya yang kuyup membuat lantai marmer lobi privat itu basah oleh tetesan air. Ia merasa seperti sebuah noda kotor di tengah kemegahan bangunan itu. Mereka naik menggunakan lift khusus yang langsung menuju lantai teratas—lantai 27. Begitu pintu lift terbuka, Alena disuguhi pemandangan sebuah *penthouse* yang luar biasa luas dengan dinding-dinding kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta di bawah guyuran hujan. "Mulai malam ini, ini adalah tempatmu," ujar Arzan sembari berjalan menuju meja bar dan menuangkan segelas air putih, lalu menyodorkannya pada Alena. "Minum. Kau terlihat seperti mayat hidup." Alena menerima gelas itu dengan tangan bergetar, meminumnya hingga tandas. Rasa hangat sedikit menjalar di tenggorokannya yang kering. "Yudha sudah menyiapkan segala kebutuhanmu di kamar utama. Masuklah, bersihkan dirimu, dan ganti pakaianmu dengan apa yang sudah disediakan di atas tempat tidur," kata Arzan, matanya menatap Alena dari atas ke bawah. "Aku tidak suka melihatmu memakai baju basah dan kotor itu lebih lama lagi." Alena mengangguk patuh. Ia berjalan perlahan menuju kamar utama yang ditunjuk oleh Arzan. Begitu pintu kamar terbuka, Alena kembali dibuat terpaku. Kamar itu lebih luas daripada seluruh rumah kontrakannya. Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang berukuran *king-size* dengan sprei sutra berwarna abu-abu gelap. Di atas ranjang itu, selembar gaun tidur berbahan satin tipis berwarna merah marun sudah terhampar rapi. Di sampingnya, terdapat sebuah kotak perhiasan kecil dan sebuah ponsel pintar keluaran terbaru. Dengan langkah gontai, Alena masuk ke dalam kamar mandi mewah yang berdinding marmer putih. Ia menyalakan pancuran air hangat, membiarkan air mengguyur seluruh tubuhnya, meluruhkan sisa-sisa air hujan dan air mata yang mengering di pipinya. Di bawah guyuran air hangat itu, Alena akhirnya menangis tanpa suara. Ia menangisi masa mudanya yang baru saja ia jual. Namun, di sisi lain, ia juga merasa lega karena tahu malam ini ibunya mendapatkan perawatan terbaik dan adiknya aman dari kejaran lintah darat. Dua puluh menit kemudian, Alena keluar dari kamar mandi dengan mengenakan gaun tidur satin merah marun pilihan Arzan. Gaun itu memiliki potongan dada yang rendah dan tali tipis yang mengekspos bahunya yang putih bersih. Bahannya yang tipis jatuh dengan pas di tubuhnya, memperlihatkan siluet tubuhnya yang indah namun masih tampak begitu muda. Alena berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya sendiri. Ia hampir tidak mengenali gadis di dalam cermin itu. Kemana perginya siswi SMA yang biasa memakai sepatu usang dan membawa tas ransel berat? *Klek.* Suara pintu kamar yang terbuka membuat jantung Alena serasa copot. Melalui pantulan cermin, ia melihat Arzan masuk. Pria itu sudah melepas jas dan dasinya. Kini ia hanya mengenakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya terbuka, serta lengan baju yang digulung hingga siku, menampilkan lengan kokoh yang dipenuhi urat-urat jantan. Arzan berjalan mendekat, langkah kakinya hampir tak terdengar di atas karpet tebal. Ia berdiri tepat di belakang Alena, menatap pantulan gadis itu di cermin. Kedua tangan kekar Arzan perlahan turun dan mendarat di bahu Alena yang terbuka, meremasnya pelan. "Kau sangat cantik, Alena. Jauh lebih cantik dari yang kubayangkan saat melihatmu di jalanan tadi," bisik Arzan, suaranya kini terdengar lebih serak dan berat. Alena menunduk, tidak berani menatap mata Arzan di cermin. "Terima kasih, Tuan..." "Jangan panggil aku Tuan saat kita sedang berdua di dalam kamar ini," potong Arzan dingin, memberikan kecupan lembut di ceruk leher Alena, membuat gadis itu tersentak kecil dan menahan napas. "Panggil aku... Mas Arzan." "M-Mas Arzan..." ucap Alena dengan nada yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan. Arzan tersenyum puas mendengarnya. Ia membalikkan tubuh Alena agar menghadap langsung ke arahnya. Jari-jari tangan Arzan dengan lembut menelusuri rahang Alena, lalu turun ke leher, dan berhenti tepat di tali gaun tidur tipis milik gadis itu. Malam yang panjang baru saja dimulai, dan di dalam kamar bernomor 27 itu, Alena menyadari bahwa ia telah sepenuhnya masuk ke dalam sangkar emas yang tidak akan pernah melepaskannya lagi. --- Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden otomatis penthouse lantai 27, menyinari wajah Alena yang perlahan membuka mata. Tubuhnya terasa remuk, dan ada rasa ngilu yang asing di beberapa bagian tubuhnya. Kesadaran menghantamnya seperti ombak keras—ia bukan lagi Alena yang bebas. Ia telah resmi menjadi milik Arzan Dirgantara. Alena menoleh ke samping tempat tidur mewah itu. Kosong. Hanya ada kelekan sprei yang kusut dan aroma parfum sandalwood yang masih tertinggal tajam. Di atas nakas, terdapat selembar kertas catatan kecil berlogo perusahaan dirgantara dengan tulisan tangan yang rapi namun tegas: "Yudha akan mengantarmu ke sekolah. Seragammu yang baru sudah disiapkan di ruang pakaian. Jangan terlambat, aku tidak suka wanita yang tidak disiplin. — Arzan." Di samping catatan itu, tergeletak sebuah kartu hitam mengilat tanpa batas nominal (Black Card) dan sebuah ponsel baru yang semalam sempat ia lihat. Alena menghela napas berat. Ia segera turun dari ranjang, membersihkan diri, dan bersiap-siap. Di ruang pakaian, Alena terkejut melihat seragam SMA Harapan Bangsa miliknya yang kemarin basah kuyup kini sudah diganti dengan tiga pasang seragam baru yang masih wangi binatu mahal, lengkap dengan tas sekolah dan sepatu baru dari merek ternama. Arzan benar-benar memikirkan setiap detail dengan sangat mengerikan. Tepat pukul 06.30 WIB, Alena turun ke lobi privat. Di sana, Yudha—asisten pribadi Arzan yang bertubuh tegap dan berwajah kaku—sudah menunggu di samping mobil sedan hitam yang lebih rendah profilnya dari limosin semalam, sengaja agar tidak terlalu memancing perhatian di lingkungan sekolah. "Selamat pagi, Nona Alena. Saya yang akan bertanggung jawab atas transportasi dan kebutuhan Anda sehari-hari atas perintah Tuan Arzan," ucap Yudha dengan membungkuk hormat. "P-pagi, Pak Yudha. Terima kasih," jawab Alena canggung. Dipanggil 'Nona' oleh pria yang usianya jauh di atasnya membuat Alena merasa sangat tidak nyaman. Selama perjalanan menuju sekolah, pikiran Alena bercabang. Ia membuka ponsel barunya dan mendapati sebuah pesan singkat masuk dari nomor tidak dikenal, yang ia yakini adalah Arzan. [ Biaya rumah sakit ibumu sudah lunas untuk tiga bulan ke depan. Adikmu sudah dipindahkan ke apartemen khusus dengan penjagaan. Fokuslah pada sekolahmu hari ini, Sugar Baby. ] Air mata Alena hampir menetes melihat pesan itu. Di satu sisi, ia sangat bersyukur karena beban hidupnya terangkat dalam semalam. Namun di sisi lain, sebutan 'Sugar Baby' itu menampar kesadarannya tentang statusnya saat ini. Sesampainya di dekat gerbang SMA Harapan Bangsa, Alena meminta Yudha untuk memberhentikannya agak jauh dari gerbang sekolah. "Pak Yudha, berhenti di depan minimarket itu saja, ya. Saya jalan kaki dari sana." "Baik, Nona. Tuan Arzan meminta saya menjemput Anda tepat pukul 15.00 WIB di tempat yang sama. Harap jangan terlambat," ujar Yudha profesional. Alena turun dari mobil dengan perasaan was-was. Ia merapikan rok abu-abunya dan berjalan membaur dengan siswa-siswi lainnya. Berada di lingkungan sekolah yang familier mendadak terasa asing bagi Alena. Ia merasa seolah-olah semua orang bisa melihat dosa dan rahasia besar yang ia sembunyikan di balik seragam putih-abu-abunya yang rapi. "Alena!" Sebuah tepukan di bahu membuat Alena tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan tasnya. Ia menoleh dan mendapati Dita, sahabat dekatnya sejak kelas satu SMA, sedang tersenyum lebar. "Ya ampun, Al! Kamu kenapa sih kayak habis lihat hantu?" tanya Dita heran, memperhatikan wajah Alena yang sedikit pucat walau tampak lebih segar dari biasanya. "Eh, tunggu dulu... tas kamu baru ya? Mereknya... kok kayak merek mahal yang sering dipakai influencer di media sosial?" Jantung Alena berdegup kencang. Ia lupa bahwa tas yang disiapkan Yudha pagi ini adalah tas bermerek, meski desainnya terlihat sederhana. "Ah... ini? Bukan kok, Dit. Ini cuma barang KW super yang dibeli ibu lewat online shop minggu lalu sebelum masuk rumah sakit," bohong Alena, buru-buru menyembunyikan logo kecil di tasnya. "Kamu tahu sendiri kan, ibuku suka banget berburu barang diskonan." Dita mangut-mangut, percaya begitu saja. "Oh, kirain asli. Tapi omong-omong, gimana keadaan tante Widya di RSUD? Utang lintah darat yang waktu itu kamu ceritain gimana? Udah ada jalan keluar?" Mendengar pertanyaan Dita, tenggorokan Alena mendadak tercekat. Jalan keluar itu ada, dan jalan keluar itu melibatkan dirinya yang tidur di kamar seorang milyarder berusia 34 tahun semalam. "Semua... semua udah beres, Dit. Ibuku udah dipindahkan ke rumah sakit yang lebih baik, dan utang-utang itu... ada kerabat jauh papa yang tiba-tiba datang membantu," ucap Alena dengan senyum dipaksakan. "Syukurlah kalau begitu, Al! Aku ikut senang dengarnya. Berarti sekarang kamu bisa fokus buat ujian nasional minggu depan," sahut Dita tulus sembari merangkul pundak Alena. Alena hanya bisa mengangguk pelan. Namun, ketika mereka berjalan melewati koridor sekolah, mata Alena tidak sengaja menangkap sosok Kevin, ketua OSIS sekaligus cowok yang selama ini diam-diam menaruh hati padanya. Kevin tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Alena. Dulu, Alena mungkin akan tersenyum tersipu membalasnya. Tapi hari ini, Alena justru menundukkan kepalanya dalam-dalam dan mempercepat langkah. Ia merasa dirinya sudah terlalu kotor dan tidak lagi pantas berada di dunia remaja yang polos seperti Kevin. Di dalam kepalanya, bayangan wajah dingin Arzan Dirgantara seolah terus mengawasinya, mengingatkannya pada rantai tak kasat mata yang kini mengikat lehernya erat-erat.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
lanjut
25d
0saya suka
25d
0Tingnan Lahat