logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Dukun Online VS Tetangga Rese

Dukun Online VS Tetangga Rese

Amila FM


Gengsi di Depan Pagar

Pagi di Cluster Cendana bukanlah sekadar pergantian waktu dari gelap ke terang, melainkan fajar dimulainya sebuah kompetisi tak kasat mata. Bagi Leander Eron, suara mesin espresso otomatisnya yang mendesis halus di dapur bersih bergaya minimalis itu adalah satu-satunya hal yang masuk akal di dunia ini. Hidup Eron adalah sebuah garis lurus yang presisi. Segala sesuatunya harus terukur, dari mulai kadar kafein dalam cangkirnya hingga jadwal keberangkatannya yang tidak boleh meleset lebih dari dua menit.
​Namun, tepat di luar jendela rumahnya yang kokoh dengan aksen beton ekspos, sebuah "badai" lokal sudah mulai berkecamuk.
​"Eron! Lu manasin mobil ape mau bikin hajatan? Asepnya ampe masuk ke sela-sela jendela Nyak nih!" seru Nyak Rodiah dari balik pagar. Perempuan asli Rawabelong itu berdiri dengan gagah, mengenakan daster batik motif mega mendung yang warnanya sudah agak pudar namun keberaniannya tetap membara. Tangannya sibuk menyemprot tanaman lidah mertua dengan selang air, dengan tekanan yang sengaja ia arahkan sedikit terlalu dekat ke arah garasi Eron.
​Eron, yang baru saja selesai merapikan simpul dasi Windsor nya di depan cermin, hanya bisa memejamkan mata sejenak. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. "Nyak, ini mobil baru. Emisinya sudah standar Euro 5. Tidak ada asap, hanya uap air," jawab Eron dengan nada datar yang sudah terlatih menghadapi drama ibunya selama tiga dekade.
​"Bodo amat mau Euro ape Dollar! Intinya hidung Nyak gatel! Tuh, liat tetangga sebelah, udah keluar bawa koran. Malu dikit napa, jabatan lu kan CFO, Chief Finance Officer, masa kelakuan masih kayak supir ngetem di lampu merah Palmerah!" bisik Nyak Rodiah, meskipun volume 'bisiknya' masih bisa didengar hingga tiga blok ke depan.
​Tepat pada detik itu, gerbang rumah nomor 12 yang memiliki aksen kayu hitam elegan dengan ukiran geometris, terbuka dengan perlahan dan ritmis. Ibu Andi Tenri melangkah keluar. Ia adalah manifestasi dari keanggunan wanita Bugis di tengah kerasnya Jakarta. Kaftan sutranya berkibar tertiup angin pagi, rambutnya disanggul rendah dengan rapi dan seulas senyum tipis yang sarat akan makna tersungging di bibirnya.
​"Tabe, Bu Rodiah. Selamat pagi sekali kita' hari ini," sapa Ibu Tenri dengan nada yang begitu tenang namun mengandung frekuensi yang sanggup menggetarkan nyali lawan bicaranya. Matanya yang tajam langsung beralih ke arah Eron yang sedang menenteng tas kerja kulit asli Italia. "Eron, pagi-pagi sudah rapi sekali. Mau ke kantor ya? Anak saya, Rhea, tadi malam baru bisa memejamkan mata jam tiga pagi. Kasihan sekali, katanya sedang mengurus finalisasi kontrak dengan agensi kreatif di Singapura. Saya suruh dia istirahat, tapi dia bilang 'Siri', Ma. Kalau tanggung jawab belum selesai, pantang bagi dia untuk berhenti."
​Nyak Rodiah langsung mematikan keran airnya dengan sekali putar. Tubuhnya tegak seketika, radar kompetisinya menyala merah menyala. "Oh, si Rhea kerja ampe jam tiga? Rajin bener ya. Anak Nyak mah jam sembilan malem udah di rumah, Bu Tenri. Maklum, jabatannya kan udah tinggi banget, jadi tugasnya cuma perintah-perintah doang lewat HP, bukan ngerjain teknis yang bikin mata panda ampe begadang. Kasihan ya kalau masih harus kerja lembur gitu, berarti jabatannya belum 'nyantai' banget."
​Eron memalingkan wajah, pura-pura sibuk memeriksa ban mobilnya. CFO bukan berarti pengangguran terselubung yang hanya duduk manis, Nyak, batinnya miris.
​Di lantai dua rumah sebelah, di balik gorden yang sengaja hanya dibuka selebar satu inci, Rhea Calista menyaksikan seluruh drama itu sambil mengunyah sisa biskuit gandum dari dalam kaleng. Wajahnya masih sembap, dan rambutnya diikat asal-asalan menyerupai sarang burung. Ucapan ibunya soal "kontrak Singapura" adalah sebuah fiksi tingkat tinggi yang luar biasa. Kenyataannya, Rhea begadang hingga jam tiga pagi karena dikejar tenggat waktu revisi desain logo untuk sebuah kedai kopi di Depok yang pemiliknya hobi berganti konsep setiap kali melihat tren baru di TikTok.
​"Singapura matamu, Ma," gumam Rhea dengan suara serak. Ia menatap Eron yang kini sedang masuk ke dalam SUV hitamnya yang mengilat. Eron selalu terlihat sempurna, baju yang disetrika tanpa cela, rambut klimis dengan pomade mahal, dan ekspresi wajah seserius patung pahlawan di persimpangan jalan. Rhea membencinya. Ia membenci betapa Eron selalu dijadikan standar "anak idaman" oleh Nyak Rodiah, yang secara otomatis memicu Ibu Tenri untuk menekan Rhea menjadi sepuluh kali lebih produktif setiap harinya.
​Bagi Eron, hidup adalah tentang struktur, logika, dan proyeksi masa depan. Namun, sore itu di kantornya yang terletak di lantai 42 sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, seluruh logikanya seakan terbentur tembok beton.
​Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Clarissa, tunangannya yang merupakan seorang kurator seni ternama.
​“Ron, kita harus bicara. Sebenarnya, aku sudah merasa kita tidak seirama sejak beberapa bulan terakhir. Hidup bersamamu itu efisien, tapi dingin. Kamu terlalu matematis dalam segala hal. Makan malam kita selalu terasa seperti rapat evaluasi tahunan, dan kencan kita selalu diatur berdasarkan jarak terdekat dari kantor. Kamu tidak punya 'jiwa', Ron. Aku butuh seseorang yang mengerti esensi dari energi yang mengalir, bukan angka-angka yang statis di spreadsheet Excel. Kita putus ya. Cincinnya sudah aku titip di resepsionis kantormu.”
​Eron menatap layar ponselnya selama lima belas menit tanpa berkedip. Spreadsheet Excel? Apa yang salah dengan perencanaan yang matang? Bukankah pernikahan adalah bentuk manajemen risiko jangka panjang yang paling kompleks? Bagaimana mungkin Clarissa menyebutnya tidak memiliki jiwa hanya karena ia lebih suka memesan meja restoran sebulan sebelumnya agar tidak terjadi antrean yang tidak perlu?
​Kepalanya berdenyut hebat. Ini bukan hanya soal kehilangan Clarissa, tapi soal kehilangan harga diri di depan ibunya. Nyak Rodiah sudah memesan tenda dekorasi adat Betawi untuk tahun depan. Nyak sudah sesumbar di grup WhatsApp "Warga Cendana Hebat" bahwa menantunya adalah seorang seniman internasional. Jika berita ini sampai ke telinga Ibu Tenri, maka runtuhlah seluruh menara kejayaan yang dibangun Nyak Rodiah selama ini.
​Dalam keputusasaan yang sangat tidak logis, Eron melakukan sesuatu yang biasanya ia anggap sebagai perbuatan orang bodoh, ia mencari solusi instan di internet. Ia mengetik di kolom pencarian: "Cara memenangkan kembali hati wanita yang menyukai energi spiritual."
​Algoritma internet, yang seolah-olah bisa mencium bau pria sukses yang sedang hancur lebur, langsung menyodorkan sebuah iklan dengan desain yang sangat bersih, modern, dan artistik. Tidak ada foto dukun dengan sorban, kemenyan, atau keris. Hanya ada gambar konstelasi bintang minimalis dan tipografi yang sangat elegan.
​[ORACLE R: STRATEGI ASMARA & REBRANDING JIWA]
"Cinta bukan hanya soal perasaan, tapi soal frekuensi. Jika logika Anda telah mencapai jalan buntu, biarkan kami mengatur ulang strategi energi Anda. Konsultasi privat, rahasia dijamin 100%, dengan hasil yang dapat diukur. Tanpa mistis, hanya taktis."
​Eron merasa ini adalah perpaduan yang pas antara kegilaan dan profesionalisme. Ia mengklik tautan tersebut dan mendaftar dengan nama samaran: SunWalker. Ia tidak peduli berapa biayanya, ia hanya butuh "jiwa" cadangan agar Clarissa kembali, dan yang lebih penting, agar Nyak Rodiah tidak perlu menanggung malu di hadapan Ibu Tenri.
​Sementara itu, di sebuah kamar yang didominasi oleh tumpukan kabel pengisi daya, tablet grafis, dan dua monitor besar yang menyala, Rhea baru saja mengaktifkan kembali situs Oracle R. Ini adalah proyek sampingannya yang paling menghasilkan cuan, sekaligus menjadi katarsis bagi sisi kreatifnya yang tertekan oleh pekerjaan korporat yang membosankan. Berawal dari keisengannya memberikan saran hubungan kepada teman-temannya melalui sudut pandang strategi pemasaran, ia sadar bahwa orang-orang kaya dan sukses di Jakarta sebenarnya sangat rapuh dan mudah sekali disetir jika menyangkut urusan hati.
​"Oke, mari kita lihat ikan paus mana lagi yang tersesat hari ini," gumam Rhea sambil menyeruput kopi sachet yang sudah dingin.
​Sebuah notifikasi masuk di dasbornya. Seorang klien baru dengan nama pengguna SunWalker.
​“Saya butuh bantuan untuk mengembalikan tunangan saya. Dia bilang saya terlalu matematis dan tidak punya jiwa. Saya bersedia membayar berapa pun asalkan strategi Anda bisa memberikan hasil nyata sebelum bulan depan.”
​Rhea tertawa terpingkal-pingkak hingga kursinya berderit. "Ya ampun, ini sih tipe-tipe eksekutif sombong yang dunianya runtuh gara-gara diputusin," ucapnya pada kucingnya yang sedang meringkuk di atas tumpukan baju kotor. "Orang ini pasti tipe yang kalau kencan bawa kalender kerja. Oke, SunWalker. Karena kamu kedengarannya sangat kaku dan membosankan, mari kita mulai dengan sesuatu yang akan merusak zona nyamanmu secara brutal."
​Rhea sama sekali tidak tahu siapa SunWalker. Di matanya, ini hanyalah satu dari sekian banyak pria metropolis yang kehilangan arah. Ia tidak tahu lokasi pria ini, tidak tahu wajahnya, dan sama sekali tidak curiga bahwa pria ini hanya terpisah satu tembok darinya. Rhea mulai mengetik instruksi pertamanya dengan seringai jahil di wajahnya:
​“Halo, SunWalker. Selamat bergabung di frekuensi kami. Masalah Anda sebenarnya sederhana: Anda terlalu banyak menimbun 'energi stagnan' dalam diri Anda. Anda terlalu sering menyimpan perasaan negatif terhadap orang-orang di sekitar Anda, dan itulah yang membuat 'jiwa' Anda terlihat mati di mata tunangan Anda. Untuk tahap awal pembersihan aura, besok pagi Anda harus melakukan 'sedekah paksa'.
​Beli martabak manis paling mahal malam ini. Jangan dimakan. Besok pagi, tepat saat Anda keluar rumah untuk pertama kalinya, berikan martabak itu kepada orang yang paling Anda benci atau orang yang paling membuat Anda merasa kesal di dunia ini. Jangan jelaskan alasannya. Berikan saja, lalu segera pergi tanpa menoleh. Laporkan reaksi mereka kepada saya melalui chat ini. Ini adalah ritual untuk membuang rasa pahit dalam hidup Anda.”
​Rhea menyandarkan punggungnya di kursi, merasa sangat puas dengan instruksi tersebut. Ia tidak peduli kepada siapa kliennya akan memberikan martabak itu, mungkin kepada atasan yang galak, rekan kerja yang licik, atau supir angkot yang menyalip sembarangan. Ia hanya ingin tahu seberapa jauh si "pria tanpa jiwa" ini bersedia mengikuti kegilaannya.
​Malam itu, di rumah nomor 11, Eron menatap sebuah kotak martabak berukuran jumbo yang baru saja ia beli dari kedai paling terkenal di Jakarta. Aroma mentega wisman dan keju yang melimpah memenuhi mobilnya, namun hatinya terasa berat.
​Beli martabak untuk orang yang paling ia benci?
​Satu nama langsung muncul di kepalanya tanpa perlu waktu sedetik pun untuk berpikir: Rhea.
​Si tetangga sok pintar yang selalu dipuji-puji oleh Ibu Tenri. Si perempuan yang selalu menatapnya seolah-olah Eron adalah hama pengganggu setiap kali mereka berpapasan di pagar. Si musuh bebuyutan sejak zaman balita.
​"Demi Clarissa," bisik Eron mantap sambil menatap kotak martabak itu dengan pandangan benci sekaligus penuh harap. "Gue bakal kasih ini ke Rhea besok pagi. Liat aja."
​Eron tidak pernah tahu, bahwa di balik layar ponsel yang ia genggam, musuh besarnya itu sedang menyiapkan strategi untuk membuat hidupnya semakin konyol, satu instruksi "dukun" pada satu waktu.

Komento sa Aklat (0)

    Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata