"Kalian sudah dengar berita tentang janda anak 1 itu bukan? Katanya dia jual diri!" Penuh dengan rasa semangat Bu Sarmi menceritakan gosip panas yang ia dengar dari Bu RT. Mata Bu Mawar membulat besar. "Sudah aku bilang kan. Perempuan itu cuma bawa sial ke desa kita. Buktinya saja dia sudah langsung jual diri sama preman sini. Cih murahan." Hari ini selesai pengajian yang diadakan di rumah Bu Juleha, Bu Mawar sengaja tidak langsung pulang dan ikut bergosip bersama dengan ibu-ibu lainnya. "Iya kan. Meresahkan sekali betina satu ini. Duh makin was-waslah aku sama suamiku ini," sahut Bu Vanik resah. Padahal wanita ini yang paling aktif dalam pengajian tapi dirinya jugalah yang menjadi anggota penggosip handal yang paling aktif. Bu Juleha menghela nafas. Pengajian sore ini baru saja selesai. Dan gosip panas sudah kembali berkumandang dengan merdunya di rumahnya. Dan kini dirinya yang semula sejuk dipenuhi dengan nasihat-nasihat mulia, justru bergeser pada cerita panas yang meresahkan kuping. Bu Juleha justru belum ingin menyuruh ibu-ibu lainnya untuk pulang. Matanya menyapu ibu-ibu lainnya yang masih berkumpul di ruang tamu, lalu ia tersenyum seolah mendapat ide cemerlang. “Daripada cuma ngobrol di sini,” ujarnya ringan, “bagaimana kalau kita sekalian datang ke rumah Bu Nila saja? Karena dia tidak ikut pengajian. Kita antarkan saja makanan. Sekalian berkenalan dengan wanita itu secara langsung. Siapa tahu kita bisa memastikan lebih banyak hal buruk dari wanita tersebut," saran Bu Juleha. Usul itu langsung disambut anggukan. Maka berangkatlah Bu Juleha bersama Bu Mawar, Bu Vanik, dan Bu Sarmi menuju rumah Bu Nila, membawa rantang berisi lauk sederhana—niat setan yang sejak awal sudah bercampur rasa ingin tahu dan prasangka buruk. Di rumah Bu Nila, Bu Juleha membuka percakapan dengan basa-basi ramah. Ia menyerahkan makanan sambil tersenyum lebar, namun senyum itu segera diikuti nada menyindir. “Maaf ya, Bu Nila. Kita ini belum sempat benar-benar kenal. Soalnya ibu jarang kelihatan ikut pengajian. Hari ini saja, ibu sepertinya tidak ikut pengajian di rumah saya, ” katanya. “Kami sampai mengira ibu orangnya tertutup, kurang mau bergaul. Biasanya kan kalau ada acara, Bu RT selalu kasih kabar ke warga.” Bu Nila menerima rantang itu dengan tenang. Ia tersenyum tipis, lalu menatap satu per satu tamunya. “Sebenarnya saya juga ingin ikut dan berkenalan,” jawabnya pelan. “Makanya saya sudah mendatangi rumah Pak RT dan bertemu Bu RT. Waktu itu Pak RT malah menyarankan agar Bu RT membantu saya mengenalkan diri ke warga sekitar.” Ia berhenti sejenak, seolah memberi ruang agar kalimat berikutnya benar-benar terdengar jelas. “Tapi Bu RT bilang beliau sedang sibuk. Saya diminta mengakrabkan diri sendiri saja, secara mandiri." Beberapa ibu saling pandang. Udara terasa berubah. Mendengar jawaban yang diberikan oleh Bu Nila membuat mereka merasa tak enak hati. Ini justru berkebalikan dengan seharusnya yang mereka niatkan sejak awal. Bu Nila tersenyum lagi, kali ini dengan nada bercanda yang halus. “Mungkin Bu RT juga khawatir,” lanjutnya ringan. “Takut suaminya jadi terlalu ramah sama saya. Saya mengerti perasaan Bu RT, lagipula wanita 'baik' pasti akan bertindak seperti itu." Kalimat itu membuat Bu Mawar dan Bu Vanik terdiam. Bu Nila lalu menambahkan, masih dengan nada seolah tak sungguh-sungguh, “Lagipula Bu RT itu wanita glamor. Kelihatan seperti istri berkelas emasnya banyak. Beda dengan saya yang sederhana begini. Saya hanya merasa sedikit kecewa karena sepertinya Bu RT malah terlihat tidak ingin mengakrabkan diri dengan saya.” Ia mengangkat tangannya sedikit, memperlihatkan cincin nikah emas putih yang polos. “Cuma ini saja perhiasan saya. Bukan mahal atau tidaknya yang penting, tapi karena ini tanda cinta dari almarhum suami saya.” Ibu-ibu yang mendengarnya merasa panas di dada. Ada rasa kesal, geram, namun anehnya mereka kesulitan membalas. Perkataan Bu Nila terlalu rapi, terlalu tenang untuk diserang balik. Wanita manis ini, sepertinya memiliki lidah tajam tapi halus. Namun Bu Sarmi, yang egonya terusik, tak mau kalah. “Aku dengar dari Bu RT,” katanya cepat, “kalau ibu genit sama preman di pasar. Itu sampai jadi gosip tidak baik. Aku sedikit tidak menyangka, Bu Nila yang terlihat kalem ini rupanya bisa bersikap agresif juga di luar rumah.” Bu Nila mengernyit, benar-benar heran. “Preman di pasar?” tanyanya. “Saya justru melihat Bu RT di sana dan anehnya saya seperti melihat Bu RT sedang memegang ponselnya. Apa jangan-jangan Bu RT memotretnya secara diam-diam?" Keheningan jatuh. “Saya waktu itu ingin minta tolong karena diganggu preman,” lanjut Bu Nila. “Tidak menyangka malah dijadikan bahan gosip. Dan jujur saja, kabar ini baru saya dengar sekarang dari Bu Sarmi." Bu Nila menghela nafas berat. "Meski itu gosip saya masih berpikiran baik lho ibu-ibu, siapa tahu niat Bu RT memang baik memviralkan, kasus pelecehan yang saya alami di pasar kemaren." Ia tersenyum kecil, lalu menambahkan, seolah baru teringat sesuatu, “Oh mungkin juga karena saya tidak dimasukkan ke grup WhatsApp desa. Jadi sering ketinggalan informasi pantas saja, saya tidak mengetahui perihal cerita ini.” Ucapan itu membuat mereka semua terkejut. Tak satu pun berani langsung menimpali. Gosip yang tadi terasa seru, mendadak menjadi topik yang terlalu sensitif untuk dilanjutkan. Bu Nila tertawa pelan, mencairkan suasana. “Tidak usah tegang begitu,” katanya. “Mari minum teh saja.” Ia bangkit ke dapur dan kembali membawa teko berisikan teh manis. Gorengan yang dibawa Bu Sarmi ditata di piring. Bu Nila bahkan memaksa ibu-ibu itu untuk tidak pulang cepat, seolah benar-benar ingin menjadikan pertemuan itu sebagai awal keakraban. Saat Bu Mawar meminta teh dituangkan, tangannya sengaja digerakkan sedikit ceroboh. Ia berniat menjatuhkan gelas ke arah baju Bu Nila, berharap bisa mempermalukannya. Mendengar kata-kata Bu Nila sebelumnya, sukses membuatnya merasa gondok. Namun tepat sebelum gelas itu tergelincir, sebuah tangan muncul dan menahannya dengan sigap. Bu Mawar terkejut. Ia menoleh dan mendapati seorang remaja lelaki berdiri di sana. Tatapannya langsung tertuju pada wajah Bu Mawar, lalu beralih ke Bu Nila. “Mah, hati-hati,” kata Ezra cemas. Bu Mawar terpaku menatapnya. “Ezra, dari mana saja? Kenapa baru muncul sekarang?” tanya Bu Nila lembut. “Tadi kerja kelompok, Mah. Baru selesai,” jawab Ezra. Tak ada lagi yang berkata-kata. Niat yang semula tersembunyi runtuh begitu saja. Di ruang tamu itu, yang tersisa hanya teh manis, gorengan, dan keheningan yang tak lagi nyaman untuk bergosip. Terutama setelah kehadiran Ezra anak semata wayang dari Bu Nila. Dan untuk pertama kalinya, ibu-ibu itu pulang tanpa membawa cerita baru selain rasa tidak enak yang mereka simpan di hati mereka masing-masing.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
bagus👍👍👍
5d
0bagus
10/07
0🙏🏼
27/06
0Tingnan Lahat