Ness bisa merasakan detak jantungnya lebih cepat dari biasanya saat duduk di depan pria yang memperkenalkan diri sebagai Sae. Meski berusaha tetap tenang, rasa curiganya makin kuat. Dalam hati, ia bertanya-tanya—kenapa Sae terlihat begitu santai di depannya? Ini cuma kebetulan… atau ada sesuatu yang lebih dalam? Sae, dengan senyum ramahnya, mulai bercerita tentang dirinya. Ia menceritakan kehidupan, pekerjaan, sampai hobinya dengan penuh antusias. Tapi di balik cerita yang terdengar menyenangkan itu, Ness merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Ness berusaha menjaga obrolan tetap ringan, tapi pikirannya terus kembali ke foto yang ia temukan. Intuisinya terus mengarah ke Sae. Siapa sebenarnya pria ini? Dan apa hubungannya dengan Ririka? Tiba-tiba, Sae menghentikan ceritanya dan menatap Ness lurus. “Ada yang mengganggumu? Aku bisa bantu?” tanyanya tiba-tiba, seolah menangkap ketidaknyamanan Ness. Ness sedikit terkejut. Ia mencoba mencari kata-kata yang tepat. Tapi sebelum sempat menjawab, Sae sudah melanjutkan ucapannya. Sae menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja. Ekspresinya terlihat jauh lebih santai. “Aku bisa lihat kamu lagi banyak pikiran. Kalau ada yang bikin kamu khawatir, mungkin aku bisa bantu,” katanya. Ness terdiam. Bagaimana bisa Sae tahu apa yang sedang ia rasakan? Ini cuma kebetulan… atau ada hal lain yang tidak ia sadari? “Sae…” Ness mulai bicara dengan ragu. “Pernah nggak kamu kenal atau bertemu Ririka, istriku?” tanyanya akhirnya, tetap berusaha terlihat tenang. Tatapan Sae sempat meredup sesaat, lalu kembali seperti biasa. “Aku nggak tahu harus jawab apa. Tapi sepertinya wanita yang kamu maksud pasti luar biasa. Ya tentu saja, karena dia istrimu,” jawabnya santai—seolah tidak ada rasa bersalah sedikit pun. Jawaban itu justru membuat Ness makin curiga. Ada sesuatu yang terasa janggal, tapi ia tidak bisa memastikan apa maksud sebenarnya dari kata-kata Sae. Ia berusaha menahan diri agar tidak terpancing. Mungkin cuma perasaanku saja… tapi ada yang aneh dari pria ini, pikirnya. Mereka melanjutkan obrolan, tapi Ness semakin gelisah. Kata-kata Sae terus terngiang di kepalanya. “Sepertinya obrolan kita jadi agak canggung. Maaf ya kalau jadi nggak enak,” kata Sae dengan wajah menyesal. “Nggak apa-apa. Ini pertemuan pertama kita, tapi rasanya sudah ngobrol cukup jauh. Bukankah itu tanda kita bisa jadi teman yang baik?” balas Ness tenang. Sae tersenyum, hendak melanjutkan percakapan. Tapi tiba-tiba ponsel Ness berdering. Ness meminta izin untuk mengangkat telepon, dan Sae mengangguk. Setelah panggilan selesai, Ness pun berpamitan. Ia mendapat panggilan kerja mendadak, jadi tidak bisa lama-lama di kafe. “Sepertinya aku harus pergi. Tadi ada telepon kerja. Senang bisa ngobrol denganmu. Kalau beruntung, kita bisa ketemu lagi,” ucap Ness. “Kamu bahkan belum sempat pesan kopi, padahal aku ingin mentraktirmu,” kata Sae mengingatkan. “Nanti saja. Kalau kita bertemu lagi, semoga kita bisa minum kopi dengan perasaan yang lebih baik,” jawab Ness sambil melambaikan tangan sebelum pergi. Setelah keluar dari kafe, Ness tidak lagi menutupi kecurigaannya. Ia bertekad mencari kebenaran, apa pun risikonya. Hidupnya mungkin akan berubah, bahkan terguncang… tapi ia tidak mau terus dihantui misteri ini. Dengan hati berat, ia menatap langit yang mendung. Seperti pikirannya—penuh pertanyaan tanpa jawaban. Tapi kali ini, Ness sudah memutuskan. Ia akan menemukan jawabannya, meski harus mengubah segalanya. Setelah Ness pergi, Sae duduk termenung. Pertemuan itu membuatnya sadar—suami Ririka tampak tidak tenang dan seolah mencurigainya. Meski pria itu tidak menunjukkannya secara langsung. Sae menghela napas panjang. Pikirannya masih tertuju pada Ness. Ada rasa tidak nyaman yang semakin kuat dalam dirinya setelah melihat Ness pergi. Entah kenapa, pertemuan tadi terasa tidak biasa. Apakah Ness punya firasat? Apakah ia tahu sesuatu? Dalam kebimbangan, Sae mencoba menenangkan pikirannya. Ia tidak ingin berasumsi berlebihan, tapi perasaan ganjil itu terus mengganggunya. Apa yang harus ia lakukan? Ia menatap cangkir kopi di depannya yang tinggal setengah. Kesempatan untuk berbicara lebih jauh dengan Ness sudah terlewat. Andai saja ia tidak terlibat dengan Ririka… mungkin Ness bisa menjadi temannya. Sekarang, Sae merasa terjebak dalam situasi yang rumit. Ia tidak tahu harus mulai dari mana—atau mungkin lebih baik diam dan membiarkan semuanya berjalan? Tatapannya tetap terpaku pada cangkir kopi itu, seolah mencari jawaban di dalamnya. Tapi pikirannya terus kembali pada pertemuan tadi dan betapa rumitnya situasi yang ia hadapi. “Ini bakal jadi masalah besar…” gumamnya pelan sambil mengusap wajahnya kasar. ______________________________________________________________________________________________ Matahari bersinar terik. Padahal masih pagi, tapi panasnya sudah mulai terasa. Ririka berkali-kali mengusap keringat yang mengalir di dahinya. Ia melirik pria di sampingnya—Sae. Kondisinya sebenarnya sama-sama kepanasan, tapi Sae tetap diam dengan ekspresi datarnya seperti biasa. Ririka jadi sedikit geli sendiri. Bagaimana bisa Sae tetap memasang wajah datar seperti itu? Rasanya, bahkan kalau terjadi bencana pun, ekspresi Sae tetap tidak akan berubah. “Ada yang aneh?” tanya Sae tiba-tiba, sepertinya sadar dirinya sedang diperhatikan. “Enggak… cuma lucu saja. Wajahmu tetap datar padahal jelas kamu juga kepanasan seperti aku,” jawab Ririka. “Iya, memang panas. Cuacanya hari ini lumayan menyengat. Mau istirahat sebentar?” tanya Sae, memperhatikan kondisi Ririka yang terlihat lelah. Ririka mengibaskan tangan. “Nggak usah. Kita sudah hampir sampai. Istirahatnya nanti saja di atas bukit,” katanya menolak. “Yakin?” “Iya.” Sae lalu mengeluarkan botol minumnya dan memberikannya pada Ririka. “Minum dulu. Kamu sudah banyak berkeringat.” Senyum tipis muncul di wajah Ririka. Perhatian kecil seperti itu selalu membuatnya merasa hangat. “Terima kasih.” Ririka langsung minum, lalu mengembalikan botol itu dan melanjutkan perjalanan. Sesampainya di puncak bukit, Ririka langsung menarik napas panjang sebelum menghembuskannya. Mendaki bukit memang selalu melelahkan baginya. Tapi pemandangan indah dari atas selalu membuat semua rasa capek itu terasa sepadan. “Kamu benar… dari sini semuanya kelihatan indah banget,” kata Sae kagum. Ini pertama kalinya ia datang ke tempat seperti ini, jadi ia benar-benar terpukau. Melihat reaksi Sae, Ririka langsung menepuk punggungnya pelan. “Makanya, sesekali keluar dan cari tempat yang bisa bikin kamu senang. Jangan cuma di rumah atau kerja terus. Masa lihat pemandangan begini saja kamu sampai takjub begitu,” godanya. “Ya gimana… kamu tahu sendiri aku sibuk kerja. Lagi pula aku juga bukan tipe yang suka keluar kalau nggak ada tujuan jelas,” jawab Sae. Memang, kalau tidak ada kencan seperti ini, biasanya ia hanya di rumah—membaca buku atau main game. “Berarti kamu harus berterima kasih padaku. Gara-gara aku, kamu jadi sedikit lebih kenal dunia luar,” kata Ririka sambil mengambil sesuatu dari tasnya. Melihat itu, Sae penasaran. “Mau foto-foto di sini?” “Ya, memang hobiku kalau ke tempat seperti ini,” jawab Ririka sambil menyiapkan kameranya, lalu mulai sibuk memotret pemandangan sekitar. Sae memperhatikan bagaimana Ririka menikmati hobinya. Cara wanita itu fokus mengambil gambar membuatnya sedikit teringat masa lalu. “Sae, mau coba juga?” tawar Ririka. “Boleh pinjam kameranya?” “Tentu saja, coba saja.” Ririka menyerahkan kameranya. Sae lalu mencoba memotret langit. Entah kenapa, saat memegang kamera dan mengambil gambar, perasaannya jadi lebih ringan. “Sepertinya kamu menikmati juga,” kata Ririka saat Sae mengembalikan kameranya. Ia melihat hasil foto itu—ternyata bagus. “Iya… nggak nyangka ternyata foto-foto itu seru juga,” jawab Sae sambil tersenyum tipis. Ririka tersenyum puas melihat reaksinya. “Tuh kan. Hal kecil seperti ini juga bisa bikin kamu bahagia. Mungkin ke depannya kamu bisa cari hobi lain biar hidupmu nggak cuma soal kerja.” Sae mengangguk pelan, merenungkan kata-kata itu. Mungkin… memang sudah waktunya mencari sesuatu yang bisa memberi warna baru dalam hidupnya. Apa yang Ririka bilang tadi memang benar, pikirnya. Meski cuma sebentar, memotret saja sudah cukup membuatnya merasa senang. Mungkin lain kali ia akan melakukannya lagi. Setelah puas mengambil foto, Ririka mengajak Sae beristirahat. Mereka duduk di atas bukit, menikmati pemandangan sambil mengobrol dan sesekali tertawa. Hari itu, mereka bukan cuma menikmati perjalanan… tapi juga menemukan kebahagiaan dari momen-momen sederhana yang mereka bagi bersama. Untuk sesaat, mereka seperti pasangan biasa yang sedang jatuh cinta— melupakan bahwa hubungan mereka… seharusnya tidak pernah terjadi.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
nice
2h
0love bngett
25d
0bagus
25d
0Tingnan Lahat