logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

6.Wanita-Wanita yang Suka Bergosip

Sera mengangguk, paham dengan situasi yang dialami Violet.
“Pantas saja kamu jadi melamun begitu. Pasti kepikiran terus di kepala, kan?”
“Ya jelas kepikiran. Malah ganggu banget di pikiran,” jawab Violet.
“Walaupun yang kamu lihat tadi bisa saja benar, tetap jangan langsung ambil kesimpulan. Dari gosip yang beredar, wanita itu memang katanya sudah punya suami. Dan kebetulan kamu lihat dia sama seorang pria. Tapi kita belum tahu pasti apakah pria itu benar suaminya atau bukan,” jelas Sera. Meski suka gosip, ia tetap tidak ingin buru-buru menyimpulkan.
“Ya sudah, aku dengar kata-katamu. Mending kita sudahi saja obrolan ini sebelum ada yang menegur,” kata Violet sambil melirik ke arah Mira yang mulai berjalan mendekati mereka.
Sera langsung mengiyakan dan pergi, kembali ke pekerjaannya. Violet juga ikut fokus lagi—kali ini lebih serius. Ia tahu, kalau sampai ketahuan tidak fokus kerja, bisa jadi masalah.
“Kayaknya Violet terlalu terobsesi sama Dokter Sae, ya?” bisik seorang perawat bernama Lia sambil bergosip dengan Sera.
Sera mengangguk semangat. Seperti biasa, setiap dapat gosip baru, ia hampir tidak pernah bisa menahan diri untuk tidak menyebarkannya.
Lia melipat tangan di dada.
“Ngomong-ngomong, kalau rumor itu benar… bukannya Dokter Sae juga jadi kelihatan nggak terlalu baik, ya? Padahal kelihatannya menawan, tapi kenapa mau terlibat sama wanita yang sudah punya suami?”
“Aku juga nggak paham,” jawab Sera.
Saat mereka masih asyik bergosip, Sae kebetulan lewat. Ia memasang ekspresi datar, seolah tidak terjadi apa-apa—padahal ia mendengar semuanya dengan jelas.
Sera dan Lia langsung kaget setengah mati. Wajah mereka langsung tegang, takut kalau Sae akan menegur mereka. Tapi yang terjadi justru sebaliknya—Sae berjalan lewat begitu saja, seolah tidak mendengar apa pun.
Setelah Sae menjauh, mereka saling pandang, masih merasa takut.
“Aku rasa kalian berdua harus minta maaf!” tiba-tiba Mira muncul entah dari mana. Perawat senior itu langsung menjewer telinga dua juniornya cukup keras sambil mengomel.
“Mira, kita bisa jelasin! Lepasin dulu, dong…” rengek Sera.
“Iya, kita nggak bermaksud begitu…” tambah Lia dengan wajah memelas.
“Apapun alasannya, kalian sudah salah ke Dokter Sae. Cepat minta maaf!” tegas Mira.
Rekan kerja yang suka bergosip memang menyebalkan—Sae sadar itu. Apalagi di rumah sakit tempatnya bekerja, banyak perawat yang hobi membicarakan orang lain.
Biasanya, Sae tidak terlalu peduli. Tapi sejak muncul rumor tentang dirinya yang menjalin hubungan dengan pasien, entah kenapa ia mulai merasa terganggu.
Dari luar, ia memang terlihat tenang dan cuek. Tapi sebenarnya, ia merasa tidak nyaman dan kesal. Ia sudah berusaha menjaga profesionalisme dan integritas sebagai dokter, tapi gosip itu merusak reputasinya tanpa alasan jelas.
Di tengah kesibukan kerja, Sae justru merasa makin sendirian. Lingkungan yang seharusnya jadi tempat ia fokus membantu pasien, malah terasa seperti tempat yang penuh bisik-bisik.
Setiap berjalan di lorong rumah sakit, ia bisa merasakan tatapan orang-orang—bahkan sindiran halus dari para perawat yang gemar bergosip. Seolah semua orang memandangnya dengan curiga.
Mungkin ia tidak kehilangan kepercayaan diri sepenuhnya. Tapi ia mulai khawatir… bagaimana dengan pasiennya? Bagaimana kalau mereka juga mendengar rumor itu?
Sae tahu, kalau ia terpancing emosi, semuanya bisa makin buruk. Jadi ia memilih tetap tenang dan fokus pada pekerjaannya. Ia tidak ingin terseret dalam drama yang tidak penting.
Namun, saat gosip itu mulai memengaruhi hubungannya dengan pasien, rasa kesal dan frustrasinya mulai memuncak.
Seperti kejadian tadi.
Saat ia sedang menjelaskan diagnosis dan perawatan kepada seorang pasien, tiba-tiba pasien itu bertanya,
“Dok, benar ya kalau Anda punya hubungan dengan pasien di sini?”
Sae sempat terdiam. Ia tidak menyangka akan ditanya seperti itu. Rasa kecewa langsung muncul dalam dirinya. Tapi ia tetap menjawab dengan tenang,
“Tidak, itu hanya gosip yang tidak berdasar. Yang penting sekarang adalah kondisi kesehatan Anda dan bagaimana kita bisa mengatasinya bersama.”
Meski terlihat profesional, di dalam hati Sae merasa sangat terganggu. Ia merasa tidak dihargai, bahkan seperti dihina oleh gosip tersebut.
Di balik sikapnya yang tenang, sebenarnya ia terluka. Gosip itu seperti api yang perlahan membakar dari dalam.
Ia merindukan masa ketika rumah sakit adalah tempat yang aman dan penuh rasa hormat—bukan tempat di mana dirinya jadi bahan omongan.
Meski begitu, ia tetap memilih diam. Ia membiarkan pekerjaannya dan kualitas dirinya sebagai dokter yang berbicara.
Sae hanya berharap… suatu hari nanti, gosip itu akan hilang, dan orang-orang bisa melihatnya dengan lebih jernih.
______________________________________________________________________________________________
“Siapa pria ini?” gumam Ness saat menemukan foto istrinya bersama seorang pria yang tidak ia kenal. Foto itu tanpa sengaja ia temukan terselip di rak buku.
Rasa curiga langsung muncul. Tapi ia memilih diam. Entah kenapa, wajah pria di foto itu terasa familiar baginya. Selain itu, Ness juga memutuskan untuk mencari tahu lebih jauh tentang sosok yang mulai ia curigai.
Ness sendiri tidak yakin kenapa ia berada di sana sekarang. Ia berdiri di depan makam ibu Ririka, seolah sedang mencoba memahami alasan di balik pernikahannya dengan Ririka.
Ia duduk di depan makam itu dengan hati yang berat. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya, seperti teka-teki yang belum terpecahkan. Kenapa ia merasa begitu terusik melihat foto istrinya bersama pria lain? Apakah ini sekadar cemburu… atau ada sesuatu yang lebih dalam?
Ia sendiri tidak bisa memahami perasaannya.
Suasana makam yang sunyi membuatnya mengingat kembali masa-masanya bersama Ririka. Meski hubungan mereka tidak pernah benar-benar dekat, ia teringat saat pertama kali mereka dijodohkan… sampai mengucap janji pernikahan di depan altar.
Ia sadar, pernikahan mereka hanya untuk memenuhi keinginan orang tua.
Namun seiring waktu, meski ia sering mengabaikan Ririka dan sibuk dengan dunianya sendiri, kecelakaan yang dialami Ririka membuatnya tersadar—bahwa ia telah melakukan kesalahan.
Sejak saat itu, entah kenapa, Ririka mulai memenuhi pikirannya. Bahkan keinginannya untuk bercerai pun mulai ia pertimbangkan ulang.
Sayangnya, semakin ia ingin memahami perasaannya, semakin sulit juga semuanya terasa. Terlebih saat ia mulai menyadari ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya. Seolah ada misteri yang belum terungkap, dan ia merasa harus menemukan jawabannya.
Ia menggenggam foto itu, menatap wajah pria di dalamnya. Wajah yang terasa begitu familiar, tapi tidak bisa ia ingat dengan jelas.
“Siapa sebenarnya pria ini…” bisiknya pelan.
Namun tidak ada jawaban.
Ia merasa buntu.
Tiba-tiba angin berhembus, menggoyangkan daun-daun di sekitar makam. Entah kenapa, Ness merasa seperti ibu Ririka sedang mencoba berbicara padanya dari tempat lain.
“Maafkan aku, Bu…” ucapnya lirih.
Ia merasa gagal—sebagai suami, sebagai pasangan, bahkan sebagai seseorang yang seharusnya melindungi Ririka.
Namun di balik rasa bersalah itu, muncul tekad yang kuat. Ia ingin menemukan kebenaran. Ia ingin memecahkan misteri yang terus menghantuinya.
Dengan langkah mantap, Ness berdiri. Ia menatap langit yang mendung, seolah mencari jawaban di antara awan.
Ia tahu, jalan ini tidak akan mudah.
Tapi ia siap menghadapinya.
Karena hanya dengan mengetahui kebenaran… ia bisa mendapatkan sedikit ketenangan.
Setelah meninggalkan makam, Ness memutuskan berjalan-jalan di alun-alun kota untuk menenangkan pikirannya.
Saat sedang menikmati suasana, tanpa sengaja ia melihat seorang pria di sebuah kafe di seberang jalan.
Pria itu… orang yang pernah ia tabrak beberapa hari lalu.
Ia teringat bahwa ia masih menyimpan gantungan kunci milik pria itu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyeberang menuju kafe. Untung saja, ia selalu membawa gantungan kunci itu, berjaga-jaga kalau suatu saat bertemu pemiliknya.
Begitu masuk ke dalam kafe, ia langsung menghampiri pria itu.
“Maaf mengganggu. Saya ingin mengembalikan barang yang Anda jatuhkan waktu kita bertabrakan. Ini gantungan kunci Anda, kan?” sapa Ness dengan sopan.
“Ah, benar ini milik saya. Saya kira sudah hilang. Terima kasih sudah mengembalikannya. Biar saya traktir kopi sebagai tanda terima kasih,” jawab pria itu ramah.
Ness tersenyum.
“Kalau begitu… saya boleh duduk di sini?”
“Tentu saja. Saya memang ingin mentraktir Anda. Silakan duduk,” katanya.
Ness menarik kursi di depannya dan duduk. Ia sempat melirik pria itu sekilas. Penampilannya terlihat muda tapi dewasa, rapi, dan tidak berlebihan. Dan sebagai sesama pria, Ness mengakui—pria ini cukup tampan.
Namun ada satu hal yang membuat pikirannya terganggu.
Pria ini… adalah orang yang sama di foto itu.
Meski curiga, Ness tidak ingin bersikap frontal. Ia memilih tetap tenang dan memperlakukannya seperti orang baru yang baru saja ia kenal.
“Boleh kenalan? Siapa nama Anda?” tanya Ness sambil mengulurkan tangan.
Pria itu menyambut uluran tangannya.
“Belo Sae. Panggil saja Sae.”
“Alecis Ness. Tapi cukup panggil Ness saja.”
Begitulah cara Ness memperkenalkan dirinya—kepada pria yang ia curigai memiliki hubungan dengan istrinya.
Sae tersenyum. Ia melayani Ness dengan santai, seolah mereka benar-benar baru bertemu.
Padahal sebenarnya… ia sudah tahu.
Ia tahu bahwa pria di depannya adalah suami Ririka.
Namun dengan tenang, Sae menahan semuanya. Ia berpura-pura tidak mengenal Ness, menyembunyikan fakta itu dengan rapi.
Alih-alih menghindar, ia justru menyambut Ness dengan sikap tenang—seakan tidak ada apa-apa.

Komento sa Aklat (6)

  • avatar
    HitamKuda

    nice

    5h

      0
  • avatar
    epieya

    love bngett

    25d

      0
  • avatar
    Ultramen Z

    bagus

    25d

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata